Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
84


__ADS_3

"Qia, bisakah kamu memberikan kesempatan diri ini untuk selalu bisa melihat senyummu? bagaimana pun caranya akan saya lakukan."


Rizqia terpaku sesaat demi mendengarkan kalimat yang sejatinya permintaan. Dia urung membuka Pintu Mobil karena merasakan tangannya mati rasa seketika.


"Kenapa di saat tak memungkinkan tangan tidak menjalankan tugasnya dengan benar?" batin Rizqia berusaha meraih Pintu Mobil agar bisa keluar dari situasi tak menenangkan ini.


"Saya tidak bisa memastikannya," ucap Rizqia dengan datarnya. Dia kembali meminta izin untuk keluar dari Mobil.


Setelah Rizqia tak ada di sampingnya, Keynand menarik nafas yang terasa berat. Susah ternyata menaklukkan hati Gadis bernama Rizqia. Namun tak ada dalam kamusnya harus menyerah, karena itulah Rizqia harus di dapatkannya.


Bukankah dulu, dia juga pernah memperjuangkan cinta seorang Gadis. Susah payah dia dekati dan memenangkan hatinya, pada akhirnya Gadis itu bersedia hidup bersama dalam indahnya ikatan yang halal.


Dialah Mega Fajrina. Gadis yang di cintainya, tak memudar meskipun dia telah berpulang.


"Honey, Gadis ini sangat sulit aku taklukkan sama sepertimu. Tapi aku tidak akan menyerah demi Raski, kesayangan kita," ucap Keynand lirih sambil memandang gambar seorang Wanita berlesung pipit di Handphone.


"Aku merindukanmu, honey," lanjutnya setelah sejenak terdiam memandang fhoto itu dengan perasaan dalam.


Keynand teringat bagaimana perjuangannya sehingga berhasil mempersunting Gadis pujaan hatinya itu.


"Abang tidak akan pasrah meskipun saat ini merasakan perih di tangan ini yang ikut tergores parutan Kelapa. Seperti berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian," ucap Keynand kala itu.


"Bagaimana jadinya kalau tidak bisa berenang? Bukannya nyampe ke tepian eh malah tenggelam," balas Sang Gadis diakhiri dengan kekehan. Lesung Pipit itu menambah keindahan pesona yang di milikinya.


Hahahahaha


Keynand ikut terkekeh dengan candaan yang di lontarkan oleh Gadis pujaan hatinya.


"Iya juga, sih? Tapi untungnya Abang bisa berenang. Itu artinya Abang akan mendapatkanmu," sahut Keynand dengan penuh keyakinan.


"Buktikan kalau bisa."


"Kamu menantang Abang, Honey? Pasti akan Abang buktikan tapi tidak dengan cara membelah hati karena itu perbuatan konyol," sahut Keynand serius.

__ADS_1


Sang Gadis kembali terkekeh. Pria yang sedang memperjuangkan dirinya ternyata realistis. Dia memegang perutnya karena terlampau melepaskan tawanya. Setelah reda dia lalu berkata. "Abang bisa aja. Terus bagaimana caranya?"


"Jadilah Isteri Abang, maka bukti itu akan kamu rasakan," jawab Keynand serius.


"Honey, hari ini aku bisa memastikan cinta dan kesetiaan itu untuk kamu seorang. Namun esoknya aku tidak bisa memastikan itu karena aku tidak tahu hari esok seperti apa. Kenapa aku bisa berkata seperti ini? Karena aku tidak ingin menipumu dengan sesuatu di luar kemampuanku sebagai Manusia. Yang jelas, aku hanya ingin mencintaimu hari ini, esok, esoknya dan selanjutnya. Satu yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa agar rasa ini tetap hanya untuk kamu." Kalimat yang panjang dan terasa indah untuk di dengar. Kalimat penuh makna itu berasal dari bibir seorang Keynand. Terdengar sangat jujur memenuhi gendang telinga. Ada ketulusan tersirat di pelupuk matanya.


Terlihat rona bahagia pada raut wajah Sang Gadis kala itu. Dan kini, Gadis manis itu masih menempati hati Keynand karena dia adalah Isterinya.


"Maaf Pak Keynand, bisakah membuka Bagasi Mobil karena saya hendak mengambil pesanan Rin," ucap Rizqia menggema di Telinga Keynand membuat Pria itu tersentak kaget. Seketika itu dia tersadar dari ingatan terhadap mendiang Isterinya. Dia menghela nafas untuk menenangkan diri. Rindu kepada mendiang Isteri membuat hati bergerimis. Dia menaruh Handphone di Kantong Jaket. Setelah benda itu tersimpan baru Keynand keluar dari Mobilnya.


"Kok baru nyampe? nyangkut di mana terlebih dulu? jadi curiga, nih?" tanya Riski menyambut kehadiran Keynand dan Rizqia.


"Iya nih? bikin diri ini berjamur karena lelah menunggu," timpal Rin mendukung pertanyaan Riski. Dia sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua? kecanggungan itu pasti akan terjadi? bisa kah mereka berhasil keluar situasi itu atau malah terjebak? terus apakah kebekuan itu berhasil di cairkan atau malah kebersamaan itu tak mengubah apapun. Wanita hamil itu di rundung tanya.


