Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
111


__ADS_3

"Bibah, kamu lihat apa?"


Habibah menoleh ke arah Suaminya lalu memberikan senyum indahnya. Dia tidak langsung menjawab, hanya ada tatapan penuh arti yang terpancar pada matanya.


"Hey, ini bukan sebuah jawaban. Apa kamu ingin menggoda Suamimu ini, hum? Kalau begitu ayok kita ke kamar."


Habibah dengan cepat menggelengkan Kepalanya. Tidak menyangka senyumnya itu diartikan ia sedang menggoda.


"Ada apa dengan Mas Rizqy? Setelah semalam mengeluarkan amarahnya, eh sekarang mendadak mes*m. Cepat sekali suasana hatinya membaik."


Habibah membatin dengan tatapan menyelidik. Dia tahu, Suaminya kini sedang menghadapi guncangan yang sangat dahsyat pada jiwanya. Semalam dia amat sangat terpuruk. Dia meraung hingga menghantam semua yang ada di sekelilingnya hingga hancur berkeping-keping. Saat itu, Habibah melihat sisi lain dari Suaminya. Amarah telah menguasai pikiran Sang Suami. Tak ada keteduhan yang selalu dia tunjukkan saat menatapnya. Hanya nampak sorot tajam penuh kebencian.


Habibah sangat memahami itu. Dia pun akan bersikap sama, jika berada di posisi Suaminya. Ia pasti akan mengamuk dan menghancurkan segala apa yang di lihat untuk melampiaskan kemarahan.


Kemarahan yang tidak bisa diredam begitu saja. Hanya bisa dilegakan apabila menyaksikan dia yang menjadi sumber dari kemarahan itu hancur berkeping-keping.


("Hancurkan Lalu Wira Aryadi hingga dia tidak mampu lagi untuk bangkit. Aku ingin menyaksikan kehancurannya besok pagi. Setelahnya aku yang akan mengambil bagian untuk menghukumnya.")


Kalimat itu terdengar jelas di pendengaran Habibah. Dia tidak bisa mencegah kemarahan Suaminya, sekaligus tidak bisa membela Pemilik nama yang disebutkan dengan lancar oleh Suaminya. Sekalipun Pemilik nama itu adalah Ayah Kandung dari Suaminya.


"Bibah, Laki-laki jahat itu telah membunuh Mama. Dialah yang membunuh Mama. Mama meninggal bukan karena sakit apalagi frustasi seperti anggapan kita selama ini. Ternyata Laki-laki biad*b itulah Pelakunya, Bibah."


Rizqy menangis dalam pelukan Isterinya. Dia lelah meluapkan amarah dan kebenciannya dengan menghancurkan segala apa yang dilihatnya. Bukannya puas, hanya rasa sakit yang semakin menyiksanya.


Untung saja kegaduhan yang dia ciptakan tidak menyebabkan Rizqia dan anak-anak terbangun. Hanya ada mereka bertiga yang mengetahui fakta ini. Dan Keynand berjanji akan membantu untuk mengungkap apa yang terjadi dengan Kiano sebenarnya.


"Katakan padaku apakah aku harus menghormatinya lagi. Tidak! Hanya hukuman yang pantas untuk dia terima."


Habibah menggangguk. Dia semakin erat memeluk tubuh tak berdaya itu. Kenyataan yang bertahun-tahun tersimpan cukup rapi kini terbongkar sudah.


Kiano memiliki bukti itu dan berusaha untuk memberikan bukti itu kepada pihak berwajib, akan tetapi selalu gagal. Dan Pada akhirnya dia memutuskan untuk memberikan bukti itu kepada orang lain sebagai perantara. Kiano tidak salah dengan keyakinannya bahwa Pria yang baru ditemuinya saat itu pasti akan bersedia membantunya. Pria itu adalah Keynand.


