
"Apaaaa? apa saya tidak salah dengar, Bang?" Riski menatap wajah Keynand mencari kejelasan. Duda tampan itu bercerita bahwa dia sedang patah hati. Riski ingin menanggapi dengan tawa namun urung. Dia melihat Keynand nampak mendung memperlihatkan apa yang dirasakan kini. Pada akhirnya Riski menunjukkan kekagetannya karena tak percaya.
"Kalau tidak salah dengar berarti benar? saya memang payah, kan?" Keynand yang semula mendung kini nampak kesal dengan pertanyaan Riski yang seolah mengejeknya.
Bingung, itu yang dirasakan Riski. Dia tak mengira seorang Keynand Putra Ardiaz bisa patah hati juga. Mengingat dia digandrungi oleh para Wanita, kecil kemungkinan akan patah hati atau malah tak ada kamus patah hati dalam hidupnya. Ternyata itu diluar dugaan, apa ini yang dinamakan adil? Biasanya Pria itu yang selalu membuat Wanita patah hati, tapi kini dia merasakan hal itu. Sekali-kali dia harus merasakanya agar tahu bagaimana rasanya tak mampu menggapai pujaan hati.
"Sabar, Bang?" hanya itu terucap menjelaskan kebingungan apa yang harus dilakukan.
"Saya tahu, tidak ada kata penyemangat lainnya selain sabar?" ucap Keynand mempertajam kekesalannya.
"Abang tuh ya, kalah-kalah para Emak yang dunianya runtuh gara-gara Harga Minyak goreng naik. Panik seakan kehilangan hari esok."
Keynand tergugu mendengarkan perkataan Pemuda di hadapannya. Tidak salah dengan apa yang terucap darinya. Namun dia merasa kehilangan hari esok karena Habibah Rosy tak sanggup di raihnya.
"Ikhlas, Bang! masih banyak Gadis yang sama kualitasnya dengan Wanita bernama Habibah Rosy itu. Tinggal Abang minta sama Pemilik kita yaitu Tuhan melalui doa." Riski menyemangati Duda tampan itu sembari menepuk bahunya.
". ... atau jangan-jangan Abang Keynand berniat menunggu janda kembangnya?" lanjut Riski bertanya.
Keynand terdiam, dia memandang ke arah depan berharap menemukan jawaban dari tanya itu. Dia merasa Riski sedang menyelidiki apa maunya hati.
"Jika bisa, aku akan membebaskan Habibah dari Suami tak setia seperti Rizqy Anggara," ucap Keynand kemudian.
"Whaaat? jelaskan apa maksud dari perkataan Abang?"
Keynand menceritakan, dia yang tak berniat membuntuti Rizqy hingga menuju ke Club malam dan mengetahui fakta bahwa Rizqy menemui seorang Wanita lalu membawanya Cek in.
Riski menyimak dengan seksama, setelah cerita itu berakhir, dia berpikir sejenak lalu berkata, "Abang, berhusnudzonlah. Kita tidak tahu apa yang dilakukan oleh Pria yang bernama Rizqy itu. Belum tentu dia melakukan sesuatu yang dilarang agama. Dan satu hal lagi, jangan libatkan diri dalam rumah tangga orang lain. Mungkin saja hubungan mereka baik-baik saja terus karena kehadiran Abang Keynand mungkin saja mengusik ketenangan yang selama ini mereka rasakan. Meskipun Abang Keynand tidak merasa menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Pikirkan, Bang?"
Keynand menghela nafas panjang. Dia mendengarkan perkataan Riski namun lewat begitu saja di Telinga lalu lenyap bersamaan hembusan nafas. Entah mengapa apa yang dilihatnya merupakan bukti tak setianya Pria itu terhadap Isterinya Habibah Rosy. Dia akan mengumpulkan bukti untuk membebaskan Wanita itu dari ketidaksetiaan Suaminya.
"Melihat Abang seperti ini, saya merasa sia-sia mengingatkan," ucap Riski pasrah. Dia sekali lagi menepuk bahu kokoh itu lalu meninggalkan Keynand yang masih terdiam dengan pikirannya.
***
Pada hidup yang lain, Habibah sedang menikmati hidup barunya sebagai seorang Isteri. Setelah Pelatihan resmi ditutup, dia diboyong ke rumah Suaminya.
"Akhirnya selesai juga," ucap Habibah bersama senyum merekah. Dia saat ini sedang menata ulang kamar tidur mereka agar lebih berwarna dan segar.
Habibah duduk ditepi ranjang sembari memandang sekeliling kamar. Nuansa berwarna putih mendominasi kamar tersebut. Tidak ada yang Istimewa selain kaligrafi dan Jam dinding yang terpasang. Ukurannya tak luas namun tak pula sempit, menurutnya sangat luas untuk ukuran mereka yang biasa.
