
“Apa nenek ini dari bangsa jin atau malaikat?”
“Bidadari itu bukan golongan jin dan malaikat.”
“Lalu dari apa nek?”
“Ya dunia kami di antara jin dan malaikat…”
“Lalu nenek lahir dari apa?”
“Nenek tak berayah dan tak punya ibu… tapi kami dari berbangsa, dan ada rajanya…”
“Hm, begitu ya…”
“Sudah ya cucuku… aku ingin kembali ke kahyangan, kamu jaga diri ya cucuku….”
Setelah salam, Dewi Nawang Wulan segera terbang untuk kembali ke kahyangan. Bener-bener mimpi yang makin aneh saja. Ada suara yang memberitahuku, apapun di dunia ini menjadi bentuk yang sempurna itu karena perpaduan berbagai komponen yang menjadi satu, bikin sambel saja harus ada cabe, bawang merah putih, bahkan garam juga harus ada, jika tak ada cabe, atau garam misalkan, maka tak akan tercipta sambel yang enak, sebagaimana seseorang itu dari berbagai keturunan yang menyatu lantas akan terbentuk seorang yang mumpuni, besi pilihan, dan barang yang bermutu tinggi.
Mimpi masih terus berlanjut, sekarang kakekku yang menjadi ayah dari ibuku, yang sekarang datang menemuiku. Ku lihat ada kesedihan terpancar di wajahnya. Aku kenal betul kakekku ini, karena sampai umur 16 an aku masih melihat kakekku masih hidup.
“Mbah nang?” tanyaku, setelah ku jawab salamnya. Aku biasa memanggilnya mbah nang.
“Iya Nur… wah kamu sudah jadi orang besar, ilmumu sudah tak terbatas…”
“Wah tidak juga mbah…. aku masih seperti dulu…”
“Ya ndak lah nang, kamu sekarang dikenal di mana-mana, eee, kok di kepala mbahmu ada mahkotanya…, padahal tadi tidak…, nang mbah sangat bangga padamu, derajat mbah diangkat di sana karenamu…”
“Wah kok karena saya to mbah… aku kan cuma orang biasa…?”
“Ora nang, sungguh mbah ini, tak menyangka, kamu dulu yang nakalnya sampai membuat mbahmu ini kuawalahen, mumet, pusing, kalau taunya seperti ini, ya mbah dahulu gak akan nglorohi (menegur) dirimu, wes tak biarkan saja…”
“Ndak mbah, sudah tugas mbah, dahulu memperingatkan saya, saya memang anak bandel…”
“Ora nang, mbah sekarang malu denganmu….”
“Wah mbah ini melebih-lebihkan saja….”
“Gak kok nang, mbah sungguh malu sekali…. ndak tau mbah maksute gusti Allah…, sekarang mbah sudah meninggal baru melihat, mbah jadi maluuu sekali… sampai menegurmu dahulu.”
“Mbah… mbah… ada gak kakek buyut yang menjadi orang hebat, kok saya jadi orang seperti sekarang?.”
“Wah ngger aku ini ilmuku cetek, tak tau aku…”
“Coba ku tempel ya mbah… tak tempel ilmu penglihatan melihat silsilah mbah…”
“Ya… ya… wah ilmumu banyak buanget, ada ada ngger… mbah ini keturunan dari Bandung…”
“Bandung siapa to mbah…?”
“Bandung Bondowoso… nang…”
“Ooo yang membangun candi Prambanan itu…?” tanyaku.
__ADS_1
“Iya benar…”
“Mbah, bagaimana nasib mbah putri di sana…”
“Wah aku ndak melihat bagaimana mbahmu di sana…”
“Lhoh apa ndak ketemu mbah?”
“Ndak itu mbah…”
“Ku doakan biar disatukan sama Allah ya mbah…”
“Ya ngger… doamu yang makbul, jadi kamu yang mendoakan simbah… baru ketemu kamu sekali saja mbah sudah mendapat mahkota… wah sungguh ajaib koe ngger…”
“Ndak mbah… aku orang biasa saja…”
“Wes ngger aku pamit kembali ke sana, itu kakekmu Bandung Bondowoso ingin segera menemuimu…”
Mbahku sudah pergi, datang lelaki tua renta mendekatiku.
“Apa mbah ini yang bernama Bandung Bondowoso…?” tanyaku setelah orang itu mengucap salam yang bukan assalamualaikum. Kalau tak salah om santi-santi….