Kini bukti itu sudah berada di tangan Rizqy. Sekilas tak ada yang menyadari kalau gelang itu adalah sebuah alat bukti. Dimana dalam gelang tersebut tersimpan rekaman suara dan vidio kejadian yang dialami oleh Ibu Kandungnya sendiri.


"Aku juga akan mengusut penyebab kematian Kiano. Jika terbukti Wira Aryadi terlibat, maka tidak ada pengampunan untuknya."


Kalimat ancaman itu sangat diingatnya. Habibah sempat merinding melihat aura Suaminya yang begitu menakutkan. Apalagi nada dinginnya yang berhasil membekukan seluruh jaringan sel.


"Kok ngelamun? Entar kesambet lo!"


Ucapan itu membuat Habibah tersadar dari ingatan semalam. Dia merasakan tangan kekar itu merangkul pinggangnya dengan erat. Mata teduh itu menatap Habibah dengan lekat. Ada binar cinta yang berpendar terang di sana.


"Tidak ngelamun, aku hanya sedang berpikir saja. Lihatlah, betapa bahagianya mereka."


Rizqy menatap ke arah gerak tawa itu terdengar.


"Yeeeee Kakak Renia dapat Siput lagi."


"Mana? Dadek Raski kok enggak dapet-dapet. Pilih kasih nih, Siputnya."


Hahahaha

__ADS_1


Renia tertawa lebar menyaksikan kekesalan Raski yang nampak lucu.


"Ayok Dadek Raski semangaaat."


Terdengar suara Rizqia memberikan semangat untuk bocah tampan itu.


"Mamiq Rari, cari apa sih?"


Raski melangkah mendekati Riski dan Keynand yang fokus memancing Belut di saluran irigasi area persawahan. Putra Keynand itu memilih untuk menyerah mencari Siput yang tidak kunjung di dapatkannya.


"Wualaaaah, Belut kok Licin banget. Mau kabur ya?"


"Udah tahu kalau Belut itu Licin, megangnya kok kayak gitu? Iya kaburlah." Rizqia mengomentari keluh kesah Keynand yang belum berhasil menaklukkan Hewan licin itu.


"Sepertinya Melong sangat ahli memegang Belut, udah tahu selahnya (cara/trik). Terus megang Belut yang itu tu nantinya pasti ahli banget, iya kan?" Keynand menggoda Gadis itu. Godaan itu membuat Rizqia mempelototinya.


"Daddy, emangnya ada ya Belut yang itu tu? Setahu Kakak Renia enggak ada tuh yang namanya Belut yang itu tu. Penasaran, seperti apa bentuknya? Kakak Renia pingin lihat, dong."


Makjleb


Hahahaha


Riski tertawa lebar mendengarkan pertanyaan Renia. Pertanyaan itu sukses membuat Keynand menggaruk Kepalanya yang tak gatal.


Sementara Rizqia berusaha menahan senyum melihat tingkah Duda itu. Tak menyangka Renia sekritis ini.


"Mangkanya, hati-hati mengatakan kosakata absur di hadapan Renia. Kalau tidak mau terjebak oleh rasa ingin tahunya dia."


Keynand salah tingkah. Dia sangat membenarkan perkataan Riski. Dia lupa, jika keponakan itu rasa ingin tahunya sangat tinggi dengan apa yang dilihat dan didengarnya.


"Kok Daddy enggak jawab?" tanya Renia tak sabaran menunggu jawaban yang tak kunjung diberikan.


"Runguk tuh, runguk (mengurus)."


"Apaan, sih! Bantuin dong, Ki."


"Siapa yang berkata, dia dong yang harus menjelaskan. Kok malah minta bantuan. Ah payah!" usai menolak, Rizqy kembali memperdengarkan tawanya.


"Renia sayang, Belut yang Daddy maksud itu iya itu, Belut yang sedang di pancing oleh Mamiq Rari bukan Belut yang ini. Sebenarnya sama saja, tadi Daddy hanya menunjuk, Belut ini, yang Daddy pegang dan Belut yang itu yang sedang di pancing oleh Mamiq Rari tapi enggak dapet-dapet. Mamiq Rari memang payah, kan?"


