
"Astaghfirullah, lupa Bibik," teriak Sang Bibik mengingat sesuatu.
Dua Gadis itu mengarahkan pandangan kepada Sang Bibik.
"Bibik lupa apa?" Rizqia langsung menodong Sang Bibik dengan pertanyaan sebelum dia meraih Gagang Pintu.
"Ini Non, aduh Bibik bingung jadinya..." jawab Sang Bibik sambil menggaruk Jilbabnya.
"Tadi lupa sekarang bingung. Enggak jelas banget, sih?"
"Anu Non!" lanjutnya dengan cengengesan.
"Anunya siapa? Yang jelas dong, Bik." Rizqia gregetan dengan tingkah Sang Bibik yang terlihat aneh seperti salah tingkah.
"Itu mungkin Den Keynand. Tadi dia bilang mau Kemah di sini agar lebih pagi nyampenya di rumah ini terus bisa bareng-bareng ke Kampus dengan Non Qia." Sang Bibik bercerita dengan gestur salah tingkahnya.
"Apa? Emangnya pekarangang rumah ini tempat perkemahan. Tuh orang kok ngawur ya?"
Tak menyangka Keynand senekat itu. Setelah dia mempermalukannya di kampus. Kini Pria itu dengan lancangnya bermalam di pekarangan rumahnya. Rizqia mendengus kesal sembari menatap Sang Bibik dengan mata tajam.
"Maunya apa, sih?" geram Rizqia. Suasana hatinya kian memburuk saat ini.
"Maaf Non, Bibik terlanjur mendukung seperti dukungan kepada Para Wakil kita di Senayan sana," sahut Sang Bibik dengan memasang tampang tak berdosa.
"Bibiiiiiiik, bener-bener ya?"
Ingin marah sama Sang Bibik, tapi tidak bisa. Rizqia memilih meredam kekesalannya.
Rin hanya melongo dengan apa yang didengar dan dilihatnya ini. Dia tidak menyangka Pria bernama Keynand itu senekat ini.
"Enggak masuk akal ini, benar-benar pejuang cinta sejati. Ini mah namanya Arjuna menjemput cinta. Pak Keynand benar-benar serius ingin mengucapkan ijab kabul atas nama mbak. Cieeee!" Rin berkata dengan menggoda sahabatnya itu. Dia menyenggol tubuh Rizqia yang nampak mendengus kesal.
Semburat kekesalan masih saja terpasang pada wajah Rizqia. Sepertinya godaan Rin dan wajah polos Sang Bibik tidak mampu menyingkir awan kelabu yang terlanjur menutupi wajah cantik itu.
"Non, jangan di usir ya? Kasihan sudah kadung datang ke sini. Kalau di suruh pulang, enggak enak. Mendingan di biarin biar ada yang ngejagain Non Qia. Katanya tadi tidak ingin kesepian. Nah ini sudah datang yang ngeramain hati Non Qia, kok malah mukanya ditekuk."
Sang Bibik mulai nyerocos tak hentinya bagaikan burung Beo yang baru pandai berbicara.
"Tahu ah gelap," ucap Rizqia sebal.
"Mana tempat gelapnya Non? Ini mah terang benderang," sahut Sang Bibik kebingungan.
"Bukan ruang ini yang gelap, tapi sudut hatinya yang membutuhkan Pelita," timpal Rin usil.
Sang Bibik kebingungan dengan kalimat Wanita hamil itu. Otaknya tidak mampu memaknai kalimat yang terdengar tidak mungkin. Maklumlah pentium generasi awal.
"Emangnya hati itu adat sudutnya terus gelap juga?" gumannya pelan yang berhasil terdengar oleh kedua Gadis itu.
"Hahahahaha."
Rin tidak kuasa menahan tawa dengan kepolosan Wanita paruh baya itu. Rizqia ingin tertawa, tapi di tahannya dengan memasang wajah cool.
