
"Waalaikumussalam, siapa?" jawab Habibah sekaligus bertanya siapa yang ada dibalik Pintu.
"Bibik Juminah, Non," sahut seorang Wanita menyebut dirinya Bibik.
"Nggih Bik, tunggu sebentar," jawab Habibah. Dia beringsut dari tempat tidur lalu berjalan secara berlahan menuju ke arah Pintu. Dia memegang handle Pintu dan memutar ke arah kanan.
Ceklek
Terdengar Pintu terbuka dan dibalik Pintu Habibah bertatap muka dengan Wanita Paruh Baya yang menggunakan jilbab.
"Maaf Non, saya diminta oleh Lalu untuk mengantarkan makanan," ucap Wanita Paruh Baya itu. Dia melangkah menuju ke arah dalam lalu meletakkan nampan yang berisi satu Piring Nasi dan semangkok Soup di Nakas yang tersedia disana.
"Maaf Bik, saya mau nanya. Ini Rumah siapa? dan kenapa saya ada disini? seingat saya, tadi saya berada di Kantor dan kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Habibah bertubi-tubi.
"Tadi Lalu membawa Non kesini. Dia bilang Non teman kerjanya dan menemukan pingsan di Kantor. Karena bingung mau membawa Non kemana akhirnya Lalu memutuskan membawa ke rumah ini." Wanita paruh baya itu
menceritakan kenapa Gadis itu berada di Rumah ini.
Habibah tampak bingung, dia tidak ingat sama sekali. Dia bertanya-tanya siapa Lalu yang dimaksudnya. Di Kantor ada beberapa orang yang memiliki nama Lalu di depan namanya. Apa mungkin salah satu di antara mereka.
"Bibik tinggal dulu Non. Nanti makanannya dihabiskan setelah itu beristirahat. Kalau ada perlu, panggil saja Bibik ya?" ucap Bibik yang memperkenalkan diri bernama Juminah.
"Nggih Bik Juminah. Terima kasih, saya jadi tidak enak ngerepotin Bik Juminah," sahut Habibah merasa tak enak hati. Karena tidak menjaga kesehatannya menyebabkan orang lain yang harus kerepotan.
"Tidak apa-apa, sebagai sesama harus saling membantu," sahut Bik Juminah tulus.
"Terima kasih. Oh ya Bik, boleh saya pinjam Mukenanya, saya belum Shalat Magrib," ucap Habibah kemudian. Dia melihat Jam yang tergantung di dinding. Masih ada waktu untuk melaksanakan Shalat Maghrib. pikirnya.
"Iya Non, sebentar Bibik ambilin," ucap Bibik Juminah. Dia berlalu meninggalkan Gadis itu. Tidak menunggu waktu lama, Bibik Juminah kembali dengan membawa Mukena, sarung dan juga Sajadah.
"Ini Non, handuk ada di Lemari sana. Pakai saja Handuk Lalu dulu, ada yang belum dipakainya," ucap Bibik Juminah memberitahu.
"Terima kasih Bik, maaf saya jadi ngeropotin melulu."
Tidak apa-apa," jawab Bibik Juminah singkat. Dia menyunggingkan senyum ramah dibarengi anggukkan Kepala. Wanita paruh baya itu meninggalkan Habibah untuk memberikan privasi kepada Gadis itu.
Habibah segera menuju kamar mandi sebelumnya mengambil Handuk pada Lemari yang dimaksudkan oleh Bibik Juminah. Dengan cepat Gadis itu membersihkan tubuhnya. Mengingat jam segera beranjak menuju waktu Isya. Selesai membersihkan diri dengan kilat. Habibah mengambil Kaos oblong yang ada di Lemari untuk menggantikan Baju Dinas, sementara bawahan dia masih menggunakan Rok Seragam. Meskipun kebesaran di badannya, Habibah tetap memakainya. Setidaknya dia tidak menggunakan Seragam dinasnya sepanjang hari.
