Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Metode cerdas


__ADS_3

Cara yang ku lakukan dalam mencari ilmu tidak


sama dengan cara orang lain mencari ilmu, dan


cara yang ku lakukan itu secara lahirnya tidak


seperti orang yang mencari ilmu, tapi hasil yang dicapai, mencari ilmu sebulan maka akan sama saja dengan mencari ilmunya orang umum dalam masa sepuluh tahun.


Makanya aku selalu di manapun tak pernah mencari ilmu atau mondok dalam jangka waktu lama, hanya butuh masa beberapa bulan, dan ilmu kyainya sudah ku serap semua.


Cara yang ku lakukan pertama adalah, aku


berusaha memberi makan pada semua santri,


dengan uangku, dan tenagaku sendiri, disamping aku ikut menyerap ilmu, maka tanpa disadari santri yang lain, aku meminjam tenaga mereka untuk diriku mendapat pahala.


Semua santri yang puasa, aku beri makan, maka disamping puasaku sendiri, maka aku akan mendapat pahala semua santri, bahkan aku memasaknya dengan tanganku sendiri,


Dengan penuh kerelaan, sebab aku mau mengambil pahala mereka kenapa harus malu dan risih, aku sama sekali tak malu, bahkan jika masakanku matang aku bangunkan satu persatu, untuk makan sahur, dan di saat aku buka, ku tatakan dengan rapi makanan, tempat cuci tangan dan minumnya, kan mereka tak tau kalau sebenarnya aku mengambil bagian pahala mereka, siapa yang memberi


makan orang puasa, dzikir, beribadah, maka akan mendapatkan pahala sama seperti pahala yang didapat yang puasa, tanpa mengurangi pahala yang diberi makan.


Bahkan aku rela mencari pekerjaan di luar, kalau nanti mendapatkan uang maka santri lain ku masakkan lagi, begitu berulang-ulang. Sehingga aku seperti orang satu tapi memakai akal orang banyak dalam menyerap ilmu.


Yang ku lakukan kedua, aku selalu berusaha


mempunyai apapun peninggalan di majlis dzikir, atau apapun yang dapat dipakai orang banyak, sehingga jika aku pergi sekalipun, maka aku tetap mendapat bagian jika apa yang ku tinggalkan di pakai dzikir.


Sehingga sekalipun aku sudah tak di pesantren itu, maka aku tetap seperti orang yang selalu hadir. Jadi waktuku tak aku sibukkan hanya melakukan dzikir, atau menjalankan amaliyah, tapi lebih banyak berusaha melakukan sesuatu yang mempunyai nilai ganda.


Yang ketiga aku akan berusaha menyenangkan Kyaiku, apapun yang membuat kyaiku senang dan ridho maka akan ku lakukan, karena ilmu itu dari guruku, jika guruku senang, dan ridho, maka berbagai macam ilmu akan dengan senang hati diturunkan guruku kepadaku, dan guruku tak merasa rugi atau enggan menurunkan ilmu itu,


Sekaligus jika ilmu itu diturunkan maka aku


dengan semangat menjalankannya, agar guruku melihat aku ini orang yang seperti orang yang diberi pakaian lalu hanya dibuang sebagai kain usang.


Tapi aku akan menunjukkan penghargaanku pada ilmu itu, agar guruku merasa ridho pada ilmu yang diberikan.


Tak masalah bagiku waktuku habis ku pakai


menyenangkan guru, sebab di pesantren itu


waktunya menimba, bukan waktunya mandi,


waktunya menimba ilmu bukan waktunya memakai ilmu.


Di situlah penyerapan-penyerapan lebih


yang ku peroleh. Karena cara aku mencari ilmu itu beda dengan orang lain.


Memang kadang diriku akan direndahkan dan


diremehkan oleh santri lain, santri lain merasa

__ADS_1


diriku ini pelayannya, melayani mereka, dan


dipandang sekilas seperti orang yang tak punya derajad, jika seandainya semua tau apa yang ku peroleh, pasti berebutan ingin menempati posisiku, tapi kebanyakan orang kan tidak


berpikiran sejauh itu, yah tak apa-apalah


direndahkan, bagiku yang penting nantinya, aku memetik ilmu paling banyak lebih banyak seratus kali lipat dari santri lain.


