Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 55


__ADS_3

Sepulang dari Kantor Rizqy langsung mengarahkan tujuannya pada Perusahaan Event Organizer miliknya.


Beberapa menit berkendara pada akhirnya sampai di tujuan. Sebuah Gedung berlantai satu dengan ukuran tidaklah luas. Namun memiliki Gudang yang lumayan besar untuk menyimpan Peralatan, Perlengkapan dan kedaraan operasional yang terdiri dari satu unit Truk dan tiga Mobil Pik up.


Rizqy melangkah menuju ruang Owner dan saat ini EO-nya di pegang oleh orang kepercayaannya.


Karena statusnya menjadi ASN menyebabkannya tidak mempunyai waktu untuk mengelola usahanya itu.


Rizqy memilih orang lain yang memegang usaha miliknya. Namun tetap ikut terlibat jika dia ada waktu luang.


"Pak Rizqy, silahkan."


Hadi, orang kepercayaan dari Rizqy menyambut kedatangannya dengan ramah.


Rizqy tersenyum sembari menganggukkan kepala. Setelah dipersilahkan mereka berdua mendudukkan diri pada Sofa yang tersedia disana.


Tidak lupa menanyakan khabar masing-masing dan berbasa-basi sebelum masuk ke pembicaraan yang sebenarnya.


"Sebagian aset kita sudah tidak layak digunakan. Ada beberapa terop yang rusak terpalnya dan besinya sudah berkarat."


Hadi melaporkan keadaan beberapa aset milik perusahaan yang sudah tidak layak dipakai. Selain itu dia melaporkan beberapa bulan terakhir ini tidak ada pemasukan karena disebabkan tidak adanya Event besar ataupun acara resepsi pernikahan.


Rizqy memahami apa yang sedang terjadi. keadaan saat ini sedang sulit. Perekonomian lumpuh dalam beberapa tahun terakhir ini dan sekarang sedang bangkit untuk kembali bergerak.


"Minta tolong aset-aset di inventarisasi. Pisahkan aset yang benar-benar tidak bisa digunakan lagi. Aset masih bagus dan juga aset yang masih bisa kita rekondisi. Jangan lupa nilainya agar kita mengetahui nilai kerugiannya."


Rizqy menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh orang kepercayaannya itu. Dia juga meminta laporan keuangan beberapa tahun terakhir. Dari laporan keuangan itu, Rizqy bisa mengetahui apa yang terjadi dengan EO miliknya. Dari Laporan keuangan itu dia akan tahu apa yang harus dilakukan.


Setelah mendapatkan Dokumen penting, Rizqy meninggalkan Kantor bersama Hadi. Para Pegawainya terlebih dulu meninggalkan Kantor berhubung belum adanya yang menyewa jasa mereka, sehingga kantor dalam keadaan sepi.


Rizqy mengendarai Mobilnya menuju perumahan Grand Muslim. Beberapa menit berkendara, Pria itu sampai juga di rumahnya.


Kamar nuansa putih menyambut kehadirannya. Namun bukan hanya itu saja, dia merasa ada tangan seseorang menyentuh pinggangnya kemudian memeluk pinggang itu dengan erat dari belakang. Rizqy merasa tubuhnya ditempeli oleh tubuh seseorang yang membuatnya terkejut.


Aroma tubuh itu dia kenal, sangat segar seperti wangi dedaunan bercampur dengan wangi bunga-bunga liar. Wangi ini sangat menggoda sekaligus menenangkan.


"Bibah, Mas tidak menyangka saking rindunya jadi merasakan kehadiranmu disini," ucap Rizqy lirih. Dia memejamkan mata menikmati ketenangan yang dirasakan kini.


Habibah tersenyum, Suaminya mengira kalau dirinya hanyalah fatamorgana.


"Mas, sudah berangannya?" Tanya Habibah di telinga Suaminya.


"Sayang, kamu bisa berbicara?" ucap Rizqy terlonjak kaget.


