
Nyambung antara satu yang lainnya, endingnya tak jelas, sebab bukan kisah yang dengan memakai sutradara, ini hanya kejadian keseharian, tak ada yang hebat, karena setiap orang pasti juga punya kisah hariannya, asal orang itu hidup, pasti tiap detik, menit, jam,hari, minggu, bulan, pasti punya kisah, mungkin kisahnya bahkan ada yang lebih dasyad dari kisah ku, dan kisahku ini masih terus berlanjut…………….
Aku sendiri, terus terang saja, masih kadang menemukan kebuntuan atas apa yang jelas- jelas ku alami, sehingga mau menceritakan juga selalu timbul tarik ulur, apa ini ku tulis sebagai kisah yang selayaknya dibaca orang lain apa tidak, atau hanya untuk konsumsiku sendiri saja, sering seorang temanku yang misal berbareng denganku, padahal ku beritahu kisah sedikit dari yang ku alami, ujungnya juga akan timbul menghina dalam tanda kutip, penghinaan yang disembunyikan di balik senyum sinis dan kata pedas di telinga dengan apa yang ku alami itu hanyalah buah dari terlalu menghayalnya aku. Lha padahal aku sendiri juga tak sedang menghayal apa-apa, karena semua juga terjadi sebagaimana terjadi mengalir dengan sewajarnya.
Jadi ini anggap saja aku sedang bermimpi. Jadi kisahku setelah ini adalah mimpi. Mungkin mimpi yang panjang, dan teramat panjang. Aku bermimpi, mimpi yang amat buruk, mimpi yang orang pun tak akan mau mendapat mimpi sebagaimana mimpi yang ku alami, karena betapa buruk mimpiku ini, mimpi dihianati muridku sendiri, dan muridku itu lantas membayar banyak sekali dukun santet, yang tak perduli, siang, malam, terus-terusan menyerangku dengan ilmu santet, kepada semua keluargaku, dan juga kepada para muridku yang lain. Jadi ingat guruku yang sudah ogah ogahan menerima murid, karena banyak sekali pengalaman beliau dihianati muridnya, bukan hanya satu dua, tapi sampai ribuan orang yang menghianatinya. Sementara aku baru satu dua, sudah terasa berat.
Kadang dalam diri juga timbul tak percaya, walau jelas-jelas dihianati, tapi dalam batin, menelisik apa yang ku lakukan ku rasakan tak benar, padahal yang ku lakukan ku rasakan benar-benar saja, juga tak menyalahi agama, dan aturan syariat, kok ya aku dihianati…? Dicari celah juga tak akan ketemu, karena mungkin di mataku sendiri, aku merasa selalu benar, juga belum tentu di mata orang lain. Kembali ke mimpi malam yang tak habis. Aku bermimpi, para jin dari segala penjuru bumi datang berduyun-duyun padaku, dari segala penjuru, dari bumi lapis tuju ke bawah, dan dari langit lapis tuju ke atas, dari jin yang tinggal di kayangan, ada yang berbentuk gareng, semar, bahkan kera beraneka kera, bahkan ada yang berbentuk kera putih. Semua berbondong- bondong masuk Islam, atau ingin ku Islamkan. Suasana jadi masukkan Islam jin.
Dan terus datang silih berganti, sementara itu juga serangan para dukun santet juga memberondongku dari segenap penjuru. Di mimpi, datang juga nabi Sulaeman bin Daud, beliau memberikan cincin gaib di jariku, namanya juga sudah mimpi dan gaib lagi, ya jelas makin gak ada wujudnya, lalu beliau memakaikan aku mahkota, aku pakai saja, karena gaib, aku sendiri tak tau aku ini sedang memakai atau tidak. Jin dari pengikutnya nabi Sulaiman juga berduyun-duyun menghadap padaku, dan masuk Islam, gantian jin dari penguasa seluruh gunung di Jawa, dari gunung semua gunung, dan dari penguasa sungai dan hutan, semua datang bergantian menghadap padaku, untuk minta diIslamkan, sampai akhirnya seluruh Jawa, meluas ke semua gunung, lembah, dan hutan juga kawasan di seluruh Indonesia, lalu meluas sampai ke kawasan seluruh dunia, dan jin penguasa seluruh dunia sampai semua laut.
