Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Susuk


__ADS_3

“Hm… ooo bu Sundasih ini memakai susuk ya?”


“Iya… dulu disuruh kyai Askan.”


“Pasang susuk itu kan dilaknat Alloh, ya pantesan kalau penyakitnya di kepala tak mau hilang, karena ada susuk di wajah, pipi, bibir, wah.. wah… kalau tak dilepas ya tetap saja penyakitnya tak hilang, susuk itu harus dibuang, siapa yang memasang?” tanyaku.


“Dulu orang dari Magelang.” jawab Sundasih. “Ya sekarang minta dia melepaskan susuk itu.” kataku.


“Ya kalau orangnya tak ada, apa jenengan tak bisa melepas susuk ini mas kyai..?” tanya Sundasih.


“Ya aku insaAlloh bisa, tapi itu bukan tanggung jawabku, sampean harus berusaha sendiri.”


“Baik besok saya akan mencari rumah tempat prakteknya di Pekalongan.” kata Sundasih.


———————————-


Dua hari kemudian Sundasih datang lagi,


“Sudah dikeluarkan susuknya?” tanyaku setelah berhadapan dengannya.


“Sudah, syaratnya cuma makan tiga buah pisang yang dibacakan fatekhah tiga kali.”


“Baik ku ambil penyakit yang di kepala ya.” kataku kemudian mendekatinya dan mengarahkan tapak tanganku ke kepalanya, lalu ku tarik penyakitnya dengan do’a.


“Sudah…” kataku.


“Tak diberi air lagi mas kyai?” tanya Sundasih.


“Itu sudah cukup, ingat syarat yang ku berikan, kalau syarat itu dilanggar, artinya kembali berbuat yang tak benar maka aku sudah tak mau mendo’akan.” kataku, dan Sundasih pun pamit pulang.


Alhamdulillah besoknya sembuh total. Tapi memang manusia itu kadangkala diberi kesehatan tak mau sadar, dan ketika diberi sakit menjerit-jerit, dan benar saja Sundasih tak mau tobat, baru sembuh seminggu, sudah menggandeng cowok baru, dan besoknya sudah menjerit-jerit kesakitan, sampai saat ini ku tulis masih tetap saja sakit.

__ADS_1


Mungkin sakit lebih baik untuknya jadi tak ada waktu berbuat maksiat. Setelah isya’ Munawar datang dengan temannya, lalu ku persilahkan duduk.


“Ini teman saya yang juga sama nasibnya sama saya pak kyai.” jelas Munawar sambil memperkenalkan temannya bernama pak Ardi.


“Lalu apa masalahnya pak Ardi? Silahkan diceritakan.” kataku.


“Begini mas kyai.., saya tak menyalahkan siapa-siapa, ini memang karena mulut saya sendiri yang kadang kalau bercanda kelewatan, sehingga saya mengalami ini.” kata Ardi mulai bercerita.


“Lima tahun yang lalu saya itu nongkrong di warung, ya biasalah, orang warung selalu ngomong ngalor ngidul ndak karuan, saya juga begitu, juga kalau bercanda sering keterlepasan,


Nah suatu ketika pas kami lagi nongkrong, ada seorang istri kyai di daerah saya pas belanja, dia mau belanja obat asma untuk suaminya, ya saya tanpa sengaja ngomong, belikan saja baigon nanti asmanya akan sembuh selamanya, ya maksud saya juga bercanda, dan istri pak kyai itu juga ku lihat tidak marah, la kok besoknya saya dipanggil ke balai desa, dilaporkan katanya mau meracun orang, malah istri kyai itu bilang dia cerita kalau di warung sampai saya buat menangis, la saksinya kan banyak, dan dia tak nanggapi juga tak menangis, maka teman-teman saya membela saya, tapi setelah hari itu, pas di malam hari saya mimpi kalau saya ditombak kyai itu, sampai perut saya sakit sekali, dan besoknya


saya tak bisa bangun, dan tiap malam tubuh saya terbanting-banting di atas ranjang, dan paginya saya sama sekali tak kuasa bangun.


Lalu kebetulan saya ada teman lama main berkunjung kerumah saya, yang mengetahui tentang ilmu gaib, mengatakan saya sedang disantet seseorang, dan teman saya itu berusaha mengobati tapi dia sendiri tak kuat, malah sakit dan meninggal,


Setelah itu pada suatu hari ada bola api menghantam lemari dekat saya tidur, sampai lemari pun terbakar, untung ada anak lelaki saya, yang dengan segera memadamkannya dengan air, saya sudah berulang kali berobat, dan waktu itu kebetulan saya bertemu seseorang yang mumpuni dibidangnya, lalu saya diobati, saya disuruh minum air, kemudian saya ingin buang air besar, dan yang saya keluarkan dari perut isinya adalah lumpur, juga tanah, dan alhamdulillah saya bisa bekerja lagi,


“Memang kadang masalah sepele itu orang jawa suka melakukan yang melampoi batas, jangankan pak Ardi yang suka tak bisa menahan lisan, orang sini saja yang seorang kyai, orangnya tak banyak omong dan santun itu saja kesantet, dia disantet orang, wajahnya dimasuki tanah kuburan.” kataku.


