Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Bissholikhati, alqonitatu bil qonitati, azzaniyatu bizzaniyati


__ADS_3

“Wah aku wiridnya tak pernah selesai mas,


malah baru dapat bismillah seratus juga sudah ketiduran.”


“Ya kalau gitu, kamu pantas ditangkap Polisi.”


“Lho kok gitu mas?”


“Ya iya, la kalau mau disuruh menjalankan peringatan halus supaya mendekat dengan Alloh, dengan cara dzikir, kamu malah tidur, ya kalau diingatkan secara halus tak mengindahkan, ya Alloh akan menjadikanmu ditangkap Polisi, mungkin dengan di penjara kamu akan sadar.”


“Oalah kok malah gitu to mas, mbok saya dido’akan to mas biar tak dipenjara.”


“Ya kamu kalau ndak mau dimasukkan penjara ya dzikirnya diperkuat, jangan malas, kalau tidur, anak kecil juga bisa, semua orang juga senang, la kamu kan punya masalah, kok malah lebih memilih tidur, ya nanti tidur saja di penjara kan lebih banyak waktu.”


“Waduh bagaimana mas, saya tak mau dipenjara.”


“Ya kalau tak mau dipenjara, dzkir yang ku beri itu dituntaskan, kan selama ini dzikirmu tak ada yang tuntas,”


“Tapi kan sudah aku bayar besoknya mas.”


“Kalau besoknya tak tuntas, kan itu namanya sama saja hutang dibayar hutang, ya kayaknya memang kamu itu sudah terlanjur kebiasaan diri membayar hutang pakai hutang, masak sampai dzikir saja diutang, dan dibayar dengan hutang.”


“Lalu siapa nama kakak orang yang kamu hutang padanya itu?” tanyaku pada Suhandi yang masih kelihatan bingung dan takut karena akan diciduk Polisi.

__ADS_1


“Namanya Ahmadi, kata orang daerahnya dia itu ilmu kejawennya tingkat tinggi.” jawab Suhandi.


“Ya itu nanti biar aku yang akan mengurus, kamu urus saja urusan dzikirmu itu, jangan sampai punya hutang, masak dzikir juga dihutang…?”


“Iya mas, akan saya penuhi semua dzikirnya, tapi kadang saya ndak sadar tidur sendiri kalau lagi dzikir.”


“Seseorang itu kalau punya kemauan kuat ya tak akan tidur, sebab keinginan kuatnya mengalahkan kantuknya, kenapa keinginan kuatnya bisa mengalahkan kantuknya, karena keinginan kuatnya punya landasan alasan yang kuat, contoh seorang petani, yang pergi berpanas-panasan ke sawah, untuk nyangkul


sawahnya, walau panas dia tetap saja menyangkul, bukannya lihat hari akan sawah


lantas membatalkan pergi ke sawah, jika kok dia tiap panas membatalkan pergi ke sawah, dan tiap hari panas kan sawahnya jadi tak pernah dicangkuli, dan berarti sawahnya tak akan pernah ditanami?


Kenapa dia panas-panas memaksakan diri pergi ke sawah, dan tak memperdulikan panas tetap saja menggarap sawahnya, karena dia mengharap sawah yang ditanamnya nantinya akan panen, panen itu kan tak terlihat ketika si petani itu menyangkul sawah, tapi kenapa dia tetap menyangkul dan menggarap sawahnya, walau panen belum kelihatan sama sekali, sebab dia punya keyakinan kalau akan panen nantinya, sama dengan orang yang menjalankan amaliyah.


“Iya mas saya paham, saya akan menjalankan apa yang mas perintahkan.”


“Ini tergantung dirimu sendiri, kalau kamu meninggalkan, ya aku sendiri percuma mendo’akan, ya nanti dijalani saja hidup di


penjara.”


Hari itu, Suhandi pulang dengan keseriusan ingin menjalankan amalan, sementara jama’ah majlisku yang lain mendapat tawaran tanahnya disewa mendirikan tower seluler, ada dua orang yang ikut majlisku yang mendapat tawaran tanahnya disewa untuk pendirian tower seluler senilai 200 juta masa sewa sepuluh tahunan, cuma yang satu laporan padaku dan yang lain tak laporan, yang laporan padaku minta ku do’akan agar prosesnya lancar, tanpa gangguan apapun, dan jika berhasil, dia menjanjikan akan memberangkatkanku umroh sekalian dengan istriku.


