
Seperti ada orang yang kena santet, sudah berobat kemana-mana tak kunjung sembuh, saat dibawa kerumahku Alhamdulillah sembuh, keluarga yang menjenguk, itu bukannya ber- terima kasih, ee malah menuduh aku yang menyantet, aku yang mengerjai, dianggapnya akulah dalangnya yang membuatnya sakit, agar aku bisa mengobatinya, heran juga, apa juga untungnya bagiku?, kecuali aku menyuruhnya membayar, la ngobatinya saja gratis kok gak dipungut biaya serupiah pun, kok malah menuduhku katanya yang menyantet, atau wajar jika dituduh seperti itu jika aku men- syaratkan harus membayar sekian-sekian, la serupiah saja tak ku minta, lalu keuntunganku membuat orang sakit itu ada di mana? Anehnya lagi, malah ngajak ribut, menuduhku sesat dan lain-kain, ealah kok ada yang begitu, orang ya macem-macem begitu, kadang kalau ketemu orang yang seperti itu jadi down mau menolong orang juga, kepengennya udahlah masing- masing saja…
Kadang sekilas lintas terbersit rasa seperti itu, namanya juga aku manusia biasa, tapi Allah seperti memperingatkanku, sudahlah aku anggap itu suatu ujian, untuk makin mendekat- kanku padaNya, jadikan ladang amal. Ya memang harus berfikiran jernih, dan selalu menimbang, mengembalikan segala sesuatu pada Allah, Gusti Allah juga kan yang maha membolak balikkan hati manusia, hatinya buruk atau baik, Allah juga yang menjadikan, jika hati seseorang itu kemudian buruk padaku itu sebenarnya atas ijin Allah, dan jadi ujian padaku, atau seseorang itu melakukan keburukan padaku, itu Allah sedang mengujiku, melatihku menanggung beban berat, agar aku terbiasa dengan beban berat, dan jika saat menanggung beban berat, aku tak merasa
keberatan malah akan merasa ringan jika beban itu bobotnya di bawah beban yang biasa aku tanggung.
Yakin seyakin yakinnya saja kalau Allah pasti menolong, dan Allah maha mengetahui dan maha menolong pada orang yang bertawakal dan berserah diri padaNya. Kita juga diberi kesempatan yang sama oleh Allah, kalau kita diserang terus menerus, maka kita boleh balas menyerang untuk membela agama, mati juga akan mati sahid, bersama Allah jangan ragu
melangkah. Tempaan yang ku terima memang saat cerita ini ku tulis, memang tiada sangat beruntun, aku juga cuma menjalani, apa maksud Allah, aku juga tak tau, yang penting aku selalu berusaha dalam koridor istiqomah memegang amanah dan amaliyah. Tamu yang minta tolong silih berganti, sekalipun aku menghadapi permasalahan sendiri, tetap juga ku dahulukan permasalahan orang lain, kadang ngadepi tamu juga sambil mencabuti santet yang entah berupa ribuan paku, bambu, yang dikirimkan padaku, ditancapkan ke tubuhku.
Datang tamu dari MTS Walisongo, dulu tempat Aisyah mengganggu, bersama prajuritnya, katanya masih saja banyak kerasukan terjadi, sebenarnya kalau mereka tau, mereka tak akan minta bantuan dukun atau paranormal, yang memang menawarkan diri untuk menolong kerasukan itu, karena jin yang merasuk ke siswa itu adalah jin yang memang malah kirimannya dukun, kalau motif dan tujuan aslinya sendiri aku tak tau apa itu. Tapi kalau menurut pendapatku itu motifnya dukunnya pengen dapat pekerjaan agar dapat uang, atau namanya jadi tenar karena bisa mengobati murid-murid yang kerasukan itu, tak tau juga.
“Maaf pak kyai kami mengganggu…” kata dua orang guru MTS.
“Ada perlu apa bu?” tanyaku.
“Ini pak kyai, kami kesini mau minta solusi, sudah beberapa bulan ini anak didik kami mengalami kerasukan, jadi kami ingin minta solusi pada pak kyai, bagaimana baiknya?”
“Sejak kapan bu, ada terjadi kerasukan?”
“Sudah ada 3-4 bulan pak..”
“Sebentar ya bu….” ku tarik Aisyah ke mediator.
“Ini dulu yang mengganggu anak didik ibu, ini jin yang dulu bertempat di jembatan yang di bangun itu.”
