Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Jam tangan


__ADS_3

“Jadi mas Ian mau menerima pengabdianku?” Aku yang tak mengerti, manggut aja. Dari pada masalah yang tak ada ujung pangkalnya jadi berkepanjangan. Setelah aku manggut, gadis itu wajahnya kelihatan ceria, dan mengusap air matanya kemudian melangkah ke dalam. Beberapa detik kemudian bu Lurah keluar dan mempersilahkan kami menikmati hidangan. Mujahidi kulihat mulutnya telah penuh dengan makanan, bakwan, mendoan, tahu goreng, uh cabe yang di piring yang udah aku incer udah ludes. Mujahidi, enak aja mulutnya manyun kesana kemari, mengunyah makanan yang penuh di mulutnya sambil ngomong:


“Hm…, semaleman bertarung, laper mas.., hm, hm, enak..” lalu setelah makan dia me- ngeluarkan sebatang Djisamsoe yang udah gepeng dan melengkung. Kemudian segera menyalakannya, asap mengepul dari bibirnya yang hitam kayak habis ditonjok orang, juga asap keluar dari lubang hidungnya yang lebar karena sering dikorek-korek dicari kotoran upilnya. Aku makin jengkel aja melihat tingkah Mujahidi, tanpa memandang orang sebelahnya yang jakunnya naik turun. Sebenarnya aku ngiler pada rokok yang diisepnya, tapi aku tak mau merengek-rengek, minta satu dua isepan, walau kalau dikasih, aku gak bakal menolak Karena melihat Mujahidi, kelihatannya rokoknya tak akan dibagi, aku segera pamitan kepada bu Lurah untuk pergi ke musholla, sekalian nunggu waktu sholat duhur, sambil selonjoran karena semalaman belum tidur, aku langsung tidur, jam menunjukkan jam sepuluh lewat lima menit.


Wah kalau ingat jam jelek yang selalu melingkar di pergelangan tanganku ini, heran juga, yah walau jam tangan bermerek Casio ini menurut aku jelek, tapi awet banget, juga tahan air, aku malah mengira jam ini tak pakai batre untuk menopang jalan angkanya. Soalnya sampai tiga tahun ngak mati-mati, padahal semenjak kubeli, belum pernah sekalipun aku melepasnya. Mandi, tidur, kemana aja jam ini kubawa. Sampai bentuknya buduk banget. Kaca mikanya jaret-jaret kesana sini. Penunjuk waktunya yang cuma angka-angka itu memudahkanku. Apalagi kalau ingat waktu mendapatkannya, saat itu aku dari Serang Banten mau pulang ke Tuban nyampai terminal Pulo Gadung. Setelah membeli tiket bus malam jurusan Senori Tuban. Aku segera mencari tempat duduk, karena terlambat sedikit saja aku pasti tak akan dapat kursi, karena siapa yang cepat dia yang dapat. Untung aku masih kebagian kursi di tengah, walaupun bus yang kutumpangi jauh dari nyaman, aku berusaha menyamankan diri, bus masih menunggu penumpang penuh dan menunggu jam keberangkatan. Para pedagang asongan berseliweran, sehingga menambah keadaan makin ribut. Tak jarang para pedagang itu menawarkan dagangannya disertai paksaan. Terdengar seorang pedagang jam tangan menawarkan dagangannya, sampai di depanku dia menawarkan dagangannya kepadaku, tapi aku menggeleng.


“Dilihat dulu mas, ngelihat kgak bayar kok.” kata pemuda penjual jamnya. Aku pun melihat, walau aku tak tau tentang jam tangan, tapi menurutku semua jam tangan yang dijualnya tak bagus. Maka ketika dia menawarkan kepadaku untuk membeli satu, aku menolak, lagian aku tak punya uang. Tapi dia maksa malah memakaikan jam tangannya ke pergelangan tanganku.


“Ayolah mas dibayar, cuma limapuluh ribu aja kok.” Aku mau melepaskan jam tangan dari pergelangan tanganku, tapi pemuda itu menahan.


“Ayo dibayar,”


“Maaf, aku tak mau dan tak ingin punya jam tangan.” kataku, “Kamu jangan maksa.”