Habibah segera melaksanakan kewajiban sebagai umat beragama. Selesai Shalat Maghrib, dia menunggu waktu Isya yang sebentar lagi akan tiba. Beberapa menit menunggu terdengar kumandang adzan dari sebuah Masjid. Habibah segera menunaikan shalatnya. Beberapa menit kemudian dia selesai. Gadis itu merapikan alat shalatnya dan berniat mengembalikannya kepada Bibik Juminah.
Baru saja hendak meraih gagang Pintu terdengar suara langkah menghampiri kamarnya. Langkah itu membuatnya urung dan memilih untuk menunggu di kamar saja.
Ceklek
Pintu terbuka dan dari balik Pintu muncul Sosok Lelaki tampan dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
"Kamu sudah sadar Bibah? Alhamdulillah," ucap Lelaki itu terlihat lega.
"Mas Rizqy, jadi Mas Rizqy yang membawa saya kesini," jawab Habibah terkejut. Dia tidak menyangka Lelaki itu yang menemukannya dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Iya, tadi Mas ke ruangan mengambil file sepulangnya dari Lapangan. Ketika sampai ruangan Mas menemukan
kamu tertidur di Sofa. Mas panik dan merasa heran kok tumben-tumbenan kamu tertidur saat jam pulang. Mas membangunkan kamu tapi tidak bangun-bangun. Tanpa mikir apa-apa Mas membawa kamu ke rumah, karena Mas tidak tahu dimana kamu tinggal." Rizqy menceritakan dengan jelas kenapa Gadis itu berada di rumahnya saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas," ucap Habibah lirih.
"Iya sama-sama, untung saja tadi Mas sempat ke ruangan. Memangnya Mas langsung mau pulang saja. Namun saat itu Tuhan menggerakkan hati Mas agar tetap ke ruangan karena masih ada kamu disana. Kalau tidak kamu
bakalan nginep di kantor."
Habibah terharu mendengarkan penjelasan Rizqy. Dia sangat bersyukur karena Tuhan menjaganya dan mengirim Lelaki ini untuk menolongnya.
"Alhamdulillah, terima kasih Mas," ucap Habibah. Dia sangat bahagia dan rasa itu semakin bermekaran di hatinya.
Dia tidak menyangka ternyata Rizqy sangat perhatian. Padahal Lelaki itu terlihat cuek dan pendiam. Tapi siapa yang tahu kalau Lelaki itu orangnya usil dan suka mengerjain rekan-rekan di Kantor. Pernah dia menyembunyikan Absen Tenaga Kontrak. Membuat Habibah kelimpungan mencari Absen manual itu. Sedangkan dia menahan tawanya melihat kesibukan dari teman-temannya untuk mencarinya. Setelah puas melihat Habibah yang berusaha untuk menemukan Absen tersebut. Barulah dia memperlihatkan benda yang dicari dengan tawa membahana di
ruang tersebut.
Rizqy juga pernah membohongi teman-teman mereka jika Gaji mereka sudah cair dan meminta mereka untuk menemui Bendahara. Waktu itu dia bersembunyi di balik Pintu dengan berusaha menahan tawanya. Ketika itu hanya ada Habibah disana dengan kebingungan. Di luar terdengar suara langkah Kaki yang semakin mendekat bersama obrolan beberapa orang. Sesampai di ruang keuangan, tentu saja membuat orang-orang disana kebingungan terutama Bendahara. Dia merasa di demo oleh Tenaga Kontrak yang bergerombolan disana. Begitu menyadari mereka kena prank. Mereka langsung menyerbu Rizqy yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawa itu menggema mengisyaratkan bahwa dia berhasil mengerjain teman-temannya.
Itulah sekelumit tentang Rizqy, Lelaki yang membuat Habibah memendam perasaannya. Entah kenapa dia jatuh cinta kepada Lelaki dewasa itu. Lelaki yang dianggap Bujang Lapuk oleh Teman-temannya. Bukan dia tak ingin menikah hanya saja dia pernah patah hati karena Kekasih hati meninggalkannya menikah dengan orang lain.
