
"Selamat datang Bang Riz!"
Rizqy tersenyum mengangguk menerima sambutan dari seorang Laki-laki muda bersama temannya.
"Nampak Abang kita ini lagi bahagia, lihat tuh wajahnya seger banget dengan senyum yang begitu sumringah. Apakah tadi sudah dapat jatah sebelum menemui kami," timpal seorang Laki-laki.
"Denger-denger Abang kita ini lagi menginap di Hotel. Sudah pastinya bersama seorang Wanita cantik dan sexy," sambungnya lagi.
"Apa Abang Riz menyewa Wanita panggilan?" tanya Budi orang pertama menyapanya.
Rizqy mempelototi kedua temannya dengan sorot mata horor, membuat keduanya bergidik ngeri.
"Tuh lihat Abang Riz marah, makanya kalau ngomong itu harus dipikir-pikir dulu jangan asal dikeluarkan," ucap teman Budi mengingatkan.
Budi menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah.
"Saya tidak suka jajan di luar," ucap Rizqy dengan jelas.
"Tuh denger, bukannya kamu yang suka jajan sembarangan. Enggak tahu higenis atau enggaknya main langsung di embat saja."
Budi mempelototi temannya yang berbicara sembarang.
"Kamu juga, bisanya fitnah saja," ucapnya kemudian.
"Emang, tidak seperti Bang Riz yang setia dengan Isterinya dan dipastikan tidak akan tergoda dengan Wanita lain."
"Yakin? Kalau misalnya di hadapannya ada Wanita tanpa busana, apakah bang Riz tidak akan tergoda dan benda pusakanya tidak akan kenapa-kenapa?" tanya Budi penasaran.
Temannya meragu. Terlihat dia menatap Rizqy yang terdiam malas menanggapi.
"Saya yakin, Bang Riz tetap tidak akan tergoda," jawabnya kemudian dengan yakin.
"Tidak, jangan coba-coba kalian menawarkan saya Wanita tanpa busana karena saya tidak akan sekuat itu untuk melawan hawa nafsu. Saya itu Laki-laki normal, maka mana mungkin akan bisa mengendalikan hawa nafsu sedangkan di hadapan terpampang Wanita yang menjadi sumber hasrat itu ada. Lagipula iman saya sangatlah tipis mungkin lebih tipis dari kulit bawang, jadi tidak akan pernah menantang diri untuk mencoba mendekati Wanita tanpa busana itu kecuali Isteri saya, karena bisa saja saya tak tahan kemudian melahapnya," ucap Rizqy panjang lebar menjelaskan. Bahwasannya Manusia sangat sulit untuk mengendalikan hawa nafs*, kecuali mereka memiliki iman yang sangat kuat dan tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Mereka takut akan apa yang menimpanya, jika nekad melanggar larangan Tuhan.
Keduanya saling pandang kemudian menatap Rizqy dengan rasa penasaran.
"Jangan coba-coba mendekat ke tempat di larang Tuhan, karena ketika kita sudah berada di sana akan sangat sulit untuk selamat. Kita akan terlena lalu larut dalam kesenangan yang menipu kemudian hancur dalam hina," lanjut Rizqy menjelaskan. Dia terdiam sejenak seperti mengingat sesuatu membuat temannya kian penasaran.
"Apa kalian pernah mendengar kisah nyata seorang ahli ibadah yang pada akhir hidup ditemukan sedang melakukan zin*. Sang Ahli ibadah itu pada hari itu melaksanakan niatnya mendatangi tempat maksiat, di sana dia kemudian berkencan dengan seorang Wanita malam tanpa di sadari bencana datang melanda dan dia tidak mampu menyelamatkan diri. Dia ditemukan tewas dalam keadaan hina dina sedang bersama Wanita yang haram untuknya. Sementara pada waktu yang bersamaan seorang Laki-laki ahli maksiat melaksanakan niatnya mendatangi masjid kemudian bertaubat. Dialah yang ditemukan wafat dalam keadaan meraih kemuliaan."
