Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 35


__ADS_3

"Dady?"


"Iya sayang."


Keynand meraih tubuh kecil itu lalu menempatkannya dalam pelukan.


"Mama egi jauuuuh," ucap Raski dengan aksen khas anak kecil.


Keynand terkejut dengan apa yang didengar. Heran, darimana dia mendapatkan kata-kata itu.


Keynand menatap wajah anaknya sangat lekat. Wajah yang mirip dengan Wanita yang dicintainya.


"Kemana?" pada akhirnya Keynand bertanya. Tidak mungkin Raski tahu kalau Ibu Kandungnya tak mendampinginya. Apa mungkin yang dimaksud adalah Lika.


"Ja-jauuuuh," ucap Raski lagi. Tangannya menunjuk lurus sejauh yang dia maksud.


"Iya, suatu saat nanti kita akan menuju ke tempat Mama." Keynand ingin berkata namun hanya menggema di dalam hati. Mana mungkin juga Raski mengerti bahasa orang dewasa.


"Dadek maunya kemana? hari ini Daddy akan menemani."


"Ja-jauuuuh," ucap Raski lagi.


"Jauh itu kemana?" tanya Keynand gemas. Dia mencubit hidung mancung itu dengan pelan.


"Atiiit hidung Dadek." Raski mengelus hidungnya. Warna merah terlihat jelas disana.


"Maaf."


Raski tersenyum, ada lesung pipit muncul pada kedua Pipinya. Tentu lesung itu terlihat indah dan mempesona. Keynand semakin gemas melihat warisan dari mendiang Isterinya itu.


Dia kembali memeluk tubuh kecil itu. Ingatannya kembali ke masa lalu, saat terakhir dia melihat senyum itu.


Kala itu...


"Selamat, Bayi kalian sangat tampan dan sehat," ucap Dokter Vidya memberikan selamat kepada Keynand yang dengan setia mendampingi persalinan Isterinya. Dia segera mengambil alih Bayi yang digendong oleh seorang Perawat. Dengan wajah bahagia dan tetesan air mata karena terharu, Keynand mengumandang adzan kepada Putranya itu. Setelah melaksanakan kewajiban pertama sebagai seorang Ayah, dia mengembalikan Bayinya untuk dirawat lebih lanjut.


"Honey, terima kasih karena kamu melahirkan seorang Putra yang sangat tampan," ucap Keynand terlihat bahagia. Dia mengecup kening itu dengan lembut penuh cinta.


Ega tersenyum sembari mengedipkan matanya. Setelah itu beberapa Perawat membawa Brangkarnya menuju ruang perawatan.


Di luaran sana sudah menunggu keluarga Lika dan Adly sedangkan orang tua Keynand sedang dalam perjalanan.


"Alhamdulillah. Selamat Nak Keynand semoga Dadek Bayinya menjadi anak yang Soleh, berbakti dan bertaqwa." Ali Hasan memberikan selamat kepada Keynand.


Pun begitu juga yang lainnya. Mereka memberikan selamat penuh dengan doa kebaikan. Keynand menerima dengan lantunan aamiin dan senyum sumringah.


Di saat mereka menikmati kebahagiaan dengan hadirnya anggota keluarga baru, tak disangka dari arah ruang rawat seseorang menghampiri.


"Maaf, Pak Keynand Isteri anda kritis."


Deg


Semua orang terkejut mendengarkan pemberitahuan seorang Perawat. Bahagia yang tadi menggema disekitar perlahan menguap tatkala mendengarkan khabar itu.


"Apa yang terjadi dengan Isteri saya? dia tadi baik-baik saja?" tanya Keynand. Senyumnya tiba-tiba memudar digantikan kepanikan.


"Dokter sedang menangani, silahkan Pak Keynand bertanya langsung kepada Dokter Vidya dan Dokter Rasyid," sahut Perawat itu dengan suara bergetar.


Mereka yang ada disana saling pandang, setelah tersadar mereka bergegas menuju ruang tempat Ega di tangani.


"Dokter, apa yang terjadi dengan Isteri saya?" tanya Keynand begitu melihat Dokter Rasyid keluar dari ruang tersebut.


"Pasien tiba-tiba mengalami sesak dan sesak yang dialami sangat parah. Mohon doanya, semoga kami bisa memberikan pertolongan kepada Pasien. Bagaimanapun juga Tuhanlah yang Maha menyembuhkan. Kita bisa karena diberikan ilmu oleh-NYA dan tetap Tuhanlah yang punya kehendak." Dokter Rasyid menjawab penuh dengan pengharapan.


