Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Pelayan manusia


__ADS_3

Lihat saya sama sekali tak kerja apa-apa. Karena jika toreqoh itu ibarat air sungai yang mengalir, dan saya itu orang yang mandi, lalu hanyut dan menjadi ikan, sehingga jika saya dipisahkan dari air, maka saya akan megap -megap, sebab saya membutuhkan


air.” kataku panjang lebar.


Orang yang ada disini semua terdiam.


“Orang itu di dunia ini diciptakan untuk mengabdi kepada Alloh, pengabdian itu bukan untuk Alloh, sebab Alloh tak butuh pengabdian siapapun, tapi untuk diri sendiri pengabdi itu yaitu kita, mengabdilah pada Alloh sampai engkau didatangi keyakinan di hatimu, dan keyakinan itu hadir karena adanya sebab yang terlihat sehingga menimbulkan keyakinan, dan adanya sebab itu benar-benar menimbulkan akibat, orang memegang pisau, melihat tepi yang tajam dari pisau dan dia pakai mengiris daging, menjadikan dia tak ragu mengiris karena melihat hasil irisan awal yang mudah memotong daging, sehingga irisan selanjutnya tak ada keraguan.


Sama soal ibadah, bisa menimbulkan yakin sebab melihat hasil dari apa yang diharap terjadinya, misal berdo’a, maka menjadi yakin setelah pernah melihat dengan mata kepala sendiri kalau do’anya diijabah Alloh, makanya bapak dan semua yang hadir terijabahnya do’a itu bisa kita lihat hasil nyatanya, kalau kita sendiri tak terpisah dari do’a, sudah seperti tangan yang memegang pisau, dan tak bisa dibedakan mana tangan dan mana pisau, sebab gerakan maju mundurnya mengiris


seirama, kita itulah pisau, pisau ya kita itu,


sebab penyatuan kehendak, antara pisau dan


kita sendiri, sebab penyatuan kehendak antara


kita, do’a dan pemberi ijabah yaitu Alloh, sebab


adanya Alloh di hati setiap waktu, setiap tarikan


nafas, dan setiap bergerak dan berhenti.”


“Wah aku rada kurang paham… hehehe… maaf


pak kyai.”


“Ndak papa…, manusia itu sebenarnya kalau


menyandarkan pada kecerdasan dan pemahaman sendiri, maka akan dangkal dan pendek pemikirannya, bos pabrik kain sutra, kok dia dari menanam bibit kepompong dijalankan sendiri, nyangkul tanah, menanam bunga tempat kupu bertelur sampai memanen kepompong itu dijalankan sendiri, lalu mengurai benang kepompong dilakukan sendiri, menjadikannya kain dilakukan sendiri, sampai menjahit kain dilakukan sendiri, setelah jadi pakaian lalu dijual sendiri, ku ragukan kalau tiga tahun orang itu akan bisa membuat pakaian satu saja,


Sama dengan amaliyah, jika kita fardan atau sendirian mengandalkan amal sendiri, maka lama sekali orang itu akan maju, la amalnya sendiri saja masih diragukan bisa menembus langit tujuh, apa tidak bisa menembus, karena ketidak adanya keikhlasan amal, atau sebab lain entah makanannya yang selalu haram, atau diri yang sombong, dan melakukan sesuatu yang menjadikan diri terhalang amal bisa menembus ke langit, dan mendapat ACC dari Alloh bahwa amal kita itu pantas diterima,


Maka dari itu kita butuh pendukung, kaya orang membuat pakaian sutra, jika ingin produksi sehari jutaan kodi, maka butuh petani kepompong, butuh pekerja pemintal benang sutra, penjahit, pemasaran, maka jadilah pabrik, sama dengan ibadah, butuh penyokong ibadah kita, ajak orang lain, maka kita akan mendapat apa yang dikerjakan orang itu malah langsung diterima di sisi Alloh sebab tidak berhubungan lagi dengan ikhlas tidaknya dengan orang yang kita ajak, seperti orang yang punya karyawan penjahit, maka akan menerima pakaian yang dijahit karyawan itu, tak perduli karyawan itu punya utang di luaran, tetapi itu bukan urusan kita.”


“Nah kalau ini aku paham,” sela pak Tohir.