Rizqy mengakhiri kisahnya dengan berulang-ulang beristigfar. Sementara kedua temannya hanya diam tak mampu untuk berkata apa-apa selain hanya menyadari segala dosa. Mereka larut dalam renungan dan kemudian bertekad kuat untuk menjadi insan yang lebih baik mulai dari sekarang dan ke depannya kemudian berusaha untuk tetap istiqomah dalam cahaya iman.
"Jadi apa yang kalian dapatkan?" tanya Rizqy memecahkan keheningan yang terasa tenang itu.
Budi menyodorkan sebuah benda tempat menyimpan data. Rizqy mengambilnya kemudian larut dalam pembicaraan yang serius.
"Saya akan menyusupkan seseorang di kediaman Keynand. Orang tersebut akan mulai bekerja lusa. Kalian berdua tetap stay pada posisi masing-masing."
Setelah mereka mengatur siasat, Rizqy meninggalkan Cafe tempat pertemuan itu berlangsung lalu kembali ke Hotel tempat dia menginap.
Sesampainya di sana, Rizqy menemukan Habibah sedang meneguk air mineral.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" tanya Rizqy melihat Sang Isteri sudah terjaga. Dia mendapatkan senyum manis itu bersama anggukan Kepala.
"Bagaimana? Apakah menemukan petunjuk?" tanya Habibah. Dia yakin Suaminya itu pasti telah bertemu dengan seseorang sehingga meninggalkannya sendiri di Hotel seperti biasanya.
"Mas belum mengeceknya. Oh ya Mas sudah membeli Keripik Kentang kesukaan kamu," jawab Rizqy sembari meraih Laptop yang ada di dalam Tas. Benda elektronik itu wajib di bawa olehnya kemana pun dia pergi. Lalu dia mulai mengecek isi dari Plash disk untuk mengetahui bukti apa yang tersimpan di sana. Rizqy saat ini sedang mengumpulkan bukti penyebab kematian Kiano yang belum terungkap. Dia tidak lagi mengandalkan bantuan dari Keynand, karena tidak ingin merepotkan Suami dari Julaekha itu. Selain itu juga untuk meminimalisir ketahuan dari target yang sedang diintainya.
Saat Rizqy sibuk mengecek data dan informasi yang di dapatkannya, berbeda yang dilakukan dengan Habibah, Wanita itu asyik dengan Keripik Kentang yang di beli Sang Suami. Terdengar suara kriuk-kriuk menggema di kamar itu.
Rizqy menyunggingkan senyum melihat bibir itu yang tak henti-hentinya mengunyah. Aktivitas itu sangat menarik perhatiannya dari pada informasi penting yang baru saja di dapatkannya, karena itulah dia menghentikan kegiatan.
"Mas kok ngeliatnya kayak gitu? Apa aku aneh?" tanya Habibah menghentikan kunyahan. Dia melihat Suaminya tak berkedip memperhatikannya.
"Tidak ada yang aneh, kok! Mas hanya senang saja melihat kamu yang lahap makannya," jawab Rizqy jujur. Lalu dia melangkah mendekat ke arah Habibah kemudian memeluk tubuh ramping itu.
"Lingerinya kok enggak di pakai lagi? Padahal Mas suka, lo."
Habibah tersenyum malu dengan kejujuran yang di utarakan suaminya. Sebenarnya dia malu memakai gaun yang sangat transparan itu, tapi demi menyenangkan hati Suaminya dia mau tidak mau harus menanggalkan rasa malunya itu.
"Bibah malu."
"Kalau malu kok malah memakainya? Apa mungkin ada maksud terselubung ya? Mas jadi curiga, nih! Tiba-tiba berlingeri, tiba-tiba juga minta 500 juta. Heran jadinya Mas."
Rizqy dirundung tanya. Laki-laki itu juga memperlihatkan raut keheranan yang terlihat sangat menggemaskan.
Sementara Habibah terkekeh geli.
"Tadi aku hanya iseng, siapa tahu saja lagi hoky. Eh enggak tahunya Mas langsung transfer. Sekali-kali boleh dong minta bayaran."
