
Tiba-tiba mataku melihat dua benda
tergeletak, aku segera memungutnya.
Benda itu ternyata sebuah batu akik sebesar
jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris
kecil, beserta warangkanya, keris itu cuma sebesar jari kelingking anak kecil, tapi bentuknya amat
antik sekali, walau bentuknya teramat kecil tapi sangat antik sekali, warangkanya terbalut kain
rapi, tapi sudah sangat usang dan kuno,,
Ketika ku
tarik lolos keris itu dengan kedua jariku, ah betapa mungilnya tapi teramat indah, karena keris itu dihiasi ukiran teramat detail,sungguh bernilai seni, aku tak
sanggup membayangkan bagaimana mungkin, seseorang mengukir dalam keris kecil ini
sedemikian detailnya.
Tapi aku bukan tipe orang yang suka keris dan batu akik, walau banyak beredar cerita tentang batu dan keris yang mempunyai kesaktian.
Aku hanya orang yang tak punya pikiran neko-
neko, bagiku mengamalkan agama sebaik
mungkin, hidup tenang, istri sholehah, anak-anak yang sholeh-sholehah, serta keluarga selamat, sejahtera itu lebih dari cukup buatku.
Walau aku percaya keampuhan keris, karena jin yang menghuninya. Tapi aku lebih percaya jika Gusti Alloh adalah sebaik-baik penolongku.
Aku pun turun dari internit.
“Kamu mau keris Zam?“ tanyaku setelah turun.
“Keris? Untuk apa mas?” tanyanya dengan
pandangan heran.
“Ini aku dapat keris dari atas, ya kalau kamu
mau?”
“Wah kalau saya ini kalau ada di kasih duwit aja, jangan keris, saya ini orang susah mas, butuhnya duwit…”jawab Zamrozy
“Ya udah kalau tak mau…”
“Coba lihat kerisnya mana mas?”
Keris segera ku keluarkan, dan dilihatnya,
setelah dijinggleng dan diteliti, keris diberikan
lagi padaku.
“Wah aku gak ngerti sama sekali tentang keris
mas, tapi kok kecil sekali ya, kayak mainan anak-anak aja.”
“Tapi kalau mas Ian mau, aku punya teman yang kesukanya mengoleksi keris, dia pasti mau banget dikasih keris,”
“Nanti malem suruh aja datang kesini.”ujarku
“Tapi dia salah satu preman stasiun mas, gimana?" Jawabnya
“Ya nggak papa, suruh aja datang, siapa
namanya?”
“Namanya Gimo mas… baik nanti aku hubungi.”
Siang itu aku mengisi batu untuk ku tanam ke
empat penjuru rumah, sebagai pagar
gaib. Malamnya Gimo datang, setelah berkenalan denganku, aku mengajaknya duduk di teras, membicarakan keris yang aku temukan.
Gimo orangnya tinggi besar, dempal, dan
berotot, sangat suka mempelajari ilmu
kesaktian, dan suka mengumpulkan wesi aji dan batu akik.
“Bener nih kang sampean mau ngasih saya
__ADS_1
keris?” tanyanya setelah duduk di sampingku.
Dan Lutfi juga Zamrosi ikut nimbrung ngobrol.
“Ia mas Gimo, mas Ian ini, mendapatkan keris
tadi siang,” sela Zamrosi.
“Dapat dari mana to mas?” tanya Lutfi yang belum tau kronologinya.
“Dapat dari internit..” kata Zamrosi,
mendahuluiku menjawab.
“Kamu ini mbok ya diam dulu to Zam, biar mas
Iyan cerita,” kata Lutfi.
“Iya Zamrosi benar, aku mendapatkannya di
ternit,”Jawabku
“Wah bagaimana itu bisa tau kang? Ah pasti
sampean ini orang sakti.” kata Gimo sumringah.
“Ya kebetulan saja…”
“Ah tak mungkin kebetulan, wong tadi pagi tiba-
tiba aja pengen naik ke ternit, kan aneh?” kata Zamrosi nyerocos lagi.
“Gimana gak sakti to mas Gimo..? Mas Ian ini kan diminta kesini untuk memagar rumah yang kita tempati ini, diminta bos yang punya rumah ini,” kata Lutfi, menjelaskan.
“Wah semuda ini, masih bocah..!,” kata Gimo.
“Tapi nyatanya begitu…”
“Sudah-sudah, nih mas Gimo keris dan batu
akiknya, silahkan diterima…” kataku sembari
mengeluarkan kedua benda, dan menyerahkan
“Wah kecil amat kerisnya?” kata Lutfi, yang
memang baru melihat keris ini.
“Wah ini keris dan batu tak bisa dipisahkan
kang, dan keris ini ampuh sekali.” kata gimo
setelah mengamat-amati sebentar.
