
Tapi tetap saja aku tak percaya kalau yang mengambil laptop ku dia. Karena sama sekali tak masuk logikaku. Aku masih ingat waktu itu, kyai memanggilku dan yang di tanyakan.
“Bagaimana laptopnya apa sudah di ambil?”
“Dimana kyai?”
“Ya di lemarinya Askan.”
“Wah masak saya ke sana kyai?”
“Ya iyalah atau kamu selidiki dulu, makai orang siapa gitu.”
“Apa benar dia yang mengambil kyai?”
“Ya masak aku bohong, aku kan gurumu..”
“Bukan gak percaya kyai, cuma gak masuk akal saja, apa perlunya dia mengambil laptopku, wong dia gak bisa makainya.”
“Itu kan karena iri saja padamu,”
“Yang diiri dari saya apa to kyai, saya gak punya apa-apa.”
“Ya sifat iri kan dari setan, gak perlu kamu kelihatan punya apa-apa dulu baru iri..”
“Terus bagaimana ini kyai..”
“Ya diambil, nanti keburu dijual sudah gak bisa diambil lagi.”
Wah soal laptop ko malah mumet, sudahlah, ku ikhlaskan saja, biar saja semoga Allah memberi gantinya. Eee bertahun sudah berlalu, kok ratu
jin mengingatkanku.
“Apa juga perlunya dia mengambil laptoku?” tanyaku pada ratu jin.
“Ya dia iri sama kyai, kyai kok bisa beli apa-apa, padahal gak punya apa-apa, wong gak punya apa-apa, kok bisa apa-apa.”
“Aneh..”
“Apa sekarang kaptopnya masih di dia?”
“Sudah dijual kyai…”
“Dijual dengan harga berapa?”
“Dijual seharga 10 juta,”
“Wah mahal amat, aku beli laptop waktu itu kan sekitar 8-9 jutaan, kok jualnya mahal amat?”
“Ya dia bilang ke yang membeli, kalau laptop itu laptopnya orang pinter, jadi harganya mahal.”
“Walah..”
Tiba-tiba, ratu yang gerakannya lemah gemuai, tiba-tiba berubah frontal.dan membuat gerakan yang kayak perempuan ganjen…
“Kenapa ratu..?”
“Aku bukan ratu..”
“Lalu siapa?” tanyaku heran.
“Aku adiknya ratu..”
“Siapa namamu ?”
__ADS_1
“Aku…… aku tak punya nama.”
“Mau ku beri nama?”
“Mau..”
“Baik ku beri nama….. Aisyah saja ya..”
“Ya… ya…. aku suka nama itu, namanya bagus…”
“Kalau ku panggil Aisyah, langsung kesini ya..”
“Iya siap..” jawabnya dengan lagak ganjen.
“Sekarang nyai ratunya mana?”
“Nyai ratu sudah pulang..”
“Ooo Aisyah… mau belajar denganku?”
“Iya kyai… Aisyah mau belajar sama kyai, Aisyah sudah lama ingin belajar sama kyai.”
“Lhoh memangnya sudah tau soal kyai sejak kapan.”
“Ya sudah lama sekali,”
“Yang benar?”
“Iya, di alam jin, kan kyai banyak dibicarakan, kalau kyai orang baik, orang yang pinter, hebat, jempol, jadi Aisyah jadi ingin belajar sama kyai, sekarang Aisyah kenal dan belajar sama kyai,
Aisyah senang sekali.”
“Kalau begitu yang sungguh-sungguh ya..!”
sungguh.”
—————————————————————————
————–
Esoknya Aisyah mulai ku ajari mengobati pasien, masih dengan sifat juga lagak kemayunya masih juga kental dan membuat keadaan pengobatan jadi tidak terlihat kaku dan penuh canda tawa, kalau ada Aisyah pasti ramai, pembawaannya menyenangkan, kemajuan Aisyah dalam hal mengobati juga termasuk pesat, dia juga mulai menjalankan puasa thoreqoh tingkat dasar 21 hari, saya juga heran kok bisa Aisyah begitu cepat belajarnya, ku beri ilmu trawang, juga cepat bisa.
“Pak kyai… top.. top… pak kyai..” katanya di sela -sela mengobati pasien.
“Top apa nduk..?” tanyaku heran, aku biasa memanggilnya nduk, walau secara usia Aisyah sekitar 500 tahun, atau jika umur manusia sebesar orang seumuran 25 tahun.