Plak


Habibah memukul lengan Suaminya pelan membuat Rizqy mengaduh.


"Eh ternyata bisa memukul juga," lanjut Rizqy.


"Menurut Mas aku enggak bisa ngomong gitu? Terus enggak bisa mukul juga? Apa Mas kira aku itu Hantu?" ucap Habibah sewot.


"Nah ini baru Mas percaya. Tadi tak kira Mas sedang berkhayal, berhalusisasi dan berilusi. Eh tahu-tahu beneran Isteriku ada disini."


Selesai berkata Rizqy langsung memeluk tubuh Isterinya erat di sertai dengan ungkapan rindunya.


"Kok bisa tiba-tiba disini, ingin ya?" tanya Rizqy menggoda Habibah.


"Apaan Mas ini? ngarep banget deh!"


"Enggak apa-apa diungkapkan, katanyan zaman emansipasi. Wanita boleh mendatangi Suami dan meminta haknya. Jangan malu-malu gitu? Pingin, kan?" Rizqy gencar menggoda Isterinya membuat wajah Habibah kian merona.


"Enggak gitu juga kali, Mas! Aku kesini hanya karena menjalankan tugas dari Kepala Sekolah. Kalau enggak ada tugas itu mana bisa aku kesini kalau enggak hari libur." Habibah menjelaskan panjang lebar dengan kehadirannya yang tiba-tiba tanpa informasi yang mendahuluinya.


"Oh gitu? Kiraen? Mas rada kecewa lo!" Rizqy memperlihatkan rasa kecewanya yang disengaja.


"Mas ini, wajahnya jangan dibuat sekecewa itu kali! Aku ngerasa percuma mampir kesini," sahut Habibah bernada sedih. Wanita itu berusaha menyembunyikan senyumnya.


"Tidak ada yang percuma, hadirmu sayang berarti, dong!" Rizqy dengan cepat merubah raut sehangat mungkin dengan binar tulus dipelupuk mata.


"Gitu, dong! Iya udah, mandi dulu bentar lagi mau buka."


Rizqy manut, dengan riang dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Habibah keluar dari kamar. Langkahnya menuju Dapur untuk menyiapkan hidangan berbuka.


Selang beberapa menit Rizqy keluar dengan wajah segarnya. Dia nampak tersenyum melihat Isterinya yang nampak sibuk dengan kegiatannya menyajikan beraneka menu yang sudah terhidang di Meja makan.


"Memangnya bisa habis? hanya kita berdua Lo?" ucap Rizqy. Seusai berucap dia mendudukkan diri pada salah satu kursi sembari menunggu waktu yang sebentar lagi tiba.


Habibah hanya tersenyum menanggapi komentar Suaminya. Dia nyengir sambil memandang masakannya yang tersaji disana. Saking semangatnya ingin memasakkan hidangan yang lezat untuk Suaminya, eh ternyata baru sadar ternyata dia hilaf. Rupanya dia laper mata tadi dan sekarang belum tentu bisa dimakan semuanya.


"Mas sudah bilang, kan? Jangan terlalu menuruti keinginan karena keinginan itu belum tentu sesuai kebutuhan kita. Badan kita hanya butuh sepiring Nasi satu potong atau dua potong Daging terus beberapa sendok sayur. Minumnya pun cuma segelas dengan satu biji buah. Sebaiknya, sebagian masakan kamu, kita kasik tetangga yang kekurangan saja."


Rizqy benar-benar melaksanakan ucapannya. Dia meminta Habibah membungkus sebagian lauk pauk yang dimasaknya, Kue-kue yang dibeli dan juga Es buah yang dibuat oleh Isterinya itu.

__ADS_1


Setelah semuanya masuk ke microwave dan disimpan pada Tas kain, barulah Rizqy melangkah keluar dari rumahnya beserta makanan yang akan diberikan kepada tetangga yang membutuhkannya.


Jelang dikumandangkan adzan, Rizqy sudah sampai di rumahnya. Dia dan Habibah segera berbuka setelah terdengar suara Adzan yang menandakan waktu Shalat Magrib tiba.


