
“Iya.. juga karena panjenengan desa ini yang
sebelumnya angker, sekarang adem ayem, saya sangat berterima kasih, walau panjenengan menyambunyikan diri, tapi mata batin saya tak
bisa dibohongi.”
“Ya sudah kalau gitu mbah, ndak usah disebar
luaskan, jadikan rahasia panjenengan wae,
monggo istri saya ini dipijit.” kataku
menentramkan suasana.
“Ooo nggih-nggih, monggo nduk, saya pijit,
besok-besok kalau mau dipijit, mbok manggil
saja, pasti saya datang.” jelas mbah Sri.
“Yo tak bisa begitu to mbah, panjenengan yang tua, sudah selayaknya yang butuh, yang muda
datang.”
“Ya tak bisa seperti itu, itu namanya saya ndak
punya unggah ungguh, la panjenengan penguasa Desa saya, masak saya yang andahan, rakyatnya didatangi pemimpin desanya. Ya namanya tak takdzim, ndak hormat.” jelas mbah Sri sambil tangannya lincah memijit Husna.
Repot juga, aku terdiam.
Memang sejak sa’at itu Mbah Sri sering datang ke rumah, menawarkan diri memijit keluargaku,
dan kadang datang membawa pisang satu tandan.
Sudah ku larang, tapi tetap saja datang.
Pernah lama dia tak datang, dan aku mau
memijitkan Husna, aku pun datang ke rumahnya, ternyata dia sakit, sudah ada dua bulan terbaring saja di ranjang, melihat aku datang dia langsung bangun, lalu berkata. “Obatku sudah datang, monggo ngger, saya pijit.” katanya.
“Ndak aku yang mau dipijit, yang mau ku pijitkan istriku,”
“Ndak kok ngger, ini untukku, aku sakit, dan
obatnya itu mijit panjenengan,” kata mbah Sri.
“La kok aneh mbah?” tanyaku heran.
“Apa njenengan tak melihat, saya sudah dua
bulan tak bisa bangun dari ranjang karena sakit, ini panjenengan datang, saya langsung brigas.”
Jelas Mbah Sri sambil menunjukan badannya.
“Wah kok aneh begitu?” heranku tak habis pikir.
Aku terpaksa mau dipijit, walau tak masuk
logikaku, tapi memang setelah itu mbah Sri
sehat segar bugar.
Dia sering meminta diijinkan memijitku, agar dia sehat, ya aku turuti saja, asal aku bisa
bermanfaat untuk menolong orang lain, dipijiti
juga enak.
Perjalanan manusia untuk mendekatkan diri pada Alloh sebagai Robbnya, sebenarnya tak jauh, menjadi jauh karena semakin beragamnya keinginan nafsu, semakin banyak lagi yang
diinginkan oleh nafsu, kesenangan-kesenangan
yang bersifat kepuasan, entah kepuasan dzahir atau kepuasan batin, maka makin jauh perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Alloh.
Sekian tahun, yang dilewati oleh manusia itu
__ADS_1
gelora samudra kepuasannya, yang dilewati
manusia itu padang gersang ketamakannya akan kesenangan.
Andai saja manusia itu mau melepaskan segala macam keinginan, ingin dipuji, ingin diagungkan, ingin dihormati, ingin punya
kedudukan dan pangkat, pangkat di hadapan
manusia, maupun pangkat di hadapan Alloh, maka jika semua telah tak ada yang bersemayam segala macam keinginan, ketika Nur makrifat itu melintas di lapangan hati manusia yang bersih dari keinginan, maka cahaya itu akan menumbuhkan aneka macam tetumbuhan ilmu dan hikmah.
Tak perlu manusia itu menjadi sakti, atau
belajar agar sakti, Alloh itu lebih sakti dari
semua yang Dia ciptakan, dan wafadholallohu
ba’dokum ala ba’din, Alloh itu akan memberikan berbagai anugerah keutamaan, kepada hamba
yang satu dari hamba yang lain, sesuai kadar
ketaqwaannya, dan ketaqwaan itu terukur sesuai kadar keikhlasannya, dan keikhlasan itu ada karena paham dan tau, jika dia tidak ikhlas itu maka tak ada nilainya suatu kadar bobotnya ibadah,
Dan untuk menjadi mukhlisin atau orang
yang ikhlas itu tidak cukup sehari dua hari hati
digosok, karena kecenderungan nafsu menguasai hati, dan ditambah dengan khotir atau bisikan-bisikan syaitan yang menanamkan bibit virus, akan subur berkembang, jika apa yang dimakan manusia kemudian adalah sesuatu yang diharamkan.
