Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Takdzim


__ADS_3

Menempatkan ilham pada manusia, sehingga


manusia tidak punya maksud untuk memasak nasi maka sarat dan sare’at tak akan pernah ada, jadi penetapan Alloh atas niat memasak, lalu gerak tubuh melakukan gerakan memindah ompreng, mencuci beras, menggerakkan urat serta melakukan gerakan yang seperti terancang dan terencana dengan berurutan, sampai menghasilkan nasi yang matang, itu namanya hakikat, berlakunya qodo’ dan qodarnya Alloh di setiap kejadian.” jelasku panjang lebar.


“Mempelajari ilmu karena tak berurutan lalu dikuasai jin karena hati belum teguh ikhlas, jiwa belum kukuh kuat, ruh masih goncang, dan tubuh belum mengalami latihan, ya samalah membangun rumah, dana belum mencukupi, apa-apa masih ngutang, semen belum ada, tanahnya juga tanah yang labil, jika dipaksakan membangun rumah, ya rumahnya jadi tiga hari temboknya retak, sepuluh hari orangnya ketimpa tembok dan mati, jangan menyalahkan amalan karena mempelajari tak sesuai aturan kemudian diri dikuasai jin, jangan menyalahkan rumah yang menimpa penghuninya, karena pembangunannya tidak tepat dari awal serta rancanganya juga tidak benar- benar matang” jelasku.


“Lalu bagaimana ustad anakku ini?” tanya Ibu itu.


“Biar ku kasih air, dan pagar badan, tapi nanti


amalannya jangan diamalkan lagi ya?” kataku ku tujukan pada Jalal.


“Ya ustadz.” jawab Jalal.


Dan Jalal beserta Ibunya pun pulang, setelah beberapa hari kemudian ibunya Jalal datang kembali, mengucapkan terima kasih.


karena Jalal telah sembuh.


Saat di majlisku ada banyak tamu, dan semua sedang bicara denganku, masuk dua orang lelaki dan perempuan, tiba-tiba yang lelaki tersungkur mengaduh-aduh berguling-guling, aku cepat bangkit, dan segera ku pegang kepalanya, lalu dia mulai tenang.


“Kenapa pak?” tanyaku.


“Tak tau mas kyai, tiba-tiba kepalaku rasanya


pening sekali.” jawab lelaki setengah tua yang


mengenalkan diri bernama Tohir.


“Bapak mempunyai amalan apa?” tanyaku.


“Saya orang toreqoh mas.” kayanya.


“La kok sampai punya khodam jin?”


“Ya tak tau.” jawabnya.


“Toreqoh sampean apa yang diikuti?” tanyaku.

__ADS_1


“Toreqoh q*************************.”


jawabnya.


“La berarti sama dengan toreqoh saya.” jawabku.


“Saya malah sudah dibai’at beberapa kali.”


“Wah hebat itu, la saya aja baru dibai’at sekali.”


“Panjenengan ini baru dibai’at sekali, kok ya saya tak punya kelebihan yang kayak penjenengan yang bisa berbagai macam ilmu dan kelebihan.”


“Hehehe… gini lo pak, walau sama-sama toreqoh, tapi dalam toreqoh itu ada namanya kedudukan, yang ahli bai’at saja, ada ahli bai’at badal, dan ahli talkin itu ada ahli talkin badal, badal artinya ganti, jadi orang yang dibai’at oleh ahli baiat dan ahli talkin badal ya selamanya tak punya kedudukan apa-apa, berpuluh tahun menjalankan toreqoh ya tak punya kelebihan apa-apa, karena selamanya menjadi prajurit rendahan, tak punya kedudukan,


Ya kayak dalam ketentaraan orang yang diangkat oleh hansip paling jadi penjaga pos kamling, jangan harap menjadi jendralnya tentara, ya kalau jadi penjaga pos kamling terus petentang petenteng membawa pistol, bisa-bisa malah ditangkap polisi, jadi dalam toreqoh juga ada kedudukan, jika seseorang dibai’at oleh wali qutub, wali ghous, wali abdal ahli talkin, ahli bai’at, ahli silsilah, ahli tawasul, ahli sanad, ahli nasab, wali qutub artinya yang di jadikan sandaran semua wali, wali ghous artinya yang punya kekuasaan menolong, wali abdal artinya sudah punya cap menggantikan wali pilihan, ahli talkin, artinya mempunyai kekuatan menalkin, ahli bai’at, artinya mempunyai kekuasaan membai’at, ahli silsilah, artinya punya kekuasaan mengangkat dan menurunkan silsilah toreqoh, ahli tawasul artinya punya bisa dijadikan penghubung pokok kepada guru di atasnya, ahli nasab artinya nasabnya menyambung sampai Nabi, la kok dibai’at orang seperti itu ya langsung punya kelebihan, walau belum menjalankan amalan apa-apa, jadi walau minta bai’at atau talkin itu tak asal meminta bai’at dan talkin sembarangan.”