“Kok kyai tau yang nyantet memasukkan tanah kuburan?” tanya Ardi.


“La yang nyantet ngaku sendiri.” jelasku.


“Ceritanya gini, kyai Sidik itu tiba-tiba sakit, di


wajahnya, serasa gatal minta ampun, diobatkan kemana-mana tetep tak sembuh, dan diobati dokter obat gatal juga tetep gatal, sampai wajahnya separo rusak kayak lumer, kayak kena cairan asam, dan sampai kemudian diobatkan ke daerah Demak, baru bisa sembuh, dan suatu hari tetangganya datang minta maaf, karena menyantetnya, dan tetangga itu mengaku menyantet menyuruh dukun dari Cirebon, dan dia oleh dukun diminta mengambil tanah kuburan untuk dimasukkan ke wajah kyai Sidik, sampai sekarang wajah kyai Sidik itu rusak, dan bicaranya juga jadi cedal, tetangganya itu ngaku menyantet alasannya apa?”


“Alasannya apa pak kyai?” tanya Munawar.


“Alasannya cuma tetangga kyai Sidik itu jualan nasi, istri kyai sidik juga jualan nasi, dan jualan nasinya istri kyai Sidik laku, sedang jualan tetangganya itu tak laku, bayangkan hanya karena masalah yang sepele, lalu main santet, ya seperti cerita pak Ardi itu,” kataku.

__ADS_1


“Iya memang mas kyai, kalau dipikir memang hal yang sangat sepele, tapi kok ya tega ya menyakiti orang lain?” kata Ardi.


“Makanya itu, alangkah baiknya jika kita sendiri itu tubuh terpagar, rumah terpagar, sehingga tak terjadi hal yang tak diinginkan.” kataku.


Tiba-tiba, “Daaarrr..!!”terjadi ledakan di tembok, dan Munawar pun kesakitan perutnya.


Aku segera bertindak, ku tarik sesuatu yang masuk di tubuh Munawar,


“Sudah tak apa-apa.” kataku.


“Wah seperti ada bayangan hitam masuk ke tubuh, rasanya nyeri sekali.” kata Munawar,


“Sekarang bagaimana?” tanyaku.


“Sekarang tak apa-apa, sudah enakan.”


“Wah kalau saya ada yang nyantet selalu kena, ini bagaimana pak kyai?” tanya Munawar.


“Ya kalau tak ingin disantet selalu tak bisa kena ya selalu dzikir/ingat Alloh, maka tak akan kena, Nabi SAW bersabda: kilat/petir itu akan bisa mengenai siapa saja, termasuk orang Islam, tapi tidak mengenai orang yang dzikir/orang yang selalu ingat Alloh, santet itu mengenai siapa saja termasuk orang Islam tapi tidak mengenai orang yang dzikir, kecuali orangnya memang sengaja menerima, kayak kyaiku itu kalau disantet selalu diterima, karena dijadikan cobaan untuk kenaikan derajadnya di sisi Alloh, kalau yang seperti itu bukan bahasan kita, kalau kita ya kalau tak pengen kena hujan sedia payung, sedia mantel, ya kalau aku yang lemah suka lupa ndak selalu dzikir, maka pasti kalau disantet ya jebol, maka aku memilih sedia payung sebelum hujan, sedia pagar sebelum disantet,


Jadi sedia pagar kalau tak ingin kena santet, itu kan tanda kita masih lemah ingatan/dzikir kita terhadap Alloh, dan kita harus menyadarinya, makanya menyediakan pagar untuk diri sendiri, ya tak beda orang yang mudah masuk angin kalau naik motor, makanya pakai jaket kalau naik motor.” kataku.


“Ya… ya saya paham pak kyai, pantesan kalau saya diobati sembuh, tapi disantet lagi kambuh lagi, ya itu karena saya tak dipagar oleh orang sebelumnya yang mengobati saya.” kata Munawar.


“Sekarang saya bagaimana pak Kyai?” tanya Ardi.


“Sini saya ambil penyakitnya.” kataku dan Ardi mendekat, lalu ku tarik penyakit di perutnya.


“Nanti ku buatkan pagar diri dan juga rumah,tunggu sebentar,” kataku beranjak berdiri, dan mencari batu kerikil untuk ku isi, dan ku isi lalu....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2