
"Jangan bilang saya ketularan pikiran absurdnya. Ya Tuhan, ini tidak baik." Reynand membatin.
Adrian hanya cengengesan menanggapi, sebab merasa benar dengan apa yang dia ucapkannya, meskipun sebenarnya dalam hati dia bergidik ngeri dengan tatapan tajam Reynand.
Cukup seru mereka bercakap-cakap, tidak sadar Mobil Adrian sudah memasuki Gapura besar yang menuju ke arah Danau, sebuah mata air yang terletak di pinggir hutan dengan kawasan perbukitan.
"Kita sudah sampai," ucap Adrian memberitahu sembari memarkirkan Mobil lalu mematikan mesin setelah memarkir dengan aman.
Tampak Habibah menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah.
"Kak Bibah," panggil Qia meraih tangan Kakak Iparnya itu lalu mencium telapak tangannya. Sedangkan kepada Reynand dan Hamiz, Habibah menangkupkan tangannya seperti halnya yang dilakukan oleh mereka berdua.
"Kok cepat? Terus kenapa sama Adri?" tanya Habibah keheranan dengan kedatangan mereka bersama Adrian.
"Kita menggunakan Pesawat biar cepat sampai, terus mendarat di Desa Tetangga. Kebetulan ketemu Adrian, iya kita minta di antar ke sini," jawab Qia menjelaskan.
"Oh begitu? aduh maaf Pak Reynand, keasyikan mengobrol jadi lupa mempersilahkan. Silahkan Pak Reynand dan Hamiz."
Habibah mempersilahkan Reynand dan Hamiz untuk duduk di Berugak. Reynand membalasnya dengan anggukan sementara Hamiz mengucapkan terima kasih.
"Kalau tidak diperlukan lagi saya undur diri," sela Adrian berpamitan. Dia ada keperluan lain sehingga cepat-cepat ingin meninggalkan rumah Habibah.
"Terima kasih," ucap Reynand dengan tulus. Dia menampilkan wajah ramahnya dengan senyum tipis tersungging dibibirnya.
"Tidak masalah, saya senang membantu Kakaknya Bule kesasar," sahut Adrian tidak kalah ramah, setelahnya Pemuda itu mengucapkan salam yang dibalas salam oleh mereka.
Saat Adrian pergi, kini fokus mereka beralih pada tujuan kedatangan Reynand yang sedang berikhtiar menyelamatkan adiknya.
"Qia boleh minta tolong buatkan minuman, Kak Bibah mau ngambil penawarnya dulu," ucap Habibah faham dengan apa yang tengah terjadi. Wanita itu tahu, saat ini waktu seolah sedang menekan mereka agar segera memperoleh penawar itu lalu dengan segera pula membawanya ke Rumah Sakit Ardiaz. Jika terlambat diberikan, maka penawar itu tidak akan berefek atau tidak akan berarti apa-apa, selain itu tentu saja nyawa Keynand harus segera diselamatkan sebelum waktunya tiba. Tentu kita dituntut untuk berikhtiar bukan? selain diiringi dengan doa. Hal itulah yang sedang diupayakan oleh Reynand.
Habibah kembali membawa sebuah kotak berukuran sedang yang terbuat dari anyaman bambu. Dia membuka tutupnya lalu memperlihatkan obat itu yang terbungkus dari daun pisang. Daun pisangnya terlihat masih segar, itu artinya penawar itu baru saja di racik.
"Kata Mas Rizqy setiap hari di beri satu bungkus dan banyaknya sebanyak tujuh bungkus. Penawar ini harus diberikan setiap hari hingga habis kalau tidak, maka pengobatannya tidak akan maksimal. Oh ya jangan lupa sebelum memberikannya hendaknya berdoa terlebih dahulu, bagaimana pun juga Tuhanlah yang punya kuasa untuk menyembuhkan. Penawar ini bisa langsung diminumkan kepada Pak Keynand, kalau sekiranya tidak memungkinkan bisa diberikan lewat infusnya, tapi terlebih dahulu dilarutkan menggunakan air yang higenis."
Habibah menjelaskan dengan detail cara kerja penawar itu. Selesai menerangkan bersama itu pula Qia datang membawa nampan beri dua gelas Kopi dan sepiring Ubi rebus dan Pisang.
__ADS_1
"Silahkan Pak Reynand," ucap Habibah mempersilahkan setelah hidangan itu sudah berada di tengah-tengah mereka.
