Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Mediumisasi


__ADS_3

“Coba kamu tanya teman-teman kamu yang 70 jin itu apa mau melawanku, atau mau takluk?”


“Memangnya kamu bisa menaklukan mereka?”


“Ingin lihat?” tanyaku.


“Hehehe,, iya…” dia tersenyum meremehkanku, biasa jin itu seperti itu. Ku panjangkan pedang gaib yang ku pegang, dan sampai tembus langit, (yang baca cerita pasti heran, kok bisa?) yang ingin lihat cerita ini benar atau tidak lihat saja videonya di : https://youtu.be/w3xI0QWH02E


Setelah pedang ku panjangkan, ku tebaskan ke jin yang ada di MTS, segera saja datang jin masuk lagi ke mediator.


“Siapa kamu menyiksa anak buahku?” tanya jin yang masuk.


“Ada apa? mau melawan?”


“Ya…. ” jawab dia sambil menggeram, dan mau mengeluarkan jurusnya. Pedang ku ganti dengan cambuk, dan segera jinnya ku cambuki, sampai minta ampun.


“Ampuuuun… ampuuun, saya menyerah.”


“Benar menyerah?”


“Coba lagi, cambukmu tak akan mempan.” Ku lecutkan lagi cambuk dan ku tambah kekuatan, kembali dia menjerit minta ampun.


“Bagaimana?” tanyaku,

__ADS_1


“Ya, ampuun, saya menyerah..”


“Bagaimana dengan teman-temanmu di sana, apa mau menyerah semua?”


“Aku tak tau, aku cari selamat sendiri saja..”


“Ku lecutkan lagi cambukku,”


“Yaaa ya… semua ku ajak menyerah.”


“Ada berapa?”


“Ada 70.”


“Ya kami mau..” Segera ku ajari mengucap dua kalimat sahadat.


“Nah bagaimana bu, sudah lihat sendiri kan..”


“Iya pak….” Aku tak tau apa mereka percaya atau tidak, yang penting aku sudah berusaha menunjukkan, mau mengatakan ini rekayasa atau bagaimana itu urusan mereka, saya juga tak diuntungkan atas apa yang ku lakukan, mereka berjanji akan membawa yang kerasukan ke rumahku, tapi saat tulisan ini ku tulis, yang kerasukan malah dibawa kerumah sakit akhirnya malah ribut di rumah sakit, menjerit jerit tak karuan. Ya sudah biarkan saja…. lebih baik tak ku pikirkan, biar saja mungkin Allah mempunyai rencana lain, hanya Allah yang tau.


___________________________________


Urusanku bukan hanya dengan Sengkuni, akusendiri heran apa maunya dia, jika orangnya jujur sebenarnya ingin ku tanya langsung, apa maunya, tapi sayang dia bukan orang yang jujur, jadi jika ku tanya juga akan sia-sia, mungkin orang yang membaca tulisanku ini juga bertanya-tanya siapa sebenarnya Sengkuni itu, kalau ditanya secara pasti, aku sendiri tak kenal dengan jelas siapa dia, Sengkuni itu menjadi murid kyai, aku sendiri tak tau pasti kapan pertama kali, mungkin tahun 2006, atau 2007, aku tak tau pasti, sementara aku sendiri tahun 2006 sampai tahun 2010 sama sekali tak pernah berhubungan dengan kyai, karena aku bekerja di Saudi, dan aku sendiri tipe orang yang tak akan menghadap guru kalau tak dipanggil menghadap, sebagai tanda tawaduk ku pada guru, karena aku tau urusan guruku sudah banyak sekali, aku tak mau merecokinya, membebaninya, jadi aku tak akan menghadap kalau tak dipanggil kyai, di samping aku sangat takut berbuat kurang tata krama kalau ada di dekat kyai, yang penting bagiku ilmu dari kyai aku jalankan dengan istiqomah, bahkan aku orang yang tak pernah meminta ilmu sama sekali pada kyai, kalau dikasih ya saya terima, sebab bagiku kyai lebih tau, apa yang ku perlukan daripada diriku sendiri.

__ADS_1


Tapi walau aku tak minta, selalu saja kalau kyai memanggilku berarti akan memberikan ilmu. Satu ilmu diberi maka aku berusaha kujalankan sampai ku dapatkan buah manisnya ilmu. Baru ilmu itu akan ku berikan kepada orang lain. Jadi aku kenal Sengkuni tahun 2011, lupa aku kapan tepatnya, tapi selama tahun 2006 sampai 2011, ku rasakan perkembangan jamaah thoreqoh yang ku ikuti kok tak ada sama sekali, malah ku tau mengalami kemunduran, belum lagi kyai Cilik dalam keadaan sakit, aku dipanggil tiap dua minggu sekali, menghadap untuk berusaha mengobati beliau, beliau disantet juga diracun, heran juga, kenapa beliau disantet dari segala penjuru demikian rupa, dan waktu itu, aku sendiri baru kenal santet sampai menghadapi 900 tukang santet, hari-hari hanya menghadapi santet, di mana mana, di bus bahkan santet tetap memburu, tidur tak tenang, dan ketika aku diperintah kyai untuk memimpin dzikir, maka santet menyerangku di tenggorokan, sehingga


