
Sebenarnya untuk menikah, pemuda seumuran dua puluh tiga tahun sepertiku, umumnya juga belum matang, masih banyak yang harus digapai,sebenarnya alasan itu kubuat-buat sendiri, kalau tak mau membohongi jawaban yang pas,jawabannya adalah aku takut memberi nafkah,akan ku kasih makan apa nanti istriku?
Kerjaan tetap tak ada, kalau membanggakan sebagai pelukis ah tak cukuplah, rokok aja aku kadang harus ngelinting dari puntung. Apa jadinya nanti istriku?
Pikiran seperti itu tentu timbul dan ada, sebelum aku menjalani laku nggembel, jadi pengemis dan orang gila untuk melihat dengan ainul haq, bahwa segala rizqi dari semua mahluq yang bergerak
merayap di atas bumi ini adalah di dalam kekuasaan Tuhan.
Kalau aku sudah mengamalkan ilmu tawakal, tentu aku ditawari nikah he-eh aja.
Aku berjalan cepat karena sudah ngantuknya
mataku, jam di tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh siang, aku berhenti ketika mau
menyeberang jalan raya, menunggu mobil yang
lewat sepi, tiba-tiba suara kecil merdu
terdengar di belakangku.
“Mas Ian, tunggu..!” suara Juwita berlari sambil
membawa kresek hijau, menyusulku.
“Ini mas, nanti untuk berbuka puasa.”
“Makasih banyak.” seraya mengulurkan tangan
untuk menerima.
Tapi gadis itu menariknya menjauhi tanganku,
“Biar aku aja yang bawakan.” kata Juwita, seraya
berlari mendahuluiku, menyeberang, aku pun
mengikutinya dari belakang, kulihat Juwita dari
belakang, tak terasa aku menelan ludah, ah
dasar setan, sukanya menggoda manusia, tapi tak
usah digoda setanpun, ini nyata benar-benar
gadis yang sempurna, lincah, periang, ah glek
__ADS_1
uhuk, wah terlalu banyak ludah ku telan, jadi
agak tersedak. “Mas Ian, aku ingin melihat hasil karyanya, boleh
kan?” aku ngangguk aja, gimana mau nolak,
senyum yang merekah, gigi yang putih, lesung
pipi, mata yang berpijaran, aduh runtuhlah
pertahanan, dadaku benar-benar diaduk seperti
bergolaknya lahar menggelegak, tapi tak punya
jalan keluar dari tebing hatiku karena takut
dengan jurang dan tebing bayangan buatanku
sendiri, Juwita berjalan di sampingku.
Mungkin lima tahun yang lalu, aku ketemu
Juwita, sebelum aku jadi murid Kyai, ah pasti
udah ku pacari, tapi kini keadaannya lain, aku
kalau orang-orang seperti Juwita tak ada di
dekatku, karena teramat susah melawan nafsu,
teramat berat berperang dengan nafsu sendiri.
“Mas Ian maafkan Abah ya, memang Abah selalu
begitu, kalau punya mau ceplas ceplos aja tanpa
dipikir, maen jodoh-jodoh aja, emangnya ini
jaman apa?” kata gadis itu mbesengut.
“Ah, tak papa kok.” mungkin Juwita sudah punya
pacar di sekolahnya sehingga tak mau
dijodohkan, aku maklum akan gadis sekarang,
__ADS_1
apalagi gadis secantik Juwita, aku cemburu? Ya enggak lah, “Tapi kalau memang benar mau
milih,” suara gadis itu terdengar manja, “Mas
Ian pilih Juwita ya?!” pletar..! Seperti petasan
dinyalakan di telingaku, kaget nginggg, sebebas
lepas benar gadis ini. Hampir aja jantungku
copot, untung setelah tarik napas kurasakan
masih ada.
Untung Juwita tak lama ada di tempat kerjaku
dan berkali-kali dia berdecak mengagumi
lukisanku, aku senyum nyengir aja, sampai saat
mau pulang, gadis itu tiba-tiba memencet hidung
mancungku, “Kamu memang hebaaat.” katanya
gemes, perbuatannya yang mendadak itu sungguh
mengagetkanku, tapi aku tak bisa menghindar.
Ah sudahlah, kulihat ia berlari-lari kecil
meninggalkanku, aku segera pergi tidur
mengingat malam nanti aku harus kerja.
Malamnya aku hanya kuat kerja sampai jam
setengah dua dini hari, karena siang kurang
istirahat, aku pun beranjak tidur, lampu ku
matikan, tapi lampu penerangan di luar masih
bisa menerobos masuk lewat lubang angin. Belum
sampai lima menit aku tertidur, kurasakan
__ADS_1
tubuhku lengket di keramik tak bisa digerakkan
dan dari pintu musholla nampak gadis-gadis