Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Di Kerangkeng


__ADS_3

Jadi siapa saja yang sudah masuk thoreqoh adalah saudara kita, kita harus menyayanginya lebih dari menyayangi diri sendiri. Dan aku berusaha menerapkannya benar benar dalam kehidupanku. Apalagi Ratu sudah menitipkan Aisyah padaku, bagiku adalah suatu tanggung jawab, amanah itu akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah. Akan dipertanyakan nanti di pengadilan Allah, jika kok aku tak bisa menjaganya, bagaimana aku menghadap Allah nanti.


“Nduk… sudah ya ndak usah nangis, ada apa dengan mbak Aisyah?” tanyaku menghibur, “Ayo cerita sama kyai, kalau ada apa-apa, nanti kyai akan minta pada Allah untuk minta jalan keluarnya.”


“Huuuhuuu… kyai, mbak Aisyah… ditangkap sama jinnya Sengkuni,kyai, dia…. dia ditawan, dimasukkan kedalam kerangkeng, sekarang dia sedang disiksa kyai…” jawab Latifah di sela tangisnya.


“Yang benar nduk?”


“Iya kyai… huuu.. huu...hu... kasian kyai”


“Lalu dia dikerangkeng di mana?”


“Di Surabaya.. di rumahnya adiknya Sengkuni.” Aku menarik nafas, bingung, bagaimana cara menolongnya? tengak tengok tak tau apa yang harus ku lakukan.


“La tadi bagaimana mbak Aisyah kok bisa ditangkap?”


“Huuu… tadi mbak Aisyah ikut bu nyai jalan- jalan, dia di atas, ada diikuti jinnya Sengkuni yang selalu mengintai menunggu lengah, dan akhirnya dia ditangkap lalu dimasukkan ke dalam kerangkeng, sekarang sedang disiksa… bagaimana ini kyai.. kasihan mbak Aisyah..”


Wah aku makin panik… Ku kumpulkan saja jamaah yang ada di majlis ada beberapa orang untuk ku ajak dzikir bersama, dan menolong Aisyah yang sedang dipenjara.


Aku berdoa semoga Allah mengirimkan bala tentara malaikat untuk menolong Aisyah, dan mengembalikan Aisyah, suasana tegang, karena kami tak tau apa nanti hasilnya. Tapi ini juga menjadikanku makin teguh dan yakin untuk selalu berserah dan bertawakal pada Allah, yakin Akan pertolongan Allah. Kami semua dalam kepanikan, karena Aisyah sudah seperti keluarga, aku sendiri yang tak paham 100% metode, cara, waktu, dan semuanya dari alam jin, yang tentu berbeda dengan alam manusia, padahal kalau bahas jin, harusnya logika kita membuat ukuran alam mereka, bukan lagi alam kita, sebagaimana kalau bahas malaikat, seharusnya logika kita harusnya dimasukkan ke alam mereka agar pembahasan itu tepat, sebagaimana juga orang mau goreng tempe, tau kan goreng tempe, orang mau goreng tempe itu harus logikanya masuk ke membuat adukan tepung dan ukuran air dan bagaimana menggoreng sehingga dihasilkan gorengan yang tepat, tak beda sebenarnya dengan hal yang lain apapun di dunia ini, jika mau melakukan sesuatu apapun akal kita harus masuk ke dalam bidang yang akan kita lakukan, jangan dicampur aduk, misal mau goreng tempe memakai resep cara nyangkul sawah, sudah pasti tak akan jadi, semoga paham dengan apa yang saya maksudkan.


Karena tak paham bagaimana dunia jin itu, ya setidaknya dari pengalaman demi pengalaman yang ku alami, sedikit banyak membuka cakrawala kepahaman baru saya dengan dunia jin, walau aku tau masih banyak lagi yang belum ku tau, dan masih banyak lagi yang ingin ku ketahui. Murid ku ajak dzikir, dan aku berdoa, semoga Allah mengirim petir untuk meng- hancurkan kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan tak sampai sepuluh menit Aisyah sudah masuk ke tubuh Yaya, dan hati kami berbarengan merasa ploong, lega, tapi Aisyah dalam keadaan lemah, dan kesakitan.


“Aduh pak kyai…. sakiit, saya dikurung, ini tubuh saya ditancapi bambu sampai tembus…”


Aku segera bertindak, walau sedang memimpin dzikir, aku segera menarik bambu yang menancap tembus di tubuh Aisyah, dan ku tanya Aisyah ternyata sudah tak sakit lagi, cuma tubuhnya masih lemah, tapi tetap saja dia ngoceh.


“Pak kyai,pak kyai… saya ditangkap Sengkuni.” celoteh Aisyah.


“Bagaimana menangkapnya nduk?” tanyaku sambil terus memutar tasbih.


“Saya pas pulang menemani ibu belanja di pasar, saya terbang pulang dahulu, lalu ada beberapa rombongan jin, yang membawa jaring, dan kurungan, menangkap saya, saya jadi tak berdaya, dan saya ditangkap.”