Reynand dan Hamiz langsung menikmati hidangan itu untuk menghargai Tuan rumah yang telah repot-repot menjamu mereka.
"Apa ini Rizqy yang telah membuatnya?" tanya Reynand penasaran.
"Tidak, penawar ini baru saja saya buat berdasarkan petunjuk dari Mas Rizqy. Tadi setelah Qia mengabarkan apa yang terjadi dengan Pak Keynand lalu saya langsung menghubungi Mas Rizqy. Mas Rizqy tentu saja terkejut dan tidak menduga dengan apa yang terjadi dengan Pak Keynand. Untung saja tumbuhan itu ada dan di dapatkannya dari Hutan Kalimantan. Awalnya saya sempat kebingungan saking banyaknya tumbuhan obat di Hutan lindung di tambah kesulitan mendapatkan sinyal, agar tetap bisa berkomunikasi dengan Mas Rizqy."
Habibah menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan tumbuhan obat yang dipercaya bisa mendetok racun yang masuk ke tubuh Keynand saat ini.
"Terima kasih, mbak Habibah dan sampaikan ucapan terima kasih kepada Rizqy karena sudah mau memberikan penawar untuk Keynand," ucap Reynand dengan tulus berasal dari hati terdalamnya. Dia sangat bersyukur bertemu dengan orang yang berhati baik seperti Rizqy dan Habibah. Rizqy mungkin saja saat ini sedang mengesampingkan egonya, jika mengingat Keynand telah menyakiti hati adik perempuan satu-satunya itu. Demi kemanusiaan, dia mau memberikan obat itu tanpa imbalan apapun.
Tidak ingin membuang waktu, rombongan Reynand meninggalkan kediaman Rizqy dengan di antarkan oleh Habibah menuju lokasi tempat Pesawat mendarat.
"Adrian sudah pergi, sementara yang ada hanya Mobil Pik up. Apa tidak apa-apa Pak Reynand diantar menggunakan kendaraan ini?" tanya Habibah menawarkan bantuan. Dia berpikir sesaat, setelahnya dia memutuskan sesuatu.
"Tidak masalah, yang penting kita secepatnya sampai," balas Hamiz mewakilkan dengan segera loncat ke Mobil Pik up tersebut.
Habibah nampak ragu, dia memperhatikan Reynand. Dia berpikiran mana mungkin Pemilik Hotel Ardiaz, Rumah Sakit Ardiaz dan beberapa bisnis lainnya mau menggunakan Kendaraan yang sejatinya diperuntukkan untuk mengangkut barang.
Habibah masuk ke bagian kemudi bersama Qia di sampingnya. Terdengar bacaan Basmalah dari bibir Habibah lalu setelahnya Mobil bergerak keluar dari pelataran rumah Habibah.
Angin siang beranjak sore menerpa wajah kedua Pria tampan itu, bersama terik matahari yang membuat wajah putih Reynand berubah warna menjadi kemerahan.
"Apes belum sempat menggunakan suncreen. Setelah ini harus melakukan perawatan maksimal biar kembali ganteng," ucap Rizqy mengeluh, yang ditanggapi malas oleh Reynand.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tempat Pesawat itu berada. Sebelum berangkat Reynand menyempatkan bertemu dengan Kepala Desa untuk memberikan bantuan modal bagi Pedagang dan para petani agar bisa menggarap lahannya tanpa melalui sistem ijon yang menurutnya tidak menguntungkan Petani.
"Benar-benar harus tepat sasaran, Pak Kades. Saya akan mengawasinya melalui orang suruhan yang saya percayai, karena tidak ingin apa yang saya hajatkan berakhir sia-sia," ucap Reynand dengan tegas. Melihat kewibawaan yang dimiliki oleh Reynand membuat Pimpinan nomor satu dari Desa Madani menjadi sungkan dan segan.
Setelah beramah tamah, Reynand dan rombongan berpamitan. Saat menuju tempat Pesawat terpakir, beberapa pasang mata dari para Wanita memandang dengan tatapan memuja terutama dari para Gadis dan juga janda. Terdengar pujian dari bibir mereka bahkan ada seorang Gadis terang-terangan mengakui keinginannya.
"Om Bule? Apa Om Bule punya Adik, saya bersedia menjadi Adik iparnya. Kalau tidak punya jadi Menantunya saja, boleh kok!"
"Om kalau aku bersedia jadi Sugar Babynya. Ayo bawa aku pulang ke rumah, tapi jangan ke rumah yang ada Isteri Om ya!"
