
“Jangan-jangan, ah tak mungkin, dulu aku juga
mencium bau harum seperti ini waktu kakekmu
meninggal, tapi kau kulihat sehat, seperti tak sakit lagi?” wajahnya kawatir.
“Ah, ibu jangan berfikir yang aneh-aneh.”
Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus malam PAHALA KENCANA.
Ibuku sebenarnya tak mengijinkanku kembali dulu ke pesantren, tapi karena tekadku sudah matang,akhirnya mengalah juga, karena sudah saking rinduku kepada Kyai.
Sekarang aku telah berada dalam bus yang
melaju tak terlalu cepat, karena hujan
mengguyur deras di setiap perjalanan.
Penumpang dalam bus tak terlalu banyak mungkin sekitar dua belasan orang, karena bus ini nantinya mengambil penumpang di agen-agen penjualan tiket di setiap perjalanan.
Aku duduk di tengah sebelah kiri bus. Dan daripada melamun, aku selalu membaca wirid di setiap perjalananku.
Bus melaju kadang oleng kanan
kiri, ketika rodanya masuk ke jalan yang
berlubang dan penuh genangan air hujan,
sehingga air di kubangan muncrat menyiram para pejalan kaki atau pengendara motor, pasti terdengar jiancok!, atau jiamput!, dan sumpahan serapah khas sebangsanya, ah mengapa tak subhanallah. Entahlah…
Di daerah Lasem bus berhenti di agen penjualan tiket, para penjual makanan segera masuk menyerbu, takut pembelinya kedahuluan penjual lain,,
Terlihat pedagang tua melangkah pelan, menawarkan dagangan, ku lihat makanan kesukaanku, yaitu jagung muda diparut
kemudian diuleg dengan bumbu dikasih telur lalu digoreng, dimakan dengan cabe, huh enak sekali,,
di daerahku makanan itu namanya pelas.
“Berapa nek?”
“Tiga ribu nak.” ku keluarkan uang tiga ribuan,
nenek itu menerimanya dengan jari gemetar.
“Nenek sakit?” tanyaku.
Perempuan itu mengangguk. Ku keluarkan uang dua ratusan ribu, lalu ku jejalkan di telapak tangannya, mungkin uangku ini lebih berguna di tangan nenek ini daripada di tanganku, ini adalah uang gajiku melukis di rumah makan. Lumayanlah dua minggu aku mendapat tiga jutaan. Nenek itu terkejut.
Tapi aku segera berkata, ”Sudahlah nek, tak
usah terima kasih, sekarang nenek tak usah
kerja dulu, nenek pulang, dan uang itu untuk membeli obat, sana nenek turun, terus pulang.”
nenek itu menuruti kata-kataku kemudian dia turun. Sampai di bawah kulihat dia melihat uang yang kuberikan. Lalu menatapku dari bawah dan air matanya berkaca-kaca. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya berdoa. Sementara aku mulai menikmati apa yang kubeli.
Beberapa penumpang naik, dan juga dua
penumpang pasangan setengah tua, ku
perkirakan umurnya lima puluh tahunan, setelah mencari-cari nomer kursi ternyata yang lelaki duduknya di sebelahku, sementara yang
perempuan di kursi dua kursi deretan sebelah
kanan arah depan kursiku.
__ADS_1
Bus pun melaju, jam butut di tanganku telah
menunjukkan pukul setengah lima sore.
Tiba-tiba perempuan istri lelaki di sampingku,
bangkit dari kursi dan berjalan ketempat aku
duduk.
“Nak, bisa enggak kita gantian tempat
duduk, biar saya duduk di sebelah suami saya,
dan anak duduk di kursi saya.”
“Oh nggak papa bu, silahkan… silahkan.” kataku,dengan
segera membereskan tas dan barangku, Untuk pindah tempat duduk.
Akupun segera pindah tempat duduk yang ditempati perempuan tua itu. Oh rupanya disitu ada penumpangnya, seorang gadis berjilbab, cantik?
Entah aku belum melihat wajahnya, aku
mengucap permisi lalu duduk, menempatkan
tasku, di tempat yang aman.
Nah, saat mengucap permisi itulah gadis itu
menengok dan mempersilahkanku,sekejap kulihat wajahnya terkejut melihatku, tapi aku duduk saja,berusaha setenang mungkin.
