Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Air Terjun Nglirip


__ADS_3

Setelah pulang, aku segera masuk kamar, dan


kedua benda itu ku taruh di depanku lalu kututup bantal, aku mulai wirid, membaca fatehah kepada Nabi, dan membaca fatihah kepada ketiga hadam surat ikhlas, membaca wirid tiga kali, menyalami kepada hadam yang mendiami kedua benda tersebut, dan


“Demi kekuasaan Alloh yang mutlak, kembalilah kalian ke asal kalian, dengan izin Alloh… Allohu akbar,”


Lalu ketepuk bantal, dan kubuka, kedua benda itu telah tak ada, dan itulah pengalamanku pertama kali aku mendapatkan wesi aji, juga batu akik,,


Setelah kejadian itu, telah tak terhitung aku


didatangi, khadam-khadam, keris, batu akik, dan aneka macam benda pusaka, minta dirawat, tapi aku tak


pernah mau menerima.


Akan aku ceritakan sedikit pengalamanku


tentang aku didatangi khadam pusaka.


Waktu itu aku sedang mencari udara segar, dan sedikit hiburan, aku memutuskan pergi ke


Nglirip, yaitu tempat wisata air terjun, di


daerah Jojogan Singgahan, Tuban.


Sampai di Nglirip setelah membeli makanan kecil dan minuman ringan aku naik ke atas bukit kecil, yang ada pemakamannya.


Aku duduk di tepi jurang, sambil makan kacang dan menikmati pemandangan.


Sungguh pemandangan yang elok, jauh di bawah sana persawahan terhampar seperti permadani beludru, rumah-rumah kecil yang cuma terlihat


gentengnya saja, betapa kecilnya kita di tangan kekuasaan ALLOH Taala,,


Pohon-pohon seperti gerumbul kecil saja, lalu kalau mata menghadap ke timur, nampak bukit kecil, dengan persawahan Tumpang sari, seperti anak tangga raksasa, suara lenguh sapi yang dibuat membajak oleh petani, seperti suara panggilan lugu alam desa.


Jalan tikus para petani yang akan pergi ke sawah, seperti ular kecil yang memanjang,


Tepat di bawah kakiku, sekitar sepuluh meter,


nampak jalan raya, mengitari bukit, di bawahnya,,


Lagi sungai yang mengalir terus sampai ke


kampung-kampung dan sawah-sawah, menjadi tumpuan hidup para petani, satu meter ke bawah ada taman, tempat muda mudi berpacaran, sambil menikmati alam, saling bercengkrama, atau menghayalkan masa depan.


Lalu di bawah lagi ada penjual makanan kecil. Dan warung minuman juga jalan kampung menurun, nampak anak kecil dan beberapa perempuan memanggul kayu bakar di punggung, berjalan. Menuruni jalan


kampung.


Di belakang warung, sebuah jurang menganga, dan tempat air terjun tercurah, saat begini


kemarau baru mulai, air di bawah kulihat


berwarna hijau.


Air yang jatuh dan percikannya tertiup angin,


menjadi uap tersedot mentari, ketika cahaya


mentari menyentuhnya, terciptalah bias pelangi, melengkung dengan indahnya.


Sungguh lukisan alam yang sempurna.

__ADS_1


Keindahan yang tumpang tindih, menjadikan


mata orang menatap kagum, dan hati berperan, penilaian mengembalikan pada Sang Khalik bagi


yang ada iman di dadanya, dan bagi orang yang kosong iman, menganggap ini kejadian biasa.


Aku memutuskan ziarah sebentar ke syaih Abdul Jabar. Makam orang yang ada di situ, yang menurut orang tuaku masih ada hubungan nasab kepadaku, dan sampai kepada Jaka Tingkir, mas Karebet.


Tapi aku mau berziarah saja, mengingat dia


Ulama zaman dahulu, yang memperjuangkan


Islam, karena hari telah sore aku memutuskan


untuk bermalam di mushola, sebelah pemakaman,,


Di mana banyak juga para musafir yang sengaja


bermalam.


Usai sholat magrib dan isyak berjamaah, aku meneruskan membaca dzikir harianku, sampai malam kemudian tidur.


Dalam mimpi aku merasa ditemui oleh orang tua berikat kepala putih, dan wajahnya menatap lembut kepadaku.


