Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Evek Benda Bertuah


__ADS_3

Tiba-tiba mataku melihat dua benda


tergeletak, aku segera memungutnya.


Benda itu ternyata sebuah batu akik sebesar


jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris


kecil, beserta warangkanya, keris itu cuma sebesar jari kelingking anak kecil, tapi bentuknya amat


antik sekali, walau bentuknya teramat kecil tapi sangat antik sekali, warangkanya terbalut kain


rapi, tapi sudah sangat usang dan kuno,,


Ketika ku


tarik lolos keris itu dengan kedua jariku, ah betapa mungilnya tapi teramat indah, karena keris itu dihiasi ukiran teramat detail,sungguh bernilai seni, aku tak


sanggup membayangkan bagaimana mungkin, seseorang mengukir dalam keris kecil ini


sedemikian detailnya.


Tapi aku bukan tipe orang yang suka keris dan batu akik, walau banyak beredar cerita tentang batu dan keris yang mempunyai kesaktian.


Aku hanya orang yang tak punya pikiran neko-


neko, bagiku mengamalkan agama sebaik


mungkin, hidup tenang, istri sholehah, anak-anak yang sholeh-sholehah, serta keluarga selamat, sejahtera itu lebih dari cukup buatku.


Walau aku percaya keampuhan keris, karena jin yang menghuninya. Tapi aku lebih percaya jika Gusti Alloh adalah sebaik-baik penolongku.


Aku pun turun dari internit.


“Kamu mau keris Zam?“ tanyaku setelah turun.


“Keris? Untuk apa mas?” tanyanya dengan


pandangan heran.


“Ini aku dapat keris dari atas, ya kalau kamu


mau?”


“Wah kalau saya ini kalau ada di kasih duwit aja, jangan keris, saya ini orang susah mas, butuhnya duwit…”jawab Zamrozy


“Ya udah kalau tak mau…”


“Coba lihat kerisnya mana mas?”


Keris segera ku keluarkan, dan dilihatnya,


setelah dijinggleng dan diteliti, keris diberikan


lagi padaku.


“Wah aku gak ngerti sama sekali tentang keris


mas, tapi kok kecil sekali ya, kayak mainan anak-anak aja.”


“Tapi kalau mas Ian mau, aku punya teman yang kesukanya mengoleksi keris, dia pasti mau banget dikasih keris,”


“Nanti malem suruh aja datang kesini.”ujarku


“Tapi dia salah satu preman stasiun mas, gimana?" Jawabnya


“Ya nggak papa, suruh aja datang, siapa


namanya?”


“Namanya Gimo mas… baik nanti aku hubungi.”


Siang itu aku mengisi batu untuk ku tanam ke


empat penjuru rumah, sebagai pagar


gaib. Malamnya Gimo datang, setelah berkenalan denganku, aku mengajaknya duduk di teras, membicarakan keris yang aku temukan.


Gimo orangnya tinggi besar, dempal, dan


berotot, sangat suka mempelajari ilmu


kesaktian, dan suka mengumpulkan wesi aji dan batu akik.


“Bener nih kang sampean mau ngasih saya

__ADS_1


keris?” tanyanya setelah duduk di sampingku.


Dan Lutfi juga Zamrosi ikut nimbrung ngobrol.


“Ia mas Gimo, mas Ian ini, mendapatkan keris


tadi siang,” sela Zamrosi.


“Dapat dari mana to mas?” tanya Lutfi yang belum tau kronologinya.


“Dapat dari internit..” kata Zamrosi,


mendahuluiku menjawab.


“Kamu ini mbok ya diam dulu to Zam, biar mas


Iyan cerita,” kata Lutfi.


“Iya Zamrosi benar, aku mendapatkannya di


ternit,”Jawabku


“Wah bagaimana itu bisa tau kang? Ah pasti


sampean ini orang sakti.” kata Gimo sumringah.


“Ya kebetulan saja…”


“Ah tak mungkin kebetulan, wong tadi pagi tiba-


tiba aja pengen naik ke ternit, kan aneh?” kata Zamrosi nyerocos lagi.


“Gimana gak sakti to mas Gimo..? Mas Ian ini kan diminta kesini untuk memagar rumah yang kita tempati ini, diminta bos yang punya rumah ini,” kata Lutfi, menjelaskan.


“Wah semuda ini, masih bocah..!,” kata Gimo.


“Tapi nyatanya begitu…”


“Sudah-sudah, nih mas Gimo keris dan batu


akiknya, silahkan diterima…” kataku sembari


mengeluarkan kedua benda, dan menyerahkan


“Wah kecil amat kerisnya?” kata Lutfi, yang


memang baru melihat keris ini.


“Wah ini keris dan batu tak bisa dipisahkan


kang, dan keris ini ampuh sekali.” kata gimo


setelah mengamat-amati sebentar.


