Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Dikuasai jin


__ADS_3

“Lalu keperluannya apa ke sini?”


“Ini mas yai, saya sama istri itu kok sakit di kaki, sudah bertahun-tahun, mungkin ada sekitar lima tahunan, sudah diobatkan ke dokter mana saja kok tetap saja kaki ini sakit, malah kaki saya ini tidak bisa lagi dipakai duduk, jadi kalau sholat ya serba repot, dipakai berdiri bisa, tapi ditekuk dipakai duduk tidak bisa,” jawab lelakinya yang bernama pak Amat.


“Apa di rumah sering ada penampakan seorang lelaki yang berjalan ngesot?” tanyaku.


“Iya mas yai, di rumah memang sering terjadi penampakan, dan memang salah satunya yang berjalan ngesot.” jawab pak Amat.


“Ya itu hanya perlu rumahnya perlu dibersihkan, dipasang pagar gaib, insaAlloh peyakitnya akan dengan sendirinya sembuh,” jelasku.


“Kalau begitu saya minta tolong dipagar rumah saya mas kyai”


“Iya nanti akan saya buatkan pagar untuk memagar rumahnya, dan mengusir, jin fasik yang di dalam rumah,” kataku meyakinkannya.


Dan alhamdulillah setelah dilakukan proses pembersihan rumah, serta pemagaran, orang itu beserta istrinya perlahan tapi pasti berangsur-angsur sembuh, dan rumahnya jadi tak angker lagi, dan maksud air wudhu di tengah makam itu ternyata di tengah pemakaman itu ada mushola, untuk para penziarah melakukan sholat lima waktu.


___________________________________


________________________


Masih di bulan romadhon, di bulan akhir, aku kembali bermimpi, berjalan di suatu daerah yang tak ku kenal, sampailah aku di sebuah masjid yang bentuknya panggung dan lantainya terbuat dari kayu, jadi lantai itu berjarak sekitar satu meter dari tanah, aku pun naik ke masjid itu lewat undakan tangga dari plesteran yang sudah setengah rusak, dan banyak yang kelihatan batu batanya, dan di dalam masjid ada banyak orang yang melakukan sholat berjamaah.


Entah kenapa perhatianku lalu tertuju pada dua orang gadis yang juga sedang mengikuti sholat berjama’ah, namun mereka berdua masih memakai mukenanya, aku pun dengan sendirinya melewati ke arah gadis itu, dan dengan sendirinya pakaiannya bersentuhan dengan pakaianku, tiba-tiba salah satu gadis itu terjengkang, dan tertawa terkekeh-kekeh, yang jelas bukan lagi tertawanya gadis itu, tapi tertawanya nenek-nenek tua yang entah jin atau apa, yang ada di tubuh gadis itu, lantas aku pun sigap berusaha mengeluarkan nenek-nenek yang ada di tubuh gadis itu, dan kemudian bisa ku keluarkan.


Tapi lantas sebentar kemudian, mimpiku pindah ke suatu tempat, ku lihat anak kecil, yang diikuti oleh jin kecil pendek, berwarna merah, dengan telinga lancip dan wajah seperti orang kerdil, lantas aku melompat, dan jin itu ku tangkap dan ku cengkeram lehernya, ku angkat ke udara, dia meminta-minta ampun.


“Kau siapa!? ” bentakku.


“Ampuun…ampun.. ampuun, namaku baranang, ampuun, lepaskan aku…”

__ADS_1


“Kau ini darimana?”


“Aku ini baranang, makanya warnaku merah, seperti bara, aku dari Bogor, dikirim orang…lbampun lepaskan aku, aku dulu tingal di daerah Bogor, nama terminal itu diambil dari namaku, karena aku sering keluar di siang hari…” jelas jin yang lehernya masih dalam genggamanku.


Ah tak tau bener apa tidak penjelasannya. Jawaban mimpiku itu kemudian baru ku ketahui setelah hari raya.


Skip..


Setelah hari raya, aku ingin sekali pulang kampung sebagaimana yang lain, sebab aku selama ini tak bisa pulang kampung sebagaimana orang pada umumnya, di Pekalongan sendiri sebenarnya aku tak banyak yang mengenal jadi kalau pas lebaran tidak ada orang yang ingin berlebaran denganku, ya sebab aku bukan orang yang hidup suka menghabiskan waktu duduk duduk ngobrol dengan tetangga, bahkan setahun belum tentu aku bicara satu huruf pun dengan tetangga.


Kenal juga paling-paling yang menjadi muridku dan tetangga yang minta pertolongan entah pengobatan atau meminta diselesaikan masalahnya, bahkan semua tetangga tak tau namaku siapa sesungguhnya, aneh sepertinya tapi itulah kenyataannya, jadi kalau ada yang datang tamu dari jauh menanyakan namaku maka mereka akan kesulitan menemukan ku.