Kumis dan jenggotnya putih dan tak terlalu


banyak, bajunya hitam legam dia berkata.


“Ngger..! Besok tunggulah warisan yang menjadi hakmu, di pertigaan Anjlog..”


Cuma itu yang diucapkan lalu dia menghilang.


Aku terbangun, dan kulihat semua orang


kembali.


Paginya setelah sholat subuh, aku mandi di


sungai, yang airnya teramat dingin, kabut yang


turun membuat pendek jarak pandang. Hanya


sejauh dua meter.


Embun di rumput pun terlihat amat tebal seperti permadani putih tipis terbentang, setelah mandi, dingin tak begitu terasa lagi menggigit tulang.


Karena kabut yang turun teramat tebalnya


pohon-pohon besar seperti bayangan raksasa.


Tapi perempuan-perempuan desa kulihat keluar dari kabut, suara mereka bercanda seakan tak


ada kesulitan hidup yang dihadapi, BBM yang


harganya melambung, bahan-bahan pokok yang ikut melonjak naik, seakan bukan masalah bagi mereka, setiap wajah dihiasi keceriaan,


Padahal aku yakin para perempuan itu bukanlah orang-orang kaya.


Mereka hanya orang yang teramat sederhana,


masak dengan kayu bakar yang diambil di hutan, yang mereka masak adalah padi yang mereka tanam dan mereka panen sendiri,,

__ADS_1


Lalu dibawa ke penggilingan, lauk mereka juga mereka tanam sendiri, jadi apa yang perlu dikawatirkan lagi,,


Mungkin pergi naik mobil, belum tentu dua atau tiga tahun mereka naik mobil, jadi walau bensin oleh pemerintah dinaikkan seliter satu juta, juga tak mempengaruhi mereka, sebab naik mobil bagi para orang gunung ini adalah siksaan tersendiri, yaitu siksaan mabuk perjalanan.


Mereka seperti


punya negara sendiri, yang bernama Republik


bersahaja. Hidup tak neko-neko, seadanya saja.


Perempuan-perempuan itu menyapaku ketika


lewat di depanku.


“Nderek punten gus…!”


“Manggo… ngatos-atos…” jawabku.


Aku melangkah meninggalkan Nglirip, dan segala keindahannya.


Aku penasaran dengan mimpiku semalam,apakah hanya sebuah bunga tidurkah??


Pertigaan Anjlog sekitar dua kilo, jalan menurun, kalau ditempuh dengan sepeda mungkin tak sampai sepuluh menit tanpa


dikayuh, karena jalanan menurun, malah


berbahaya kalau tak punya rem.


Aku tempuh jalan itu dengan jalan kaki,


disamping hari masih pagi, dan kabut tebal


sekali, jalan kaki tentu menyehatkan.


Sampai di pertigaan Anjlog, matahari telah meninggi, menyisakan kabut yang mulai menipis,, meninggalkan butiran air di pucuk daun dan rerumputan, bercahaya berkilauan seperti manik-manik mutiara.


Beberapa anak sekolah bergerombol menunggu bus, ada yang berseragam biru tua, berarti anak SMP, ada juga remaja berseragam abu-abu, berarti anak SMA,,


Kalau ada SMA di sini ya sekolah Bukit Tinggi, itu adalah nama sekolah lanjutan yang ada di bukit jadi dinamakan Sekolah Bukit Tinggi,,


Aku sebenarnya sekalian mau cari sarapan, tapi setiap warung pinggir jalan yang kutanyai, selalu menjawab belum matang, kulihat juga ada gerobak bakso,,


Ah sarapan bakso juga tak apa-apa kalau ada lontongnya, jadi kalau kepedesan ngrokok juga lebih enak, kulihat tukang bakso menata mangkok, aku dekati.


“Baksonya sudah ada bang?” tanyaku.


“Bentar lagi gus…., silahkan duduk dulu…!”


katanya hormat.


“Lontongnya ada bang…?”


“Oh ada-ada, banyak…”


Aku masuk ke dalam rumah-rumahan bambu,


yang dibuat serampangan dan seadanya, hanya


untuk melindungi para pemesan bakso agar bisa menikmati bakso pesanannya dengan nyaman.


Tak Ayal Saos, kecap, sambal, berjejer di depanku..

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2