Apa yang diucapkan oleh Dokter Rasyid membuat Keynand dan lainnya lemas. Mereka luluh lantah dalam ketidak berdayaan sebagai Manusia.


Ali Hasan menepuk bahu Keynand memberikannya kekuatan.


"Saya ingin melihat Isteri saya," ucap Keynand lirih.

__ADS_1


Sungguh dia tidak sanggup menghadapi kondisi ini. Dia baru saja menerima kebahagiaan dengan hadirnya buah hatinya. Dan dalam waktu bersamaan dia mendapatkan duka dari Isterinya. Dia kritis.


"Ya Allah selamatkan Isteri hamba," lirih doa terucap.


"Mohon maaf, pasien sedang ditangani, mohon untuk bersabar dan jangan lupa di barengi dengan doa." Setelah berkata Dokter Rasyid kembali masuk ke dalam ruang tersebut.


Satu menit berlalu.


lima menit berlalu.


Sepuluh menit berlalu.


Tidak ada tanda-tanda salah satu dari Dokter keluar dari ruang yang ada di hadapan mereka.


Keynand bolak balik dengan gelisah. Sesekali dia terlihat berucap doa yang lirih hampir tak terdengar.


Lika dan lainnya turut serta menunggu. Tak ada satupun bersuara hanya helaan nafas yang terdengar. Wanita itu tidak lepas mengucapkan doa dalam hati untuk keselamatan Isteri dari Iparnya.


Adly sesekali menepuk bahu Keynand memberikan kekuatan. Ali Hasan pun tak lelah memberikan kalimat penyemangat. Mereka berdua secara bergiliran berusaha menguatkan Keynand dengan isyarat dan kata-kata.


Sekitar satu jam kemudian, Dokter Vidya keluar. Keynand langsung menyerbu Dokter Vidya dan lainnya dengan pertanyaan.


"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah lewat. Mbak Ega bisa melewati masa kritisnya tapi tidak bisa memastikan apakah dia baik-baik saja." Dokter Vidya menjelaskan dengan wajah suram.


"Apa maksudnya Dokter?"


"Iya, saat ini Mbak Ega bisa melewati masa kritis tapi dia belum stabil, bisa jadi sesaknya akan timbul lagi. Maafkan kami Pak Keynand, kita tidak bisa memastikan Mbak Ega akan baik-baik saja dari kemungkinan buruk. Itu diluar jangkauan kita sebagai Manusia." Vidya menerangkan kondisi Pasiennya kini.


"Ya Tuhan." Keynand mengusapkan wajahnya. Ada kegelisahan dan rasa takut yang tiba-tiba mengerjapnya ketika mendengarkan penjelasan Dokter Vidya.


Dia segera masuk, tak mendengarkan apa yang diucapkan Dokter Vidya selanjutnya.


Keynand duduk pada sebuah Kursi yang ada di samping brankar. Wajah cantik itu terpejam dengan tenangnya. Ada gerakan naik turun yang menandakan Isteri tercintanya masih bernafas.


Dia memegang tangannya dengan erat. Sesekali satu tangan mengelus pucuk Kepala yang masih ditutupi Jilbab.


"Honey, bangunlah, Putra kita baru saja lahir bahkan kamu belum sempat memberikannya cairan yang melegakan dahaganya. Bangunlah Honey." Keynand mengajak Ega berbicara. Menuturkan rasa yang ada di hatinya. Entah kenapa rasanya sesak dan ada ketakutan yang menyusup masuk begitu saja. Ketakutan tentang apa? Keynand tak tahu apa itu.


"Biarkan Abang di sini, Ka. Abang ingin menemani honey," jawab Keynand lesu.


"Tapi tubuh Abang membutuhkan makanan. Nanti kalau Abang sakit bagaimana? Mbak Ega pasti akan sedih melihat Suaminya lemah tak memiliki tenaga saat dia sadar nanti. Mbak Ega tak suka itu."


Lika berusaha membujuk Keynand. Namun usahanya tak membuahkan hasil hingga beberapa menit lamanya.


Lika pasrah, dia sangat mengerti saat ini yang diinginkan Keynand adalah kesadaran dan kesembuhan Isterinya. Dia tak menginginkan yang lainnya termasuk kesehatannya.


