Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Sambungan


__ADS_3

Aku dipasangkan bekerja dengan orang Maroko bernama Muhammad, orangnya tubuhnya besar dan suka berkelahi, baru dua hari lalu dia memukul orang Banggali sampai KO.


Aku lumayan cocok dengan Muhammad sebab kalau ku ajak ngobrol dia memakai bahasa Arab baku, sehingga pembicaraan kami lancar.


Kami sering bersama entah dalam bekerja juga dalam keseharian, Muhammad juga sering main ke kamarku.


“Kamu tau ilmu dari kitab syamsul ma’arif?”


tanya Muhammad suatu hari.


“Tau…, itu dalam pesantren di Indonesia itu


dinamakan ilmu hikmah.” jawabku


“Itu banyak dipelajari di Maroko.” kata


Muhammad sambil merontokkan ternit lama


karena kami dapat pekerjaan lembur merusak


internit villa, untuk diganti internit baru.


“Ku dengar syamsul ma’arif dilarang dipelajari di Saudi, bahkan kalau ada orang yang membawa kitab syamsul ma’arif jika ketangkap polisi akan ditangkap dan yang mengamalkan bisa dihukum pancung.” kataku.


“Iya…, aku dengar juga begitu.” jawab


Muhammad.


“Ku rasa peraturan Saudi soal itu ada benarnya


juga, karena menyangkut aqidah, lebih banyak


orang yang belajar kitab syamsul ma’arif, abu


ma’sar alfalaqi, aufaq, syamsul anwar, jika tidak kuat aqidahnya, kebanyakan akan tersesat,


artinya akan terseret pada penggantungan diri


meminta pada khodam, bukan pada Alloh.”


kataku.


“Kok bisa seperti itu?” tanya Muhammad,


“Iya karena khodam yang ada di amalan yang


tertera yang akan memberi kekuatan, kekuatan


khodam tuju bintang yang jadi sandaran, jadi


kemudian akan dimintai tolong.” jelasku.


“Begitu ya… padahal aku belajar syamsul ma’arif sudah lama.”


“Pantesan kau memiliki pukulan yang ampuh.”


kataku bercanda.


“Ilmu paling murni itu ilmu toreqoh…” kataku.


“Apa yang kamu maksud toreqoh yang tasawuf itu.”


“Tasawuf itu tata cara pengalaman ubudiyah soal hati.” jelasku.“Dan toreqoh itu lebih luas.”


“Bisakah kau jelaskan sedikit padaku, di Maroko juga ada toreqoh tapi kok orangnya kebanyakan miskin-miskin.” kata Muhammad.


“Toreqoh itu jalan menuju Alloh, yang punya


sanad atau sandaran ilmu yang bersambung dari Nabi Muhammad SAW, jadi ada ketersambungan guru sampai kepada Nabi, itulah keunggulannya, sebab jika diumpamakan amaliyah, paralon itu sambungan guru, dan pompa air yang menyala itu diumpamakan amalan kita, jika dari pompa air itu tak menyambung kepada sumur, sumur itu


umpama Nabi, dan sumber air itu fadhilah dan


anugerah Alloh, jika kita punya amaliyah, tapi


tidak menyambung pada Nabi, itu seperti sanyo yang kita nyalakan siang malam, kita amalkan


siang malam tapi tidak menyambung ke sumur, maka sekalipun kita amalkan siang malam maka tidak akan keluar airnya, artinya fadhilah Alloh tak akan keluar, sebab tidak menyambung ke sumur, lalu syamsul ma’arif itu tak ada

__ADS_1


menyambung sanad dari Nabi, maka tidak ada


fadhilah Alloh akan keluar, jadi pentingnya


sanad ilmu, juga menentukan hasil pencapaian


yang diraih, tapi begitu juga, dalam toreqoh itu


sekalipun guru mursyid maka mereka punya


kedudukan yang berbeda,


Seperti wadah air, guru itu seperti tabung penyimpanan air, jika dari atas hanya sedikit atau kecil sambungan air, maka akan sedikit juga paralon di bawahnya akan menerima air dari sambungan atasnya yang sedikit, maka guru mursyid yang punya sambungan banyak amat sangat berpengaruh pada besar kecil fadhilah yang dihasilkan murid,


guruku mempunyai sambungan toreqoh ke atas sampai kurang lebih 13 jalur, dan tertampung dalam guruku, maka murid di bawahnya akan banyak mendapat manfaat, karena aliran fadhilah yang besar.”


“Hm masuk akal juga… jadi tertarik aku dengan toreqoh, bolehkan aku belajar lebih banyak


lagi?”


“Aku sendiri juga seorang murid, orang yang


mencari, dan masih berusaha istiqomah, kita


saling berbagi saja.” kataku.


“Baik, tapi aku tetap mau minta dibimbing.” kata Muhammad.


“Dalam toreqoh ada juga kedudukan seorang


mursyid itu beda-beda.” jelasku.


“Ada yang seperti itu ya?” tanya Muhammad


sambil kami terus bekerja.


“Contoh tau kan Syaikh Abdul Qodir Jailainai


RA?”


