
Aku ikut masuk ke rumah itu, di mana ada seorang lelaki setengah tua membukakan pintu dan Sarno diajak masuk ke dalam, dan di dalam ku lihat berbagai macam sesaji.
“Musuhmu sekarang No..,” kata lelaki setengah tua itu.
“Iya saya tau mbah kyai.” jawab Sarno.
“Makanya saya minta tolong ke mbah kyai.”
“Aku mau saja menolongmu no…, tapi taruhannya nyawa, apa kamu mau menjaga dan menikahi anakku.” kata orang setengah tua itu, “Soalnya bisa saja aku kalah dan taruhannya nyawaku.”
“Iya mbah, saya akan berusaha.” kata Sarno.
Tiba-tiba di luar terdengar suara mendesis, dan suara kook.. kok.., aku segera melesat keluar,
dan melayang di udara,
“Sudah No, kamu lari dari pintu belakang.” kata
lelaki setengah tua, dan dia sendiri keluar rumah sambil membawa keris.
Sementara di luar rumah, seekor ular sebesar
manusia, tengah melata di tanah, anehnya
tubuhnya cuma sepanjang tubuh manusia, dan gerak geriknya seperti sudah berjalan, dan dia
berhadapan dengan lelaki setengah tua itu, aku
melayang di atas pohon tebu, tegang juga karena ingin tau apa yang akan terjadi, ular itu mulutnya yang besar tiba-tiba memakan tanah, dikunyahnya dan disemburkan, berupa bola api yang meluncur mengarah pada lelaki tua yang
memegang keris.
Lelaki itu melompat, dan bola api lewat, tapi ular itu bertubi-tubi menyerang dengan api, maka ada satu dua bola api menghantam lelaki tua itu sehingga tubuhnya terjengkang.
Ular sebesar manusia itu di tengah
kepalanya ada satu tanduk di antara rambutnya yang kemerahan, mau mendekati si orang tua
yang mungkin sudah mati, aku segera melesat, dan ku hantamkan kakiku ke kepalanya, ular itu bergulingan menjerit, suaranya suara perempuan, dan dia mencorong matanya
menatapku heran, lalu mulutnya memakan tanah dan tanah disemburkan ke arahku berbentuk bola, aku segera melompat untuk menghindar, kontan saja bola itu mengenai pohon besar di belakangku segera terhantam dan terbakar,
Ganas juga serangannya, serasa udara sangat
panas, aku mundur, sekali waktu ku serang dia
dari udara dengan hantaman petir dari tanganku, dia menjerit, sisiknya sangat tebal, sehingga seranganku walau bisa melemparkannya tapi sama sekali tak bisa melukainya, hanya tubuhnya sekedar berasap.
Aku terus mundur, dan terbang, dia berusaha mengejar, aku melesat ke arah lebih tinggi, di kejauhan ku lihat sebuah bendungan, aku turun lagi memancing ular itu ke arah bendungan, sampai di tepi bendungan yang
lumayan berkedalaman, ku hantam tubuhnya
__ADS_1
kuat-kuat dengan beberapa kali hantaman petir, yang membuat ular itu menjerit dan melengking, dan terlempar ke udara, aku hantam lagi dengan beberapa kali hantaman tangan kanan kiri, dan ular itu jatuh ke dalam bendungan.
Alhamdulillah, aku segera kembali, tubuh
rasanya penat, pertarunganku dengan ular itu
cukup menguras tenaga.
-----------------------------------------------------------
“Aku bernama Sarno.” kata mas Sarno.
“Sampean jadi kawin sama anak orang yang
menolong sampean,” kataku langsung.
“Lhoh kok sampean tau?” tanya dia heran.
“Hehehe, ya tau saja,” “Ooo jadi perempuan yang wajahnya seperti ini dan ini itu istri pertama?”
kataku menggambarkan istri pertamanya.
“Iya itu istri pertama, sedang anak orang yang
menolongku itu istri kedua.”
“Ooo begitu rupanya ceritanya…”
“Iya..”
“Jadi akhirnya mertua sampean itu meninggal?” tanyaku.
“Iya waktu dia menolongku meninggal.” jawab
mas Sarno bengong karena aku tau detail
keadaannya.
