
Ku duduk membaca Alfatehah tiga kali, Annas
tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga kali,
lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh.
Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan
membaca doa yang tadi siang diajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah tiga kali tanpa napas.
Leess!! Aku seperti begitu saja tertidur, tau-tau
aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di
udara, sementara jasad kasarku tergeletak
dalam kamar.
Aku segera keluar kamar menembus dinding,
bersalto di udara, terbang kesana kemari,
hinggap di pucuk pohon kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku
menghampiri majlis dzikir, masih melayang-
layang, kulihat semua santri selain diriku tengah konsentrasi dengan wiridnya masing-masing, sementara kulihat kyai juga tengah duduk memangku bantal tidur, dan tangan kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu mengangguk.
Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku, akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa
bintang yang nampak..
Sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri di
kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan sebuah sekolah
madrasah, yang angker sekali, aku ingin
menyelidiki ada apa sebenarnya di sekolah itu.
Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku, tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana
perluasan masjid, maka madrasah itu dipindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu tentulah dibutuhkan tanah urukan untuk
menyamaratakan tinggi tanahnya, dan tanah untuk urukan itu diambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit, hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak,,
Tapi kalau musim hujan datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele,seperti bandeng, dan ikan-ikan yang lain, anehnya kalau ikan itu diambil dan dimakan, maka orang yang memakan akan keracunan.
Madrasah itu jauh dari rumah penduduk, rumah paling dekat adalah tujuh puluh meteran,
sehingga madrasah tak diberi penerangan listrik
mengingat kalau malam madrasah tak digunakan kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur dipasang, tapi belum
sempat diberi saluran kabel listrik, tapi sungguh aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering menyala sendiri.
Keluarga yang tinggal paling dekat dengan
madrasah itu adalah keluarga pak Makrum, yaitu istrinya bu Rah, anak perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laki-laki, yang satu berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak Makrum adalah pindahan dari desa lain.
Tapi tak sampai setahun tinggal di situ, semua
keluarganya meninggal satu persatu, dari si
balita meninggal, disusul kakaknya, kakaknya
lagi, kemudian istri pak Makrum, dan terakhir
pak Makrum sendiri meninggal selang satu bulan, anehnya tanpa didahului sakit sama sekali.
Yang selamat adalah anak pak Makrum yang telah menikah dan dibawa hidup di daerah suaminya.
Sekitar lima puluh meter di depan madrasah ada sebuah sumur pompa, dibuat oleh santri, dan saat kemarau panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini selalu didatangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering, tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering.
Dan pasti di musim kemarau, akan ada cerita-
cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air di malam hari, lalu melihat
hantu, macem-macem ceritanya, ada yang
__ADS_1
melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang
melihat pocong, ada yang melihat orang
menggantung di pohon.
Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai rambutku berkibaran.
Kulihat ke bawah, kerlip lampu beraneka warna, dan gedung-gedung menjulang, pasti ini Jakarta, pikirku, karena kulihat dari angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret seperti sisik naga raksasa.
Baru beberapa menit terbang aku telah sampai di Jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang
menukik ke bawah. Ah betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan, kulihat dari atas kerata api
berjalan, aku menukik turun, dan terbang di
samping kereta api, kulihat penumpang di
dalamnya, lalu aku terbang di atas kereta dan
hinggap di atasnya.
Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak bayangan berkelebatan.
Sekejap saja aku telah sampai di sekolah
madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri melayang di udara depan madrasah.
Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan.
Ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas,
karena aku tak bawa jam, jadi kurang tau waktu.
Kulihat dua orang pemuda, kira-kira umur tiga
puluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau kulihat rasanya bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada lingkar hitam.
Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri
mereka berdua.
“Siapa kalian??” tanyaku
hampir serempak.
“Kenapa tak bisa?”
“Berarti kau juga arwah penasaran seperti
kami…?” tanya mereka balik.
Dan prasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran.
“Oo jadi kalian yang selama ini membuat isu
hantu, menakut-nakuti warga sini..?”
“Kami hanya butuh tempat, dan tak mau
diganggu, jadi kami takut-takuti warga…”
“Apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak Makrum?” tanyaku.
“Ah, apalah artinya hidup buat mereka… malah
susah aja, miskin, dan kalau mati setidaknya
membantu kami, agar orang takut tinggal di
daerah ini..” kata salah satu arwah itu.
“Kalian keji sekali, melihat kalian jadi arwah
penasaran, tentu kalian hidup selalu berbuat
jahat, tapi setelah matipun masih melakukan
kejahatan…”
__ADS_1
Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil teman
sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar ketika pulang dari sekolah.
“Apakah kalian juga yang membunuh Muflida,
gadis kecil yang berumur sepuluh tahun?”
tanyaku penasaran.
“Heh gadis itu, aku yang mencekiknya…, karena dia melihatku…” kata salah satu arwah, dengan
senyum mengejek.
“Apakah kalian juga yang membuat anak bernama Saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?”
“Aku yang memukul kakinya dengan kayu…
hahaha..” kata arwah satunya.
“Sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya ….!”
“E,e,e kau ini siapa? Berani melarang kami
tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir,”
“Baiklah aku akan memaksa kalian,” kataku
melompat menerjang.
Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib supaya
membayangkan yang kita inginkan, maka aku
membayangkan tanganku membara, mengelurkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur,
Tapi tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan mengenai salah satu dada arwah itu…
Dia menjerit diseret kawannya mundur, karena
dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan mengeluarkan bau sangit terbakar.
Asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara
temannya segera memanggulnya.
“Tunggu besok di sini kalau berani, guru kami
akan menghajarmu…” katanya sambil melesat
pergi , melompati jendela madrasah yang tinggi.
Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi,
pulang ke rumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua belas kurang seperempat.
Aku keluar lagi melayang ke atas masjid, turun
di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan
masjid adalah jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu
pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh dari menara bok,
atau tertumbuk palu paku bumi.
Aku melesat ke arah jembatan yang berjarak
dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga
detik aku telah berdiri di atas jembatan,
suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan
ini sering terjadi kecelakaan, ada anak taman
kanak-kanak yang dihantam mobil dan seketika meninggal di tempat.
Juga ada seorang petani yang mau pergi kesawah ditabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati.
__ADS_1
Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya,,
Bersambung....