“Lalu saya dibawa ke Surabaya, ke rumah adiknya, dan saya dikurung dalam kerangkeng, saya disiksa, tubuh saya ditusuk-tusuk pakai bambu dari perut tembus ke punggung.., rasanya sakiit sekali pak kyai…”


“Kok Aisyah bisa lepas bagaimana ceritanya..”


“Nyai ratu…” oceh Aiyah kebiasaan kalau diajak ngomong kemana perhatiannya kemana.

__ADS_1


“Apa nduk.”


“Nyai ratu pak kyai… itu ikut dzikir sama prajurit semua, nyai ratu mengomeli saya, saya dilarang terbang-terbang lagi, disuruh di dekat pak kyai saja, biar tak ada yang menangkap.”


“Ya nduk, sebaiknya ndak terbang lagi untuk sementara, biar suasananya aman dulu, biar suasananya kondusif dulu, baru nanti terbang lagi.”


“Apa itu kondusif pak kyai?”


“Kondusif? apa ya kondusif…? ya itu kata yang dipakai orang-orang pinter itu untuk mengucapkan kata aman dan damai mungkin.” Jawabku sekenanya saja.


“Wah berarti pak kyai pinter hayo…”


“Kok pinter.”


“La itu memakai kata kondusif?”


“La Aisyah kan baru saja juga mengucapkan kata kondusif, berarti kamu juga pinter kan..”


“Iya ya pak kyai, Aisyah juga baru saja mengucapkannya, berarti Aisyah juga pinter.”


“Wes lah nduk…. bagaimana kok Aisyah bisa lepas dari kurungan?”


“Kok tak tau?”


“Ya tau-tau ada bola cahaya dari langit, menyambar kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan kerangkeng jadi hancur lebur jadi cair, juga jin yang menjaga semua terpental mati.”


“Ooo begitu ceritanya?”


“Ya pak kyai… dan saya terbang ke sini, karena pak kyai memanggil, padahal saya sudah bingung.”


“Bingung kenapa nduk?”


“Ya bingung lah pak kyai, kan Aisyah sedang dalam kerangkeng, dan pak kyai memanggil Aisyah, kan Aisyah tak bisa datang, nanti Aisyah jadi murid yang tak berbakti pada guru, jadi Aisyah sedih sekali, ee kok ada bola api yang menyambar kerangkeng Aisyah, sehingga Aisyah jadi bisa memenuhi panggilan kyai.”


“Ndak kok nduk, kyai tidak menyalahkan Aisyah, ini kyai lagi dzikir ini untuk menolong Aisyah dari kerangkeng Sengkuni.”


“Jadi yang menolong Aisyah itu kyai ya?”


“Tidak nduk, yang menolong Aisyah itu Allah taala, kyai hanya meminta pada Allah agar menolong Aisyah, dan Allah membebaskan Aisyah dengan mengirim cahaya malaikat itu.”

__ADS_1


“Terimakasih ya Allah, Engkau telah menolong Aisyah.”


“Bagaimana lukamu nduk?”


“Sudah sembuh kyai, setelah kyai obati.”


“Itu juga pertolongan Allah nduk, kyai hanya berdoa supaya sakit Aisyah disembuhkan, musnah hilang.”


“Iya kyai.”


“Ingat Aisyah jangan terbang-terbang lagi.”


“Tapi Aisyah jadi tak bebas no kyai.”


“Ya kalau ditangkap lagi bagaimana, apa Aisyah mau?”


“Hiii ngeri, masak tubuh Aisyah ditusuk-tusuk, leher ditusuk sampai tembus, perut ditusuk sampai tembus.”


“Nah kan, apa Aisyah mau seperti itu lagi?”


“Ya gak mau lah kyai.”


Akhirnya malam itu kami jadi lega dengan kejadian yang kami alami, dan bagiku ada pelajaran yang ku ambil manfaat. Jam 8 pagi, karena dalam perut seperti ada sesuatu yang mengganjal, jika dipakai bernafas, atau batuk terasa menusuk-nusuk, seperti sebuah bambu lancip, segera aku panggil Aisyah ingin ku tanya sebenarnya apa yang dalam perutku. Tapi ku panggil-panggil tak juga datang, ku tarik saja dengan daya penarik, ku masukkan ke tubuh Yaya. Malah yang masuk jin lain, saat sudah di dalam tubuh Yaya dia menggereng-gereng.


“Siapa?” tanyaku.


“Hem.. grrrr..” jawab dia menggereng, biasa mungkin menggertak, jin selalu begitu, suka main gertak.


“Siapa?”


“He.. he.. he… kau mencari Aisyah muridmu?”


“Iya..”


“Muridmu sudah dibawa teman-temanku.”


“Kemana.”


“Terbang ke Surabaya,”

__ADS_1


“Ke tempat Sengkuni?”


__ADS_2