Trauma, itu yang tepat untuk menggambarkan hati Lelaki itu. Habibah mengetahui hal itu dari cerita teman- temannya. Rizqy sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya. Cerita itu merupakan rahasia umum yang enggan dibahasnya. Dia beberapa kali di jodohkan dengan beberapa Gadis. Namun dari sekian Gadis itu tak ada satupun mampu meluluhkannya. Habibah hanya pengagum rahasia yang beruntung mendapat perhatian darinya. Entah apa makna dari perhatian Lelaki itu, Habibah belum bisa mengetahuinya.
"Sudah makan?"
Tanya itu mengembalikan kesadaran dari lamunan Gadis itu. Dia menggenggam Jantungnya yang mendadak kacau. Rasa itu kian nyata bergelora di hatinya. Dia berharap Lelaki ini memilih dan mencintainya. Namun akankah
harapan itu bisa terjadi? apa angannya terlalu tinggi menginginkan rasa ini bersambut.
"Kok malah diam?" tanya Rizqy lagi. Dia melihat Nasi dan Lauk yang dihidangkan oleh Bibik Juminah masih utuh sebagai penanda kalau Gadis itu belum memakannya.
"Sini biar Mas Rizqy suapin. Kamu itu ya, bandel banget. Kalau sakit jangan dipaksain." Rizqy mengomeli Gadis itu sembari menyuapkan makanan ke arah mulutnya.
"Sudah selesai," ucap Rizqy menyodorkan suapan terakhir. Habibah tidak menyadari kalau dia menghabiskan sepiring Nasi dan semangkok Soup yang dihidangkan oleh Bibik Jumina. Dia kemudian mengambil air putih yang disodorkan oleh Risqy untuk melegakan tenggorokan. Air Putih itu diminum hingga tandas.
"Terima kasih Mas,"
"Sami-sami. Nah sekarang kamu istirahat dulu disini, besok pagi Mas antar Ke Kost kamu," sahut Rizqy terdengar tegas seperti memerintah. Ada gurat kekhawatiran yang nampak pada wajah yang dilihat oleh Habibah.
"Apa Mas Rizqy mengkhawatirkanku, why?" tanya Habibah dalam hati.
"Tapi Mas, saya tidak enak sama orang tua Mas terus apa kata tetangga kalau tahu Mas membiarkan seorang Gadis menginap disini," ucap Habibah selanjutnya setelah tersadar dari tanya yang tidak mungkin dipertegas dalam bentuk ungkapan. Dia tidak mau menginap di rumah seorang Laki-laki apalagi tidak ada hubungan kekerabatan. Habibah hanya ingin menjaga nama baik Rizqy dan juga nama baiknya. Sehingga tidak mau menuruti keinginan Lelaki itu.
"Baiklah jika itu mau kamu, Mas akan antar kamu ke Kost. Kamu siap-siap semumpung tidak terlalu malam. Tapi kamu harus menuruti apa yang Mas katakan."
Rizqy pada akhirnya menyetujui keinginan dari Gadis itu. Dia tahu Habibah berwatak keras dan juga sangat menjaga diri dari prasangka tak baik dari masyarakat tentang dirinya.
Habibah mengangguk sembari mengacung jarinya membentuk OK.
"Deal, jadi kamu besok tidak usah masuk kerja. Beristirahat dulu sampai kamu benar-benar sembuh. Mas tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu. Jangan buat Mas khawatir, mengerti?" Rizqy pada akhirnya membuat kesepakatan dengan Gadis itu dan berharap kali ini dia mendengarkannya.
"Nggih Miq, dewek mendengarkannya dan akan patuh dengan apa yang Mamiq Rizqy minta," jawab Habibah menyetujui. Dia tidak mau mendapatkan omelan berkelanjutan jika tak mengindahkan permintaan Lelaki itu.
