
berjalan, sekarang ini mereka ada lima orang..
Aku mencoba menggerakkan tubuh, tapi sia-sia.
Ah aku benar-benar tiada daya, tak mampu
melawan sama sekali, mereka memperkosaku habis-habisan😣, mereka ini apa?
Aku tak mengerti,jika aku menangis, kemudian mengatakan aku diperkosa, pasti jadi bahan tertawaan😑..
Maka besoknya aku pun memutuskan pulang ke pesantren,, untuk meminta solusi kepada Kyai.
Setelah pamit pada pak Kosasih aku pun pulang.
Sampai di pesantren Kyai hanya tersenyum
melihat aku yang loyo,
“Gak papa cuma jin-jin
perempuan yang nakal.” kata Kyai,
“Tapi Kyai..”
“Udah nanti ajak aja si Jauhari, sama si Majid,
untuk menemani.” kata Kyai menghiburku.
Besoknya aku berangkat lagi ke tempat pak
Kosasih.. Hari itu aku tak langsung kerja, jadi
malamnya aku disuruh istirahat dulu, setelah
ngobrol dengan pak Kosasih sampai jam dua
belas malam, kami pun beranjak tidur
berdampingan.
Sekarang akan kulihat apa reaksi
__ADS_1
perempuan itu.
Tentu kejadian yang menimpaku tak ku ceritakan pada ketiga temanku.
Rupanya kami bertiga mengalami hal yang berbeda-beda.
Majid kakinya diangkat dan diputar-putar,
sementara Jauhari dijatuhi anak kecil kira-kira
umur sembilan tahunan, diduduki dadanya dan
dipukul sampai wajahnya pada lebam, wajahnya yang hitam makin tambah hitam, sementara aku masih tetap diperkosa😥.
Sebenarnya kedua temanku ini sudah takut, dan mengajak aku kembali ke pondok, tapi tanggung lukisanku tinggal sedikit lagi selesai, maka ku bujuk mereka untuk menemaniku semalam lagi, karena paginya saling bercerita jadi kami tahu kisah masing-masing.
“Entar malem aku yang tidur di tempat kamu aja mas, biar aku ngerasain bagaimana rasanya
diperkosa, masak aku dibikin lebam kayak gini.”
Jauhari protes, dan ku iyakan aja.
Maka setelah kerja, kami pun berangkat tidur, dengan perasaan tegang. Sesuai permintaan Jauhari, aku pun menempati tempatnya Jauhari, dan Jauhari menempati tempatku tidur, jam setengah empat
Wajahnya yang jelek makin ga karuan, dan aku
lemas sekali karena melayani lima wanita😑, pinggangku benar-benar sakit, dengkul seperty tak ada olinya lagi, sementara Majid ngos-ngosan karena semalaman kakinya diangkat-angkat dan diputer-puter.
Tapi aku mengajak mereka berdua untuk neruskan tidur kembali, karena waktu
subuh masih lama, saat itulah aku melihat dari
pintu musholla masuk lima belas wanita cantik,
beraneka warna bajunya juga anak kecil bersisik ular, digiring seorang kakek bongkok membawa cambuk, nampak kelima belas wanita dan anak kecil itu takut, tunduk. Ctar..! Suara cambuk dilecutkan, para perempuan itu menjerit.
“Ayo minta maaf, kalian telah mengganggu para
santri Kyaixxxx, cepat minta maaf.!” bentak
kakek tua itu,
__ADS_1
dengan takut-takut para perempuan itu minta maaf, kemudian mereka digiring kakek itu, keluar musholla, akupun segera terbangun. Besoknya mencari tempat mandi. Disumur dekat musholla, lalu ikut sholat shubuh di
musholla, dan ketika Kyai Mashuri mengajakku
main kerumahnya aku menolak dengan halus.
Karena pekerjaan telah selesai maka aku dan
teman-temanku pun pamit pulang kepada pak
Kosasih.
Aku dipesan kalau membutuhkan pekerjaan
harap sudi datang, karena masih banyak yang
harus ku lukis.
Saat berpamitan inilah,pak Kosasih bercerita tentang riwayat masa lalunya rumah makan ini. Menurut kisahnya dulu sebelum menjadi rumah makan, tempat ini adalah jurang
yang lumayan dalam, sering kali terjadi
kecelakaan, kadang rombongan pengantin satu
mobil masuk jurang, semuanya meninggal dalam kecelakaan, ada satu keluarga dalam mobil semua meninggal dalam kecelakaan masuk jurang.
Ada juga truk rombongan kampanye masuk jurang,
walau tak semua mati, tapi akhirnya dari orang
yang tak mati dalam kecelakaan inilah diketahui,
bahwa setiap mobil yang celaka sebetulnya
jalannya tetap biasa saja, lurus, tapi entah
kenapa tiba-tiba mobil ada di awang-awang dan
meluncur ke jurang.
Melihat banyaknya kecelakaan itu, pak Kosasih
__ADS_1
pun membeli jurang dan tanah di sekitarnya, lalu dibangunlah rumah makan yang besar, dengan harapan termanfaatkannya tanah yang kosong dan yang lebih penting tak ada lagi kecelakaan. Tapi harapan pak Kosasih, hanya harapan saja, buktinya sampai sekarang kecelakaan di daerah.. Bersambung..