Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Digoda Gadis Bangs Lain


__ADS_3

Sebenarnya untuk menikah, pemuda seumuran dua puluh tiga tahun sepertiku, umumnya juga belum matang, masih banyak yang harus digapai,sebenarnya alasan itu kubuat-buat sendiri, kalau tak mau membohongi jawaban yang pas,jawabannya adalah aku takut memberi nafkah,akan ku kasih makan apa nanti istriku?


Kerjaan tetap tak ada, kalau membanggakan sebagai pelukis ah tak cukuplah, rokok aja aku kadang harus ngelinting dari puntung. Apa jadinya nanti istriku?


Pikiran seperti itu tentu timbul dan ada, sebelum aku menjalani laku nggembel, jadi pengemis dan orang gila untuk melihat dengan ainul haq, bahwa segala rizqi dari semua mahluq yang bergerak


merayap di atas bumi ini adalah di dalam kekuasaan Tuhan.


Kalau aku sudah mengamalkan ilmu tawakal, tentu aku ditawari nikah he-eh aja.


Aku berjalan cepat karena sudah ngantuknya


mataku, jam di tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh siang, aku berhenti ketika mau


menyeberang jalan raya, menunggu mobil yang


lewat sepi, tiba-tiba suara kecil merdu


terdengar di belakangku.


“Mas Ian, tunggu..!” suara Juwita berlari sambil


membawa kresek hijau, menyusulku.


“Ini mas, nanti untuk berbuka puasa.”


“Makasih banyak.” seraya mengulurkan tangan


untuk menerima.


Tapi gadis itu menariknya menjauhi tanganku,


“Biar aku aja yang bawakan.” kata Juwita, seraya


berlari mendahuluiku, menyeberang, aku pun


mengikutinya dari belakang, kulihat Juwita dari


belakang, tak terasa aku menelan ludah, ah


dasar setan, sukanya menggoda manusia, tapi tak


usah digoda setanpun, ini nyata benar-benar


gadis yang sempurna, lincah, periang, ah glek

__ADS_1


uhuk, wah terlalu banyak ludah ku telan, jadi


agak tersedak. “Mas Ian, aku ingin melihat hasil karyanya, boleh


kan?” aku ngangguk aja, gimana mau nolak,


senyum yang merekah, gigi yang putih, lesung


pipi, mata yang berpijaran, aduh runtuhlah


pertahanan, dadaku benar-benar diaduk seperti


bergolaknya lahar menggelegak, tapi tak punya


jalan keluar dari tebing hatiku karena takut


dengan jurang dan tebing bayangan buatanku


sendiri, Juwita berjalan di sampingku.


Mungkin lima tahun yang lalu, aku ketemu


Juwita, sebelum aku jadi murid Kyai, ah pasti


udah ku pacari, tapi kini keadaannya lain, aku


kalau orang-orang seperti Juwita tak ada di


dekatku, karena teramat susah melawan nafsu,


teramat berat berperang dengan nafsu sendiri.


“Mas Ian maafkan Abah ya, memang Abah selalu


begitu, kalau punya mau ceplas ceplos aja tanpa


dipikir, maen jodoh-jodoh aja, emangnya ini


jaman apa?” kata gadis itu mbesengut.


“Ah, tak papa kok.” mungkin Juwita sudah punya


pacar di sekolahnya sehingga tak mau


dijodohkan, aku maklum akan gadis sekarang,

__ADS_1


apalagi gadis secantik Juwita, aku cemburu? Ya enggak lah, “Tapi kalau memang benar mau


milih,” suara gadis itu terdengar manja, “Mas


Ian pilih Juwita ya?!” pletar..! Seperti petasan


dinyalakan di telingaku, kaget nginggg, sebebas


lepas benar gadis ini. Hampir aja jantungku


copot, untung setelah tarik napas kurasakan


masih ada.


Untung Juwita tak lama ada di tempat kerjaku


dan berkali-kali dia berdecak mengagumi


lukisanku, aku senyum nyengir aja, sampai saat


mau pulang, gadis itu tiba-tiba memencet hidung


mancungku, “Kamu memang hebaaat.” katanya


gemes, perbuatannya yang mendadak itu sungguh


mengagetkanku, tapi aku tak bisa menghindar.


Ah sudahlah, kulihat ia berlari-lari kecil


meninggalkanku, aku segera pergi tidur


mengingat malam nanti aku harus kerja.


Malamnya aku hanya kuat kerja sampai jam


setengah dua dini hari, karena siang kurang


istirahat, aku pun beranjak tidur, lampu ku


matikan, tapi lampu penerangan di luar masih


bisa menerobos masuk lewat lubang angin. Belum


sampai lima menit aku tertidur, kurasakan

__ADS_1


tubuhku lengket di keramik tak bisa digerakkan


dan dari pintu musholla nampak gadis-gadis


__ADS_2