Tak ada seorangpun yang ma’sum dan terjaga
dari tipu daya, kecuali Nabi Muhammad SAW.
Dan kita sebagai manusia biasa, seringkali mudah tertipu.
Tertipu oleh prasangka dan ketidakpastian.
Seperti Nabi Muhammad ketika ditemui Jibril
dalam berbagai bentuk, lalu Nabi tak tertipu
Sementara kadang kita jika ditemui oleh
bayangan di dalam mimpi, seorang yang memakai jubah, lalu kita menyangka itu seorang wali, padahal syaitan amat mudah menyerupai dalam bentuk apapun, untuk menipu daya manusia, agar kita kemudian menjalankan amaliyah bukan lagi
karena mencari ridho Alloh, tapi karena
menuruti orang yang berjubah itu.
Malam itu aku meraga sukma lagi, kali ini arah ke utara dari desaku.
Melayang-layang di atas kota, lalu aku lihat
seperti sesuatu aura amat hitam menggantung di udara, melingkupi suatu daerah, aku coba
mendekat, dan aku masuk ke rumah itu ternyata sebuah rumah sakit, sebab banyak sekali pasien, yang aku heran banyak sekali hantu bergentayangan di rumah sakit itu, dari gambar salib yang tergantung di dinding, aku menyangka ini pasti rumah sakit kr****.
Aku lewati lorong demi lorong rumah sakit, dan setiap hantu yang bertemu denganku menjerit
lalu kabur, ada perempuan berbaju putih, ada
hanya kepala, ada orang yang tubuhnya penuh
darah, dan lain-lain, jika ku sebut satu persatu
rasanya tak akan selesai seharian.
Tiba-tiba seorang hantu berpakaian pastur
jaman dulu atau jaman sekarang aku tak tau,
yang jelas dia berpakaian hitam, dengan
selempang di pundak, dan ada kerah putih di
lehernya.
__ADS_1
Dia menghadangku.
“Berhenti, enyah dari sini, kau membuat
penghuni sini semua kepanasan.” ujarnya, sambil
mengacungkan batang salib kearahku.
“Aku hanya lewat disini, bagaimana kau anggap aku membuat penghuni sini kepanasan?” tanyaku.
“Nyatanya seperti itu.” bentaknya.“Bagaimana mungkin aku menjadikan kalian
menjadi kepanasan?” kataku masih heran.
“Kenyataannya seperti itu, aku juga tak tau,
apakah kau ini arwah orang mati?” tanya pastur itu.
“Aku? Aku belum mati.” kataku.
“Lalu kenapa kau bisa masuk alam kami? ”
tanyanya.
“Aku melepas sukma.” jelasku.
“Sudah sekarang kau pergi, kau membuat
seluruh tempat ini seperti terbakar.” katanya
seperti menahan sakit.
“Jika aku tak mau?”
“Maka aku akan mengusirmu.” katanya sambil jari telunjuknya terangkat.
Dan aneh dari jari telunjuknya keluar kilatan
listrik seperti kilat kecil, menyerangku, untung
aku ingat aku ini sukma, aku pun melompat
melayang menghindari serangannya, yang
menghantam dinding dan menimbulkan dentuman dahsyad.
Wah sakti juga pastur ini, aku jadi ingat, kata
Kyaiku, kalau di alam gaib itu jika ingin
mengeluarkan apa maka tinggal mendzikirkan
salah satu dzikir dan membayangkan apa yang kita inginkan keluar dari tangan.
Maka aku pun melakukan itu dan membayangkan petir keluar dari tanganku, dan subhanalloh, benar-benar petir yang menyilaukan mata keluar dari tanganku, melesat seperti pijaran kilat di langit menerjang ke arah pastur itu, dia menghindar sampai bergulingan di lantai, dan ujung bajunya tersambar segera menjadi bubuk
debu.
Aku terheran-heran, dan melihat tengah tapak
tanganku yang mengeluarkan asap.
Tiba-tiba beberapa pastur datang, ada sekitar
tujuh orang, dan serempak menyerangku..
Aku terdesak sampai ke pintu besi dan tempat
penjagaan satpam.
Aku masih melakukan adu kekuatan, dan saling serang dengan petir, sampai aku akhirnya
terdesak keluar pagar.
Bersambung........
__ADS_1