
Jawabku sambil melirik mereka, dan menyalakan rokok Djisamsoe yang disodorkan padaku oleh Edi.
“Wah berani sekali.” desah Ikhrom. Sementara
Edi masih terbelalak.
“Yang bener, di kuburan?” tanya Edi dengan nada heran dan kaget,
“Emangnya kenapa?” tanyaku.
“Apa ndak boleh?” sambungku.
“Ya bukan begitu, maksudku berani sekali, apa
pernah didatangi pocong..?” tanya Edi.
“Pocong? Ya mungkin aja pernah, tapi kali aja
pocongnya ngeliat aku ndak punya uang jadi ndak ditakut-takuti, mungkin dia malas nakuti aku, ya mungkin bauku lebih parah dari mereka, la mereka mau nyumpal hidung, tangannya diikat, jadi mending jangan mendekat..” jawabku asal aja.
Yang tiap kata ngawurku pun makin membuat
hubungan pertemanan kami pun makin akrab, dan selama itu aku tetap di tempat penjualan sepatu tempat Edi bekerja, tentunya dengan pandangan orang yang lewat di koridor merasa aneh padaku,
Tapi aku cuek aja, toh pandangan mengucilkan dan menghinakan tak sekali dua kali ku terima.
Malam itu aku diajak ke tempat tinggal Edi dan
Ikhrom nginap di tempatnya, yaitu tempat
tinggal bossnya, karena memang mereka berdua ditampung di rumah bossnya,
Aku dikenalkan kepada Boss mereka, namanya pak Sugeng, dari Jogja, dan orangnya baik sekali, aku ditawari untuk bekerja, atau lebih tepatnya dicarikan pekerjaan, aku he-eh saja, walau niatku bukan untuk mencari pekerjaan,
Sehari dua hari seminggu dua minggu aku masih ikut jaga toko sepatunya pak Sugeng bossnya Edi dan Ikhrom, dan syukur penjualan meningkat beberapa kali lipat setelah ada aku,
Jadi pak Sugeng pun royal memberikan tip padaku, di samping makanku sudah terjamin, karena tiap hari diberi uang makan.
Pagi itu, aku berangkat kerja, dengan Edi dan
Ikhrom, seperti hari biasa, kami mampir ke
warung makan, untuk sarapan nasi bungkus di
tempat mbak Asih, penjual nasi bungkus pojok,
Tiba-tiba, mbak Asih sudah keluar dari warung
menyongsong kami, wajahnya nampak ceria
sekali.
“Ayo-ayo cah bagus sini makan,” sambil
menggelandang tanganku dan tangan Edi.
“Ada apa mbak?” tanya Edi, sementara aku diam saja.
“Udah ayo makan,” kata mbak Asih sambil
menyodorkan nasi bungkus spesial, dibilang
spesial karena pakai daging,
“Wah kami ndak pesan ini mbak..” kata Edi nolak,
“Udah ini gratis kok ndak bayar, malah adik Iyan boleh makan di sini terus nggak usah bayar…”
kata mbak Asih dengan pandangan berbinar-
binar.
__ADS_1
“Ya ndak bisa gitu mbak..” kataku rikuh.
“La mbak ini kan jualan, kalau aku makan di sini ndak usah bayar, ya mbak Asih nanti yang
bangkrut.” kataku.
“Udah…, ayo dimakan dulu…” kata mbak Asih.
Kami pun makan dengan lahap.
“Wah ini pasti ada apa-apanya, kamu apain Yan mbak Asih?” kata Edi melirikku, sementara sejak tadi Ikhrom cuma mengsam-mengsem kaya abis makan permen kecut.
Dengan cepat nasi bungkus pun telah pindah
tempat di dalam perut kami, tinggal bungkusnya doang, lalu kami seruput teh manis,
Mbak Asih mendekatiku dan menyodorkan rokok Djarum sebungkus, ku trima dan ku buka lalu ngambil satu dan ku nyalakan.
“Udah mbak, berapa?” tanya Edi, sementara
Ikhrom telah keluar dari warung duluan.
“Weh dibilang gratis kok ndak percaya…”
semprot mbak Asih.
“Udah gak usah bayar.” tambahnya.
“La ada apa to mbak? Apa mbak Asih sukuran?”
tanya Edi sambil memasukkan uangnya kembali ke sakunya.
“He-eh..” jawab mbak Asih sambil memberesi
piring dan gelas.
“Sukuran apa mbak?” tanya Edi iseng.
Ikhrom yang buka toko.” kata mbak Asih masih dengan wajah sumringah.