Terus terang aku orangnya tertutup, walau ada
gadis di sampingku cantiknya sundul langit, aku tak akan bertanya, juga tak akan mengganggu.
tak karuan, yah namanya tetap juga manusia,
ketertarikan lelaki pada wanita, wajar saja, tapi
aku bukan tipe lelaki yang petentang-petenteng membawa pedang asmara, lalu kalau ketemu
gadis ayu, menusukkan pedang ke dadanya, dan memberikan serangan rayuan yang membuatnya berbunga-bunga.
Ah aku hanya pemuda dingin, kadang aku
sendiri merasa kedinginan, tapi mungkin karena rambutku panjang anting ada di telinga, jadi orang lebih mengira aku ini anak nakal..
Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai gadis itu bertanya padaku.
“Mau ke mana mas?” pertanyaan yang wajar, tak wajar kalau dia bertanya mau makan apa mas? Sebab ini dalam bus bukan dalam warung.
“Mau ke Jakarta.” jawabku juga wajar,
Kalau ku jawab ke Surabaya, tentu aku makin jauh, sebab bis ini menuju ke barat. Kulihat gadis itu, ah pasti waktu mau bertanya padaku tadi dia berusaha mati-matian membasahi bibirnya.
Sebab kulihat bibirnya basah sekali, seperti
dikasih madu. Rasanya pasti…. ah setan,
menggoda saja.
“Mbak sendiri mau kemana?” tanyaku sambil
melihat hidung mungilnya yang seperti cabe
__ADS_1
merah besar.
“Sama mau ke Jakarta…”
“Oo, kalau begitu bisa sama-sama dong….!”
kataku, ah kenapa dialognya tak bermutu begini, tapi diteruskan juga.
“Boleh kenalan mas? Nama saya Rosalia…” cewek itu mengulurkan jemarinya yang lentik halus.
Oh Tuhan maafkan aku, sebenarnya aku tak boleh menyentuh tangannya, tapi kalau aku tak menyentuhnya, aku rugi nantinya.😑
“Iyan.., Febrian.” jawabku
“Ah, tak salah dugaanku, pasti mas… orangnya,
bener-bener tak nyangka.” tiba-tiba gadis ini
girang bukan main, dan tanganku, ditariknya
ditempel ke pipinya yang putih kemerahan, aku buru-buru menarik tanganku, takutnya digigit.
“Ah, mbak pasti salah orang.” kataku takut,
jangan-jangan maniak xxx, wah kalau diperkosa, aku bisa tak perjaka lagi.
“Tak mungkin salah, aku begitu lama
menyanjungmu, begitu merindumu, memujamu, tak akan pernah salah mengenali dirimu…” dia mengatakan bersemangat sampai air liurnya muncrat kemana-mana, apa mungkin dia ngiler ya saat ngelihat aku?
“Dulu aku berpikir apakah engkau itu benar-
benar nyata? Ternyata engkau benar-benar
nyata.” tangannya yang halus membelai
pundakku. Ah sial aku jadi merinding, mengapa jadi serumit ini.
“Bener mbak ini salah orang, nanti mbak
menyesal..!”
“Bagaimana aku akan salah orang, fotomu aja
selalu ku bawa.” katanya sambil membuka tasnya..dan mengeluarkan sebuah majalah, dan kliping tulisan dan fotoku.
Aduh… aduh… rupanya ini penggemarku, yang
begitu memujaku, memang dulu aku aktif menulis di berbagai majalah. Tapi itu sudah lama aku fakum, kenapa penggemarnya masih ada?
Kulihat foto yang ditunjukkanya padaku, dari pertama aku menulis di majalah Jawa penyebar semangat, sampai majalah Anita, dan majalah Alkisah.
Ah benar-benar deh aku tak nyangka akan ada yang mengidolakan aku.
“Benar kan ini mas Ian…?” tanyanya, matanya
yang seperti artis Jeklin itu menyelidik.
Dan aku mengangguk. Aku tak kuasa ketika lenganku tiba-tiba direngkuh dalam pelukannya.
“Mas, aku telah mencoba menjadi gadis
idamanmu, aku yang sebelumnya tak berjilbab, sekarang telah berjilbab, lihatlah mas. Apakah
aku kelihatan cantik, aku siap menjadi pacarmu bahkan istrimu.”
__ADS_1
Wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit aja..
Bersambung....