suaraku habis, juga menusuk ke perutku sampai rasanya sakit minta ampun, pernah dulu di majlis Cilegon, aku merasakan sakit yang teramat sangat, di perut sampai sakitnya tak karu-karuan, sampai aku tidur melintir-lintir menahan sakit, anehnya sakitnya mulai jika aku mau berangkat ke Cilegon, dan aku sama sekali tak mengira kalau itu sakit kena santet, ku kira hanya sakit batu ginjal biasa, malah waktu itu mas Bangun ku ajak menemaniku beli batugin, untuk mengobati, tapi tetap saja sakitku tak kunjung sembuh juga, rasanya mau mati saja, karena teramat sakitnya, setelah baru diobati kyai baru sembuh, dan baru belakangan ku ketahui itu santet dari dukun yang dibayar Sengkuni.


Sebab hari-hari belakangan ini, ketika semua telah jelas, apa yang ku rasakan dulu, sekarang hampir tiap hari ku rasakan, cuma sekarang aku bisa menariknya, dan kadang Aisyah yang ku minta mengeluarkannya, sekarang juga kyai Cilik sering menghubungiku, juga kadang ku pantau dari jarak jauh, apa ada santet yang masuk ke tubuh kyai atau tidak, kalau ada ku tarik dari jarak jauh, kadang juga kyai menghubungiku lewat telepati dan minta santetnya ku keluarkan dari tubuh beliau, yah… memang keadaannya seperti ini, kasihan juga kalau kyai jauh dariku, beliau sampai-sampai sering mengatakan tak ada murid yang bisa diandalkan, karena muridnya masih cenderung mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri, tak ada yang serius memperjuangkan thoreqoh, kebanyakan masih memikirkan bagaimana saya bisa hidup enak, dari doa kyai, ah entahlah, kadang malas kalau membahas para murid kyai, apalagi kalau yang dikehendaki kepentingan masing-masing, lebih baik ku putuskan memperbesar jamaah dengan caraku sendiri.


Itu saja mereka bukannya membantu, tapi malah kebanyakan menjelek-jelekkan di belakang, Seakan tak mau jamaah menjadi besar dan berkembang pesat. Sepertinya aku sendirian, maka aku harus kuat sendirian, dan Allah hanya yang tak berhianat bila ku jadikan teman, memang aku seharusnya sendirian, sendirian berjuang, dan tak akan berhenti sebelum Allah menghentikanku, dan mencabut nyawaku. Serangan dari Sengkuni, tak juga berhenti, dengan berbagai cara dia melakukan, yang lebih aneh lagi semua muridku yang ada di rumah, yang tinggalnya di daerahku, sama sekali tak ada sedikitpun perduli, malah menuduhku mengada-ada, ya ini menunjukkan hanya cobaanku, ujianku, dan ujian orang yang dikehendaki maju oleh Allah, maju untuk memperjuangkan thoreqoh yang ku pimpin, dan yang mendukungku malah murid dari internet, makanya kenapa kyai Cilik mengacungkan jempol untuk mereka, walau dari internet yang tak bertemu langsung, ternyata Allah memilih mereka untuk berjuang bersamaku, dan mereka orang-orang yang dipilih dari berbagai kawasan, dan daerah, bukan orang yang asal-asalan, tapi memang orang yang dipilih Allah untuk berjuang bersamaku.


Waktu magrib, keadaan kenapa sepi, aku merasakan ada yang aneh, kenapa biasanya juga Aisyah hadir, ini kok gak ada, biasanya aku


mengajari dia berbagai ilmu, dan ku suruh mempraktekkan, tapi ini kok tak muncul, aneh…. ku tarik Aisyah untuk ku masukkan ke mediator. Malah yang masuk latifah adiknya Aisyah,


“Kok Latifah ya….? mana mbak Aisyah…?” tanyaku.


“Huuu huuu….” Latifah menangis, Latifah itu umurnya sekitar 250 tahun, ya sekitar seumuran anak kelas 6 SD untuk seumuran manusia.


“Kenapa nduk, kok nangis?”


“Huuu… huuuu… ” dia malah nangis makin


kencang. Aku jadi kawatir terjadi apa-apa terhadap Aisyah, bagiku semua jin yang sudah masuk thoreqoh adalah keluargaku sendiri, itu ajaran kyai, jadi siapa saja yang sudah masuk thoreqoh adalah saudara kita, kita harus menyayanginya...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2