Rizqy menoel hidung mancung itu. Tidak lupa juga menyerang pinggang ramping dengan gelitikan sehingga membuat Habibah terjengkit kaget kegelian. Wanita itu melepaskan tawanya, membuat Rizqy semakin bersemangat melakukan kilik-kilik pada area yang sensitif.
Hahahaha
"Geli, Mas."
"Lagi di sini, di sini dan di sini."
Tidak henti-hentinya melakukan itu membuat Habibah tak tahan dengan rasa geli yang menderanya. Ingin menghindar tapi tidak bisa. Rizqy benar-benar tidak membiarkan Habibah terlepas dari jangkauannya.
"Ampun, Mas. Aku benar-benar tidak tahan, tangan Mas mengapa ada sengatannya?" Ucap Habibah benar-benar tidak tahan.
Glep
Rizqy kemudian berhenti menggelitik pinggang ramping itu. Dia memeluk tubuh itu dengan menancapkan dagunya pada bahu Isterinya.
"Sudah terlalu lama tidak mendengar tawa bahagiamu. Selama ini kamu terlalu sibuk menemani Qia, merawat Qia, memperhatikan Qia dan memastikan Qia baik-baik saja sehingga lupa dengan diri kamu sendiri," ucap Rizqy kemudian dengan kesedihan di pelupuk mata.
Habibah tersenyum. Dia tidak keberatan sama sekali dengan apa yang dilakukan selama ini demi kesembuhan adik iparnya itu. Dia sangat menyayangi Qia dan menganggap Qia sebagai adik kandungnya sendiri.
"Qia adik kita, sudah sepantasnya kita sebagai Kakaknya untuk memperhatikannya. Qia hanya memiliki Mas Rizqy dan aku. Kalau bukan kita lantas siapa lagi," jawab Habibah panjang lebar.
"Mas beruntung memiliki kamu." Lagi-lagi Rizqy mengutarakan rasa bahagia memiliki pendamping seperti Habibah yang tak pernah mengeluh sama sekali, meskipun di hadapkan berbagai cobaan.
__ADS_1
Habibah tersenyum menanggapi penghargaan yang diberikan Suaminya kepada dirinya. Dia merasa melayang, tapi tersimpan rasa sedih. Sedih karena hingga tahun ketiga pernikahan dia tak kunjung hamil.
Ada rasa sesak yang terasa dalam dada karena itu, meskipun Rizqy tidak sama sekali menuntutnya. Laki-laki itu sangat sabar bahkan berusaha menenangkan dan menghiburnya apabila dilanda gundah karena keinginan itu belumlah terwujud.
"Kenapa diam?" Tanya Rizqy ketika menyadari Habibah tak menanggapi dengan celotehan.
"Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Rizqy. Bagaimana kalau seandainya aku tidak bisa hamil?" Ucap Habibah parau. Ada kesedihan yang sangat mendalam disetiap kata-kata. Habibah tidak mampu memendung kesedihan sehingga tangispun tumpah ruah.
"Bagaimana kalau rahim ini ternyata tandus? Apa Mas Rizqy akan tetap bangga memiliki aku?" lanjutnya dalam isak tangis.
Rizqy terkejut melihat Habibah yang tiba-tiba berkata aneh dengan tangisan.
"Sayang, jangan berkata begitu," ucap Rizqy lembut. Dia melepaskan pelukan lalu meraih wajah dan menghampus air mata yang mulai mengalir deras di pipi Habibah.
Ketika berbicara soal anak yang tak kunjung hadir. Habibah tidak bisa lagi memendung kesedihan kemudian larut dalam tangisan.
"Aku tahu Mas pasti sangat menginginkan hadirnya anak di tengah keluarga kecil kita, tapi nyatanya aku sebagai Isteri tidak mampu mewujudkan itu. Meskipun Mas selalu berkata tidak apa-apa, mungkin belum saatnya tapi hati kecil Mas pasti sangat menginginkan itu, iya kan?"
Habibah menatap wajah Suaminya dengan sayu. Wajah tenang yang tidak pernah memperlihatkan amarah apalagi kekecewaan atas segala kekurangannya.
