
"I Love You My Husband."
Balasan cinta itu menggema di Telinga Rizqy. Pria itu tersenyum lalu masuk ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Beberapa menit dengan kegiatan mandinya, Rizqy keluar. Dia mendapati Habibah sibuk melepaskan Seprai dari tempatnya.
"Kok dilepas?"
Habibah menatap ke arah suara. Dia tersenyum kikuh. Ada rona malu dan juga bahagia terpancar dari raut berwarna cokelat itu.
"Lihat ini, kalau dilihat sama orang lain rasanya malu banget," ucap Habibah tersipu.
Rizqy melirik ke arah Seprai yang ada noda berwarna merah. Setelah itu dia terkekeh bahagia.
"Kok malu seharusnya bangga dong! kamu berhasil menjaga kesucianmu dengan baik dan mempersembahkan untuk Suamimu ini. Aku beruntung mendapatkan Gadis ting ting sepertimu," sahut Rizqy riang.
"Ah ya, terima kasih. Aku juga beruntung Mas mengambilnya setelah terlebih dahulu menikahiku. Iya, meskipun Mas Rizqy ternyata sudah Duda Ganteng."
Rizqy tertawa lagi mendengarkan perkataan Isterinya. Dia menoel hidung mancung itu karena gemas.
"Siapa suruh saat menjelang pernikah kita kamu melarikan diri," ucap Rizqy sedih. Ada rasa sesal jika mengingat apa yang pernah dilakukan kepada Habibah. Namun apa yang dilakukannya dulu sebagai cara untuk melindunginya.
"Aku melarikan diri karena terluka," balas Habibah sedih.
"Maafkan Mas karena telah membuat kamu terluka. Mas melakukan itu hanya semata-mata untuk melindungi kamu dari Dion. Tidak ada cara lain selain melakukannya." Rizqy berucap lembut. Dia menyentuh Pipi mulus itu dengan kedua tangannya seperti membentuk bingkai yang indah. Dia memandang wajah manis Habibah sangat lekat seolah rasa terpusat disana.
"Maafkan Habibah juga karena telah pergi begitu saja tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu. Saat itu aku sangat terluka dan insecure pada diri sendiri. Aku pikir Mas hanya mempermainkan aku karena tidak cantik dan sexy," ucap Habibah sedih.
"Jangan berkata seperti itu lagi, enggak boleh minder sayang. Bagi Mas, Isteriku ini cantik. Tidak ada yang mengetahuinya selain aku. Sini sayang Mas peluk biar enggak berkata yang aneh lagi."
Selesai berucap Rizqy meraih raga Habibah lalu menempatkan pada pelukan yang hangat.
"Kita lupakan apa yang pernah terjadi. Jadikan semua itu sebagai pelajaran dan juga penguji cinta kita. Nyatanya kita bertemu kembali lalu kita menikah dan sekarang kita bersama hingga menua nanti. Aku tak ingin menyiakan kesempatan kedua ini. Mari kita merajut kebersamaan kita seindah dan sebahagia mungkin." Rizqy melanjutkan ucapan sembari mengelus lembut punggung Isterinya.
"Terima kasih Mas," sahut Habibah. Ada keharuan menyelinap pada relung hatinya. Dia tidak salah memutuskan untuk selalu mencintai Pria ini. Meskipun dia pernah merasakan kesakitan dan ternyata Rizqylah satu-satunya penawar dari kesakitan itu. Selama ini dia trauma dan tidak berani membuka hati untuk orang lain. Nyatanya Rizqylah terapi yang ampuh untuk mengusir trauma itu. Hatinya ternyata hanya menginginkan Rizqy, cinta pertamanya.
"Aku mau mandi dulu," ucap Habibah setelah beberapa menit menikmati kehangatan. Rizqy mengurai pelukan dan membiarkan Habibah membersihkan diri.
"Mas bantu untuk mencuci Seprai itu," ucap Rizqy saat melihat Habibah membawa Seprai milik Hotel Ardiaz.