Wanita itu tak sanggup lagi berkata apapun. Segala upaya dilakukan agar Keynand mau bangkit dari tempat duduknya lalu beranjak pergi mengistirahatkan diri dan memulihkan tenaganya.


Diam, itu yang terjadi dalam waktu cukup lama. Lika duduk dengan pandangan lurus ke arah Ega. Belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Kini mereka hanya berdua dengan pikiran masing-masing yang penuh pengharapan akan kesembuhan Ega.


Sedangkan yang lainnya secara bergiliran mereka berpamitan dan akan datang kembali untuk menemani Keynand.


Beberapa menit menunggu, Ega masih saja tertidur dengan tenang. Tak ada tanda dia akan membuka mata apalagi merespon genggaman tangan Suaminya.


Keynand tak henti-hentinya meminta agar Isterinya sadar. Dia juga tak putus harapan dalam doa, sekiranya Tuhan menyelamatkan Isterinya itu.


Saat dia dirundung nestapa akan ketidak jelasan kapan Isterinya sadar. Adzan terdengar begitu menenangkan hatinya. Dia menyambut suara adzan itu dengan lantunan doa.


Bergegas dia menghampiri panggilan itu untuk melaksanakan kewajiban. Hanya kepada Tuhan tempat dia mengadukan segala kerisauan hati dan memohon agar harapannya terkabulkan. Harapan kini adalah semoga Isterinya sadar dan sembuh dari sakitnya.


Sepeninggalnya Keynand, Lika kini mengantikannya menjaga Ega. Sebenarnya ada ketakutan dalam hati jika dia kehilangan Iparnya itu. Rasa sesak kini menyeruak dalam hati. Dia teringat Suaminya Reynand. Dan hingga sekarang tak kunjung datang khabarnya. Keyakinan itu belum beranjak pergi jika Suaminya itu masih hidup.


Keyakinan itulah yang dituturkan kepada Ega. Berharap dia memiliki keyakinan yang sama yaitu bersama dengan orang di sayangi. Sehingg dia berjuang untuk sadar dan sembuh dari rasa sakit yang sedang dialaminya.


"Mbak harus kuat, demi Abang Keynand dan Dadek Bayi. Kalian harus hidup bahagia dan selalu bersama-sama. Mbak dengar, kan?"


Lika berbicara panjang lebar, tak disadari olehnya Keynand mendengarkannya. Dia baru saja sampai dari Masjid. Tadi tidak lupa dia berdoa untuk kesembuhan Isterinya.


"Mbak, sadarlah! tidak inginkah melihat Dadek bayi, merawat dan melihat perkembangannya yang sangat menggemaskan. Ada momen bahagia, haru, lucu dan juga kelelahan. Pasti kita akan merasakan semuanya. Disitulah pahala itu mengalir jika kita sabar dan tulus melakukannya."

__ADS_1


Keynand masih berdiri mematung, dia mendengarkan setiap kata yang terucap dari Iparnya. Entah dia sadar, air mata menetes seperti tak terkendali. Baru kali ini air mata itu merembes tak tahu malu. Mungkin itu maunya, seorang Pria bisa saja menitikkan air mata. Air mata bukan hanya milik seorang Wanita tapi milik seorang Laki-laki juga jika dihadapkan dengan seseorang yang disayang.


Saat Lika menggenggam tangan, dia merasa tangan Ega bergerak. Dengan cepat dia memanggil namanya.


Beberapa detik kemudian, dengan perlahan mata itu terbuka. Pandangannya langsung mengarah kepada Lika yang berada di sampingnya.


"Alhamdulillah mbak sadar."


Keynand langsung berhamburan ketika mengetahui Isterinya itu membuka mata.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar honey."


Keynand menghujani Isterinya dengan ciuman. Tak lega disitu saja, sesekali dia memeluk tubuh lemah itu.


Sedangkan Lika seakan mengerti, dia keluar membiarkan mereka berdua untuk berbicara. Sekaligus memanggil Dokter agar memeriksa keadaan Ega.


"Honey, jaga Bayi kita dengan baik. Didik dia dengan ilmu agama islam yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Honey juga harus teguh memegang iman islam dengan sekuat-kuatnya dan jangan kembali lagi pada dunia kelam Abang dulu. Abang janji, kan?"


