
Jika kok ada tempat kejadian atau nama yang kebetulan sama, ya nama juga dari A sampai qqq dengan Z, jadi bisa saja sama dan tak ada larangan nama orang itu sama dan bahkan wajah orang kok sama saja ndak ada larangan, jadi ini bukan untuk menjelek-jelekkan atau membongkar keburukan orang, ini hanya menulis apa yang menurutku ku alami. Anggap saja aku mengalami mimpi, dan di mimpiku ada orang yang kebetulan masuk dalam mimpiku, daripada nanti apa yang ku tulis malah jadi perdebatan. Jadi, jadikan saja sekedar bacaan ringan, bila ada yang bermanfaat silahkan diambil yang merugikan jangan ditiru dan dijadikan contoh melakukan perbuatan yang sama atau menjadi inspirasi untuk melakukan perbuatan yang sama.
Skip....
Setelah magrib, padahal aku sudah ada janji pada anak buahnya Dewi Lanjar untuk mengislamkan mereka, tapi malah dari seseorang banyak sekali jin yang dikirimkan, sehingga aku malah sibuk menangani jin, dan jam perjanjian jadi mundur.
“Siapa?” tanyaku pada jin yang merasuk pada Yaya.
“Aku jin kiriman, diperintahkan untuk berusaha menggagalkan dzikir malam ini,” jawab jin. “Berapa temanmu?”
“Ada beberapa ribu.”
“Berapa?”
“Sepuluh ribu..”
“Wah sedikit sekali.”
“Sedikit bagaimana?”
“Ya kenapa tak mengirim yang lebih banyak lagi?”
“Nanti akan dikirim lebih banyak lagi.”
“Lalu kamu perintahan siapa?”
“Saya disuruh Sengkuni.”
“Sengkuni siapa?”
“Sengkuni temanmu, yang juga murid kyai C****.”
“Ah jangan ngarang kamu..”
“Saya tak ngarang…”
__ADS_1
“Sengkuni itu tak bisa mengirim jin.”
“Dia menyuruh dukun, membayar dukun,”
“Bayar berapa?”
“Membayar 500 juta.”
“Wah makin ngarang lagi kamu,”
“Tidak aku tidak mengarang, memang benar seperti itu. Aku disuruh menghancurkanmu, hemmm, grrrr…..” dia mendengus.
“Coba dulu, pandang aku…., kuat gak?”
“Hm,,, panas…”
“Kamu siapa, kenapa panas sekali tubuhmu..”
“Ya aku kan yang akan kamu serang.”
“Coba masih ada yang berani melawan tidak..”
“Hm…. ada…”
“Coba saja suruh bergantian menatapku.” jin pun bergantian menatapku.
“Ampun kami tak berani.”
“Sekarang bagaimana urusanya, mau melawan atau mau tunduk padaku?”
“Ya kami tunduk, kami tunduuuk..”
“Kalian Islam bukan?”
“Kami kafir semua.”
__ADS_1
“Mau ku Islamkan?”
“Mau, kami mau…”
Maka ku ajari mereka semua masuk Islam dengan membaca dua kalimah sahadat. Sementara anak buah Dewi Lanjar sudah menunggu, segera saja ku lakukan mediumisasi, kupakai dua orang, yang satu orang ku masuki Dewi Lanjar, dan satu orang lagi ku masuki panglimanya.
“Nyai Dewi..” panggilku.
“Iya kyai…”
“Ini semua prajuritnya ada berapa yang hadir?”
“Ada 270 ribu,”
“Tolong semua diperintahkan mengikuti saya melafadzkan dua kalimat syahadat.”
“Iya kyai, semua menunggu kyai bimbing,”
Maka segera ku ajari semua melafadzkan dua kalimat sahadat dan setelah membaca dua kalimat syahadat semua ku perintahkan untuk mandi sebagai lepas dari kekafiran, masuk menjadi muslim. Semoga menjadi awal yang baik, dan kedepannya akan makin baik, juga akan disusul oleh jin di manapun berada.
Pas dzikir malam minggu legi berjalan lancar, dan tak ada kendala apa-apa, Alhamdulillah malah syaikh Ibrohim al-M****** berkenan hadir dalam majlis mengikuti dzikir dia disertai anak perempuannya yang sangat cantik, sampai-sampai orang kampung yang dilewati- nya terheran-heran dengan kecantikannya, aku sendiri tak sempat memperhatikan kehadiran- nya, karena sibuk memimpin dzikir.
Besoknya santet yang dikirim Sengkuni padaku makin aktif dan makin sering, bukan hanya padaku juga pada istri, anak, bahkan semua murid- muridku, mungkin kebenciannya makin menjadi-jadi, apalagi setelah banyak jinnya yang ku tangkap, dan akhirnya ketahuan kalau selama ini yang mengerjai kyai ku adalah dia, dengan cara membayar dukun-dukun, aku gak tau apa juga motifnya, yang ada aku kadang timbul greget dan pengen marah, adalah ketika santet dikirim ke anak kecilku, yang baru kelas 3 SD, di kepalanya ditancepi beberapa paku, di matanya, di perutnya, bagaimana itu kalau anak orang lain, aku hanya bilang ke anakku:
“Sabar ya nduk, yang sabar, ini cobaan Allah,” itu selalu ku katakan kalau anakku, meminta, “Abah ini di kepalaku ada 5 paku, ini di mataku ada pakunya, ini di perutku ada pakunya.” Dan dia minta untuk diambil, kadang aku berfikir sebenarnya Sengkuni itu benar-benar manusia apa bukan….? kok dia seperti itu.