Aku hanya tertawa, karena hal seperti itu biasa, biasa kadang ada orang sakit datang lalu bilang, nanti kalau aku berdo’a dan penyakitnya ternyata sembuh, aku akan dikasih motor, atau dibelikan mobil pokoknya janji-janji, tapi setelah sembuh uang seperak pun tak keluar, orang itu selalu mudah memberikan janji kalau lagi butuh tapi akan mengingkarinya kalau kebutuhannya sudah terpenuhi.

__ADS_1


“Ah ndak usah janji yang muluk-muluk, pasti saya do’akan, ya kalau mau bantu, bantu saja uang secukupnya dan seikhlasnya untuk pembangunan majlis, karena ini soal bisnis, jadi sekalian diperjelas, maunya bantu berapa, kalau towernya sukses?” tanyaku.


“Baik akan ku beri 5 juta.” jawab jamaahku itu.


“Ya ndak papa, kalau ikhlasnya segitu, insaAlloh akan ku do’akan agar prosesnya lancar.”


Dan tower ku do’akan dan sekarang sudah tarap pembangunan, tapi memang apa yang dijanjikan padaku akan tak diberi, ya aku sendiri tak mempermasalahkan itu, dan jama’ahku yang satunya yang juga mendapat tawaran pendirian tower di tanahnya jadinya gagal, jika Alloh berfirman almu’minatu bil mu’minati,


assholikhatu bissholikhati, alqonitatu bil


qonitati, azzaniyatu bizzaniyati,


Kata gampangnya orang yang jahat itu akan kumpul dengan orang jahat, orang baik cocoknya akan kumpul dengan orang baik, orang ikhlas akan kumpul dengan orang ikhlas, dan kumpulan orang-orang itu akan sesuai dengan masing -masing kecocokannya sendiri, malah tanah dan rumah yang sebelumnya oleh orang mau diwakafkan untukku, sekarang ku tanya malah dimintai membayar artinya aku harus beli 350 juta, padahal sebelumnya sudah mau diwakafkan untuk kepentingan majlisku, ya mungkin ini cobaanku dan Alloh menunjukkan yang terbaik bagiku, daripada nantinya sudah ku dirikan majlis kemudian disuruh bayar atau tanah diminta kembali, memang lebih baik dibeli, walau uang serupiah pun sebenarnya aku tak pegang, karena memang aku sendiri tak punya pekerjaan


yang diandalkan, kerjaku hanya memimpin majlis dzikir dan jika ada yang minta tolong ku tolong do’akan, walau aku tak diberi apa-apa, juga tak papa, asal bisa berguna untuk orang lain, dan ternyata Alloh belum selesai mencobaku dengan masalah pendirian majlis, Askan sudah gembar-gembor ingin menggagalkan soal pendirian tower.


Dia menghasut semua orang yang di sekitar tower agar tak menyetujui, tentang pendirian tower, dia mengatakan kalau tower itu sangat berbahaya, bisa mengakibatkan tumor otak, air dalam tanah akan berubah, bahkan bisa saja merobohi orang, dan siapa nantinya yang akan bertanggungjawab,


Anehnya lagi aku yang dibawa-bawa kembali, dibilang kalau aku ini orang miskin yang tak punya apa-apa tak sekolah mau merusak, karena diikuti, terjadilah ribut, sampai diadakan sidang di balai desa menghadirkan Polres dan camat setempat, dan masalah pun dapat diselesaikan, tapi setelah itu, Askan kemudian menghasut dan memprofokasi orang- orang agar pendirian tower gagal, dan tower tak


jadi berdiri.


Padahal rumah Askan dengan rencana pembangunan tower itu berjarak satu kilometer, dan dia bukan warga desa yang ku tempati tapi desa lain, tapi tetap saja Askan mengusahakan agar tower tak jadi dibangun, dengan meminta orang-orang unjuk rasa, padahal semua orang yang di sekitar tower sudah memperoleh dana konpensasi, dan akhirnya Askan mengajak orang-orang yang rumahnya jauh dari tower, mau diajak unjuk rasa, dan saat...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2