“Eh kamu udah ngelihat-lihat udah make jam tanganku tapi kgak mau bayar, kamu ngajak berantem?!” nadanya menantang. Sementara bus sudah jalan.

__ADS_1


“Heh yang makekan jamny kan kamu, kamu jangan memutar kata-kata ya, aku bilang aku tak punya uang.” aku juga mulai emosi.


Dia tersenyum mengejek.


“Heh, oke aku akan ambil semua uang di sakumu, sebagai pengganti jam tanganku.”


Aku diam saja ketika dia merogoh uang di sakuku, karena memang aku tak punya uang. Sementara kondektur telah menyuruhnya turun. Dia tak menemukan apa-apa kecuali uang lima ribuan.


“Ah kere…!” katanya sambil bergegas turun, karena kondektur yang sudah membentaknya untuk segera turun. Dan jam tangan ini sampai sekarang ada di tanganku. Aku berharap pemuda penjual jam itu insaf dan melakukan jual beli dengan wajar, dan aku juga berharap, jam tangan ini setiap ku pakai beribadah maka pemuda itu mendapatkan pahala.


“Eh, apa sudah saatnya sholat?” tanyaku karena menyangka, pemuda-pemuda ini mau sholat.


“Belum.” jawab mereka serempak.


“Lho, lalu kenapa kalian duduk di sini?” tanyaku heran, sambil membetulkan rambut panjangku yang ikatannya kendor, sehingga yang rambut pendek lepas, agak membuatku risih, kulihat Mujahidi tidur mendengkur di sebelah kananku, sekali waktu mulutnya berkriutan, mungkin sedang bermimpi makan emping atau daging yang agak liat, kulihat semua pemuda saling memberi isyarat untuk mewakili bicara. Akhirnya yang bicara pemuda bernama Jejen.

__ADS_1


“Jadi, anu…,” pemuda itu rikuh, sehingga dia susah mengeluarkan kata-kata. Jejen, pemuda ini ku taksir umurnya duapuluh dua tahun, tubuhnya kecil, tapi berotot karena biasa kerja di kebun. Wajahnya juga kecil tapi kelihatan tua. Jejen pernah ke tempat Kyai, tapi disentil Kyai, supaya jangan sering nonton video porno, lalu malu sekali, sehingga tak berani datang lagi.


“Anu mas Ian, maaf kalau kami mengganggu tidur mas Ian, kami semua pemuda desa meminta dengan sangat supaya mas Ian bersedia membimbing kami, menjadi guru silat di desa Pasir Seketi ini.” seperti telah melepaskan beban di dadanya, Jejen menarik napas lega.


Aku tak terkejut, biasa saja, sementara kulihat para pemuda yang kebanyakan umurnya di atasku itu, tegang menanti jawabanku.


“Aku mau-mau saja menjadi guru kalian, tapi apakah kalian sanggup untuk menjadi muridku?”


“Sanggup…!” terdengar suara serentak. “Kami sanggup disuruh apa saja,” kata Jejen menambahi. Karena waktu itu sudah masuk waktu sholat maka aku mengajak mereka semua sholat berjamaah. Setelah selesai menjalankan sholat, para pemuda itu duduk melingkariku, mungkin semua sekitar tigapuluh orang.


“Saudaraku semuanya,” aku membuka pembicaraan.


“Perlu kalian ketahui, ilmu yang akan kuturunkan kepada kalian ini, dinamakan ilmu laduni, dasar amalannya adalah wirid. Sementara kalian harus menjalani puasa, untuk memiliki ilmu ini, kalian harus membeli ilmu ini dengan puasa, semakin banyak kalian puasa, maka akan semakin banyak ilmu yang kalian dapat….” aku menjelaskan panjang lebar tentang ilmu laduni, dan setiap pertanyaan aku jawab sampai mereka puas. Setelah memberikan wirid yang harus jadi amalan, aku segera pamit meninggalkan pemuda-pemuda desa itu, karena pak Lurah telah datang memanggil untuk mengajakku makan. Kami makan dengan lahap, Mujahidi sampai nambah tiga piring, selesai makan kami duduk di beranda.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2