Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Tunjungan Plaza


__ADS_3

“Cuma itu aja mas syaratnya?” kata Hendra,


“La kamu sanggup tidak? Kan selama ini sholatmu jarang-jarang…,”


“La kok mas tau?”


“Wah itu mudah ditebak Ndra..!”


“Aku sanggup mas…”


“Bener sanggup?” tanyaku meyakinknnya


“Sanggup sekali mas…”


“Baiklah, sini aku minta pena ama kertas, biar ku tuliskan amalannya..” kataku yang segera


dicarikan oleh Hendra dan tak sampai lima menit dia datang membawa pena beserta kertas, dan


amalan makhabah pun ku tulis, setelah menyerahkan amalan, dan memberikan pesan cara kerja dan bagaimana pakainya, aku pun minta diri karena hari telah menjelang subuh.


Setelah sholat subuh, aku ikut kereta barang ke arah Surabaya.


Jam satu siang sampai di stasiun Pasar Turi, aku tak bingung, walau tak pernah ke Surabaya, yah bagaimana harus bingung, karena bingung adalah hak bagi orang yang punya tujuan,


Sedang aku tak punya tujuan sama sekali, jadi aku sama sekali tak mencari alasan untuk bingung, aku duduk aja di kursi peron, tak seperti orang linglung, walau tak ada uang serupiah pun di kantongku, aku tak takut, akan dapat makan dari mana, walau aku juga manusia biasa, kalau boleh bilang aku teramat lapar,


Walau itu tak jadi beban pikiranku, aku tekuni saja berdzikir, tanpa henti dan tanpa bosan, karena hanya Robku saja sandaranku, dan yang aku kenal sekarang ini, aku yakin, kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibuku, perhatian-Nya melebihi siapa pun di muka bumi ini,


Aku kemudian berjalan keluar setasiun.., tapi baru keluar dari pintu seorang perempuan


memanggilku,


“Mas sini mas…!” panggilnya. Aku segera


mendekat, ku lihat dia membawa banyak jualan, yang ditenteng, yang dijinjing, juga yang


digendong di punggung, tapi mulai diturunkan,


ibu itu mungkin seumur empat puluh tahun.


“Ada apa bu?” tanyaku sambil mendekat,


mungkin aku diminta membantu barang


bawaannya, pikirku.


Dia membuka makanan dan meramu pecel, dan meletakkan satu paha ayam di bungkusan yang dipegangnya,


“Ini makan…!” katanya menyodorkan sebungkus pecel yang diraciknya,


“Ah ndak bu…” kataku mundur.


“Ndak mau gimana? Udah ini dimakan…!” katanya berdiri dan menyodorkan bungkusan padaku,


“Saya ndak punya uang bu… maaf…” kataku terus terang,

__ADS_1


“Yang nyuruh anak ini bayar siapa? Ibu hanya


minta anak makan ini…”


“Tapi bu…?” kataku masih belum menerima nasi bungkus pemberiannya.


“Udah ini dimakan dulu.” katanya, yang tak bisa ku tolak, lalu ibu itu mengeluarkan kursi dari


dalam keranjang dagangannya dan menyuruhku duduk, dan setelah menyatakan terimakasih, aku pun makan dengan lahap,


“Nambah?” tanyanya sambil menyodorkan


segelas teh di dekatku.


“Ah sudah bu…, sudah kenyang sekali,” kataku.


“Ibu bikinin lagi ya…” tawarnya dengan


pandangan kasih nan lembut.


“Udah bu.., bener nih, sudah kenyang sekali,”


kataku, sambil meminum teh manis, tapi ku lihat ibu itu masih membuat racikan pecel juga, dan membungkusnya dalam kresek, lalu disodorkan padaku,


“Ini, untuk bekal dalam perjalanan…” katanya


sambil mengansurkan kresek ke arahku, dan


memaksaku menerimanya.


“Nak… ibu hanya minta kamu mendoakan ibu..,” katanya menatapku dengan serius.


“Mendoakan?” tanyaku heran.


“Ah ibu ini, saya ini dosanya terlalu menumpuk


bu, masak disuruh mendoakan? Ya apa diperduli oleh Alloh, lihatlah pakaianku ini bu kotor


banget, dekil, kumal, jarang mandi,” kataku sambil menunjukkan pakaian yang kupakai.


“Kalau begitu, kamu tak mu ya mendoakan ibu..?”


katanya sambil air matanya mulai menetes…


“Oh.., mau… mau, bu, mau..” kataku gelagapaan melihat ibu itu mulai menangis,


“Iya.., iya bu.., kan ku dokan, ibu minta didoakan supaya apa?” tanyaku cepat-cepat supaya dia tak keburu menangis,


“Ya ibu minta didoakan supaya mati khusnul


kotimah.” katanya sambil mengusap air matanya dengan selendang, untuk menggendong jualan.