Rizqy hanya meminum segelas air putih dan memakan tiga biji kurma. Selesai menikmati itu, dia berpamitan untuk melaksanakan Shalat Magrib di Masjid.


***


"Mas, Kopinya biar tetap melek," ucap Habibah sembari menaruh Kopi itu di atas Meja.


"Terima kasih sayang, ucap Rizqy tidak mengalih pandangannya.


"Duduk di samping Mas," lanjutnya begitu terdengar langkah Habibah hendak keluar.


"Apa aku tidak menganggu?"


Rizqy menghentikan fokusnya, menatap wajah Isteri lalu menjawab dengan gelengan, "tidak."


Melihat itu, Habibah dengan cepat menghempaskan bokongnya pada Sofa berdampingan dengan Rizqy.


"Bibah, bisa minta tolong? Aset-aset yang akan diperbaiki minta tolong dianalisis biayanya. Jika ternyata biaya perbaikannya lebih besar dari kita membeli baru, sebaik kita beli baru saja. Terus aset ini kita jual saja," ucap Rizqy menyodorkan data aset yang dimiliki perusahaan Event Organizer LRA miliknya.


Habibah mengambil data itu kemudian mengecek satu persatu baru memulai melakukan hitung-hitungan.


Tidak sukar bagi Habibah untuk melakukan hitung-hitungan, bukankah Emak-emak sangat pintar menghitung anggaran rumah tangga apalagi mengatur anggaran yang senang saat gajian dan sedetik kemudian sesak karena ternyata hanya numpang lewat di rekening.


Gaji tersebut sebagian sudah terkirim di akun masing-masing dan hanya menyisakan beberapa lembar. Nah sisa lembar itulah yang harus diirit-iritkan agar cukup meskipun sebenarnya tidak cukup sama sekali.


Bagi yang berpunya tidak merasakan kesulitan itu, tapi berbeda seperti Habibah yang hanya Guru Honorer dengan Gaji ala kadarnya pasti akan merasakan betapa hematnya hidup ini.


"Termasuk aku," kataku. (Author ikutan nimbrung ceritanya hehehehe).


Habibah menjabarkan dengan detail mulai dari nilai dari aset-aset itu dan segala biaya-biayanya jika diperbaiki. Dan selanjutnya nilai dari aset-aset jika membeli yang baru. Dia juga mengecek harga Terop, tenda dan Kursi plastik maupun Kursi besi.


Menanyakan secara langsung harga-harga tersebut kepada Perusahaan yang telah menjadi Rekanan. Bukan hanya satu tapi beberapa Perusahaan.


Selang beberapa menit berkutat dengan angka-angka, pada akhirnya Habibah mendapatkan nilai biaya dari masing-masing alternatif yang diinginkan Suaminya. Dalam ilmu akuntansi biaya disebut analisis diferensial atau biaya relevan.


"Bagaimana? udah?" tanya Rizqy.


"Udah, menurut data lebih baik membeli baru saja? Biaya perbaikannya mahal juga?" ucap Habibah menyodorkan hasil analisis biaya peralatan yang ingin di rekondisi oleh Rizqy.


"Jika membeli baru adalah relevan, lebih baik kita beli baru saja terus aset-aset rusak yang masih bisa dijual kita jual saja untuk menambah anggarannya. Nah sekarang, apa gampang jualnya? sementara kita butuh Peralatan yang baru secepatnya."


Lelah berdiskusi, sepasang Suami Isteri itu merebahkan punggung pada sandaran sofa.


Rizqy mengucapkan rasa syukur karena bersama Habibah dia bisa menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya. Sekarang tinggal menunggu Mobil Sport mahal kesayangannya laku terjual dan menggantinya dengan Mobil biasa asalkan Ladang rezeki dari para Pegawainya masih bisa bergerak.