Ega berucap panjang lebar, dia menatap Suaminya dengan lekat menanti jawaban akan kesanggupan memenuhi apa yang dimintanya.


"Honey kamu ngomong apa, sih? kita akan mendidik anak kita bersama-sama. Kamu akan selalu mendampingi Suamimu ini. Senantiasa mengingatkan akan kelalaiannya. Jangan bicara aneh, kita akan selalu bersama-sama dan kita berdua pasti akan berhasil mendidik anak-anak."


Ega tersenyum indah dan Keynand tak menyangka itu senyum terakhir yang dia lihat dari Isterinya.


"Dady!"


Raski memanggil Keynand berulang kali. Tangan mungilnya mengusap tetesan air mata yang tak disadari oleh Keynand. Keynand tak menyadari berapa lama dia tenggelam dalam ingatan masa lalu.


"Iya sayang, Maafkan Daddy karena membiarkan Dadek sendirian.


"Jadi egi jauuuuh?"


"Jadi, Dadek siap-siap," sahut Keynand tersenyum.


"Horeeee, alan-alan. Dadaaaaa Dady!"


Raski teriak kegirangan. Keynand ikut terkekeh menyaksikan tingkah Putra kesayangannya.


***


"Apa kamu tidak tahu siapa saya?"


Seorang Pegawai hotel menggeleng dengan penuh tanya.


"Aku calon Isteri Keynand, Pemilik dari Hotel Ardiaz. Karena ketidak becusan kalian berdua bisa saja saya pecat hari ini juga. Cepat penuhi apa yang saya minta."


Terucap kalimat perintah dari seorang Wanita muda. angkuh, itu yang diperlihatkan kepada dua Pegawai yang kini sedang ketakutan menghadapi calon Isteri dari seorang Keynand. Jika salah melangkah, bisa saja kehilangan pekerjaan jika ancaman itu terjadi.


"Ya Allah Jessi, baru saja jadi calon Isteri asal ngaku saja sudah belagu. Bagaimana kalau beneran, pasti angkuhnya enggak ketulungan!"


Seorang Gadis berkomentar dengan apa yang dilihat. Dia memandang Wanita yang di panggil Jessi itu dengan senyum mengejek.


"Kamu siapa? apa urusanmu ikut campur." Jessi membalas Gadis itu dengan tatapan sinis dengan rasa tak suka.


"Memangnya kamu siapa? beraninya ingin memecat Pegawai Hotel Ardiaz. Apa kedudukan kamu? ngehalu ya? saya rasa kamu belum sadar dari tidur. Apa karena kebiasaan bangun siang nih jadi asal ngaku. Kasian banget deh lu!"


Gadis itu kembali mengolok Jessi dengan senyum sumringah.


"Untung saja Rizqy terbebas dari Isteri matre, tukang selingkuh dan tukang tipu. Sekarang dia bahagia dengan Kekasih hatinya Habibah Rosy. Ah leganya, rasanya sekarang ingin menertawakan Wanita Tukang ngibul. Jangan lupa melek ya? habis itu lihat belekannya apa ada enggak? bisa saja tuh Poteng putih ada, menyadarkan si Jessi Sang halu dari mimpinya." Gadis itu kembali melancarkan olokan dengan senyum mengembang.


Dia mengajak dua Pegawai Hotel itu berlalu dari hadapan Jessi yang kepanasan.


"Dasar Dedare mosot, akan saya buat perhitungan. Lihat saja nanti Julaekha Syarifah." Jessi berteriak mengumpat Gadis itu di barengi sumpah serapah.


"Nanti bukan sekarang, kan? sekarang, pun saya siap kok!" sahut Gadis itu dengan lambaian tangan mendadah. Dia menarik salah satu kelopak mata bawahnya dengan ujung jari telunjuk tanda mengejek. Tidak puas melakukan itu saja selanjutnya menjulurkan Lidah mengolok Jessi yang kian mencak-mencak.


Keynand yang ada disana sedikit terhibur dengan aksi kedua Wanita itu. Walaupun awalnya dia terkejut mengetahui fakta tentang Jessi.


"Jadi Jessi itu mantan Isteri Rizqy? benar kata orang, selebar daun kelor, apa ada daun yang lebih kecil lagi?" Keynand bermonolog.

__ADS_1


"Siapa Gadis itu?"


Bersambung.


__ADS_2