Saat kami tengah asyiknya ngobrol, tiba-tiba
“Duaar!!, bruakkk..!!”
Suara ledakan tabrakan motor dengan motor, kulihat sekilas, sebuah motor Gl pro, menyalip ke kanan mendahului kendaraan lain, tak taunya ada mobil angkot di depan, maka motor itu membanting ke kiri, untuk menghindari mobil angkot, dan ternyata di samping angkot ada motor lain yang juga mau mendahului angkot,,
Maka tak terelakkan lagi kecelakaan pun terjadi, kedua pengendara sampai terpental dan terbanting di aspal.
Pengendara Gl pro langsung tewas di tempat.
Keadaan menjadi ribut sekali, jalanan macet
total, karena kecelakaan tepat di tengah jalan,
tubuh pengendara Gl pro tergeletak, dan darah
meleleh kemana-mana, mungkin kepalanya pecah.
Orang-orang membludak, karena memang masih berlangsung kegiatan Agustusan, makan gratis.
Ku lihat Gimo tangkas juga, dia segera
menggotong pengendara Gl pro, di masukkan ke pikup yang kebetulan lewat dan disuruh membawa ke rumah sakit.
Sementara pengendara Karisma musuh Gl pro tak apa-apa, walau luka lecet-lecet, tapi kedua
motor hancur sana-sini pecahan onderdil, dan
kaca lampu berserakan di mana-mana
.
__ADS_1
Ah ini benar-benar tak beres, tak bisa
dibiarkan, aku segera masuk, mengambil air
wudhu, kemudian duduk dalam kamar,
menyatukan rasa dan cipta, membaca semua
wirid dalam hitungan tiga-tiga, kemudian
membaca doa hijab yang diajarkan kyai
kepadaku.
Mengalir kekuatan dari pusarku,
kemudian tersalur ke tanganku. Kubayangkan aku mengitari jalan depan rumah lalu menangkap
semua lelembut, jin, siluman, mengikatnya jadi satu kemudian kubuang ke belakang rumah dalam keadaan terikat.
Aku bernapas lega, dan mengusap keringat yang keluar mbrendol-mbrendol sebesar jagung dari pori-pori tanganku, keringat bahkan menetes-netes dari ujung hidungku, juga mengalir dari pori-pori kepalaku, mengalir ke leherku, dan punggungku sampai lengket, basah oleh keringat.
Aku segera beranjak keluar, tak lupa mengambil keempat batu yang tadi siang kuisi, sementara di luar keadaannya sudah sepi, Lutfi dan Zamrosi masih duduk, ngobrol ditemani beberapa tetangga toko sekitar,
Aku memanggil mereka berdua, lalu
kuajak menanam dua batu di pojok belakang
rumah, dan dua batu di pojok depan rumah.
Malam itu aku tak tidur terlalu malam,
mengingat wiridku telah selesai. Esok paginya,
setelah subuh aku mengajak kedua temanku itu jalan-jalan, sekalian mencari sarapan bubur
kacang hijau, di tengah perjalanan kami bertemu Gimo yang sedang menggenjot sepedanya,,
“Mau kemana kang Gimo?” sapaku. Dia langsung berhenti.
“Ee…kang Ian, kebetulan sekali kang, aku mau ke tempat kang Ian, mau mengembalikan keris dan akik pemberian kang Ian semalem.”
Katanya, sembari menuntun sepedanya di sampingku.
“Lho emangnya kenapa? Bukankah kang Gimo ini suka mengoleksi benda antik…?” tanyaku heran.
“Wah cilaka kang..” katanya..
“Cilaka bagaimana to?” tanyaku.
“Kang Gimo mbok sampean ceritakan yang jelas.” Zamrosi menyela.
Pemuda kekar yang penuh tato di tubuhnya itu
menarik napas dalam lalu mulai bercerita.
Semalam setelah terjadi kecelakaan Gimo
mencariku, dan menanyakan kepada kedua
temanku tentang keberadaanku, tapi oleh kedua
temanku aku dilihat dalam keadaan wirid, jadi Gimo pun pamit pulang, dia mengendarai sepeda pancalnya untuk pulang, karena memang rumahnya di daerah Pekalongan utara.
Saat sedang bersepeda itu dia melewati
gerombolan pemuda yang nongkrong di gang
sambil ketawa-ketawa, aneh Gimo marah dan
menghampiri pemuda yang ada enam orang itu.
“Hei, mengetawakanku!” bentaknya.
“Tidak kang, kami ketawa sendiri.” jawab
seorang pemuda yang duduk paling pinggir,
menatap heran pada Gimo.
Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu,
melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang dipegang kerah bajunya oleh Gimo....
Bersambung..
__ADS_1