
“Katanya sudah menghadap manager soal
kenaikan gaji, bagaimana hasilnya?” tanya
Muhsin.
“Ya dia janjikan nanti setelah masa training.”
jawabku.
“Ya nanti ditunggu saja, lalu bagaimana
syaratnya menjadi muridnya mas?”
“Tak ada syaratnya, harus ikhlas saja
menjalankan amalan yang ku berikan, ini
amalannya sudah ku tuliskan.” kataku sambil
menyodorkan kertas bertuliskan amalan.
“Ini hitungannya 10 ribu ya mas?” tanya Muhsin.
“Iya.”
“Apa ndak salah nulis nolnya?”
“Salah di mananya? Nolnya empat kan?” tanyaku.
“Iya empat.”
“Kalau empat berarti benar, kan sepuluh ribu
enolnya empat,” jelasku.
“Iya kali saja tiga aja nolnya…, “
“Lhoh itu wirid sepuluh ribu, wirid paling ringan.” tekanku.
“Kan sudah ku katakan menjadi muridku itu
berat, kalau mau menjadi orang ampuh ya harus kuat duduk, itu kan melawan kehendak nafsu, menyelesaikan dzikir, seseorang itu diijabah atau tidak diijabah do’anya hanya melewati lapisan nafsunya, dibuka hijab tutup makrifatnya sehingga diberi pengetahuan ilmu-ilmu Alloh,
Ya hanya melewati lapisan nafsunya, semakin
seseorang itu sibuk meladeni nafsunya, maka
makin jauh orang dengan Alloh, artinya orang itu menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya,
ILAHAHU HAWAHU, segala macam amaliyah
itu hanya dengan maksud kita bisa menundukkan nafsu dan menempatkannya pada kerangkeng yang bernama mutma’inah, nafsu menjadi tenang, tidak bergejolak ingin dipenuhi, orang itu jika masih punya keinginan mulia di sisi manusia,
Jangan harap punya pangkat di sisi Alloh, orang itu kalau masih mengharap pada manusia dan kebendaan maka jangan harap do’anya diijabah Alloh, karena sebenarnya dia tidak meminta kepada Alloh, tapi meminta kepada ketakutan dan harapannya sendiri,
Kadang seseorang merasa telah benar ibadahnya, dan tanpa disadari ibadahnya telah melenceng jauh, sehingga bukan fadhilah atau anugerah buah ibadah yang diterima, tapi yang dirasakan adalah kesesakan hati, suntuk dan makin jauh dari Alloh, lalu berlari ke kubur-kuburan, mencari jawab atas kemandekan ibadah yang selama ini
__ADS_1
dilakukan tidak mendapat apa-apa.”
“Iya mas…”
“Sebenarnya ibadah yang menghasilkan buah
ibadah itu tak sulit, amat simpel, dan tak
bertele-tele, tapi manusia punya nafsu, dan
manusia harus menaklukkan nafsunya, Nabi saja mengatakan perang uhud itu perang kecil, kita akan pergi dari perang kecil ke perang besar, dan perang besar itu adalah memerangi hawa nafsu, dikatakan besar karena kita memerangi diri sendiri, dan umumnya tak ada orang yang mau menahan keinginan yang menggebu-gebu, yang ada manusia yang selalu ingin keinginannya dipuaskan.
Padahal kepuasan, ketamakan itu tak ada ujung pangkalnya, puasnya ya MATI, orang punya istri satu, pengen dua, punya dua ingin tiga, orang
punya rumah satu ingin punya dua, punya dua
ingin punya tiga, dan terus berkelanjutan, punya sapi satu ingin dua, punya dua ingin tiga, punya mobil satu ingin punya yang paling mewah dua,
dan seterusnya, kalaupun punya pulau satu, maka ingin dua pulau, punya dua pulau ingin punya tiga pulau, makanya sejak dulu kerajaan saling ingin menguasai yang lain,
Dan tak ada cara mencegah berkobarnya nafsu kecuali dengan memperkecil nyalanya, bukan
memadamkan tapi menyalakan di tempat yang semestinya, kalau nafsu sahwat padam, kasihan istri kalau istrinya impoten, jadi keinginan atau nyalanya nafsu itu ditempatkan sesuai tempatnya, seperti api ditempatkan di lilin atau kompor, sehingga bisa dimanfaatkan, nafsu sahwat ditumpahkan pada istri, dan nafsu itu hanya bisa ditenangkan dengan mengenali jalur-jalur keluarnya, jalur keluarnya nafsu itu dinamakan latifah, kelembutan sumber keluarnya nafsu, dan sumber itu kita sumbat perlahan dengan dzikir, ala bi dzikrillahi tatma’inul qulub, ingatlah hanya dengan mengingat Alloh lah hati itu bisa tenang.
Bagaimana siap tidak
menjalankan?”
“Ya mas saya siap..”