"Mas, enggak apa-apa Mobil bagusnya dijual?" tanya Habibah merasa sedih. Mobil itu hasil dari keringat Rizqy dan bukti perjuangan membangun usahanya.


Sebenarnya, Rizqy merupakan Putra dari seorang yang kaya raya di Daerah ini. Putra semata wayang, namun karena orang ketiga atau Ibu Tirinya menyebabkan namanya tercoret dari ahli waris. Apalagi dia menikahi Gadis yang tak sama dengannya, yaitu orang biasa. Seperti Ibu Habibah yang dibuang, Rizqy pun merasakan hal sama.


Suami Habibah itu, konon katanya keturunan marganya dari Selaparang. Dimana marga dari Selaparang strata sosialnya lebih tinggi dari Pejanggik dan lainnya. Dua kerajaan besar yang pernah menguasai Pulau Lomboq ini.


Sekedar informasi.


Pulau Lombok, yang katanya seperti nama bumbu dapur yaitu Cabe. Itu artinya pedas!


Sungguh keliru! Lombok itu sebenarnya bukan cabe tapi Lomboq! dalam bahasa Indonesia berarti lurus.


Nama ini sudah ada sejak zaman Majapahit dan tertulis dalam kitab Negara Kertagama yang berbunyi 'Lomboq Sasak Mirah Adi'.


Sehingga arti dari keseluruhan dari Lomboq Sasak Mirah Adi adalah orang Lombok memiliki hati yang lurus untuk dijadikan permata kejayaan. Jadi, Lombok bukan Cabai yang katanya pedas. Memang, sih, Masyarakatnya suka dengan makanan pedas tapi bukan berarti nama Pulaunya berarti Cabe dan Masyarakatnya juga tidak sepedas cabe. Hatinya lurus, Lomboq dan lempeng tergantung karakter masing-masing.


Jadi Lombok itu bukan Cabai seperti yang diketahui oleh umum, tapi Lomboq itu berarti lurus.


"Enggak apa-apa, Mas ikhlas. Memangnya pesona Lalu Rizqy Anggara akan memudar di mata Habibah Rosy jika menggunakan Cidomo?"


(Kendaraan tradisional yang menggunakan tenaga Kuda atau seperti Delman)


Habibah tergelak mendengarkan perkataan Suaminya. Apalagi mimik Rizqy yang khawatir terlihat amat sangat lucu.


"Mas Rizqy ingin tahu, ya?" Habibah menjawab dengan pertanyaan pula.


Rizqy penasaran sekaligus gregetan dengan tawa yang terdengar sangat renyah.


"Gini ya! gini ya! sudah mulai bermain-main sama Suaminya."


Rizqy menyerang pinggang Habibah, membuat Wanita itu terlonjak kaget.


"Ampuuuun, Miq!"


"Hahahaha, geli Mas."

__ADS_1


Habibah tidak kuasa menahan rasa geli disekujur tubuhnya. Dia meminta Rizqy menyudahi sekaligus melepaskan tawanya.


Sepasang Suami Isteri yang tadinya sibuk berdiskusi kini saling menjahili dengan hasil tawa bahagia.


"Lelah, Mas."


Habibah berusaha menekan perutnya yang mulai terasa sakit dan juga menyeka air mata yang menetes saking lelahnya tertawa.


"Melakukan yang enak-enak saja kita bisa lelah, apalagi bercocok tanam beneran, pasti lelahlah!"


Rizqy menyahuti dengan senyum nakalnya.


"Berarti sekarang kita tidak akan melakukannya."


"Siapa bilang? Kamu datang kesini untuk itu, kan?" Dengan cepat Rizqy menyahuti dan kembali menggoda Isterinya. Habibah panik melihat wajah Suaminya mulai nakal. Dia ancang-ancang untuk melarikan diri.


"Satu, dua, ti. ..." Habibah berhitung dalam hati.


"Tigaaa, kabuuuuuur," teriak Habibah melarikan diri.


Rizqy mengernyitkan dahi sejurus kemudian kembali tertawa dengan diiringi gelengan kepala.