Apalagi tawadhu’ dan keta’atan pada guru, aku


sangat mengutamakan itu, bahkan lebih utama dari santri manapun, sampai aku sendiri karena tawadhu’nya pada guru, maka tak pernah


meminta apapun dari guru, dan bahkan tak


pernah sms atau telpon, takut guruku pas lagi


tak mau diganggu maka aku malah mengganggu, jadi selamanya tak pernah menghubungi guruku, sampai tak pernah menyampaikan maksud hatiku pada guru, kecuali yang berhubungan dengan kepentingan guruku atau jama’ah, tak pernah sekalipun berhubungan dengan keperluanku, yang


ada di kamusku adalah sami’na wa ato’na,


mendengar dan menta’ati.


Sedang santri lain minta ini minta itu, maka aku malah tak pernah sekalipun minta apa-apa, aku tak mau membebani guru, bagiku guru telah


memberikan ilmu, maka aku tak pantas meminta yang lain.


Dan tak sekalipun aku mengeluhkan amalan, jika aku di beri amalan 1 maka akan ku amalkan 5 x, sebagai bukti keseriusanku, dan tak sekalipun aku meminta amalan baru, sampai kyaiku memberi amalan padaku.


Maka aku tak pernah butuh waktu lama di


Di Banten aku diminta kyai selama 9 bulan, dan selama sembilan bulan itu ku habiskan waktu


untuk memperbagus majlis, dan melakukan


amaliyah yang telah ku sebutkan, dan selama


sembilan bulan berlalu dengan cepat.


Penyakit iri dengki itu seperti panu, yang bisa


tumbuh di kulit siapa saja, iri dengki itu bisa


tumbuh di hati siapa saja, jika panu tumbuh


jamurnya karena kita tidak suka menjaga


kebersihan kulit, maka iri dengki itu tumbuhnya karena kita tak suka menjaga kebersihan hati.


Dan sebab tumbuhnya penyakit itu karena


"MA AGNA ‘ANHU MALUHU WAMA KASAB," karena tak terima dengan hartanya dan keberadaan pekerjaannya, jika kita tidak mensyukuri kenikmatan, sehingga mempunyai harta bagaimanapun kurang, punya ilmu merasa kurang, punya kedudukan merasa kurang, punya apapun merasa kurang, maka ujung-ujungnya akan timbul iri dengki dengan apa yang dimiliki orang lain,


Tak perduli orang lain itu memiliki lebih sedikit

__ADS_1


dari apa yang kita miliki.


Dan jika iri dengki itu telah tumbuh maka


persifatan kita akan seperti


"KHAMALATAL KHATOB", orang yang membawa kayu bakar, yang membakar sana membakar sini.


“Mas Ian, yang sabar ya…, nanti di rumah akan


ada yang iri dengki, disabarkan, nanti dia akan


meminta pertolongan pada mas Ian…,”


kata kyai memperingatkanku ketika aku pamitan pulang.


“InsaAlloh kyai, do’akan saya bisa kuat dan


selalu diberi kesabaran oleh Alloh. ” jawabku.


Memang benar, sampai di rumah namaku telah dijelek-jelekkan oleh kyai lain, bahkan tak


tanggung-tanggung menjelek-jelekkannya lewat speaker masjid.


Pertama mendengar, diriku merasa kaget dan


tak pada tempatnya, tapi setelah ingat pesan


Kyai, maka aku tak perduli, ku biarkan saja apa


yang dikatakan.


Mulut, dan anggota apapun di tubuh itu adalah


penerjemah isi hati, jika hatinya ikhlas, maka


apapun yang dilakukan oleh tubuh akan menuju pada kebaikan, dan jika hati itu buruk, maka hati apa yang dilakukan oleh tubuh, termasuk apa


yang diucapkan oleh lisan itu akan buruk, hati itu sumber utama, jika sumbernya kotor maka


semua aliran akan kotor.


Aku berpikir, orang yang menjelek-jelekkan


tanpa adanya suatu kenyataannya, orang tak


akan ada yang percaya, malah orang akan


bersimpati denganku, dan membenci yang


menjelek-jelekkan, juga akan meroketkanku


semakin tinggi dalam kedudukan, sebab dia telah berusaha mengambil dosa-dosaku, sebenarnya secara teori aku harus membayarnya, karena telah mengambil dosaku.

__ADS_1


Dan apa yang menimpaku ini belum seujung kuku, dari apa yang menimpa Nabi Muhammad. Maka pemikiran itu malah membuatku bukan cuma.....


Bersambung.....


__ADS_2