“Tidak ada manusia, wali, Nabi sekalipun, jin,
mengijini dan menganugerahkan kehebatan, maka jangan sekali-kali menyandarkan pada selain Alloh, orang alim, kyai, nabi, jin, malaikat, semua itu ciptaan sama dengan kita, kalau kita menyandarkan pada sama-sama ciptaan yang
punya kekurangan, maka jelas salah kita,
bertawakal dan bersandarlah hanya pada Alloh, semua ciptaan selain kita, itu tidak bisa memberi manfaat dan bahaya, kecuali Alloh mengijinkan menjadikannya memberi manfaat, dan bahaya.”
“Hm… mumet mas…”
“Hehehe ya ndak papa, besok dilanjut lagi.”
kataku,
Setiap gerak, setiap kejadian, dan setiap apapun yang bergerak dan berhenti itu tak lepas dari kehendak dan taqdir berlaku di dalamnya,
Mungkin aku akan terlihat lebih diam dari pohon mati dan lebih tak bergerak dari batu yang keras, karena aku sering tenggelam dalam penyelaman dunia hatiku, di saat orang bercanda dan tertawa-tawa, aku mungkin akan seperti manusia yang tak ada, tak terseret oleh candaan siapapun, dan lebih suka menyendiri menyelami tentang ilmu Alloh, rasanya setiap waktu ku gunakan kepahaman walau telah berhari-hari aku menyelam, namun dasar kepahaman tak juga ku capai,
Hanya keheningan tanpa aksara, dan aku
mencoba menghindari menyalahkan siapapun
manusia, sebab aku amat yakin semua telah
diprogram menempati taqdir-taqdirnya, seperti
layangan yang ditarik benang, dan diterbangkan dengan arah angin yang dikehendaki kemana
__ADS_1
hembusannya.
Bahkan aku mendapat teman sekamar, karena
kunci hanya satu, dan dibawa temanku, sehingga hampir tiap hari aku harus masuk kamar lewat jendela atau aku harus sering ketinggalan kerja karena teman yang mandinya berjam-jam, semua adalah proses, semua manusia punya sisi buruk, dan pasti tak jarang orang tak suka denganku,
Karena sisi burukku yang mengemuka, dan
cenderung aku tak menyadari keburukan diri
sendiri.
Alloh selalu menciptakan orang lain bisa jadi
untuk melatih kesabaran orang lainnya, seperti
menciptakan syaitan, guna dijadikan penguji bagi manusia, agar keimanan tertempa, agar
keteguhan teruji, dan siapa yang pantas dan tak
pantas mendapat anugerah dan pahala akan
terlihat jelas.
Kerja di pabrik semen mungkin sama dengan
kerja di pabrik lain, soalnya aku tak pernah
kerja di pabrik manapun. Di pabrik semen yang ku tempati, ada sistim kerja yang namanya
drama, lhoh kok bisa? Aku sendiri pertama
kaget ada kerja model kayak gitu, tau kan
drama? Drama berarti ya gak bekerja beneran,
pura-pura kerja tapi tak menghasilkan apa-apa
tapi kelihatan paling sibuk.
Contoh, misal nancepkan paku, paku ditancepkan separo, lalu sibuk mukul, tapi yang dipukul kanan kiri paku, jadi tak dikenakan pakunya, sebentar istrirahat, nanti kalau ada mandor datang, pakunya dipukul beneran, tapi juga jangan sampai ambles, ya satu paku jatahnya satu hari lah, malah bisa juga diambil lemburan dalam rangka menancapkan satu paku itu.
Aku sendiri kaget, aku penulis kaligrafi, dalam
menyelesaikan kaligrafi ya menurutku sih santai saja, ee ternyata di Arab yang ku selesaikan dalam sehari itu bisa diselesaikan oleh penulis sebelumnya dalam masa sebulan, jadi karena pabrik membuat ukuran sebelumnya, jadi aku diberi tugas menyelesaikan tugas tulisan untuk
satu bulan, ya aku selesaikan dalam sehari,
karena tak tau, akhirnya dalam masa sebulan aku nganggur, berangkat kerja, cuma ngisi absen, dan duduk seharian waktu dzuhur pulang, jam satu balik kerja, lalu duduk sampai jam 4 sore, dan pulang, lama-lama jenuh juga, maka mulai itulah tulisan tulisan ku tulis,
Apalagi aku bisa menjadikan internet Saudi gratis, walau dengan hp tulisan tulisan mulai ku tulis sedikit demi sedikit, padahal di Saudi internet amat mahal, sekali masuk 4 real, satu real sama dengan dua ribu empat ratus rupiah, untung aku bisa menjadikan internet gratis, semua teman menganggap aku gila, ngayal, karena mengatakan internet bisa gratis, padahal aku katakan ke yang lain, aku sendiri telah menggunakan gratisan ada setengah tahunan, tapi setelah semua ku ajari caranya, maka semua mengikuti.
Drama, ya memang sudah jadi kebiasaan kerja
drama, aku tidak ikutan drama maka disalahkan yang lain, padahal jelas itu amat tak sesuai
dengan nuraniku, uang itu ku makan, dimakan
__ADS_1
anak istriku, menjadi darah, mencuci hati,