“Juga kita butuh penyokong amal, jika kita tidak


bisa mengajak orang lain untuk beramal, umpama kita tidak bisa mendirikan perusahaan, kenapa kita tidak tanam modal dalam perusahaan, jika tidak bisa mengajak orang lain melakukan amal ibadah, kenapa tak menyokong orang yang beribadah dengan harta yang kita miliki, setiap ibadah itu dilakukan kita akan mendapat bagian dari modal yang kita tanamkan, semakin besar modal yang kita tanam maka akan makin besar

__ADS_1


bagian yang kita dapat, teori tentang tanam


modal orang bisnis semua juga tahu,


Seperti kita menanam modal di pabrik, kok di pabrik ada karyawan yang sakit maka tidak akan mempengaruhi penanam modal, penanam modal akan tetap memperoleh bagian selama pabrik itu tidak gulung tikar,


Begitu juga orang yang melakukan amaliyah menanam modal misal memberi dana kepada majlis dzikir, maka penanam akan mendapat hasil bersih dari apa yang ditanamkan, jika pabrik makmur, artinya semakin banyak jama’ah yang ikut akan makin banyak penanam modal menerima bagian itu tak mempengaruhi antara ikhlasnya pendzikir dan akibat atau hasil yang dicapai penanam modal.


Selama majlis itu berdiri maka selama itu juga


penanam akan mendapat bagian sesuai modal


yang ditanam, dan itu akan terjadi dan kita lihat


hasilnya jika kita praktekkan, segala sesuatu


seribu tahun hanya teori tanpa dipraktekkan,


maka jangan harap ada hasilnya, nah praktek


kemudian melihat hasil yang dicapai dengan


setelah mempraktekkan lalu melihat hasil lalu


menambah-nambah perbuatan serupa ini


dinamakan haqul yaqin, seperti orang yang tak


ragu mengiris daging karena mengiris yang


pertama hasil potongannya sempurna. Maka


kedua dan seterusnya tak lagi ragu memotong


daging, sebab telah yakin potongannya bagus.”


“Maaf kyai, kalau saya ini kenapa diikuti jin?”


“Oh ya tadi itu kenapa bapak sampai jatuh

__ADS_1


berguling? Karena bapak biasanya disokong khodam jin, dan waktu masuk rumahku jinnya tak berani masuk, lantas bapak yang biasanya


disokong kemudian jalan sendiri, jelas jadi lemah dan terasa pening yang teramat sangat.” jelasku.


“Lho kyai, bukankah saya itu mengamalkan


toreqoh, kenapa diikuti jin?” tanya Tohir.


“Begini setiap amaliyah zikir yang dijalankan, itu pasti akan ada jin yang mendekat, jika ada jin atau syaitan yang mengganggu, jin yang


mendekat ada yang mau mengganggu, ada juga yang mau menjadi khodam, jika kita didatangi jin yang akan menjadi khodam kemudian kita terima, maka ya sudah kita mentok sampai di situ, dan tak lagi beranjak mendekat pada Alloh,


Tapi jika kita tolak, maka kita tak apa-apa, arti kata kita tolak itu dalam perbuatan bisa saja luas, misal tidak diperduli, dan terus istiqomah dzikir, setelah itu akan ada malaikat yang datang untuk menjadi khodam, dan kita juga kalau menerima, maka kita akan mandek sampai di situ, tak lagi beranjak mendekat pada Alloh,


Lha malaikat itu kan memang sudah diciptakan untuk melayani manusia, ya ndak usah kita minta, atau kita terima, mereka itu kan kodratnya melayani.”


“Apa buktinya kalau malaikat itu pelayan


manusia?” tanya Khusain salah satu tamuku.


“Kan jelas, kita ini beramal baik atau buruk


sudah ada malaikat pencatat amal baik di pundak kanan, dan malaikat pencatat amal buruk di pundak kiri, kita tak usah mencatat sendiri, yang akan menghabiskan beberapa juta kertas tiap bulan, juga kita mau hujan, ada malaikat yang manurunkan hujan, kita amal mau dikirim ke langit kita juga tak usah repot nunggu pak pos, sudah ada malaikat yang mengantar amal kita ke langit.”


Datang suami istri masuk ketika kami bicara,


setelah bersalaman denganku yang lalu mereka nimbrung, aku lihat perempuannya, aku kaget, karena ku rasakan jin yang kuat selalu mengikutinya, ku katakan kuat karena sudah bisa masuk rumahku yang terpasang pagar gaib.


“Ibu ini ada keperluan apa?” tanyaku,


mengalihkan pembicaraan kepada perempuan


yang baru datang.


“Ini pak kyai, saya kakinya sakit, dan entah


kenapa kayak ada yang nggandoli.” jelasnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2