"Jangan Mas, biar Habibah yang melakukannya. Ini bukan tugas Mas Rizqy," ucap Habibah. Dia secepatnya masuk sebelum Seprai itu berpindah tangan.
"Memangnya enggak boleh membantu Isteri mencuci? Membantu Isteri mencuci bukan berarti diperbudak oleh Isteri. Justru saat itulah kerjasama dan keromantisan terasa. Sekelas Nabi saja mau membantu Isterinya, masak Mas yang enggak ada kelasnya enggan sih!" ucap Rizqy menjelaskan.
Habibah tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka Rizqy sangat perhatian. Dia bahkan mau membantu Isteri mengurus rumah. Apa benar dengan apa yang di dengar? Habibah seakan meragukan pendengarannya.
"Terima kasih Mas atas niat baiknya. Biarkan Bibah yang melakukannya. Lagipula Seprai ini milik Hotel bukan milik kita," sahut Habibah dari arah dalam. Dia sudah selesai membersihkan noda itu dan sekarang bersiap-siap untuk bersuci.
"Oh ya, Mas lupa kalau kita ada di Hotel. Berasa kayak di rumah sendiri saja. Baru sadar kalau umur Mas sudah 35 tahun, jadi sedikit pelupa. Tidak mengapa asalkan Mas selalu ingat kamu," sahut Rizqy tersenyum.
Habibah tentu saja sangat bahagia. Pernyataan Rizqy melunturkan kesakitan yang dia rasakan selama ini. Dia merasa tidak sia-sia menempatkan cinta di hatinya untuk Rizqy. Dia juga tidak menyesal karena selama lima tahun hidup dalam kesendirian. Bukankah sekarang sedang meneguk kebahagiaan. Bahagia bersama Pria yang menjadikan dirinya halal dalam hubungan mereka. Habibah sangat mensyukuri hal itu.
Selesai mandi Habibah menemukan Rizqy sedang asyik dengan Laptopnya. Rizqy melirik Habibah sedang merambat mendekatinya. Dia menghentikan kegiatannya, mematikan Laptop lalu menyimpan di Tas ransel.
"Mas wudhu dulu kita shalat berjamaah," ucap Rizqy melesat ke arah kamar mandi.
Selang beberapa menit, pasangan Kekasih yang baru beberapa jam lalu di persatukan dalam ikatan suci pernikahan. Kini melaksanakan ibadah secara berjamaah. Ibadah pertama mereka dalam kebersamaan yang suci.
Habibah menangis dalam sujud setelah mereka selesai shalat. Dia tidak pernah menyangka jodohnya adalah Rizqy. Padahal kemaren dia datang untuk mengikuti pelatihan. Dan tadi pagi pukul 09.00 waktu Lomboq, Rizqy mengucapkan Ijab Kabul atas nama Habibah Rosy Binti Ridwan Rasyid. Ijab Kabul yang seharusnya dilaksanakan lima tahun yang lalu, tadi dilaksanakan dengan waktu sekejab dalam suasana yang sangat sederhana. Tidak ada Tamu undangan, hanya ada saksi dari kedua mempelai. Itupun Saksi yang di hadirkan merupakan sahabat Rizqy dan Habibah yaitu Julaekha Syarifah dan mantan atasan langsungnya dulu yaitu Ibu Nani beserta beberapa Pegawai KUA. Sementara dari Rizqy dia menghadirkan Amaq Rarinya, yaitu Adik Kandung Ayahnya beserta Isteri.
__ADS_1
Ijab kabul pun dilaksanakan langsung di KUA dengan Wali Hakim. Berhubung karena Habibah sebatang kara dan tidak mengenal Kerabatnya. Dia hanya memiliki Inak Kake, Kakak dari Ibunya yang sudah tua. Beliau tidak bisa menghadiri maka Ijab kabul di saksikan lewat Virtual.