Sampai laut merah dan raja-raja semua jin dari semua dunia datang menyatakan takluk dan siap berada di bawahku. La kok ya makin aneh, mimpi kok jadi penguasa segala jin dan sampai raja diraja jin seluruh dunia yang sudah ada sejak jaman nabi Adam AS, menghadapku, dan siap takluk di bawah perintahku, walah mimpi memang tak ada batasnya. Untung hanya mimpi. Resmi sudah aku menjadi raja diraja yang dipertuan raja segala jin seluruh dunia, sadar dari mimpi misalkan, ingin jadi hansipnya jin saja aku gak ingin sama sekali apalagi jadi rajanya, pikiranku simpel saja ndak muluk- muluk, hidup tentram dan selalu berkecukupan, untungnya ini hanya mimpi, jadi ya jadi raja jin juga gak ada salahnya. Bergantian semua raja jin menghadapku, dan jin semua kawasan juga bergantian menghadapku. Akhirnya banyak yang ku tahu nama-nama raja atau ratu jin dari semua kawasan gunung, dan sungai, juga lembah dan daerah. Mungkin akan ku tulis dari beberapa mimpiku. Dialogku dengan bangsa jin, namanya juga mimpi, kali aja dialognya amburadul.
RAJA JIN LAUT MERAH.
__ADS_1
“Siapa ini?” tanyaku pada raja jin yang bermahkota yang menghadapku.
“Saya bernama Najwa kyai, saya raja jin di laut merah.”
“Ada apa menghadapku?”
“Saya ingin menakluk pada kyai, sebagai raja segala jin sekarang.” katanya membungkuk.
“Semua jin tau itu kyai..”
“Wah itu berlebihan.”
“Tidak kyai sangat tinggi ilmunya, kami tau dan semua membicarakan, ilmu kyai amat tinggi, dan tak satupun jin bisa mengalahkan.”
__ADS_1
“Ah itu berlebihan raja Najwa.”
“Sama sekali tidak kyai, kyai sudah mengalahkan kerajaan jin laut selatan yang disegani, nyai Roro Kidul dan juga semua pasukannya, hanya kyai hadapi sendirian tanpa ada yang membantu, sedang saya dan pasukan saya saja tak bisa mengalahkan mereka, hanya menghalaunya tak sampai mengalahkan, tapi kyai sanggup menumpas habis trilyunan pasukan mereka, nyai Roro Kidul dan juga pasukannya, hanya kyai sendirian tanpa bala tentara, sebelumnya saya sendiri membayang- kan saja, saya ndak percaya, dan jika saya membayangkan kyai, tentu kyai amatlah pemuda yang besar, dan tinggi, mungkin tubuhnya tembus langit, dan tangannya berjuta-juta, tapi setelah melihat kyai, sungguh membuat saya amat terheran-heran, karena kyai adalah pemuda biasa, sebagaimana pemuda lainnya, sebagaimana manusia lainnya, bahkan kyai kelihatan lemah, tapi ketika aku sendiri mau mencoba menyerang kyai, ternyata kyai menyimpan kekuatan yang tak bisa diukur dengan logika kami bangsa jin,
jika semua pasukanku sekalipun ku kerahkan
untuk menyerang kyai, sudah pasti kami akan binasa sebagaimana nyai Roro Kidul binasa, maka saya dengan kesungguhan hati, sudilah kyai menerima takluknya saya, dan segenap kerajaan laut merah, juga kalau kyai sudi menerima saya sebagai murid kyai…”
“Wah raja Najwa jangan berlebihan, demi Allah aku ini tak ada kekuatan apa-apanya, dan raja Najwa yang mengunggul-unggulkanku, semua tak ada di diriku, sungguh, aku tak punya apa- apa, apalagi, kalau raja Najwa yang umurnya lebih tua dariku lantas mau menjadikan aku sebagai guru, para nyamuk juga akan ketawa sampai perutnya kesakitan.”
“Sudah tinggi ilmu, masih saja tidak sombong…, mau kan kyai menjadikan aku yang bodoh ini menjadi murid.”
“Heheheh… raja Najwa.. raja Najwa… ya sudah kalau maksa, tapi aku ini siapa saja yang jadi muridku ku wajibkan tunduk dan taat padaku, apa raja Najwa sanggup?.”
__ADS_1