“Baik ibu yang mengamini ya…, biar aku yang


berdoa,” kataku, kemudian mulai berdoa, aku tak perduli setiap orang yang lewat menatap aneh padaku, memang sejak pertama, aku tak pernah perduli dengan orang lain, selesai berdoa, ibu itu menggenggam tanganku, dan mengucapkan terimakasih, aku juga mengucapkan terimakasih, dan pamit untuk melanjutkan perjalanan,

__ADS_1


Kemudian meneruskan mengayunkan kaki tanpa


arah dan tujuan pasti, karena memang aku tak mau disibukkan oleh arah, tak mau dirisaukan oleh tujuan, aku hanya ingin mengenal gerak gerik Alloh dalam membimbingku,


Menuju pencarian tanpa berkesudahan, melatih cinta dan tak menduakannya, melatih tawakaal, dan meresapi sunyinya bercumbu dengan kesunyian denganNya sendiri, walau dalam keramaian, tenggelam dalam samudra kepasrahan, tanpa ingin ditolong oleh siapa saja, kecuali oleh rengkuhan kasihNya, tanpa embel-embel balas budi.


Melangkah, melangkah, dan melangkah, Surabaya begitu luas, aku kadang menyeberang, kadang berhenti di tepi jalan, tak terasa sandal jepit yang selama ini menemaniku telah tembus, sehingga telapak kakiku berdarah, karena sering tergores aspal panas jalan, juga mungkin tersandung batu,


Sehingga tak ku pikir dan pehatikan, itu ku ketahui, ketika sandalku telah putus, sehingga ku buang, aku kaget, oh Alloh maafkan aku, kalau hatiku sekejap melupakanMu karena tersita oleh rasa sakit di kakiku, setelah


sandal ku buang aku pun berjalan lagi, tak ku


perdulikan sudah lecet di kaki.


Aku sampai di Tunjungan Plaza, di tahun 1994


Plaza Tunjungan mungkin yang terkenal di


Surabaya, setidaknya itu menurut pandanganku, aku duduk aja di sekitar plaza, kalau malam kadang nongkrong dengan para pelukis jalanan, yang menggelar lukisan di sekitar plaza, kalau hari telah larut malam, aku pun tidur di emperan toko,


Menggeletak aja tanpa perduli apa-apa, untuk makan aku kadang mengorek tempat sampah, ada saja yang ku temukan, entah nasi bungkus, entah roti berjamur, sekedar untuk mengganjal perut, lalu kalau untuk sholat aku cari musholla atau masjid di sekitar, itu sampai beberapa hari, sampai suatu siang aku jalan, tanpa satu tujuan, dan sampai di jembatan merah, plazanya baru dibangun,


Lalu ada truk berhenti, aku pun naik, dalam pikirku, tak tau aku akan di bawa ke mana, yang penting truk ini berhenti, maka aku turun, lalu aku tiduran dalam truk, sampai terbangun dan truk pun sudah berhenti, aku turun, masih dengan kaki terlanjang, hari telah beranjak malam, aku berjalan, setelah melihat tulisan yang terpampang di depan toko, maka aku pun tau kalau aku ada di daerah Sidoharjo, aku pun


berjalan, sampai kakiku menendang sesuatu,


karena gelap aku teliti, ternyata sebuah sandal,


Sandal carvil, lumayan bagus untuk menjadi


ganjalan kakiku yang telah lecet.


Aku cepat-cepat mencari pasangan sandal,


karena yang ku temukan tinggal satu, ku cari


kesana ke mari, karena gelap lumayan susah


juga, walau akhirnya ku temukan, dan ternyata


sudah putus jepitannya, lalu aku pun punya


inisiatif untuk menusuk bawah jepitan dengan


paku,


Setelah mencari paku dan menusuk belakang jepitan dengan palu dari batu, sandal pun bisa dipakai, kelihatannya lumayan masih baru, mungkin dibuang orangnya karena putus


talinya saja, lumayanlah, sehingga luka di kakiku yang lecet tak sakit lagi karena terkena kerikil,


Ku lanjutkan perjalanan, sampai juga aku di


depan plaza, Sidoharjo, aku duduk, sebenarnya mau sholat tapi tak tau di mana ada masjid, aku nggelosor aja di depan plaza, yang sudah tutup karena sudah malam sekali, tanpa sadar, karena teramat lelahnya aku pun tertidur, sampai terdengar suara adzan subuh, dan aku teramat heran, karena adzan subuh terdengar dekat sekali, lalu aku menuju arah suara adzan, dan masjid ternyata cuma di belakang plaza saja,


Aku pun segera masuk masjid, dan mengkodho sholat yang ku tinggal, dan mengikuti jamaah subuh, selesai sholat aku pun keluar masjid dan nongkrong aja di pinggir jalan, sambil wirid dan melihat orang yang lalu lalang, kelaparan perutku aku isi dengan air yang tadi ku bawa dari masjid, dan itu setidaknya sudah menipu nafsu makan cacing yang ada dalam perutku, dan tidak berontak lagi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2