Selesai ijab kabul, mereka menikmati hidangan yang sudah di sediakan bersama para Pegawai KUA. Setelah itu sebagai rasa syukur kedua mempelai menyiapkan Nasi Kotak lalu dibagikan kepada orang tidak mampu yang mereka temui disepanjang jalan.
"Maaf sayang pernikahan kita sangat sederhana. Tidak ada resepsi maupun para tamu undangan. Mas mendadak mengajak kamu ke KUA tanpa persiapan apapun. Sebab Aku tidak ingin kamu kabur lagi," ucap Rizqy saat mereka keluar dari Kantor Urusan Agama. Dia mengajak Habibah untuk menelusuri jalanan sembari membagikan makanan. Saat bertemu Lampu merah, baik Rizqy maupun Habibah turun dari Mobil lalu memberikan Nasi Kotak kepada para Pedagang yang ada disana.
"Mas sama mbaknya Pengantin ya? selamat ya? semoga menjadi keluarga Sakinah, mawaddah dan Warohmah."
Ucapan doa yang dilantunkan oleh mereka yang mendapatkan bingkisan dari Rizqy dan Habibah. Tentu saja keduanya mengamini doa yang tak diminta dari mereka. Terlukis kebahagiaan dari kedua Pengantin manakala mereka menikmati keakraban dalam tali silaturahmi pagi ini.
"Terima kasih Bapak-bapak dan Ibu-ibu karena telah mendoakan kami. Semoga segala kebaikan yang kita lakukan bernilai ibadah dan tentunya di terima oleh Tuhan," ucap Rizqy tulus penuh harapan.
Setelah menikmati kebersamaan dengan Para Pedagang asongan di setiap APILL. Rizqy membawa Habibah kembali ke Hotel. Mereka menempati kamar yang disediakan untuk Habibah sebagai peserta.
Tanpa menunggu malam. Rizqy langsung saja memuliakan Isterinya itu. Menjadikan Habibah Isteri seutuhnya dalam hidup seorang Rizqy Anggara.
Saat ini Rizqy dan Habibah selesai melaksanakan Shalat Dzuhur dan zikirnya.
Habibah meraih tangan Rizqy lalu menciumnya dengan takzim. Pun begitu dengan Rizqy, dia meraih pucuk kepala Habibah. Membelainya dengan lembut lalu menyentuhnya dengan penuh cinta berharap kebersamaan ini tak berakhir pisah.
Tidak mudah bagi Rizqy untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya lima tahun yang lalu. Habibah meragukan penjelasan itu. Rizqy tidak bisa berbuat lebih banyak selain menyeret Habibah ke KUA agar Gadis itu tak melarikan diri lagi.
Flash back.
"Aku akan percaya jika kamu memberikan sesuatu untukku. Aku menginginkan kegadisanmu Habibah." Rizqy sekali lagi mengucapkan hal itu. Dia menekan tubuh Habibah yang berusaha melepaskan diri.
"Mas lepaskan, aku ketakutan," pinta Habibah. Dia memohon sembari menancapkan netra sendunya pada netra yang sejarak hanya sejenggal.
"Mas akan melepaskanmu jika kamu bersedia menurutinya. Tidak sulit, Mas hanya meminta kegadisan kamu. Bagaimana sayang?" Rizqy tidak mau melepaskan Habibah. Dia masih menindih tubuh itu tak membiarkan bergerak sesenti pun. Rizqy keukeuh dengan penawarannya. Dia hanya menginginkan Habibah tidak ada orang lain lagi.
"Kesakitan dan trauma?" Rizqy terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Habibah. Dia tak menyangka kalau selama lima tahun berlalu dua kata itu yang ternyata dirasakan Gadis itu.
