Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Wali yang tertutupi Karya karya besar


__ADS_3

Dan selama sepuluh tahun pun aku tak pernah


punya murid di P*********, muridku pertama di kota ini bernama Nanang, aku juga tadinya tak kenal dengan Nanang, walau dia tetanggaku, karena memang disamping aku orangnya tak pernah nongkrong dengan tetangga, juga Nanang itu bukan asli tetanggaku tapi orang yang nikah dengan tetanggaku, perkenalanku dengan Nanang, hanya kebetulan dalam tahlilan bareng.


Seperti biasa bila diundang tahlilan bareng, aku akan memilih berangkat belakangan, karena biasanya kalau berangkat depan dan duduk di dalam ruangan, maka aku akan diminta memimpin tahlil, dan itu pasti akan membuat kyai Askan marah, dan menganggapku merebut jatahnya,


Ya terpaksa aku memilih berangkat belakangan, dan biasanya akan bertempat di luar, la aku sendiri juga sebenarnya tak ingin diminta memimpin tahlil, bukan apa-apa, soalnya aku tak hapal tahlil. Hahaha… Bodoh ya diriku, memang aku bukan orang pinter, sampai tahlil saja ndak hapal, biasanya kalau diminta memimpin aku baca yang ingat ingat saja, dan kalau tidak disuruh memimpin ya aku malah senang.


“Mas ini orang toreqoh ya..?” tanya Nanang yang duduk di sampingku.


“Iya… kenapa?” tanyaku.


“Saya juga ingin belajar thoreqoh, boleh tidak mas saya menjadi muridnya?” tanyanya lagi,


karena tahlilan belum dimulai, menunggu tamu


undangan lain datang.


“Hehehe, thoreqoh itu berat pengamalannya, lebih baik jangan, apalagi jika masih mengutamakan dunia.” kataku.


“Dan menjadi muridku itu berat, makanya aku sendiri tak mengangkat seseorang menjadi muridku, karena aku tak yakin kalau orang sini ada yang mampu, lebih baik ku amalkan sendiri.”


“Walau berat, saya siap mas mengamalkan,”


jawabnya.

__ADS_1


“Pikirkan dulu masak-masak, renungkan, dan kalau perlu meminta ijin istri, sebab bukan hanya menjadi muridku itu cuma menjalankan amalan dariku, tapi juga harus mau ku perintah apapun yang tidak melanggar syari’at agama.” jelasku.


“Baik nanti saya akan minta ijin istriku.”


“Ya baiknya begitu.” kataku dan tahlil pun telah


dimulai.


Besok malamnya Nanang sudah datang ke rumah.


“Masih ada waktu untuk mundur, jika memang tak siap, aku akan memberi tenggang masa tiga bulan, jika tak kuat, maka silahkan mengundurkan diri, sebab menjadi murid thoreqoh itu harus siap diperintah guru, tawadhu’ pada guru, bukan soal siapa gurunya, bukan karena aku mulia atau ingin dimulyakan, kalau guru thoreqoh kok pengen dimulyakan manusia, maka do’anya tak akan diijabah oleh Alloh, dan tinggalkan guru palsu seperti itu.


Nah, murid itu punya kewajiban untuk selalu tawadhu’ dan mengikuti taat kepada guru adalah demi kebaikan murid itu sendiri, karena ilmu yang dititipkan Alloh kepada guru, akan mengalir kepada murid, jika hati murid terbuka, dan guru senang, seperti aliran air yang terbuka, dan murid menerima alirannya, karena menyenangkan guru, saya dulu juga begitu, dan hanya butuh waktu sebulan untuk menimba,


Jika murid tak taat kepada guru, maka dibutuhkan waktu seratus tahun juga belum tentu ilmu guru akan mengalir pada murid, karena pintu-pintu ilmu tak dibuka oleh Alloh.


menjalankan amalan puasa, dzikir, tapi amat


ta’at pada guru, maka ilmu juga dituangkan oleh Alloh, kepada murid itu, jadi keta’atan murid pada guru itu mutlak dibutuhkan.


Tau Imam Ghozali, Imam Ghozali itu mempunyai adik, yang tak mau sholat berjama’ah menjadi makmumnya, ya Imam Ghozali malu, karena dia seorang imam besar, kok adiknya sendiri tak mau menjadi makmumnya, lalu Imam Ghozali meminta ibunya supaya membujuk adiknya agar mau menjadi makmumnya, maka ibunya pun membujuk adiknya, dan adiknya pun mau menjadi makmumnya, tapi di tengah sholat adiknya malah mufaroqoh, memisahkan diri dari sholat berjama’ah, ya jelas malah membuat Imam Ghozali semakin malu,


Lalu menanyakan kepada adiknya kenapa kok mufaroqoh, adiknya menjawab karena di hati Imam Ghozali dipenuhi nanah dan darah, tak ada sama sekali cahaya ilahiyah, Imam Ghozali kaget, kok adiknya bisa tau soal hati, dia bertanya kepada adiknya, ilmu seperti itu belajar kepada kyai siapa?