“Iya tau…”


sultonul auliya’, ghousil a’dzom, quthub, ahli


talkin, ahli silsilah, ahli tawasul, ahli nasab, jadi


berbagai kedudukan itu menjadi satu, makanya banyak sekali karomahnya, karena setiap seseorang punya kedudukan itu maka akan dengan sendirinya mempunyai pakaian kebesaran berbagai atribut dari kedudukan yang dimiliki, seperti seorang jendral dari sebuah ketentaraan dalam suatu negara,


Jika banyak tanda pangkat disandangnya maka akan makin banyak kelebihan yang dimiliki, seperti berhak kemana-mana membawa pistol, membawahi beberapa peleton tentara, jika kedudukannya cuma penjaga keamanan toko tentu beda.” kataku menjelaskan supaya bisa masuk dalam akalnya Muhammad.“


Hm… sepertinya juga masuk akal.” kata


Muhammad.


“Dalam toreqoh juga ada wakil talkin, wakil


bai’at, jika kita dibai’at atau ditalkin wakil talkin,


maka selamanya kita hanya akan jadi prajurit,


dan karena jadi prajurit maka tak akan


meningkat pada kedudukan yang tinggi, sebab


hanya prajurit, bisa jadi orang daerahmu, orang toreqoh yang kamu sebut miskin-miskin itu orang yang tak mempunyai kedudukan.


Dalam ketentaraan juga kan orang yang kedudukannya rendah tak punya gaji tinggi.”


“Iya bisa jadi juga.”


“Kalau ku umpamakan, seorang kalau mau


mendapat gaji dari pabrik, maka jangan hanya


mengulurkan tangan di pintu gerbang, tapi


masuklah ke pabrik, daftar, dan menjadi

__ADS_1


karyawan, maka pasti akan menerima gaji.”


kataku.


“Iya itu benar, lalu apa hubungannya dengan


toreqoh?” tanya Muhammad tak mengerti.


“Sama pabrik itu ku umpamakan pabrik fadhilah dan rohmat Alloh, jika kita cuma minta dan tanpa mengikat diri masuk dalam pabrik fadhilah dan rokhmat Alloh, cuma wira-wiri di sekitar pabrik, berdo’a, maka kita sangat jauh


kemungkinan akan diijabah do’a kita, tapi kalau kita masuk ditalkin dan dibai’at masuk secara


resmi ke dalam pabrik, maka sekalipun tak minta, sekalipun tak berdo’a kita akan tetap mendapat gaji bulanan, apalagi meminta, pasti Alloh tak segan-segan memberi.” jelasku.


“Hemmm… biar ku pikirkan apa yang kau katakan, soalnya aku kurang paham seluruhnya.”


“Sepertinya pekerjaan kita sudah selesai, apa


kita pulang dulu?” tanyaku.


“Tidak, nanti menunggu jam pulang bareng


pekerja lain, pas jam enam, ini baru jam lima


lebih sedikit.” kata Muhammad.


“Lalu bagaimana jika aku ingin mengamalkan


toreqoh? Apa yang harus aku lakukan?” tanya


Muhammad.


“Sebenarnya harus ditalkin, ditalkin itu


penyaringan seorang murid kalau dalam masuk universitas ya kayak melakukan pendaftaran dan menjalani seleksi, setelah selama seleksi itu seorang murid dipantau oleh guru dan ternyata tak pernah melakukan dosa besar, maka akan dibai’at, menjadi murid secara resmi.” jelasku.


“Maksudnya dosa besar itu apa saja?” tanya


Muhammad.


“Ya seperti main perempuan, main judi,


mencuri/merampok/mencopet, korupsi, semua golongan yang mengambil hak orang lain, mabuk-


mabukan, mengkonsumsi narkoba,”


“Jika tidak menjalankan dosa berarti kita bisa


dibai’at ya?” tanya Muhammad.


“Iya.. tapi kalau jauh sama guru kan juga susah juga.”


“Iya aku juga mau tanya soal itu, kayak aku di


Saudi gini kan jauh susah jika mau dibai’at?”


kata Muhammad sambil menyalakan rokok


putihan.


“Itu bisa menjalankan amaliyah dulu, jadi misal nanti dibai’at atau ditalkin, diri sudah ada tanah tempat menanam ilmu, sebab puasa itu kan


membersihkan tanah hati, dari segala penyakit


disertai menyuburkannya, dan ditalkin itu guru


kita umpama memberi biji ilmu yang kita tanam di hati kita, jika hati, tanahnya sudah subur


maka berbagai macam ilmu yang ditanam akan tumbuh subur.”


“Boleh aku minta amalannya?”


“Iya nanti ku catatkan, sekalipun amalan ini sama dengan amalan dari siapapun, nilainya beda, bukan karena aku yang memberi, tapi karena amalan ini ada sanad sambungan guru kepada Nabi Muhammad, dari malaikat jibril, dari Alloh Ta’ala, jadi jelas amalan walaupun sama-sama lafad Alloh, yang pemberian dari Alloh, beda yang pemberian seorang ulama atau kyai tapi tak punya sambungan sanad yang menyambung kepada Alloh, ya kayak paralon yang ku contohkan masuk kedalam sumur dan menyedot air.”


“Lalu apa amalanku yang dari syamsul ma’arif ku hentikan?” tanya Muhammad.


“Ya dihentikan, sekarang gini saja, selama ini

__ADS_1


amalan itu kamu amalkan apa yang kamu dapat? Sudah berapa tahun kamu mengamalkan?”


Bersambung...


__ADS_2