Rumah itu bukan rumah seorang Sultan melainkan rumah dari kalangan biasa. Namun Habibah sangat bersyukur, Suaminya memiliki rumah sendiri. Meskipun tak mewah tapi nyaman ditempati sepadan dengan hidup mereka yang sederhana.
__ADS_1
Setelah puas menikmati, Habibah keluar menuju ke arah Dapur. Sore ini dia akan memasak untuk makan malam. Dia sempat membeli bahan pangan sebelum Rizqy kembali ke Kantor karena jam kerjanya masih berlangsung.
Beberapa menit berkutat di Dapur, akhirnya masakan itu tersaji pada meja makan berukuran sedang. Habibah bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Sebentar lagi Suaminya akan pulang Kantor, tentu saja dia ingin menyambut Sang Suami dalam keadaan bersih dan segar.
Tak berselang lama, Habibah menyelesaikan ritual mandi. Dia kemudian melaksanakan empat rakaatnya. Saat khusuk dengan ibadah lainnya, terdengar Mobil menuju perkarangan rumah. Habibah mengakhiri bacaan Alquran. Dia bergegas keluar menyambut kedatangan pujaan hatinya.
Ceklek
Terdengar Pintu terbuka, di teras depan terlihat Rizqy melangkah menuju arah Pintu masuk. Dia tersenyum sejurus kemudian terdengar salam yang di balas salam pula oleh Habibah.
"Mas pikir Bidadari itu hanya berada di syurga saja, rupanya ada yang bersedia tinggal di bumi untuk menemani seorang Rizqy Anggara."
Habibah tersenyum mendengarkan perkataan Suaminya yang terdengar gombal. Dia meraih tangannya lalu mencium dengan takzim.
"Cepatlah masuk, Mas tidak ingin orang lain melihat kemesraan kita," ucap Rizqy segera membimbing Habibah untuk masuk ke dalam. Setelah Pintu tertutup barulah Rizqy meraih pinggang Isterinya lalu memberikan kecupan pada bibirnya.
"Mas minum dulu pasti haus." Habibah bergegas mengambil air putih yang sudah disediakannya. Dia kembali dengan cepat lalu memberikannya kepada Rizqy.
"Terima kasih sayang," ucap Rizqy setelah menghabiskan segelas air putih.
Habibah menganggukkan Kepala. Dia merasa tangan Rizqy mendarat di pucuk Kepala lalu mengelusnya dengan lembut.
"Mas mandi dulu, masih wangi sih tapi ingin pula sesegar Isteriku ini." Rizqy mengalihkan tangan dari Kepala Habibah. Setelah itu berlalu dari hadapan Habibah menuju ke kamar mereka.
***
"Bibah, besok hari minggu kita akan nyumbe, bagaimana pun juga kita harus melaksanakan adat agar dianggap inggas," ucap Rizqy disaat mereka duduk berdua di serambi rumah menikmati waktu sore.
"Iya, Bibah ikut saja apa yang sudah menjadi ketentuan adat jika itu tidak bertentangan dengan syariat," sahut Habibah bahagia. Dia tidak menyangka Rizqy masih ingat kewajibannya melaksanakan adat. Dimana selesai akad nikah seharusnya mereka melaksanakan sorong serah aji krama dan nyongkolan mengingat Rizqy bermarga Lalu. Sedangkan orang biasa seperti Habibah cukup dengan Nyongkolan, itupun kalau mereka mampu. Jika tidak mampu bisa dilakukan dengan nyumbe, yaitu kunjungan keluarga Pengantin Pria ke rumah Pengantin Wanita dengan membawa buah tangan ala kadarnya. Istilahnya bersilaturahmi dengan tujuan agar diketahui pernikahan mereka oleh warga tempat Pengantin Perempuan berdomisili.
"Maafkan Mas Bibah, seharusnya pernikahan kita tak seperti ini. Mas tak berhasil mendapat ridho Mamiq untuk menerima kamu. Seandainya Ibu masih hidup, beliau pasti sangat bahagia mendapatkan Menantu sebaik kamu."
Selesai berucap, Rizqy menatap Gadis yang kini menjadi Isterinya. Dia tidak berhasil meyakinkan Pria yang menghadirkannya di dunia ini. Hal Itu yang membebaninya.
Habibah mengelus punggung Suami berusaha menenangkannya. Dia tahu saat ini Rizqy sedang gusar dan juga kecewa dengan sikap Ayah kandungnya.
"Tidak apa-apa, kita pasti bisa melewati semua ini," sahut Habibah, dia menampilkan senyum indah berhias tulus.
"Iya, kamu benar. Mas akan memperjuangkan agar Mamiq menerima kamu sebagai Menantunya. Ketulusan hati yang kamu miliki Insha Allah akan melunakkan hati yang keras. Saat ini kita hanya bisa bersabar dalam doa agar Mamiq tersadar bahwa Menantunya begitu berkualitas." Rizqy mengutarakan harapan.
