
“Suruh saja sedia air, nanti ku transfer ke air,
kalau lelakinya sedang marah, siram saja dengan air itu, ingat jangan mencari masalah orang lain, lalu kau timpakan padaku.”
“Iya kang…!” jawab Yatno.
“Jangan iya-iya, jangan menjadi calo, kalau kamu memang tak bisa menolong orang lain, maka tak usah sok-sokan bisa menolong tapi menggunakan tangan orang lain, biar kamu dapat nama,”
“Aku ndak mencari nama kang.”
“Ya tak mencari nama juga, kamu menyusahkan aku, walaupun aku tak mengharap apa-apa juga,
Aku ini kan juga manusia wajar, butuh makan,
butuh keperluan untuk hidup, jadi aku juga
butuh menjalankan pekerjaanku sendiri, walau
aku ikhlas, tapi bukan berarti kamu boleh
kemana-mana mencari orang yang perlu kamu
tolong, lalu menimpakan padaku, itu namanya
calo, ya kalau kamu mau menolong orang lain,
tolong dengan kedua tangan dan kemampuanmu, ayahmu saja kamu ajak kemana-mana, lalu kamu suruh kalau ada orang punya hutang, ayahmu kamu suruh bayarin, apa ayahmu mau, sekalipun
ayahmu kaya tujuh turunan, uangnya pasti habis,
Raja Saudi yang kaya raya, kamu ajak ke Indonesia, lalu ngasih makan seumur hidup
semua gelandangan di Indonesia, tak akan mau.”
“Wah kok sampai raja Saudi segala kang, aku kan gak ngajak raja Saudi.”
“Ya namanya juga perumpamaan, aku mau
memperumpamakan siapa kan asal kataku saja,”
Memang kadang banyak dan sering ku temukan, seseorang yang mengambil kesempatan, biasanya akan menyodorkan tetangganya, mas ini ada tetanggaku yang sakit, ada temanku, ada orang desaku, ada teman satu kantorku, ada… ada… ya di mana tempat juga ada, jika satu orang yang
kenal aku kemudian membawa 100 orang untuk aku do’akan, dan temanku ada seribu, bukankah aku bisa ndak kerja, seharian berdo’a juga belum cukup bisa menyelesaikan semua…. ck… ck… dan kenyataannya sampai sekarang teman-temanku seperti itu ada, entah untuk mencari nama untuk pribadinya, atau entahlah.
Memang di dunia ini banyak sekali orang
berpikiran aneh, pantas Kyaiku sendiri selalu
menghindar, menyembunyikan diri, karena
banyak orang yang memanfaatkan kelebihan yang dimiliki, aku malah pernah orang membawa kartu undian, minta ditiup, agar undiannya menang, atau orang minta dido’akan agar ayam aduannya menang,
Edan, gak berotak, memang kebanyakan
orang selalu menilai orang lain dengan porsi
akalnya, dan nyatanya banyak orang yang
berpikiran dangkal, masak ya minta pada Alloh
hal-hal yang diharamkan, malah ada yang minta agar bisa menaklukan hati si cewek ini, untuk
istri kedua.
Aku sendiri sering mengalami hal itu, dimintai
seperti itu, ya kalau untuk kesenangan kenapa
ndak usaha sendiri.
Ingin mendapatkan jabatan, menjadi DPR, ah
memang manusia yang tamak, selalu menilai
orang lain dengan dosis ketamakannya. Lalu
berusaha orang lain diberusahakan membantu apa yang ditamakkannya akan tercapai.
__ADS_1
——————————————-
“Mas aku kecelakaan.” suara Muhsin di HP, dia
sedang cuti dan berada di Indonesia.
“Kecelakaan di mana, kecelakaan motor?”
“Bukan, tapi kesetrum listrik.”
“Bagaimana ceritanya kok sampai kesetrum
listrik?” tanyaku.
“Aku kan bersih-bersih rumah baru, ya ku siram semua pakai air, rumah yang tak ku tempati kan semua kabelnya dicuri orang, jadi minta ijin PLN listriknya ngambil langsung dari lonceng, untuk sementara, trus kabel semua yang masang pamanku, kok masang kabel sanyo pasangannya kebalik, yang ada setrumnya kok colokan yang lelakinya.”
“Maksudnya yang lelakinya?”
“Ya itu yang ada colokannya, yang kabel tak ada colokannya malah tak ada listriknya, pas aku
cabut jeknya, langsung tanganku kesetrum,
apalagi di bawahku penuh air menggenang karena di tengah dapur, aku kibas-kibaskan kabelnya nempel di tanganku, aku terbanting di lantai yang penuh air, montang manting ndak karuan, lalu aku ingat mas, aku ingat mas pernah bilang, jika mengalami apapun yang berbahaya, atau membahayakan diri, maka upayakan ingat Alloh, dan minta pertolongan padanya, lalu aku ingat saja pada Alloh, aku membaca takbir sekuatnya, dan aku pingsan, tapi kok aneh, aku sadar sudah menggeletak di tempat yang kering, tapi tubuhku penuh luka, dan di tanganku ada bekas menancap lubang bekas colokan, ini aku di rumah sakit.” cerita Muhsin.