Dijawab adiknya ilmu itu belajar dari kyai kampung, maka Imam Ghozali pun ingin berguru kepada kyai kampung itu, sampai di tempat kyai kampung itu dia mengutarakan maksudnya berguru, tapi sama kyai kampung itu ditegaskan kalau Imam Ghozali tak akan kuat berguru kepadanya, tapi Imam Ghozali ngotot dan mengatakan kuat apapun syaratnya.

__ADS_1


Kyai kampung mengatakan syaratnya tak banyak, hanya satu taat dan tunduk kepada perintah guru, sami’na wa ato’na, mendengar dan menta’ati, Imam Ghozali menyatakan sanggup dan siap menerima perintah.


Lalu kyai kampung itu memerintah pada Imam Ghozali untuk menyapu jalan, Imam Ghozali pun siap, dan mengambil sapu, kata imam kampung, siapa yang menyuruhmu menyapu jalan dengan sapu, aku meyuruhmu menyapu jalan dengan jubah kebesaranmu, Imam Ghozali karena keinginan kuatnya menjadi murid, dia melepas jubah kebesarannya lalu menyapu jalan dengan jubahnya, menghilangkan kehormatannya dan ego-nya sebagai seorang imam, lalu menyapu jalanan dan membersihkannya, dengan jubahnya,


Baru berjalan beberapa meter, sudah cukup, kata kyai kampung, kamu sudah cukup menjadi muridku, dan menyerap semua ilmuku, sekarang kamu pulang, maka Imam Ghozali pulang dan kemudian menemukan rahasia -rahasia hati dan mengarang kitab ihya’.


Itu kisah Imam Ghozali, tak beda dengan kisah Nabi Khaidir dan Nabi Musa. Jadi keta’atan murid kepada guru itu mutlak dan syarat utama dibutuhkan seorang murid kepada guru, sekalipun dalam lahirnya kedudukan murid anak presiden atau kaisar dan seorang gurunya seorang pengemis yang rumah saja tak punya, maka jika ilmu ingin didapat harus taat pada guru, jika tidak taat maka jangan harap seribu tahun akan mendapat ilmu, sebab Alloh menutup sumber-sumber ilmu itu,


"la ilma lana illa ma alamtana" , jadi semua ilmu ilahiyah itu dari Alloh, seorang guru ditaati itu bukan jasad lahirnya, tapi karena seorang guru menjadi guru thoreqoh itu diangkat oleh Alloh, dipilih dan karena seorang guru itu seperti orang yang pernah melewati jalan, dan seorang murid akan melewati jalan yang sama, dan guru yang pernah melewati jalan itu lalu memberi petunjuk, agar murid tak salah jalan.


Nah aku sudah menjelaskan panjang lebar, jika siap menjadi murid, apa kamu siap taat?” tanyaku.


“Ya saya taat.” jawab Nanang. Lalu aku memberikan Nanang amalan dan menjelaskan cara pengamalannya.


Beberapa hari Nanang menjalankan puasa, dia


datang ke rumahku.


“Ada apa?” tanyaku.


“Anu mas saya ingin cerita, pertama menjalankan puasa, saya pas jalan sama anak saya pakai motor, lalu di jalan pas berhenti untuk beli sesuatu, ada seseorang berjenggot panjang, mendekatiku dan mengatakan,


“Wahai kekasih kecil, taatlah pada gurumu.”, dia menepuk-nepuk pundakku, aku diam saja dalam keheranan, orangnya kurus, jenggotnya putih sedada panjangnya, lanjut lalu pas saya di jalan ada seorang gembel yang sepertinya gila, dia mendekatiku, dan mengatakan, ya habibi, kau seperti bambu kecil yang masih kecil, taatlah pada gurumu, kau akan menjadi bambu besar yang banyak manfaatnya.” cerita Nanang.


“Itu siapa ya mas Kyai?”

__ADS_1


“Itu para wali Alloh yang menyamar, sudah tak usah dihiraukan, lanjutkan saja amaliahmu dengan ikhlas.” kataku.


Bersambung....


__ADS_2