Rizqy merasa cukup hubungannya yang tak harmonis dengan Ayahnya. Namun tidak dengan Habibah, dia ingin Isterinya mendapatkan tempat di keluarga. Mungkin saja itu sulit selama Wanita bernama Wina Winanta itu menguasai pikiran Ayahnya.
__ADS_1
"Jessi, apakah seperti dia Menantu idaman menurut Mamiq? dia memang cantik dan berkelas. Aku tidak percaya jika Mas tidak akan tergoda," ucap Habibah. Ada nada kecemburuan yang berhasil ditangkap oleh Rizqy.
"Kamu cemburu?"
"Tidak, hanya saja aku merasa kalah karena dialah orang pertama yang merasakan belaian lembut kekasihku," jawab Habibah jujur.
"Maafkan Mas, bukan maksud menghianati kamu. Mas terpaksa memenuhi permintaan Mamiq. Saat itu Mas berada di titik keputus asaan. Mas berusaha mencari keberadaan kamu seperti orang tak waras. Hampir semua gang aku susuri berharap menangkap bayanganmu namun nihil. Kamu tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Saat itu aku pasrah dan menerima begitu saja pernikahan itu."
Rizqy menceritakan alasan pernikahan pertamanya. Dia pernah menolak dan meminta waktu untuk menemukan Habibah Rosy. Jika Habibah ditemukan dalam jangka waktu yang ditetapkan maka dia akan terbebas dari perjodohan itu. Sekuat tenaga Rizqy mencari keberadaan Habibah, hingga batas waktu itu tiba. Rizqy pasrah menerima pernikahannya dengan Jessi karena tidak berhasil menemukan Kekasihnya.
"Maaf Mas," lirih terucap.
"Tidak apa-apa, mungkin nasip Mas harus menikah dengan Jessi terlebih dahulu sebelum pada akhirnya Mas berjodoh dengan kamu. Jujur, pernikahan Mas dulu ibarat lahan tandus yang sangat sulit berbuah subur. Mas berusaha mengubah ketandusan itu menjadi sedikit subur meskipun kita berdua tidak mempunyai benih untuk menumbuhkan cinta itu sendiri. Mas tidak mencintainya namun Mas menghargai pernikahan. Mas berusaha melaksanakan tanggung jawab karena telah mengucapkan janji suci. Nyatanya Jessi tak sepemikiran dengan Mas sehingga pernikahan itu harus berakhir dengan penghianatan."
Rizqy melanjutkan cerita tentang rumah tangganya dulu bersama Jessi. Tidak ada cinta yang mendasari selain kepentingan. Kepentingan itupun entah milik siapa? Rizqy tak tahu karena dia juga berada dalam lingkaran kepentingan itu.
Habibah Rosy memandang wajah Suaminya dengan sangat lekat. Sejenak pandangan mereka bertemu, binar-binar cinta kian terpancar dari keduannya. Dia tidak menyangka cinta seorang Rizqy itu tulus dan berharap tidak akan pernah berubah.
"Mas tahu, Suamimu ini tampan, jadi jangan melihat seperti itu," ucap Rizqy memamerkan pose tergagahnya. Dia mengedipkan mata menggoda, tak hanya menggoda dia mulai mengerjain Isterinya itu.
"Mas Rizqyyyyy."
Habibah berteriak, sedangkan Rizqy tertawa menyaksikan kelucuan yang ditampilkan Isterinya.
"Om Rizqyyyy, saya mau makan kenyang boleh masuk ke dapur enggak?"
Tiba-tiba seorang bocah Laki-laki nongol di halaman rumah dengan senyum jenakanya.
"Boleh sayang," sahut Habibah.
"Asyiiiik, pasukan seraaaaang."
Entah darimana tiba-tiba beberapa anak yang bersembunyi menampakkan diri lalu berlari memasuki rumah Rizqy menuju Dapur.
Habibah terbengong, namun tidak dengan Rizqy. Dia sudah terbiasa didatangi anak-anak tetangga yang suka meminta makanan padanya.
"Alamaaaak, Ayam goreng Ipin-ipin milikku raib."
Rizqy ikutan berlari ke arah dapur untuk menyelamatkan jatahnya. Habibah terdiam mendengarkan suara gaduh dari arah dapur. Beberapa detik dia terbengong sejurus kemudian tertawa menyaksikan Rizqy berebut Ayam goreng Ipin-ipin dengan seorang bocah.
"Sayaaaaang, Mas mau punya banyaaak anak biar bisa menangkis anak-anak bandel ini," ucap Rizqy sedikit berteriak.
__ADS_1
Kedubraaaak
Bersambung.