"Iya. Aku kecewa, aku sakit hati, aku patah hati dan terluka. Bagaimana mungkin orang yang aku percaya ternyata sedang menjadikan aku taruhan. Aku hanya objek taruhan Mas, kan? aku tak bernilai dan berharga di mata seorang Rizqy. Aku sadar diri Mas, aku jelek. Aku terlahir dari keluarga miskin dan bukan keturunan bangsawan seperti Mas Rizqy. Aku sadar diri, aku tidak pantas dan aku tidak layak mendampingi Mas Rizqy yang notabenenya dari kalangan atas, seorang keluarga Pejabat yang terhormat dan berdarah biru. Sebab itu Mas Rizqy menjadikan aku barang taruhan. Apa karena aku tak pantas, makanya Mas Rizqy dengan seenaknya mempermainkan aku. Saat itu aku sangat membenci Mas Rizqy. Rasa benci dan kecewa itu menyeret langkah untuk menjauh dari Mas Rizqy. Sebelum aku dicampakkan dan dibuang seperti sampah tak berharga, apa aku salah menjauhkan diri dari Mas Rizqy. Apa aku salah?" Habibah meluapkan apa yang ingin di katakan kepada Rizqy. Air matanya tumpah bersamaan itu suara tangisnya terdengar sangat jelas.
"Mas, aku sadar aku hanyalah Gadis miskin yang berharap seorang Pangeran mencintaiku dengan tulus. Dalam kenyataannya tidak ada orang Miskin bersanding dengan orang kaya. Dalam kenyataannya tidak ada Pria tampan bersanding dengan Gadis jelek. Dalam kenyataan tidak ada seorang Rizqy yang berdarah biru menikahi Gadis yang tak memiliki keturunan yang sama dengannya. Semua pasti akan menentangnya. Dan kenyataan yang aku dapati aku melibatkan diri dalam angan yang semu. Aku memupuk harapan yang kelewat tinggi. Mengapa aku mencintai seorang Rizqy yang aku sadar sangat sulit aku jangkau. Itulah kesalahan yang aku angankan. Bukan kesalahan Mas Rizqy. Wajar saja Mas Rizqy mempermainkan Gadis sepertiku karena apa? karena Mas Rizqy tahu kalau Habibah Rosy bukan Gadis yang pantas dicintai. Karena apa? karena Habibah Rosy tidak lebih dari si Punguk." Habibah kembali menumpahkan kata-kata bersamaan dengan derasnya air mata yang menggenangi kedua Pipinya.
Rizqy hanya terdiam. Dia menyimak setiap kata yang terlontar dari bibir Habibah. Dia merasa kata-kata itu berubah menjadi anak panah yang melesat menghujani jantungnya. Hatinya merasa tertusuk oleh kata-kata itu. Kini dia tahu selama lima tahun berlalu selain trauma, Habibah membencinya. kata benci yang keluar dari bibir Habibah membuat Jantung Rizqy seakan susah berdetak.
Rizqy melepaskan tubuh Habibah. Dia bangun dari tubuh Habibah yang semula tadi menindih dan menekankan.
Habibah dengan cepat meringkuk di sudut Ranjang. Dia memeluk kedua lutut dengan erat. Rizqy melihat Habibah berusaha melindungi tubuhnya dari kemungkinan buruk yang menimpanya. Raut ketakutan yang nampak membuat Rizqy lebih terluka. Dia tidak menyangka Habibah sangat membencinya bahkan rasa takut yang tergambar nyata pada Gadisnya itu.
"Hikz hikz hikz."
Habibah tidak lagi berucap apapun hanya suara tangis yang mampu terbaca. Tangis itu membuat Rizqy semakin terluka. Dia diliputi rasa sesal dan juga bersalah. Dia lebih baik dihujani kata-kata daripada dihujani tangisan.
Rizqy ingin meraih raga yang terlihat sangat rapuh. Namun urung, tangannya dia tarik kembali. Dia melihat Habibah semakin memperelat melindungi dirinya.
"Maafkan Mas."
Hanya dua kata itu yang berhasil diucapkan oleh Rizqy.
"Maafkan Mas Habibah," ulang Pria itu.