“Maksudnya pak, apa di dalam orang ini ada jinnya?”
“Iya bu guru… bu guru yang sebelah itu kalau mengajar lembut sekali, iya saya yang dulu mengganggu murid ibu, dulu saya bersama teman-teman saya yang tinggal di jembatan yang diperbaiki, karena waktu memperbaiki jembatannya tak minta ijin terlebih dahulu, jadi raja kami marah, dan membuat murid-murid ibu kami rasuki, maaf ya bu, saya sekarang sudah jadi muridnya pak kyai.” kedua guru itu terbengong-bengong, gak tau paham apa tidak dengan apa yang diucapkan Aisyah, mungkin gak ngerti, apalagi ini soal gaib, sulit dicerna dengan logikanya orang yang masih memakai akal.
“Begini lo bu… jadi dulu saya mendengar kalau sekolah MTS itu banyak kerasukan, maka saya kemudian membantu dari sini, semua jin yang merasuki anak sekolah itu saya tarik, dan saya taklukkan,” kedua guru itu makin senyam- senyum, mungkin gak paham atau bagaimana, atau malah kesengsem sama wajahku yang ganteng? entahlah.
__ADS_1
Ealah memang susah menjelaskannya.
“Saya dulu itu yang menganggu murid bu guru, saya itu jin yang ada di tubuh ini bu..” jelas Aisyah lagi karena melihat kedua guru itu makin bingung.
“La kok bisa di dalam tubuh anak ini pak?” tanya salah satu guru.
“Ya kayak di tivi itu lo bu, di acara dua dunia, jadi jinnya dimasukan ke manusia, namanya dimediumisasi.”
“Tapi ini sekarang masih banyak kerasukan kok pak..” kata bu guru satunya lagi, sambil memperbaiki tempat duduknya, mungkin agak mulai paham.
“Ya kalau sekarang yang merasuki itu bukan dari kelompok saya bu.” jelas Aisyah lagi.
“La terus dari mana?” tanya bu guru
“Dari yang sengaja dibawa dukunnya..” jelas Aisyah.
“La kok bisa, kan mereka mau menolong.” kata bu guru heran.
“Begini saja bu… biar jinnya dari sekolahan ku tarik ke sini, ku mediumisasi, nanti bu guru yang langsung menanyakan saja sendiri .” jelasku.
“Ya nanti dilihat saja…” ku tarik salah satu jin, dan ku masukkan ke dalam tubuh mediator. Dia menggereng-gereng mau menyerangku.
“Siapa ini?” tanyaku. Jin diam saja….
“Siapa? Kamu tak mau bicara?” Dia menggeleng.
“Benar tak mau bicara?”
Dia tetep menggeleng.
“Baik kalau begitu, ku penggal saja…” kataku lantas mencabut pedang gaib, dan ku tempel ke lehernya.
__ADS_1
“Iya… iya ampun jangan bunuh aku.. aku mau bicara.”
“Kamu kenapa, mengganggu di sekolah MTS, kenapa merasuki siswa?”
“Aku disuruh.”
“Disuruh siapa?” Dia diam.
“Disuruh siapa?” ku ulangi pertanyaan. Tapi dia tetap diam, ku tempel saja pedang yang ku pegang ke lehernya, dia baru mengaku disuruh dua dukun yang biasa dimintai tolong untuk mengeluarkan jin yang merasuki siswa-siswi di sekolah.
“Nah ibu tau sendiri kan..” kataku pada kedua guru. Kedua guru itu masih setengah percaya setengah tidak. Lalu keduanya untuk meyakinkan diri mereka sendiri, menanyakan ini itu. Setelah keduanya ku rasa cukup bertanya, aku mengambil alih pembicaraan.
“Berapa temanmu yang disuruh mengganggu anak sekolah?” tanyaku pada jin.
“Ada 100 orang.”
“Seratus itu apa semua ada di sekolah?”
“Yang ada di sekolah 70, yang lain masih merasuk di tubuh siswa.”
“Apa kamu mau melawanku atau mau tahluk padaku?”
“Aku tak berani melawan… aku nyerah saja…,”
“Apa tak coba melawan dulu, daripada nanti penasaran.”
“Ampun aku tak berani.”
“Coba kamu tanya teman-teman kamu yang 70 jin itu apa mau melawanku, atau mau takluk?”
“Memangnya kamu bisa menaklukan mereka?”
__ADS_1
“Ingin lihat?” tanyaku.
Bersambung....