__ADS_1
"Bukan hanya sudut hati yang gelap, namun jantung, empedu, Ginjal dan hari-hariku gelap oleh Pria yang bernama Keynand Putra Ardiaz. Udah ah mau nerangin diri dulu dengan jauh-jauh darinya," sahut Rizqia kemudian berlalu dari hadapan kedua Wanita beda generasi itu.
"Nah, Mbak Rizqianya ngambek."
"Non jangan ngambek, kalau Listrik mati bisa pakai Lilin dan Bibik akan menghadap kepada Pemilik Perusahaan Lilin, memintanya untuk tidak boleh bangkrut. Hari-hari Non Qia akan selalu terang benderang," sahut Sang Bibik dengan santainya.
"Bibik ini ada-ada saja. Terus bagaimana dengan Pak Keynand sedari tadi dia menunggu kemunculan pemilik rumah, tapi tidak muncul-muncul juga, nanti dikira Bibik berpaling hati." Rin mengingatkan Wanita paruh bawa itu.
"Astaghfirullah, Bibik kok lupa lagi, keasyikan ngobrol sama kalian, sih?"
Usai berkata Sang Bibik meraih Gagang Pintu yang sempat di pegangnya. Setelah terbuka dengan langkah lebar menyambut kedatangan tamu tak di undangnya itu.
"Den Keynand ternyata serius mau kemah di sini?" sambut Sang Bibik dengan ramahnya.
"Iya Bibik, omongan itu harus di laksanakan kalau tidak ingin di anggap Munafik. Pria sejati yang dipegang adalah omongannya," Jawab Keynand terdengar mantap.
Sang Bibik mangut-mangut dengan sorot mata yang semakin mengagumi. Dia semakin yakin dengan kehadiran Keynand hari-hari Nonanya akan cerah.
"Mari Den Keynand silahkan." Sang Bibik mempersilahkan untuk masuk ke halaman rumah yang cukup luas.
"Kita buat tenda di sini saja, Ki," ucap Keynand memperhatikan sekelilingnya.
Sang Bibik baru sadar bahwa Keynand tidak sendiri. Ternyata dia bersama seorang Laki-laki muda yang juga terlihat ganteng.
"Ini siapa?"
"Ini Riski, Adik saya Bik," jawab Keynand memperkenalkan Pria yang bersamanya.
"Oh adiknya, tapi kok beda ya, Den? Wajah Adiknya kok enggak kebule-bulean tidak seperti Kakaknya? Tapi handsome juga, kok!"
"Tampi asih, bibik."
Pujian itu membuat Riski tertawa lebar. Dia langsung menanggapi dengan menggunakan bahasa sasak. Pembicaraan itu tentu saja langsung akrab karena tidak terkendala dengan bahasa. Sang Bibik nampak lancar berkomunikasi karena menggunakan bahasanya.
"Jadi Den Riski ini Adik Iparnya Den Keynand, ya?"
"Nggih, Bik," sahut Riski. Dia kini berpamitan untuk mendirikan tenda.
"Udah kerja atau masih kuliah sama seperti Non Qia?" tanyanya lagi terlihat kepo.
"Riski ini Dosennya Non Qia, Bik?" timpal Keynand memberitahu.
Sang Bibik nampak terkejut. Dia memperlihatkan raut tidak percaya. Dia memindai Sosok Riski yang masih terlihat muda.
"Kenapa, Bik? Enggak percaya ya?" tanya Riski masih asyik dengan kegiatannya membuat tenda tempat mereka akan bermalam malan ini.
"Iya, Bibik pikir yang menjadi Dosen itu rata-rata udah umuran dengan Kepala Botak karena tidak mampu menampung ilmu yang membludak. Ternyata ada Dosen daun muda dan ganteng pula. Kalau tahu seperti ini, rasanya Bibik pingin kuliah juga," sahut Sang Bibik malu-malu.
Riski tidak bisa lagi menahan tawanya, begitu juga dengan Keynand. Sedangkan Sang Bibik menggaruk Jilbabnya yang sudah tidak rapi lagi.