“Syukur kalau masih selamat.” hiburku.
“Aku di do’akan ya mas, biar lekas sembuh, dan biar bisa selekasnya kembali ke Saudi.” kata
Muhsin.
“Iya insaAlloh, semoga Alloh memberi kesembuhan.”
Di tempat kerja, seorang pekerja bertubuh
tinggi masuk ke ruanganku. Aku sering
memanggilnya Towil, karena tingginya, aku
sendiri cuma seketiaknya.
menyapaku.
“Baik, kamu sendiri bagaimana kabarmu Towil?”
tanyaku balik. “Baik syaikh,”
“Syaikh apaan?”
“Ya syaikh ya guru besar, seorang guru besar
saja belum tentu bisa seperti kamu bisa,
setahuku kamu apapun bisa, dari ilmu kitab, ilmu bekerja, ilmu komputer, bahkan ilmu mengobati.” kata Towil.
“Aku sebenarnya tak semua bisa, tapi aku hanya mungkin lebih percaya diri dari orang lain, orang yang percaya diri itu selalu kelihatan bisa karena percaya diri itu akan menimbulkan aura keyakinan di wajah, sehingga menjadikan orang lain yang memandang menjadi yakin karena terpengaruh oleh kepercayaan diri yang kita bawa, orang percaya diri yang bukan dari
kelebihan yang dimiliki tapi percaya diri karena Alloh, percaya Alloh akan melindunginya, akan
menjaganya, la khaufun alaihim walahum
yakhzanun, tak ada rasa takut, kawatir, sedih,
susah, tentu beda dengan orang yang percaya
diri karena harta, kedudukan, kepintaran,
ketampanan, skill, ketinggian.”
“Wah nyindir aku nih.”
“Tidak juga, itu kenyataan,”
“Mungkin kalau kau pendek, mungkin tak
sepercaya diri, karena kau tinggi, lalu
membuatmu bersikap beda karena merasa tinggi, benar tidak? Jujur saja, kita itu tak akan
__ADS_1
menjadi berkembang maju, jika tak jujur pada
diri, untuk memperbaiki perubahan ke depan,
pertama, sadari kekurangan, lalu maju ke depan, jika sudah tidak mau mengakui kekurangan, bagaimana mau menutup kekurangan, hanya membanggakan apa yang dimiliki saja, sehingga sibuk membanggakan diri, dan tak sempat mau menambah pengetahuan, dan menolak kemauan
dari luar, ya jadinya seumur-umur begitu-begitu saja.”
“Ya Syaikh…! Aku diangkat jadi murid ya…” kata
Towil.
“Datang saja ke kamarku kalau mau belajar.”
“Pasti Syaikh, saya akan sering datang,” kata
Towil yang asli dari Yaman itu.
Hampir waktu istirahat siang, bulan Romadhon, sebenarnya ini cuti ketigaku, tapi aku tak
mengajukan cuti, karena aku akan langsung
mengajukan pengunduran diri, jadi ingat cutiku di tahun kemaren tepatnya setahun silam,
beberapa hari aku mau cuti lagi beres-beres
ruang kerja, Munif masuk ke ruanganku.
“Lagi beres-beres mau cuti?” tanya Munif.
“Iya…”
“Aku mau nitip boleh?” tanya Munif lagi.
“Nitip dari sini apa dari sana ke sini, asal jangan nyuruh bawain istrimu kesini.” candaku.
“Aku mau nitip dari sini.” jawab dia.
“Ya dibungkus aja yang rapi, kalau tak terlalu
berat pasti ku bawa.”
“Ringan kok. Kamu enak ya…?”
“Enak apanya?”
“Ya enak, kerjanya di ruangan, ber AC, gak
kepanasan kayak aku.”
“Di syukuri saja, aku ber AC, dalam ruangan tapi kan gajiku kecil, tak ada lemburan, kalau kamu
banyak lemburan, pendapatan lemburannya saja di atas gajiku, jadi kalau merasa kurang,selamanya manusia itu terasa kurang saja, wong kui sawang sinawang, melihat orang lain enak, kalau menurutku disyukuri saja, semua ada bagiannya, manusia itu tak akan mati sebelum menghabiskan rizqinya, sebelum menghabiskan jatah nafasnya, kalau sudah jatahnya habis, setengah nafas juga tak akan bisa dibeli, walau dengan uang seberapapun, makanya disyukuri.”
“Rizqi, ajal, itu ketentuan Alloh, tak bisa
dimajukan dan tak bisa diundur, semua sudah
pasti.”
“Yang tak bisa memajukan dan memundurkan
menambah dan mengurangi itu manusia, tapi
kalau Alloh ya bisa.” jelasku.
“Lho kalau bisa dimajukan dan dimundurkan itu berarti Alloh membantah firmanNya?”
“Lho kan yastaqdimuna sa’atan wala
yasta’khiruna, itu kan rujuk jamak, maksudnya
manusia semua itu tak bisa memajukan dan tak bisa memundurkan, kalau Alloh ya terserah Alloh, mau memajukan atau memundurkan itu kan hak mutlak Alloh, karena sifat Dia ‘ala kulli
syai’ing qodir, jadi Alloh tidak membantah pada..
Bersambung...
__ADS_1