“Ya ngger aku benar Bandung Bondowoso, kakekmu… kakek dari jalur ibumu.”
“Jadi benar kisah membangun candi Loro Jonggrang itu yang membuat kakek?”
“Benar sekali cucu… kakekmu inilah dulu yang membuatnya.”
“Ya belum, sekarang kakekmu ini rendah derajatnya di sana ngger…”
“Kakek mau saya Islamkan?”
“Ya mau… mau sekali ngger..” Lalu ku ajak kakek Bandung Bondowoso masuk Islam. (mimpi ya memang aneh). Setelah membaca dua kalimat sahadat, kakek Bandung Bondowoso langsung menangis sesenggukan beberapa lama. Setelah tangisnya reda.
“Ngger,, kakek tak pernah selama hidup mengalami kebahagiaan seperti ini, terimakasih ya ngger.”
“Ya kek, sama-sama…, kek kalau boleh cucu tau, apa benar kakek membangun candi Sewu itu dengan bantuan jin?”
“Benar sekali ngger, itu cerita nyata, dan memang kakek punya pasukan jin yang bisa membantu membangun candi itu.”
“Kok saya sebagai raja jin, sering memerintah jin, tapi kok batu yang dibawa bersifat gaib, tak nyata…?”
“Walah ngger, jin sekarang beda dengan jin jaman dahulu."
“Bedanya di mana kek, bukannya sama-sama jinnya.”
“Ya beda saja…”
“Apa jin kakek itu masih hidup?”
“Ada cucu, tapi kakek sudah tidak bisa memanggil mereka.”
“Apa ini mereka kek?” kataku setelah menarik semua jin yang menjadi anak buah kakek Bandung Bondowoso.
__ADS_1
“Lah… benar ilmumu sangat tinggi sekali cu, kakekmu ini tak ada apa-apanya…”
“Wah kakek ini merendah…”
“Ya tidaklah cu, kakek ini kan ruh, mana bisa pakai merendah segala…”
“Kek, kalau boleh jin ini ku perintah untuk mengangkatkan batu?”
“Ampun kyai… saya tak bisa menerima perintah dari siapapun kecuali Kanjeng Prabu Bandung Bondowoso.” kata para jin.
“Bagaimana kek…?”
“Kalian taatlah pada cucuku ini…”
“Sendiko dawuh Kanjeng Prabu…”
“Sudah ngger aku tinggal dulu, terimakasih derajatku sudah pindah di sana…”
“Sama-sama kek….” Sebentar kakek Bandung Bondowoso terbang ke atas…. aku berhadapan dengan para jin yang milyaran banyaknya.
“Kalian tinggal di mana?” tanyaku pada para jin yang menunduk bersimpuh di depanku dengan khidmat.
“Kami tinggal di pintu gerbang Prambanan gusti…”
“Tak usah memanggilku gusti, panggil saja kyai…”
“Ya kyai, saya ikut saja apa kata kyai.”
“Bukankah di Prambanan dan sekitarnya para jin sudah ku Islamkan, kenapa kalian tak pernah menghadapku untuk minta di Islamkan?”
“Wah kyai, kami ndak berani menghadap, kalau kyai tak memanggil kami, kyai itu keturunan tuan Prabu Bandung Bondowoso, sedang kami hanyalah orang kecil.”
“Kalian ku Islamkan dulu ya…”
“Siap kyai, apa yang kyai perintahkan, akan kami laksanakan.”
Lalu ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat, dan setelah selesai, aku bicara lagi.
“Kalian bisa mengangkut batu yang besar sebagaimana mengangkatkan batu milik kakek Bandung?”
“Bisa kyai, tapi kami hanya bisa di malam hari, jika di siang hari kami tak bisa.”
“Ooo begitu rupanya… aku pernah memerintah ribuan raksasa untuk mengangkut batu, tapi kok ndak menjadi nyata, batunya tetap gaib, itu bagaimana?”
“Ya kyai, jika batu yang diambil dari alam gaib,
ya tetap gaiblah kyai, batu yang diambil dan diangkat dari alam nyata, nanti batunya akan nyata, kyai beli batu saja, nanti kami yang akan mengangkatkan.”
“Walah, kalau begitu ya ndak usah diangkatkan…”
“Lalu bagaimana maunya kyai?”
“Ya kan semua telatah sungai, gunung Merapi dan semua gunung di segala penjuru adalah daerah kekuasaanku, kenapa tak mengambil dari sana…?”
__ADS_1