"Memang benar Mas telah menjadikan kamu barang taruhan. Tapi Mas tak punya pilihan lain selain melakukan itu. Dion tidak memberikan opsi lain selain itu. Mas melakukan ini semua untuk melindungi kamu dari Dion. Dion itu bajin***. ...!"
". ... Bajin***? Jika Dion bajin*** terus Mas Rizqy Pria suci gitu? mengapa Mas Rizqy melabelkan Dion sebagai Pria buruk hanya menutupi kebobrokan Mas Rizqy juga. Bukankah kalian sama." Habibah langsung saja menyela penjelasan dari Rizqy.
__ADS_1
"Habibah Rosy, jangan menyela apa yang Mas ucapkan. Dengarkan baik-baik, mengerti?" ucap Rizqy terdengar tegas. Rizqy tidak suka Habibah menikung pembicaraan karena akan mengacaukan apa yang akan disampaikan.
Habibah terdiam mendengarkan nada ketegasan dari yang di ucapkan Rizqy.
"Mas bukan orang yang bisa dikatakan baik. Mas akui kalau Mas bajin***, tapi Mas berusaha untuk tidak mempermainkan para Wanita apalagi mempermainkan kamu. Mas tulus mencintai kamu Habibah terlepas dari taruhan itu." Rizqy mulai melanjutkan penjelasan. Dia menjeda sejenak sebelum melanjutkan. Dia menatap Habibah sangat lekat berusaha mendapatkan kepercayaan Gadis itu. Dia ingin melihat binar cinta yang selalu hadir di netra Habibah saat pandangan mereka beradu.
"Dion mengincar kamu sebagai Gadis selanjutnya yang akan dia nikmati kesuciannya. Kamu Gadis polos, lugu dan masih Virgin tak tersentuh membuat Dion mengincarmu. Mas tak sengaja mendengarkan pembicaraan dengan temannya diseberang telepon. Saat itu Mas hendak menemuinya di ruang kerjanya. Mas urung mengetuk Pintu dan memilih mendengarkan pembicaraannya. Mas penasaran karena yang dia sebut adalah nama kamu." Rizqy kembali melanjutkan penjelasannya.
"Ada Gadis masih Virgin tak tersentuh di Kantor ini. Namanya Habibah Rosy. Tidak terlalu cantik tapi dia memiliki kulit yang cantik terus Bodynya sangat sensual. Saya yakin dia pasti sangat hangat dan nikmat. Belum ada yang punya Bro. Nanti setelah saya puas baru giliran kamu."
"...."
"Tenang, dia sangat mudah ditaklukkan, dengan sedikit uang saja dia langsung okay."
Rizqy menceritakan apa yang pernah di dengarnya. Habibah yang mendengarkan cerita itu sangat sulit mempercayainya. Bisa saja itu karangan dari Rizqy untuk memperdayainya.
"Aku tidak percaya, Mas pasti sedang membuat cerita fiksi untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Mas Rizqy sengaja memfitnah Pak Dion padahal kenyataan sebenarnya Mas Rizqylah yang ingin melakukan itu, iya kan Mas? jangan membodohi aku hanya ingin agar Mas terlihat baik," sahut Habibah tak percaya. Dia masih memeluk tubuhnya sendiri sebagai bentuk perlindungan dirinya.
Rizqy menghela nafas beratnya. Dia terlihat gusar sekaligus bingung harus berkata apalagi untuk meyakinkan Habibah. Dia sadar, penjelasannya tidak akan berhasil membuat Habibah mempercayainya.
"Mas tidak berbohong, semenjak mengetahui itu. Entah kenapa Mas ingin menjaga kamu padahal waktu itu Mas tidak memiliki perasaan apapun. Mas hanya ingin menjaga kamu. Mas melihat kamu seperti saudara Perempuan yang harus aku lindungi. Lambat laut perasaan itu tumbuh tanpa aku bisa mengelak. Apalagi ciuman pertama kita semakin mempertegas bahwa cinta itu ada untuk kamu Habibah." Rizqy berusaha meyakinkan Habibah agar Gadis itu mau mendengarkan penjelasan dan mempercayainya.