"Takut ternyata dia, dikiraen beneran. Tapi enggak apa-apa deh dijadiin beneran saja," ucap Rizqy dengan senyum merekahnya.


Dia kemudian mematikan Laptonya dan menyimpan Dokumen pentingnya. Sudah tersimpan pada tempat yang aman baru dia meninggalkan ruang kerja menuju pembaringan.


Saat sampai di kamarnya, dia menemukan Habibah tengah asyik dengan gawainya dalam posisi terlihat nyaman.


Rizqy ikut merebahkan diri di sisinya dengan menghadapkan wajahnya pada wajah Habibah sehingga mereka berdua saling bertatapan.


"Sibuk ya?"


"Enggak Mas," jawab Habibah singkat. Dia menghentikan kegiatannya. Membalikkan badan lalu menaruh Handphone di atas Meja yang terletak di samping ranjang.


"Ada apa? sepertinya ada yang mau disampaikan?" tanya Habibah saat posisinya kembali menghadap Suaminya.


"Tidak ada, hanya ingin meminta kamu memejamkan mata," sahut Rizqy. Dia merapikan rambut yang sebagian menutupi wajah Habibah.


"Belum ngantuk, aku ingin mengobrol dengan, Mas," sahut Habibah serius.


"Mau ngobrol apa? apakah serius sehingga tidak ditunda-tunda?" tanya Rizqy serius dengan raut tertarik.


"Ini Mas, aku itu di minta oleh Kepala Sekolah untuk mencari Laptop. Toko Laptop yang bagus dimana, ya?" ucap Habibah.


"Oh gitu? kiraen ada hal yang penting tadi. Gini saja biar Mas yang cari dan juga mengecek spek dari Laptop itu. Hati-hati membeli Laptop, terkadang Casing dengan isi dalamnya tidaklah sama."


Rizqy mulai menjelaskan dengan detail saat melihat Isterinya itu sangat tertarik mendengarkan informasi dari Suaminya itu.


Selama ini dia berhusnudzon saja kalau barang yang dibeli, spesifikasi yang diinformasikan pada produk akan sama dengan produk itu sendiri.


"Ternyata semakin cerdas Otak oknum tersebut tentu semakin cerdas menipu Konsumen," ucap Habibah resah.


"Itulah mengapa kita harus menjadi Koncer alias Konsumen cerdas agar lebih cerdas menemukan produk yang sesuai isi luar dan dalamnya," sahut Rizqy.


"Sebuah Produk ternyata sama seperti Manusia," sambung Habibah seperti ingin mencurahkan isi hatinya.


"Itulah, dalamnya lautan bisa diukur karena ada alatnya sedangkan hati manusia tidak ada alat untuk mengukurnya kecuali kejujuran dari orang tersebut, itupun mustahil terjadi jika menyangkut niat yang buruk. Hanya Tuhan yang tahu setiap hati dari Makhluknya." Rizqy menenangkan Isterinya yang sepertinya gelisah dengan sesuatu.


"Ada apa?"


Habibah menggelengkan Kepala.


"Tidak apa-apa," sahut Rizqy tidak memaksa.


Habibah tersenyum sembari menatap wajah Suaminya penuh sayang.


"Tanda si Koncer bagaimana, sih?" tanya Habibah dengan senyum jahil. Setelah dia menampakkan wajah gelisah, resah dan serius kini Wanita itu berbinar-binar. Sungguh Wanita sangat sulit di mengerti.


"Hah?"


"Tanda cinta seperti ini."


Habibah menempelkan jari jempol dengan jari telunjuk membentuk jari hati ala Korea Selatan.


"Saranghaeyo."


Habibah melanjutkan dengan ucapan.


Rizqy hanya tersenyum, dia lalu membentuk simbol OK sebagai isyarat tangan si Koncer.


"Jangan gunakan simbol OK jika berada di Negara Eropa," ucap Rizqy kemudian.


"Kenapa?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2