__ADS_1
"Kalian itu apa-apaan, sih! jadi Gadis itu harus punya malu." Terdengar omelan seorang Ibu yang memperingatkan dua Gadis itu yang teramat berani merayu Reynand.
"Kalau Om tidak mau, akan aku pelet Om dengan pelet Ikan biar tergila-gila dengan kecantikan aku yang masih segar dan unyu-unyu ini," lanjutnya tidak mau mendengarkan nasehat dari para Ibu disekitarnya.
"Eh, Om Bule itu punya saya. Ayo saja kita adu pelet ikan, kita buktikan siapa yang akan menang dan yang pasti aku yang akan dapatkan Om Bule itu," ucap Gadis pertama tidak mau kalah.
"Tobat kalian, bikin malu saja."
Reynand awalnya mengabaikan ocehan para Gadis yang menurutnya hanya bercanda saja. Namun ketika mendengarkan kata pelet, membuatnya seketika beristigfar dan diiringi dengan doa perlindungan. Dia tidak boleh mengabaikan begitu saja apa yang terucap dari bibir para Gadis, meskipun terdengar tidak serius, tapi bisa saja mereka sebenarnya serius dan benar-benar ingin melakukannya.
Memilih tidak terusik, Reynand menaiki Pesawat di susul oleh rombongan yang ikut bersamanya.
Terdengar mesin dari Kapal terbang itu menggema di tanah lapang bersama baling-baling yang kata orang terinspirasi dari biji maple itu berputar-putar menandakan Helikopter itu siap lepas landas.
Reynand bersama rombongan terbang meninggalkan Desa bersama penawar yang mereka bawa untuk kesembuhan Keynand.
"Wadowh, Gadis Desa sekarang sangat berani ya? Malah terang-terangan mau menjadi Sugar Baby, sungguh absurd mereka," ucap Hamiz dengan mimik wajah serius. Dia amat prihatin dengan kedua Gadis itu yang sedikit pun tidak memiliki rasa malu. Akhlak mereka benar-benar rusak terkontaminasi dengan kebebasan yang terlihat lebih memikat dari pada adap yang harus menjaga malu dan maru'ah sebagai seorang Wanita.
"Abang tidak terpengaruh, kan? Kalau sampai beneran jadi Sugar Daddy mereka berdua terus diketahui oleh Kak Lika bisa-bisa Kak Lika tidak lagi Culin dan mendadak menjadi melong gara-gara mempelototi Suaminya. Bukan itu saja, benda pusaka Abang Reynand akan di buat tidak bangun lagi agar Sugar Babynya tidak bisa merasakan kehebatan milik Abang Reynand. Terus harta kekayaan yang Abang punya akan langsung dibekukan seperti Gunung Es yang ada di antartika sana. Hahahaha," lanjut Hamiz panjang lebar diakhiri dengan tawa renyah.
"Kamu juga sama saja dengan kedua cewek tadi, enggak punya akhlak."
Reynand mengomeli Hamiz, tidak lupa menjitak kepala adik iparnya itu agar bisa berpikir dengan benar.
Hamiz mengelus kepalanya dengan ringisan tertahan. Tidak lupa memanyunkan bibirnya karena kesal. Sementara Qia berusaha menahan senyum dengan mengalihkan pandangannya ke ruang jendera menikmati pemandangan dari ketinggian.
Beberapa jam dalam perjalanan, setidaknya lebih cepat dari jalur darat, akhirnya Pesawat yang ditumpangi Reynand dan rombongan mendarat dengan baik di Bandara.
Mereka bergegas keluar dari Pesawat lalu berjalan keluar dari landasan pacu.
Saat berjalan terdengar deringan Handphone dari milik Reynand. Tanpa menunda-nunda Reynand segera mengangkatnya.
"Abang sudah sampai ya? hati-hati, Bang. Abang Keynand sempat di serang dan kita berhasil menggagalkan upaya mereka untuk mencelakakan Abang Keynand kembali. Sekarang yang kita takutkan, mereka akan berusaha menggagalkan pengobatan untuk Abang Keynand dengan mengambil penawar yang Abang bawa."
Adly melaporkan apa yang terjadi di rumah sakit saat Reynand menuju Desa Habibah. Dan mewanti-wanti agar Reynand lebih berhati-hati, sebab Adly yakin setelah mereka gagal melenyapkan Keynand di Rumah Sakit, kemungkinan mereka akan merampas penawar itu agar Keynand tidak berhasil diselamatkan.
__ADS_1
Bersambung.