"Mas, aku rela Mas menikah lagi agar segera memiliki anak. Jika dengan itu bisa membuat Mas bahagia dan memiliki seorang bayi, aku ikhlas Mas," ucap Habibah tulus. Meskipun dia sangat takut ketika mengatakan itu dan tidak rela membagi cinta Suaminya, tapi jika ternyata itu cara satu-satunya mewujudkan kebahagiaan untuk Suaminya apa boleh buat. Saatnya dia memupuk keikhlasan meskipun terasa berat dan sulit.
Rizqy membolakan mata tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Isterinya. Dia terdiam dan menyadari Habibah berada di ambang keputus asaan.
"Bicara apa, sih? Mas sudah bilang, Mas akan menunggu dengan sabar. Mas yakin suatu saat nanti Tuhan akan mengabulkan doa kita. Kamu akan mengandung dan melahirkan keturunan Mas. Mas sehat dan kamu juga sehat. Rahim kamu tidak tandus dan jangan pernah mengatakan seperti itu lagi. Apa yang kamu ucapkan itu menyakiti hati ini sayang."
Rizqy berusaha menenangkan Habibah. Dia meraih tubuh itu lalu memeluknya dengan erat. Habibah terisak dalam dekapan Suaminya yang hangat.
"Jangan menyuruh Mas menikah lagi hanya demi memiliki anak. Karena Mas tahu ikhlas yang kamu ucapkan hanya sebatas di bibir saja, sementara hati kamu tidak sanggup berkata seperti itu. Lagi pula, tidak ada jaminannya jika mas menikah lagi akan langsung memiliki keturunan. Bagaimana kalau ternyata mas menunggu juga dalam waktu yang panjang. Lebih baik bersama kamu melangitkan doa agar Tuhan segera mengabulkan apa yang menjadi hajat kita berdua."
Rizqy panjang lebar berkata sembari mengelus perut Habibah dengan lembut. Terucap untaian doa dengan khusuk dan penuh harapan.
Habibah memperelat pelukan. Tidak menyangka mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari Suaminya. Habibah semakin terisak dan diliputi keharuan. Tidak menyangka Rizqy sangat mencintainya dan enggan berpaling meskipun dia sudah membuka jalan agar Rizqy menikah lagi tapi ternyata Suaminya itu tak bergeming. Jika Laki-laki lain, mendengar itu akan bersorak bahagia dan langsung mewujudkannya. Menikah lagi, siapa yang menolak jika sudah mengantongi izin dari Sang Isteri.
"Sudah sayang jangan sedih. Sebaiknya kita usaha lagi, yuk? Pakai lagi Lingerinya biar Mas bertambah semangat dan siap menggempur kamu sampai pagi," ucap Rizqy menggoda Habibah.
"Maaaaas."
"Iya sayooongku, Mas sanggup kok!"
Habibah memukul dada bidang Suaminya dengan pelan kemudian kembali melabuhkan tubuh dan hatinya yang rapuh pada dada bidang itu.
"Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Kita harus ingat, apapun yang terjadi di dunia ini dan pada kehidupan Manusia, itu semua tidak lepas dari kehendak Tuhan. Jika Tuhan belum menghendaki kita memiliki anak, apa yang bisa kita lakukan selain hanya berdoa. Jangan putus asa ya? Tuhan sangat senang melihat kita berdoa dan memohon kepadaNya dengan tulus. Mungkin saja doa kita belum terkabul karena ingin melihat kesungguhan dan usaha keras kita. So, jangan menyerah."
Hati Habibah merasa tenang mendengarkan kata-kata Suaminya yang ada benarnya. Dia tersenyum sembari menatap wajah yang teduh itu. Wajah yang membuatnya bersemangat menjalani hari-hari meskipun terkadang terasa sulit, tapi keteduhan itu selalu berhasil membuat hari-hari itu sangat mudah, sebab ada cinta dan kasih sayang yang selalu terpancar di sana.
***
(Saya sudah menyusup masuk di keluarga Keynand)
Rizqy tersenyum miring membaca pesan dari orang suruhannya. Dia kini sedang menikmati secangkir Kopi sembari memandang data yang ada di Komputernya dengan sangat jeli.
__ADS_1
Bersambung