“Wah ternyata ada seperti itu ya?”


“Ya..”


berapa tahun?” tanyaku.


“Ya sudah lama sekali, mungkin sudah dua puluh tahun, la umurku sudah hampir enampuluh kok mas kyai.” jawab pak Tohir.


“Lama juga ya…”


“Ya anehnya kok hidup saya susah terus, ya rizqi sih cukup, ya semua anak saya juga kuliahan, tapi cukup untuk itu saja.” jelas pak Tohir.


“Ya yang penting disyukuri.”


“Saya kesini juga ingin menjadi murid


panjenengan, melihat panjenengan seperti itu,


masih muda, ilmu apa saja ada, kelebihan juga, sampai tak masuk di akal, saya jauh-jauh juga mendengar pembicaraan orang akan kelebihan panjenengan, sedang guru Mursyid Pekalongan itu juga kan banyak, tapi kenapa mereka tidak memiliki kelebihan yang panjenengan miliki?” kata pak Tohir.


“Saya itu manusia kosong, tak ada apa-apanya

__ADS_1


pak Tohir, apa yang saya miliki ini semata-mata


anugerah Alloh, kapan saja bisa diminta kembali, jadi saya hanya ketitipan menjaga, titipan dari guru saya, karena saya diserahi menjadi pemimpin Jawa Tengah, maka saya juga dibekali kelebihan, jadi bukan masalah saya sakti atau hebat,


Ya kalau saya sendiri ya sama dengan panjenengan, jadi ini bukan karena saya mempelajari atau tekun, tapi karena saya kepasrahan amanat, jadi didukung dengan pakaian kebesaran, ya kalau kedudukan saya dicabut oleh Alloh karena saya seenaknya sendiri menyelewengkan kepercayaan yang diamanatkan pada saya, ya bahayanya besar, sebab langsung urusannya sama Alloh.”


“Oo begitu rupanya.”


“Ya sebenarnya siapa saja bisa menjadi seperti


saya, wong dalam toreqoh itu di samping


istiqomah menjalankan amaliyah, puasa siang


hari, dzikir di malam hari, dilakukan dengan


konsisten, sehingga menjadi suatu amal yang


seperti membuang kotoran di kamar kecil,


kebiasaan yang tidak dipikirkan, karena biasa,


menjadi ikhlas dengan sendirinya, karena amal telah menjadi kebiasaan bukan suatu hal yang


aneh, yang menjadikan hati bangga, lalu menjaga makan dari makanan haram dan subhat yang tak jelas halal haramnya, menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia,


Lebih baik diam jika tidak bisa bicara yang tak ada manfaatnya, menjaga orang lain jangan sampai tersakiti, selalu berkasih sayang pada siapa saja, menghilangkan sifat iri, dengki, hasad, sombong, loba, tamak, riak, ujub, membanggakan amal, buruk sangka, kikir,


maka bisa mendapatkan anugerah dari Alloh, dan semua itu tak bisa dicapai, jika tanpa ada yang mengarahkan dan membimbing, saya diarahkan oleh guruku, maka bapak ku arahkan, bukan saya lebih mulya atau lebih hebat, tapi hanya karena saya sudah pernah lewat jalannya,


Jadi saya bisa tau jalan daripada orang yang belum pernah melewati jalannya, jadi bukan karena saya lebih baik dari bapak, dan seorang murid itu harus takdzim, hormat kepada guru, bukan juga karena gurunya hebat, sekalipun guru itu anak kecil yang miskin dan yatim yang tak punya apa-apa, maka seorang murid tetap harus taat pada guru, takdzim, mengagungkan, bukan mengagungkan jasad guru,


Tapi mengagungkan ilmu yang dititipkan Alloh yang bersanad menyambung pada Nabi SAW, jadi bukan tentang siapa gurunya, kalau jasad lahir guru maka sama dengan jasad yang terdiri dari darah daging, tapi ilmu toreqoh itulah yang menjadikan guru itu utama, dan dihormati, sebab seorang guru itu dipilih oleh Alloh, tidak bisa ilmu toreqoh itu dititipkan kepada seseorang yang bukan di bidangnya, beda dengan ilmu IPA, biologi, sains, siapa saja mau mempelajari maka akan bisa mempelajari dan memperoleh predikat profesor,


Tapi kalau guru mursid toreqoh, tidak bisa semua orang menjadi seorang mursid, walau puluhan tahun belajar, sebab yang menjadi mursid dan kedudukan itu dipilih oleh Alloh, apa saya sendiri mengajukan diri untuk dipilih, la setitik debu saja saya tak ingin menjadi pemimpin dan punya kedudukan dalam toreqoh, sebab bagi saya berat, amanah yang sangat berat, tapi karena sudah diletakkan di pundakku, maka aliran darah saya, degup jantung saya, adalah toreqoh, setiap langkah saya adalah toreqoh,,


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2