"Ah malu juga," lanjut Bibik dengan memilin jilbabnya merasa malu dengan perkataannya sendiri. Tingkahnya seperti anak remaja yang baru pertama kali berkenalan dengan cowok.
__ADS_1
Hahahahaha.
"Bibik lucu banget," ucap Keynand berusaha untuk meredakan tawanya.
Selang beberapa menit, Tenda itu terpasang juga dengan tegaknya.
"Alhamdulillah." terucap rasa syukur dari kedua Pria muda itu.
"Bibik, enggak apa-apa kita Kemah di sini? Apa Qia udah tahu dan ngizinin?" tanya Keynand memastikan kalau mereka akan aman-aman saja berada di sini.
"Non Qia sudah tahu, kok! Terus jawabannya tahu, ah gelap, gitu Den!" jawab Sang Bibik jujur.
"Itu artinya Qia enggak setuju, tuh! Tapi enggak tega juga ngusir kita. Bimbang menyerang perasaannya."
Ucapan Riski membuat Keynand benar-benar galau.
"Jangan dipikirkan. Non Qia hanya keras di luar namun sangat lembut di dalam hatinya."
Setelah menenangkan Keynand, Wanita paruh baya itu kemudian berpamitan untuk mencari sesuatu yang bisa mereka olah menjadi makanan.
Kepergian Sang Bibik meninggalkan keheningan yang tadinya riuh oleh gelak tawa.
Keynand termenung sembari menatap sebuah Jendela kamar yang di yakini ada Rizqia di dalam sana.
Melihat kegelisahan yang tergambar jelas pada wajah Keynand. Riski menghela nafas, tangannya kemudian terulur menepuk bahu Keynand untuk memberikan Pria itu kekuatan.
Keynand merasakan tepukan itu, lalu menoleh kepada seraut wajah yang berusaha menyemangati.
Adiknya itu tahu bahwa hatinya kini tidak tenang karena disebabkan rasa bersalah itu. Dia ingin meminta maaf dan berharap mendapatkan maaf dari Rizqia, meskipun sadar kata maaf itu tidak mampu menghilangkan rasa bersalah itu sendiri. Setidaknya kata memaafkan yang terucap dari Rizqia akan memberikan sedikit kelegaan.
Tidak menunggu terlalu lama, saat Keynand dan Riski asyik mengombrol, terdengar langkah Kaki mendekat.
Semburat bahagia nampak pada wajah kedua Pria tatkala melihat siapa yang menghampiri mereka.
Ada Rizqia berjalan beriringan dengan Sang Bibik dan seorang Wanita muda. Meskipun wajah Rizqia di tekuk dengan aura dinginnya, Keynand tetap bersyukur setidaknya Gadis itu mau menemuinya.
Berbeda dengan Riski. Dia mendapatkan senyum malu-malu dari Gadis bermata sendu itu. Binar-binar terang dipelupuk matanya semakin cerah saja menandakan ada rasa di sana.
"Ini Bibik bawain Singkong, bagaimana kalau kita bakar-bakar singkong dengan kompor ini," ucap Sang Bibik membuyarkan keterpakuan mereka dengan apa yang dilihat.
Riski dengan sigap membantu Rin menggelar Tikar. Begitu juga dengan Keynand mengambil bagian untuk membantu Rizqia.
Mereka kemudian duduk pada Tikar yang sudah di gelar. Keakraban mulai terasa saat obrolan itu di buka.
Namun tidak dengan Keynand. Dia merasa seperti nyamuk yang menganggu gerak tawa dan obrolan serius mereka. Rizqia mendiamkannya sementara yang lain berbicara dengan bahasa Sasak. Tentu saja dia tidak bisa melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Meskipun mengerti apa yang mereka ucapkan, namun tidak mudah untuk mengutarakan apa yang ingin dibicarakannya dengan menggunakan bahasa sasak.
"Nguing, nguing, nguing."
Keynand kemudian bersuara. Dia merasa seperti nyamuk, apa salahnya sekalian menganggu mereka dengan menggunakan suara nyamuk. Keusilannya mulai muncul kini.
Bersambung.
__ADS_1