"Dari pada bertanya dan tidak mungkin mendapatkan jawaban, mendingan kalian membantu kami," ucap Keynand meminta.


Riski dan Rin mendekat, penasaran juga dengan apa yang mereka bawa.


"Wuiiih borong, nih? apa kita mau mengkele ntar malam?" tanya Riski berbinar-binar. Dia segera meraih Kantong Kresek yang sepertinya berisi Kepiting.


"Ini dah Otak bisnis, melihat barang nganggur langsung pingin di jual," timpal Rizqia setelahnya menampilkan senyum tipisnya.


"Namanya juga Pedagang penyelamat perdapuran Emak-emak. Melihat ini, rasanya tangan ini gatal ingin meng-uangkannya," sahut Rin dengan tak lupa tersenyum sumringah.


"Pedagang merupakan penggerak perekonomian, jika perekonomian itu lumpuh, maka semua akan ikut merasakannya. Sehebat apapun kekuatan yang lain, tidak ada gunanya jika yang lemah adalah perekonomiannya," lanjut Rin bersemangat dan berapi-api. Dia sangat bangga dengan profesinya, meskipun ada yang memandangnya sebelah mata. Tentu dari mereka yang tak suka kepadanya.


"Melihat semangat kamu seperti ini, kelak akan menjadi pengusaha yang sukses dan bermanfaat untuk orang lain," ucap Riski dengan tulusnya. Ini bukan hanya sekedar penyemangat tapi sebuah doa yang berharap terkabulkan.


"Aamiin." Dengan kompak mereka mengamini.


"Jika sebuah negara dapat di taklukan dengan melumpuhkan ekonominya, terus menurut kamu apa yang bisa dilakukan untuk menaklukkan hati seorang Rizqia?" tanya Keynand terlihat serius.


Rin nampak berpikir. Tidak menyangka mendapatkan pertanyaan yang menurutnya sangat bagus. Menentukan arah hidup dari seorang Keynand dan sahabatnya.

__ADS_1


"Hanya kesabaran dan doa," jawab Rin kemudian setelah menemukan jawaban yang tepat.


Keynand mengangguk mengerti.


Selesai mereka mengangkut hasil belanjaan dengan dibarengi canda dan obrolan yang serius, mereka kemudian melanjutkan dengan sarapan yang sudah di sediakan oleh Sang Bibik.


***


Malam harinya di sebuah Taman Kota, seorang Gadis sedang menunggu kedatangan seseorang. Dia duduk di sebuah bangku dengan pikiran menerawang jauh. Hanya kesendirian yang menemaninya di malam indah bersinarkan rembulan. Sesekali orang-orang memperhatikannya dengan pikiran entah!


Gadis itu menghela nafas dalam, ada kegetiran dalam hati. Riak wajahnya terlihat gelisah, entah apa yang di gelisahkan? Sepertinya beban hidupnya terasa berat, mungkin itu yang di pikirkan orang lain, jika melihat helaan nafasnya yang berkali-kali.


"Maaf Qia, saya terlambat," ucap seorang cowok menghampiri Gadis itu. Dia mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum menyapanya. Gadis yang di panggil Qia itu menoleh ke sumber suara lalu menjawab salam kemudian mempersilahkan Pria untuk duduk di sampingnya dengan jarak yang sangat renggang.


"Tidak apa-apa, saya baru saja sampai," jawab Rizqia datar.


Keheningan mulai terasa, mendadak kebisuan menghinggapi dua sejoli itu.


Keynand sesaat sebelum bertemu dengan Rizqia sudah menyusun kata-kata serapi mungkin dan tertata penuh makna. Banyak sebenarnya ingin di utarakan kepada Gadis itu. Namun hanya satu kalimat yang menurutnya sangat berarti dan sebagai pembuka jalan agar obrolan itu akan lancar penuh dengan keakraban.


Huft


Keynand menarik nafas mengusir sepi.


"Bagaimana khabarmu malam ini, Qia?" tanya Keynand pada akhirnya berhasil mengawali pembicaraan.


"Alhamdulillah, baik," jawab Rizqia singkat. Dia mendongakkan wajahnya sejenak saat menjawab demi menghormati lawan bicaranya, selanjutnya menduduk kembali.


"Syukurlah," sahut Keynand sesingkat mungkin.


"Saya tidak akan merubah kalimat yang sudah saya ucapkan untuk kamu. Menikahlah dengan ku Qia." Selanjutnya Keynand mengucapkan kembali keinginan untuk menikahi Rizqia. Kalimat yang sama dengan nada yang sama. Tetap keseriusan dan tak di barengi keraguan di sana.


Hati Rizqia bergemuruh. Ada kegelisahan yang terjadi kini. Dia berani mendongakkan wajah menatap manik hitam milik Keynand.

__ADS_1


Keynand menatap wajah Rizqia dengan lekat. Sejenak tatapan mereka bertemu menyelami perasaan masing-masing.


"Berikan saya alasan kenapa saya harus menerima anda?"


__ADS_2