Tapi walau dalam keadaan lebaran ada saja tamu yang mencariku dan salah satunya dua orang yang mencariku disertai seorang anak usia sekelas 4 SD, aku segera menemui tamu seperti biasa, aku tak banyak basa basi.


“Ada keperluan apa pak ?” tanyaku.


“Anaknya kenapa?”


“Ayo dik cerita sendiri..” kata si bapak anak itu sambil menyuruh anaknya bercerita.


“Ini pak, saya sering kerasukan…” kata anak itu sambil membetulkan letak duduknya.


“Kerasukan?” tanyaku mengulang.


“Iya pak ustadz, sudah setahun ini sering kerasukan.” jelas ayahnya.


“Malah dia juga merasakan kalau mau kerasukan…, dia biasanya memanggil aku kalau sedang di rumah sesaat mau dirasuki, ini pak, ini pak aku mau dirasuki, begitu ustadz dan biasanya saya datang dia sudah menggereng- gereng dengan mata merah…”


“Hm… bapak pernah kerja di Bogor?” tanyaku.

__ADS_1


“Lhoh pak ustadz kok tau?”


“Jadi pernah kerja di Bogor?” tanyaku mengulang pertanyaan.


“Iya dulu mengirim barang pakaian tapi sebulan dua bulan ini sudah tidak kerja di sana…”


“Apa pernah mimpi atau melihat bayangan di rumah seorang anak kecil cebol dengan tubuh warna merah..? jadi seluruh badannya berwarna merah.”


“Lhoh kok ustadz tau, iya saya sering mimpi di rumah saya ada anak kecil berwarna merah..”


“Nah itu yang sering merasuki anak bapak..” kataku, rasanya malah kayak dukun main tebak tebakan.


“Mungkin efeknya kalau masuk ke tubuh orang, atau anak kecil, anak itu akan terasuki dan tubuhnya terasa panas.”


“Wah benar ustadz kalau anak saya kerasukan memang selalu mengeluarkan hawa panas dari tubuhnya, apakah ini bisa ditolong anak saya, bagaimana ustadz kasihan anak saya…”


“Insa Allah bisa, semoga saja nantinya tak lagi kerasukan…” kataku sambil berdiri untuk mengambil air dan meniupnya.


“Ini nanti diminumkan anaknya dan dipakai mandi, juga dipakai ngepel rumahnya.. Semoga nanti tak kerasukan lagi.” jelasku lalu mengantar ketiga orang itu pamit pulang, dan Alhamdulillah beberapa hari kemudian mereka datang lagi, menceritakan kalau anaknya tak kerasukan lagi.


Memang kadang kala kalau lagi musim urusan jin maka urusannya jin melulu, ya kadang ada juga orang kerasukan karena melewati tempat angker, atau ada orang yang dikirim orang jin, atau ada juga yang mempelajari ilmu tertentu, misal ilmu hikmah, atau ilmu kejawen, kemudian lantas dikuasai jin, dan selalu dalam pengaruhnya, dikendalikan oleh jin yang menguasai.


Memang jin yang menjadi anak buah syaitan itu selalu ingin menyesatkan manusia agar tersesat, jika kita tak hati-hati maka bisa saja tanpa kita sadari kita sudah dalam pengaruh jin, atau dikuasai jin tapi tak kita sadari. Karena tak berarti kita dikuasai jin lantas berprilaku yang aneh, kadang juga sama sekali tak berprilaku aneh sama sekali, tapi memang kebanyakan kalau dikuasai jin ya selalu berprilaku yang tak wajar, setidaknya ada yang aneh, keluar darikewajaran, pertanda itu bisa berupa apa saja, tapi ada ciri-ciri tertentu.


Di antara tanda seseorang yang dikuasai jin diantaranya, pusing-pusing sebagian kepala atau keseluruhan, leher berat/kaku, bahu, pundak selalu berat pegal nyeri, panas atau terasa berat pada bagian-bagian tertentu entah punggung atau pundak, atau kaki berat untuk melangkah, sakit pada perut atau ulu hati, dada sesak atau panas, gangguan sekitar rahim, prostat, ginjal, pandangan mata sering kabur tanpa sebab tertentu, mendengkur sangat keras ketika tidur atau suara gigi bergesekan bergeretukan, makan minum berlebihan, dan mudah lapar, tapi lama kenyangnya walau sudah makan banyak, karena sari makanan yang dimakan, dimakan oleh jin, sehingga kadang makannya banyak tapi orangnya lemes dan kurus, memiliki kekuasaan fisik yang di luar kemampuan umumnya manusia, sakit yang sangat pada jam-jam tertentu, sakit yang berpindah-pindah, sakit yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang.


Ada juga tanda-tanda secara prilaku misal mudah menjadi marah-marah, walau dengan...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2