"Apa kamu ingat, setiap Dion mencoba merayumu disaat kamu sendiri?" tanya Rizqy mencoba mengingatkan Habibah tentang Dion yang secara diam-diam mengincarnya dan secara diam-diam juga dia berusaha melindungi Gadis itu.
Habibah mencoba mengingatnya. Dia ingat, beberapa kali Dion merayu dan mengajaknya ke tempat hiburan pas waktu malam hari. Habibah selalu menolaknya dengan lembut. Dia juga pernah mendapatkan kata hinaan dan juga pelecehan verbal dari Pria beristeri itu.
"Sok jual mahal dan suci kamu. Palingan kamu sudah bolong dan brek (busuk) karena sering digunakan oleh pacar kamu, iya kan? aku bayar mahal kamu tapi enggak mau. Apa lebih nikmat menggratiskan daripada dibayar. Kamu itu lebih lebih lebih rendah daripada Kupu-kupu malam."
Habibah tentu saja terkejut dan sakit hati mendengarkan perkataan yang tak layak diucapkan oleh Pria terhormat seperti Dion. Habibah mempelototi Pria itu dengan amarah yang tergambar jelas pada wajah.
"Saya tidak seperti yang Bapak tuduhkan. Sebaiknya Bapak pergi sebelum saya berteriak dan mengadukan apa yang Pak Dion ucapkan."
Habibah membalas kata-kata hinaan dengan ketegasan yang ada pada dirinya.
Pria itu hendak menyambar wajah manis yang terselimuti awan kelabu. Namun urung karena tiba-tiba ada suara deheman di ambang Pintu.
"Rizqy?" ucap Dion terkejut.
"Anda sedang apa Pak Dion? kenapa hanya berduaan saja dengan Habibah? Apa Pak Dion menganggunya?" tanya Rizqy terlihat santai. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding sembari menyedekapkan tangannya. Netra jernihnya memandang ke arah Dion dengan tajam lalu beralih ke wajah Habibah dengan raut datar.
"Tidak apa-apa Pak Rizqy, kami hanya mengobrol. Biasa mengobrol masalah pekerjaan," ucap Dion membantah. Dia bersikap sebiasa mungkin untuk mengelabui Rizqy agar tidak mencurigainya.
"Benar begitu Habibah?" Rizqy mengalihkan pertanyaan kepada Gadis itu. Berharap mau berkata jujur namun sepertinya Gadis itu enggan membuka diri.
Habibah hanya terdiam karena sulit untuk menjelaskan apalagi setelah menerima ancaman dari Dion.
Gadis itu tersadar dari ingatan tentang Pria bernama Dion. Dia menatap Rizqy penuh ketelitian untuk menemukan kebohongan yang mungkin saja nampak jelas terlihat.
"Mas Rizqy dengan Pak Dion sama saja. Bukankah Mas Rizqy menginginkan kegadisanku juga? aku tidak akan memberikannya, sampai matipun aku tidak akan memberikannya," ucap Habibah tegas. Dia semakin memperelat tubuhnya.
"Aku akan memaksa dan menyeret kamu ke KUA. Karena berhubung sudah malam. Besok pagi aku akan mengucapkan Ijab kabul atas nama kamu Habibah Rosy binti Ridwan Rasyid. Siapa juga mau merenggut kegadisan kamu saat ini, kamu belum halal untukku jadi besok saja. Enggak nikmat dan mana sudi aku berbagi dengan Setan. Kamu hanya milik seorang Rizqy Anggara. Jadi kamu tidak boleh menolaknya Habibah Rosy!" ucap Rizqy tegas.
Mendengarkan penjelasan dari Rizqy. Habibah terpaku tak percaya. Dia tanpa sadar membuka mulut dan menganga.
"Awas masuk Lalat nanti. Sama Lalat pun aku tidak mau berbagi," ucap Rizqy serius.
Bersambung.
__ADS_1