Hari senin menghadap ke kyai, sebenarnya kyai sudah seminggu memanggilku menghadap, tapi karena tanggung jawabku memimpin dzikir maka aku baru bisa menghadap hari senin. Nyai Ratu, Dewi Lanjar, dan Aisyah semua ikut menghadap disertai abdul jin yang takluk dari kirimannya Sengkuni, Aisyah sekarang sudah mahir mengobati, aku yakin kyai juga sedang dalam keadaan sakit sebagaimana denganku, jadi ku bawa Aisyah agar mengobati kyai, kyai itu sudah tingkatan disakiti orang maka harus menerima, jadi beliau pasti masih dalam keadaan sakit dan ku bayangkan beliau menahan sakit dari santet yang dideritanya.
Aku dan rombonganku naik mobil dan rombongan ratu dan Dewi Lanjar naik kereta kencana terbang di angkasa, mengiringiku, kadang Aisyah ku panggil turun naik mobil, jika Aisyah turun naik mobil maka dalam mobil akan jadi ramai, dan hidup, apa saja akan dia tanyakan, tapi dengan gaya yang kocak, kalau dia manusia pastilah dia gadis yang periang. Perjalanan yang panjang, menjadi serasa cepat, dan sampai di tempat kyai, Sengkuni ternyata ada disitu, dia kaget terlihat kalang kabut, karena melihatku hadir, dan dalam keadaan sehat walafiat, mungkin dikiranya aku sudah tergeletak tak berdaya, sebenarnya aku disantet juga tembus, bukan berarti tak apa-apa, tapi kadang santet masuk semua ku kibaskan, sehingga lepas semua, yang paling sulit itu di tenggorokanku ditancepi paku, kawat yang ditancapkan melingkar dan benang yang dijahitkan ke dalam tenggorokan, juga besi tiang antena yang ditancapkan di tenggorokan, ya walau disantet ku ambil dan berulang disantet ku ambil, tetap saja akhirnya tubuhku ada bekas lukanya, luka lain mungkin tak seberapa, yang parah adalah luka di tenggorokanku, karena suaraku jadi tak ada sama sekali, seperti pita suaranya telah putus saja rasanya, jadi dari tenggorokan tak keluar suaranya dan itu rasanya sakit sekali, padahal aku harus memimpin dzikir di mana-mana, diberbeda lokasi ya memang dia tak ingin dzikir ku pimpin, tak tau apa maksudnya.
Sengkuni segera ke tempat sepi, ketika telah mengetahui kedatanganku, dia pergi ke tempat yang sepi untuk menelpon dan sms dukun yang diperintah menyantetku lalu ketika aku menghadap kyai di dalam kamar, maka santet dikirim menyerang tenggorokanku, agar aku tak bisa bicara sama kyai dan tanpa Sengkuni sadari waktu dia sedang menelpon, sopirku ada di dekatnya, menurut sopirku, dia bicara suruh cepat dikerjai, karena dia di dalam kamar dan sebelum cerita ke kyai. Sementara itu, aku di dalam kamar, kyai dalam keadaan tak berdaya, tubuhnya sakit, dan di tangan kanan kirinya ada kayunya (gaib maksudnya), dan di kepalanya juga ada beberapa paku, serta ada di kedua mata di telinganya di tembus besi dari kanan ke kiri, sehingga kyai tak dengar kalau diajak bicara, Sengkuni itu murid kyai, cuma agar tak mendengar laporanku, apa ada murid tega menusuk telinga gurunya, kalau bukan murid yang murtad, dan setan.
“Ini yang mengerjai Sengkuni… kyai…” kataku dengan mata berkaca-kaca. Air mata ini ingin segera keluar tanpa permisi.
“Bukan, ini bukan Sengkuni yang mengerjai, cuma yang mengerjai setan yang berupa Sengkuni.” Jawab kyai sambil menahan rasa sakit.
__ADS_1
Aisyah segera ku transfer energi untuk langsung mengambil segala macam santet yang bersarang di tubuh kyai, anehnya lha kok santetnya sama semua bentuknya dengan yang dikirim padaku dan sama persis, menunjukkan ini pekerjaan dukun yang sama yang mengirim. Ketika aku dalam mentransfer energi untuk mengobati kyai, tiba-tiba berduyun-duyun jin dikirim menyerangku dan menguasai Aisyah agar tak bisa mengobati kyai, ada 800 jin yang dikirim, maka aku ajak semua bertarung, dan tak sampai 5 menit Alhamdulillah semua takluk dan masuk Islam, lalu mengobati kyai ku lanjutkan.