Saat kami tengah asyiknya ngobrol, tiba-tiba


“Duaar!!, bruakkk..!!”


Suara ledakan tabrakan motor dengan motor, kulihat sekilas, sebuah motor Gl pro, menyalip ke kanan mendahului kendaraan lain, tak taunya ada mobil angkot di depan, maka motor itu membanting ke kiri, untuk menghindari mobil angkot, dan ternyata di samping angkot ada motor lain yang juga mau mendahului angkot,,


Maka tak terelakkan lagi kecelakaan pun terjadi, kedua pengendara sampai terpental dan terbanting di aspal.


Pengendara Gl pro langsung tewas di tempat.


Keadaan menjadi ribut sekali, jalanan macet


total, karena kecelakaan tepat di tengah jalan,


tubuh pengendara Gl pro tergeletak, dan darah


meleleh kemana-mana, mungkin kepalanya pecah.


Orang-orang membludak, karena memang masih berlangsung kegiatan Agustusan, makan gratis.


Ku lihat Gimo tangkas juga, dia segera


menggotong pengendara Gl pro, di masukkan ke pikup yang kebetulan lewat dan disuruh membawa ke rumah sakit.


Sementara pengendara Karisma musuh Gl pro tak apa-apa, walau luka lecet-lecet, tapi kedua


motor hancur sana-sini pecahan onderdil, dan


kaca lampu berserakan di mana-mana


.

__ADS_1


Ah ini benar-benar tak beres, tak bisa


dibiarkan, aku segera masuk, mengambil air


wudhu, kemudian duduk dalam kamar,


menyatukan rasa dan cipta, membaca semua


wirid dalam hitungan tiga-tiga, kemudian


membaca doa hijab yang diajarkan kyai


kepadaku.


Mengalir kekuatan dari pusarku,


kemudian tersalur ke tanganku. Kubayangkan aku mengitari jalan depan rumah lalu menangkap


semua lelembut, jin, siluman, mengikatnya jadi satu kemudian kubuang ke belakang rumah dalam keadaan terikat.


Aku bernapas lega, dan mengusap keringat yang keluar mbrendol-mbrendol sebesar jagung dari pori-pori tanganku, keringat bahkan menetes-netes dari ujung hidungku, juga mengalir dari pori-pori kepalaku, mengalir ke leherku, dan punggungku sampai lengket, basah oleh keringat.


Aku segera beranjak keluar, tak lupa mengambil keempat batu yang tadi siang kuisi, sementara di luar keadaannya sudah sepi, Lutfi dan Zamrosi masih duduk, ngobrol ditemani beberapa tetangga toko sekitar,


Aku memanggil mereka berdua, lalu


kuajak menanam dua batu di pojok belakang


rumah, dan dua batu di pojok depan rumah.


Malam itu aku tak tidur terlalu malam,


mengingat wiridku telah selesai. Esok paginya,


setelah subuh aku mengajak kedua temanku itu jalan-jalan, sekalian mencari sarapan bubur


kacang hijau, di tengah perjalanan kami bertemu Gimo yang sedang menggenjot sepedanya,,


“Mau kemana kang Gimo?” sapaku. Dia langsung berhenti.


“Ee…kang Ian, kebetulan sekali kang, aku mau ke tempat kang Ian, mau mengembalikan keris dan akik pemberian kang Ian semalem.”


Katanya, sembari menuntun sepedanya di sampingku.


“Lho emangnya kenapa? Bukankah kang Gimo ini suka mengoleksi benda antik…?” tanyaku heran.


“Wah cilaka kang..” katanya..


“Cilaka bagaimana to?” tanyaku.


“Kang Gimo mbok sampean ceritakan yang jelas.” Zamrosi menyela.


Pemuda kekar yang penuh tato di tubuhnya itu


menarik napas dalam lalu mulai bercerita.


Semalam setelah terjadi kecelakaan Gimo


mencariku, dan menanyakan kepada kedua


temanku tentang keberadaanku, tapi oleh kedua


temanku aku dilihat dalam keadaan wirid, jadi Gimo pun pamit pulang, dia mengendarai sepeda pancalnya untuk pulang, karena memang rumahnya di daerah Pekalongan utara.


Saat sedang bersepeda itu dia melewati


gerombolan pemuda yang nongkrong di gang


sambil ketawa-ketawa, aneh Gimo marah dan


menghampiri pemuda yang ada enam orang itu.


“Hei, mengetawakanku!” bentaknya.


“Tidak kang, kami ketawa sendiri.” jawab


seorang pemuda yang duduk paling pinggir,


menatap heran pada Gimo.


Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu,


melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang dipegang kerah bajunya oleh Gimo....


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2