Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Rogo Sukmo tingkat menengah


__ADS_3

Bagaimana orang yang perutnya selalu diisi dengan makanan-makanan enak bisa kasihan dengan orang yang kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau kata-kata yang namanya lapar itu tidak ada, karena telah buntu akal pikirannya dengan kekenyangan, juga sama dengan santet, selalu banyak orang bilang tak ada, karena telah mampet pikiran oleh rasa sok modern. Lalu siapa nanti yang akan menolong orang yang terkena sihir jahat seseorang yang bernama santet.” Kyai berkata panjang lebar, sambil membersihkan darah di sekitar bibirnya, kemudian melepas pakaian putihnya lalu memberikan pada santri untuk dicuci.


“Bagaimana tugasnya selesai?”


“Alhamdulillah Kyai, semua karena bantuan Kyai.”


“Oh rupanya ada pak Lurah juga…, sampai tak memperhatikan.” kata Kyai dengan senyum ramah.


Pak Lurah yang sedari tadi bengong menyaksikan, segala yang terjadi, langsung kaget, lalu tergopoh-gopoh menunduk-nunduk berjalan menghampiri Kyai, dan bersalaman dengan Kyai. Sementara aku sendiri pamit ke kamar, dalam hatiku, tak habis-habisnya mengagumi Kyai, Kyai yang masih begitu muda, dan ilmunya tak bisa diukur, tak pernah sombong tak membeda-bedakan segala macam ***** bengek jabatan, mau menteri mau presiden, jendral, jangan harap melihat Kyai menghormat, apalagi menjilat-jilat seperti para Kyai jaman sekarang. Kyai yang tak membedakan antara dirinya dengan santri, tidur dan makan bareng santri, Kyai yang waskita tau semua keadaan orang di depannya, dari hari apa, tanggal berapa, dan di mana orang itu lahir, lalu siapa bapak ibunya? Tahu semua apa yang dilakukan dari semenjak orang itu lahir sampai duduk di depan Kyai, tapi Kyai tak pernah mengaku Kyai. Bahkan sepengetahuanku, Kyai tak pernah mengaku Kyai, panggilan Kyai adalah dari orang-orang yang datang, dan setahuku juga Kyai tak pernah menjadi imam masjid, bahkan sholat di masjid kampung aja jarang, aku pernah satu hari jum’ah, aku diminta memijit kaki Kyai, lalu kata Kyai, nanti aja jum’atan bareng saya, aku pun memijat Kyai sambil duduk, tak terasa aku tertidur. Aku benar-benar pulas tidur sambil tanganku masih memegang kaki Kyai, dan kaget karena mendengar suara adzan keras seperti ditempel di telingaku, kontan aku bangun, mengejap- kejapkan mata, melihat kanan kiri, betapa terkejutnya aku, karena aku ada di dalam suatu masjid, dan banyak orang di sekitarku, ada yang berdiri, ada yang sedang sholat, dan ada yang menatapku aneh. Karena aku tidur sambil memegang kaki Kyaiku, membelakangi kiblat.


Ah malunya aku.


“Mas Ian wudhu dulu…” kata Kyai karena melihat kebingunganku, aku segera beranjak, masih tak habis mengerti, lalu pergi ke tempat wudhu, di tempat wudhu aku mencoba mendekati seseorang yang sama-sama mau wudhu.


“Paman, ini desa namanya desa apa, daerah mana?” lelaki setengah baya itu memandang heran kearahku.

__ADS_1


“Adik ini bukan orang sini ya?” tanyanya menyelidik.


“Bukan pak.”


“Oo, ini desa Kalianyar Kuningan dek.”


“Makasih pak.”


“Sama-sama dek.” Aku tak habis pikir, kenapa bisa sampai di Kuningan. Aku segera wudhu. Dan kembali ke tempat di mana Kyai duduk. Aku selama sholat jum’at masih tak habis pikir dengan yang kualami, benar-benar tak masuk akal, bagaimana bisa terjadi, ini jelas-jelas bukan mimpi, kalau dulu aku diajak ke kampung dayak oleh Kyai tapi dalam mimpi, walau akhirnya aku tau itu adalah nyata, tapi sekarang ini bukan lagi mimpi, semua nyata adanya, wajar sewajar-wajarnya.


“Ini namanya ilmu rogo sukmo, tingkat menengah, tingkat di atasnya lagi bisa melipat bumi, sehingga bisa sholat di Makkah, di atasnya lagi bisa menjadikan diri menjadi banyak sesuai kehendak hati, sehingga bisa sholat di berbagai tempat, dan tingkatan paling rendah yaitu melepas sukma, meninggalkan raga. Pejamkan matamu mas.” Aku segera memejamkan mata, beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kyai:


“Sudah. Buka mata.” aku pun membuka mata dan aku heran karena telah kembali di rumah Kyai.


“Bisakah saya mempelajari ilmu itu Kyai?”

__ADS_1


“Semua orang bisa mempelajarinya, harus menjalankan puasa dan laku yang berat, sebenarnya ilmu Alloh itu teramat banyak, jikalau semua air dibuat tinta, semua pohon dibuat pena, umur kita panjang dari masa nabi Adam diciptakan, sampai sekarang, lalu setiap waktu kita menulis ilmu Allah, kemudian mempelajari dan mengamalkan, niscaya ilmu itu tak akan habis, walau umur kita berlipat lipat lagi, orang Islam saja kalau mau sungguh- sungguh ilmu Alloh, maka sebetulnya tak perlu merasa takut kelaparan, dan tak akan pernah merasa sedih, tak membutuhkan pesawat. Tapi karena telah terjajah oleh kepentingan dan tersihir oleh nikmat dunia, jadi ilmu Alloh tak diperdulikan lagi, iman cuma diucapkan di lisan tak melewati tenggorokan, jangankan mendapatkan ainul haq, mata telanjang aja menjadi buta.”


Aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kyai, saat mengalami itu aku masih menjalankan puasa empat puluh satu hari.


Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah. Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan. Kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri.


Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar bertingkat, di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.


“Kalau mau nempati ditempati aja mas, kagak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepantaranku, anak yang punya kontrakan.


“Lho kok bisa gitu.”


“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”


“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2