"Bagus, jadi anak yang baik dan penurut. Kalau begini demen Mas jadinya," ucap Rizqy lega.
"Siap-siap gih, Mas anter," lanjut Rizqy sembari bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Habibah segera merapikan baju seragam kemudian menaruhnya pada Tas ransel yang di simpan pada Sofa. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia keluar dari kamar Rizqy. Dia mencari Bibik Juminah untuk
mengembalikan alat shalat yang dipinjamnya.
"Bik Juminah, ini Mukenanya. Terima kasih sudah meminjamkannya, terima kasih juga telah merawat saya tadi. Saya mau pulang dulu," ucap Habibah berpamitan.
"Iya, sama-sama Non. Kenapa enggak menginap disini saja. Disini sepi, hanya ada Bibik sama Lalu sementara orang tua Lalu tinggal di rumah sendiri." Bibik Juminah mencoba untuk meminta Gadis itu agar menginap. Tapi Habibah dengan sungkan menolak permintaan tersebut. Pada akhirnya Bibik Juminah mengerti. Dia juga tahu tidak etis seorang Wanita menginap di rumah seorang Lelaki. Dimana di antara mereka tidak adanya hubungan
kekerabatan.
Rizqy mengantarkan Habibah hingga ke depan Kostnya. Setelah memastikan Gadis itu sudah berada di kamar baru ia meninggalkan Kost tersebut.
****
Suatu malam di malam minggu. Rizqy datang ke Kost Habibah dengan membawa kekalutan dan kegelisahan. Malam itu sangat sepi, penghuninya sudah berada di alam mimpi. Pun begitu dengan Habibah, Gadis itu sudah tertidur. Lelaki itu mendudukkan diri pada teras lalu punggungnya dia sandarkan pada dinding.
Dia merogoh Saku Jaket dan menemukan benda pipih yang dicarinya. Dia menekan nomor Habibah untuk membangunkan Gadis tersebut. Beberapa panggilan, namun Gadis itu tidak mengangkatnya. Rizqy menggedor Pintu dengan pelan agar tak membangunkan semua penghuni Kost. Cara itu tak berhasil, dia kembali melakukan panggilan. Sedetik kemudian terdengar suara Habibah menjawab panggilan.
("Hallo, siapa ini?")
("Habibah aku Mas Rizqy, aku sekarang sedang berada di teras Kost kamu.")
("Siapa? Di kost siapa?")
("Aku Rizqy, aku sekarang berada di Kost kamu. Sekarang cepetan bangun, cuci muka agar kamu tersadar.")
("Hah!")
Habibah terkaget, dia segera bangun kemudian mengintip dari celah Jendela. Benar saja dia melihat seseorang sedang duduk di teras Kostnya. Habibah segera bangun dan mengembalikan kesadarannya secara penuh.
Ceklek
Pintu terbuka, dia melihat Rizqy membentuk senyuman yang sulit diterjemahkan. Habibah tentu saja heran, apa yang terjadi dengan Lelaki ini?. Sehinga menghantarkannya di sini.
Habibah mendudukkan diri di samping Rizqy dan menatapnya dengan keheranan.
"Mas enggak bisa tidur makanya datang kesini," ucap Rizqy karena mengerti maksud dari tatapan itu.
"Why?" tanya Habibah singkat.
"Karena hanya kamu yang Mas ingat," jawab Rizqy lugas.
Lelaki itu memandang Habibah dengan pandangan sayu. Ada kegelisahan dan kecemasan yang terlihat disana.
Entah tentang apa, Lelaki itu berusaha untuk menyembunyikannya.
"Habibah," panggilnya lirih.
Habibah mendongakkan wajahnya. Rizqy mengambil dagu indah Gadis itu sejurus kemudian Lelaki itu mengecup bibir ranum yang tak pernah tersentuh itu.
Ceklek
Terdengar suara seperti pengambilan gambar setelahnya.
__ADS_1
Bersambung