“Kok sampean bisa tau saya semuanya to?”
“Ya kebetulan saja.” jawabku.
“Wah sampean ini dukun apa gimana kok bisa tau semua.” tanyanya.
“Ndak, cuma kebetulan.”
“Kalau ku bilang, misal kalau ke rumah istri
sampean harus melewati pasar, habis itu
jembatan, lalu pertigaan, lalu ada masjid yang
__ADS_1
berpagar besi, lalu jalaaan terus melewati
tikungan yang banyak pohon bambunya, lalu kalau masuk ke arah depan rumah istri sampean maka harus belok kanan, di depan rumah istri sampean ada pohon tebu, di belakang ada sungai kecil yang airnya sering kering, ada pohon pisang dan pepaya, bagaimana detail gak?”
“Wah aneh banget bisa tepat semua…, aku jadi
takut.”
“Ya kebetulan saja Alloh menunjukkan padaku.” kataku.
“Wah.. aku tak habis pikir, sungguh aneh
banget.” kata mas Sarno sambil ketawa dan
kebingungan.
“Nanti main ke kamar ya mas, aku mau curhat,
nanti malam atau nanti setelah pulang kerja.”
kata mas Sarno.
“Iya insaAlloh.” kataku.
Setelah pulang kerja, aku ke kamar mas Sarno,
sebelum kami datang ada 8 orang Indonesia yang bekerja di pabrik itu, semua orang yang sudah bekerja lama, ada yang sudah 16 tahun dan bahkan ada yang sudah 20 tahun.
Di tempat tinggal pabrik ada terbagi menjadi beberapa kelompok, A, B, C, D, misal A ada dalam kelompok rumah manager, B kelompok rumah mandor dan insinyur, C barak , D juga barak, dan misal D1, ada 60 kamar, D saja sampai ada beberapa nomer, jadi untuk hafal daerah-daerah itu harus diingat-ingat, agar tak salah, aku mencari kamar mas Sarno di barak yang ditempati kebanyakan orang Filipin, memang setiap barak biasanya ditempati kelompok negara tertentu,
Ada yang kebanyakan ditempati orang Filipin, ada yang kebanyakan ditempati orang Pakistan, India, Arab, Sudan, Yaman, Banglades, Maroko, jadi kebanyakan membuat komunitas tempat tinggal, dan Indonesia yang belum punya komunitas, sehingga orangnya masih terpisah-pisah tempat tinggalnya.
Maklum karena masih baru, aku merasa heran juga sebab bahasa Arab yang ku dengar sama sekali bukan bahasa Arab yang aku ketahui di pesantren, tapi bahasa Arab pasaran, kayak orang luar yang belajar bahasa Indonesia,
"kamu sedang apa?" bareng datang ke Indonesia ditanya ‘lu ngapain?’, jadi bingung
karena tak ada di kata yang selama ini dipelajari,
Kalau bahasa Arab, khoir jadi khois, khaifa
khaluka jadi kaif hal, jadi harus belajar dan tau
kata seperti orang yang belajar pertama bahasa Arab, aku malah lebih cocok kalau bicara dengan bukan orang Arab tapi memakai bahasa baku, atau bahasa Al-qur’an, misal dengan orang Mesir, Maroko, atau Yaman, yang orangnya memakai kata baku, atau kata lebih asli, jadi aku cukup mengucapkan kata dari bahasa kitab kuning yang selama ini aku pelajari.
Sebab kalau orang Arab asli, malah bahasanya
yang tak karu-karuan, karena orang Arab sendiri yang oleh pemerintah semua orang miskin
memperoleh jatah bulanan oleh pemerintah,
menjadikan orang Arab kebanyakan malas sekolah, sampai-sampai nulis nama sendiri kebanyakan tak bisa karena buta huruf, yang buta huruf amat menyeluruh dari yang tua sampai yang muda, ironis memang ketika Raja sangat kasih sayang pada rakyatnya, korupsi hampir tidak ada, sekolah semua gratis, orang miskin mendapat jatah bulanan, dan bahkan orang mau nikah juga dapat bagian, pemerintah berapa tahun sekali membagikan uang,
__ADS_1