Sial, sempat-sempatnya membalas. Riski menggerutu.


"Oh gitu ya?"


Keynand menggangguk meyakinkan. Dia lalu menghembuskan nafasnya dengan lega.


Sementara pasangan Suami Isteri itu masih mengawasi kebersamaan yang riang itu dari kejauhan.


"Mas sudah memikirkannya."


Habibah mengalihkan perhatiannya. Di tatapnya wajah Suaminya yang terlihat serius.

__ADS_1


"Tentang apa?"


"Masa depan Qia."


Habibah berpikir masa depan seperti apa yang diinginkan oleh Rizqy untuk adik satu-satunya itu. Apa mungkin masa depan yang diinginkan oleh Rizqy akan sejalan dengan masa depan yang diinginkan oleh Rizqia. Tentu saja masa depan Gadis itu adalah Keynand.


"Mas tidak ingin Qia seperti kita yang tidak berhasil menekan hasrat. Sebelum kita boleh, Mas menodai kesucian kamu, meskipun itu hanya mencium Bibir kamu saja tapi rasa bersalah itu menghantui sepanjang waktu. Menyentuh yang belum halal tetaplah dosa, meskipun yang kita lakukan saat itu hanya seperti ini."


Rizqy menyentuh bibir berwarna pink itu dengan lembut. Mengingat saat pertama kali merasakan manisnya sentuhan itu yang membuatnya melayang.


"Manis, kamu selalu berhasil membuatku terhanyut sayang."


Habibah mengatur nafasnya yang kelelahan meladeni hasrat Suaminya.


"Tadi kita membahas masa depan Qia, kok malah jadi gini, sih?" Habibah cemberut dengan kelakuan Suaminya yang tiba-tiba menciumnya. Bukan menolak, hanya saja dia malu jika ada orang yang melihat dan mempergoki dirinya yang sedang bermesraan.


"Mas ini."


"Emangnya Mas kenapa?"


"Enggak ada, iya sudah lanjutkan apa yang ingin Mas katakan."


"Jawab dulu, Mas ini apa maksudnya."


"Enggak ada. Mas ini."


"Tuh kan? Emang ya? Wanita itu sulit di mengerti. Mas payah kalau harus mengartikan ucapan kamu yang tak jelas itu."


"Aku juga tidak meminta Mas untuk memikirkan apalagi mengartikannya," sahut Habibah dengan nada kesalnya.


"Tuh kan ngambek! Berarti kamu menyalahkan Mas?"


"Iya, emang enggak boleh?"


"Enggak."


Perdebatan mereka berdua semakin berlanjut saja. Tidak ada yang mau mengalah, padahal yang membuat mereka merangkai kata lebih panjang lagi hanyalah hal sepele.


Rizqy pada akhirnya terdiam. Dia sebenarnya sengaja mempertahankan keegoisan hanya demi melihat wajah kesal Isterinya yang nampak lucu. Lalu dia mengelus Pipi berwarna cokelat dengan lembut sembari berkata.


"Okay, perdebatan kita kamu yang menang. Tentu kemenangan kamu akan mendapatkan penghargaan pastinya."


Habibah tersenyum, matanya mengerjap tak percaya dengan apa yang dikatakan Suaminya. Awalnya dia mengira Suaminya masih diselimuti amarah sehingga segala perkataan dan tingkah lakunya akan membuatnya tersinggung.


"Sepertinya kamu tidak sabaran."


Usai berkata Rizqy mengecup kembali bibir berwarna merah itu dengan lembut lalu semakin dalam.


"Ini hadiah istimewanya dan hadiah yang lebih istimewanya lagi akan segera menyusul setelah Mas membereskan Laki-laki bernama Wira Aryadi itu."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2