Kami pun duduk anteng.., lagian warung juga lagi sepi, jadi kami bisa ngobrol. Setelah mbak Asih duduk di salah satu kursi, lalu mulai bercerita, dan matanya selalu mengawasiku, si Edi sampai kelihatan curiga,
“Gini dik Edi…, mbak akhirnya hamil…, setelah
sepuluh taun menunggu…, mbak akhirnya bisa
hamil…” kata mbak Asih masih dengan mulutnya dipenuhi dengan senyum bahagia, karena mbak Asih sambil memandangku, jadi Edi pun ikut memandangku aneh.
“Kenapa Ed…?” tanyaku heran.
“Aku yang musti nanya kenapa.., bukan kamu…, kamu ada apa-apa ya sama mbak Asih?” tanya
Edi.
“Kenapa kamu nyangka begitu Ed?’ tanyaku makin heran.
“Eee.ee.. dengar dulu apa yang mbak akan
katakan, kenapa kalian malah ribut?”
“Iya ini harus jelas ini ada apa?!” kata Edi sambil menatapku curiga.
Tiba-tiba dari warung muncul suami mbak Asih, bernama pak Wahyu… dia langsung menyalamiku.
“Makasih doanya adik Iyan…” katanya sambil air matanya mengembang di pelupuk mata, lalu
memelukku dengan erat, jelas Edi makin bingung.
“Ini sebenarnya ada apa…?” tanya Edi setelah
pak Wahyu melepaskan pelukannya padaku, dan kami semua duduk, mbak Asih mulai cerita.
__ADS_1
“Gini lo Ed..” kata mbah Asih mulai cerita,
“Kamu kan tau, aku dan mas Wahyu sudah
berumah tangga selama hampir 12 tahun tapi
ndak juga di karunia anak,”
“Trus?” sela Edi ndak sabaran.
“Kami juga sudah berusaha dengan berbagai
cara, ke dokter ke dukun, ke shinshe, ke
paranormal, tapi hasilnya nihil, sampai rumah
tangga kami sudah berumur 12 tahun, tetap saja kami tak punya anak, nah pada minggu yang lalu, waktu nak adik Ian kemari makan sendiri, iseng-iseng, kami minta didoakan, supaya mendapat keturunan, lalu nak Iyan mendoakan,
Dan seminggu kemudian aku mual-mual terus, lalu ku periksakan ke dokter kemaren, dan ternyata aku dipastikan positif hamil, jadi kami teramat berterimakasih sama nak Iyan,..”
Edi menatapku.
“Wah diam-diam kamu paranormal?” tanya Edi,
sambil matanya dipicingkan.
“Wah kalau berdoa., kamu juga bisa, berdoa juga ajarannya Nabi, apakah Nabi itu, nabinya
paranormal?” tanyaku balik, yang memang orang kayak Edi, yang hidup bebas, pemuda yang tanpa kendali siapa pun,
Mungkin jangankan berdoa, mungkin sholat aja, setahun bisa dihitung dengan jari, aku juga maklum, maka aku memilih tak memperuncing masalah.
“Ooo gitu jadinya.”
“Pak Wahyu, mbak Asih, la ndak usah aku musti makan gratis di warung ini to, berdoa itu juga
kan ndak pakai biaya, juga belum tentu, hamilnya mbak Asih karena doaku yang diijabahi Alloh.
Jadi ndak usah memintaku makan di sini gratis, kayaknya kok ndak etis, rasanya juga ndak pantas kalau mendoakan minta balasan.” kataku pelan.
“Wah ndak bisa, pokoknya dek Ian harus makan di sini terus…!” kata mbak Asih sama pak Wahyu hampir berbarengan, “itu sudah nadar kami…”
kata mereka.
“Wah kalau gitu ya susah…” kataku berat.
“Udah kalau kamu ndak mau, biar aku yang
gantiin… wong dikasih enak kok ndak mau..”
Kata Edi bercanda dan menyeretku keluar warung dan berjalan cepat ke arah plaza.
Pagi itu aku dipanggil pak Sugeng,
“Ian, kamu dapat kerjaan di toko sepatu bata, mau nggak?”
tanya pak Sugeng ketika aku ada di depannya,
“Ya mau aja pak..” jawabku.
“Tapi saratnya kamu musti potong rambut, kamu potong rambutmu yang panjang itu, mau kan?”
tanya pak Sugeng lagi sambil melihat rambutku yang panjang sepunggung dan ku ikat ke
belakang dengan karet.
“Ah, kalau syaratnya itu ya ndak usah aja la
pak.” kataku berat,,,
Bersambung.....
__ADS_1