“Top… top! milik pak kyai..” jelas Aisyah sambil membuat gambar kotak.
“Ooo laptop..” jawabku baru paham.
“Kenapa
nduk?”
“Top pak kyai diambil istrinya Askan.”
“Ya biarkanlah nduk, nanti juga pak kyai dapat gantinya.”
Aisyah nyaprut….
“Gak papa to nduk, kadang Allah itu mengambil milik kita, kalau kita ikhlas akan diganti dengan yang lebih baik..”
“Ya tapi dia jelek sekali perangainya, kenapa beda dengan pak kyai.., pak kyai sama bangsa jin saja baik…”
__ADS_1
“Ah biasa saja lah nduk, mungkin dia tidak mendalami ilmu batin,”
“Tapi pak kyai, sumur masjid kenapa dia ceburi jin untuk membuatnya keruh, itu kan untuk wudhu orang banyak… “
“Ya ndak papa…., coba tolong bisa ndak kamu nanti nyebur ke sumur masjid, dan jin yang di dalam kamu tangkap semua, jadi sumurnya jadi bening kembali?.”
“Iya.. iya pak kyai, Aisyah nanti malam akan nyebur sama prajurit nanti sumur masjidnya biar jadi bening lagi, biar saya tangkap semua jin yang diperintah Askan.”
Memang esoknya sumur masjid mulai berangsur bening, dan perlahan mulai bening sebagai mana sebelumnya.—————————————————————————
————–
Setelah keberadaan Aisyah di majlis, majlis makin ramai, juga banyak orang yang berobat, dan banyak juga yang menanyakan barang yang hilang dan akhirnya ketemu, yang berobat juga banyak yang disembuhkan, tentunya atas ijin Allah, Aisyah sudah mahir memakai ilmu pengobatan dengan media doa dan energi dzikir. Dia juga rajin beribadah dan dzikir. Namun tak jarang orang yang berpandangan miring, dan menganggapku bersekutu dengan jin, sebab sebagian orang memang antipati dengan jin, selalu beranggapan jin itu jelek, setidaknya bagiku para jin itu muridku dan bagiku ini amanah yang dipercayakan Allah padaku.
Aku hanya berdoa pada Allah agar diberi kekuatan menjaga amanah dari Allah, untuk mendidik para jin menjadi murid thoreqohku.
“Pak kyai…. anak pak kyai itu ada santetnya..” kata Aisyah.
“Di mana nduk?”
“Di perutnya ada pakunya.”
“Kok bisa.. siapa yang mengirim?”
“Askan yang mengirim pak kyai..”
“Kok Askan lagi..”
“Iya pak kyai… istri pak kyai juga dikirimi, saudara dan anaknya saudara pak kyai juga, semua ada santetnya, anak pak kyai sering muntah-muntah kan?, juga sering tak doyan makan, dia menginginkan anak pak kyai mati.”
“Ah jangan begitu nduk, kalau ndak benar itu namanya memfitnah, di alam manusia itu apa- apa harus ada buktinya nduk, ndak asal main menuduh begitu.”
“Tapi benar kok pak kyai, saya mengatakan apa adanya, kalau anak saudara pak kyai itu juga disantet dikirim kunti sama pocong, anak saudara pak kyai itu pasti suka menggigit orang, ya memang karena di mulutnya ada jin kiriman yang berbentuk kera.”
“Kok ke anak saudara istriku juga to Aisyah?”
“Ya soalnya itu persaingan dagang.”
“Wah jelek amat dia.”
“Terus nyantet banyak orang begitu apa dilakukan sendiri, atau dia memakai jasa dukun?” tanyaku iseng saja.
“Dia memakai jasa dukun dari Kajen,”
“Wah bayar berapa sama dukunnya?”
“Kalau nyantet ke pak kyai dia bayar 150 juta, kalau nyantet ke keluarga saudara kyai dia bayar 60 juta.”
“Wah gak mungkin lah nduk dia punya uang sebanyak itu.”
“Punya pak kyai.”
“Uang dari mana?”
“Dari istrinya jaga lilin.”
“Jaga lilin? Jualan lilin maksudnya.”
“Ah masak pak kyai gak ngerti?”
“Ya gak ngerti lah nduk.”
“Itu pak kyai… nanti istrinya jagain lilin yang diletakkan di atas baskom, yang ada airnya, lalu nanti suaminya keluar memakai pakaian, lalu jadi babi…”
__ADS_1
Bersambung....