
***
Jika Qia telah menemukan arah hidupnya dan sedang menapaki arah itu dengan semangat.
Justru berbeda yang terjadi dengan Keynand. Dia menjalani hari-hari seakan tak tahu tujuan. Setelah penolakan Julaekha untuk berkunjung ke kediaman Reynand, Keynand tidak lagi memiliki warna dalam hidupnya.
Julaekha sibuk dengan karier dan perannya sebagai Nyonya Keynand. Mengajar dan bersoalisasi dengan kalangan atas yang kebanyakan kaum sosialita dan penganut kebebasan. Dia enggan menggabungkan diri dengan Lika dan kawan-kawannya yang menurutnya tidak berkelas.
Kehidupan mereka berdua seakan menjadi dua sisi mata uang. Satu atap tapi memiliki atap yang berbeda. Hidup bersama tapi seakan tidak saling mengenal.
"Dadek Raski akan tinggal bersama kita," ucap Keynand terdengar tegas.
Saat ini mereka sedang menikmati sarapan bersama. Sesekali mereka terkadang sarapan maupun makan malam bersama. Itu merupakan kehendak Julaekha yang menginginkan Keynand memiliki waktu untuknya, walaupun pada kenyataan kehangatan itu tidak sama sekali dia dapatkan.
Keynand berubah menjadi pribadi yang dingin tanpa senyum. Dunianya kini hanya kerja, kerja dan kerja.
Julaekha menghentikan suapannya. Dia mendengus kesal dan mendadak telinganya menjadi iritasi.
"Bisakah aku menolaknya? Aku tidak suka anak kecil apalagi Raski. Anak itu benar-benar bandel," sahut Julaekha menampakkan kekesalannya.
"Dia anak kandungku," ucap Keynand marah.
"Benar, tapi aku Isterimu. Seharusnya kamu lebih mendengarkan keputusanku. Biarlah Raski bersama keluarga Reynand. Bukankah sedari baru lahir Raski sudah di rawat oleh Lika dan hidup bersama mereka. Jadi biarkan saja Lika yang merawatnya. Mas tidak perlu merepotkan diri untuk mengambil alih mengasuh Raski, jika di sini tidak ada yang mengasuhnya," sahut Julaekha tegas dan menekan kata perkata berharap Keynand mau memahami keinginannya dan urung membawa Raski hidup bersama Daddynya. Dia sama sekali tidak mau Raski tinggal bersamanya. Itu sama artinya merusak kesenangannya yang kini tengah di rasakan.
"Tidak ada penolakan, Raski tetap akan tinggal bersama Daddynya. Titik," ucap Keynand tegas. Dia meraih tisu lalu membersihkan sisa-sisa makanan di bibirnya. Setelahnya dia bangkit dari duduknya, meraih Tas kerjanya lalu meninggalkan ruang makan dengan aura mengerikan.
"Terserah kamu, jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa pada Raski," ucap Julaekha sedikit keras berharap Keynand mendengar yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.
"Dasar egois, seharusnya dia fokus membahagiakan aku sebagai Isterinya, kenapa malah membawa Raski di tengah-tengah kita. Keynand benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak mengerti kalau aku tidak suka anak kecil dan memutuskan untuk Child free."
__ADS_1
Julaekha meluapkan kekesalannya dengan mengomeli Suaminya. Dia menggigit Roti tawar yang di olesi dengan keju kesukaannya dengan kasar.
"Keynand benar-benar menyebalkan," umpatnya kembali dengan penuh emosional. Walaupun moodnya sudah berubah, dia tetap menikmati sarapannya dengan lahab. Baginya sarapan sangat penting untuk memulai hari-harinya yang akan dia buat sangat menyenangkan.
Selesai makan, Julaekha memanggil Pembantunya lalu memerintah untuk membersihkan Meja makan. Pembantu paruh baya yang dipekerjakan hanya mengangguk patuh. Julaekha meninggalkan rumah dengan hati yang mendongkol, tapi dia punya rencana untuk membahagiakan moodnya yang rusak. Senyum Wanita cantik itu sedikit mengembang saat dia tahu apa yang harus dilakukan.
***
"Serius banget?" Tegur Reynand saat Lelaki dua anak itu menempatkan diri pada Sofa tamu di ruang kerja adiknya itu. Tidak lupa terlebih dahulu mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Keynand hanya menjawab salam kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.
Mendengarkan pertanyaan dari Abangnya itu, Keynand menghentikan fokusnya dari laptop. Lalu dia berjalan menghampiri Reynand yang duduk di Sofa tamu.
Keynand menghempaskan bok*ng pada Sofa dengan gerakan lesu.
"Itu satu-satunya cara untuk lari dari kehidupan yang kacau ini, meskipun pada kenyataannya tidak akan bisa," ucap Keynand sendu.
"Hanya kamu yang tahu apa yang harus dilakukan," sahut Reynand sembari menepuk bahu Keynand untuk menyalurkan kekuatan.
"Kamu bisa meraihnya bersama Julaekha," bisik hatinya yang berada di sisi lain.
Keynand menggeleng tegas. Qialah pemilik mimpi itu yang ingin di wujudkan oleh Keynand, hanya bersama Qia mimpi itu terasa sangat berarti.
"Berdamailah dengan kenyataan. Bagaimana pun juga Julaekha adalah Isteri kamu dan kamu yang telah memilihnya. Jika saja dulu kamu lebih berhati-hati, maka semua ini tidak akan terjadi. Sudah terlanjur dan kamu tidak bisa merubahnya selain hanya menerimanya dengan ikhlas," ucap Reynand bijak.
Reynand sudah tahu apa yang telah menimpa Keynand sehingga terpaksa menikahi Julaekha. Mengetahui kebenaran itu, Reynand sangat menyayangkan ketidak hati-hatiaan itu. Namun apa mau dikata, menyesalpun tidak akan merubah apapun. Keynand harus menerima keadaan yang diluar kendalinya. Mungkin inilah yang dinamakan takdir.
"Jika saja aku tidak mengingat betapa tidak sukanya Tuhan dengan perceraian mungkin saja aku sudah menceraikannya. Abang benar, aku harus menerimanya meskipun kebahagiaan itu mungkin saja tidak aku dapatkan. Setidaknya dengan bertahan, Setan tidak tertawa karena berhasil membuat janji suci itu terputus."
Usai berkata, Keynand menarik nafasnya dengan berat. Kini yang bisa dilakukannya adalah bertahan dengan biduk rumah tangga yang tak ada Sakinah, mawaddah dan warohmah di dalamnya. Mungkin saja itu bisa dia wujudkan bersama Julaekha, tapi kenapa hatinya meragukan itu. Sebab sepertinya Julaekha tak menginginkannya. Wanita itu hanya menginginkan statusnya sebagai Isteri seorang pengusaha kaya raya. Dia hanya menginginkan statusnya berubah menjadi lebih berkelas dan terpandang di Masyarakat. Hanya itu saja inginnya.
__ADS_1
Reynand menepuk bahu kokoh itu sekali lagi untuk menyemangatinya.
Keynand hanya mengangguk dengan senyum getirnya.
"Oh ya, apa kamu masih mencari keberadaan, Qia?"
"Iya Bang," jawab Keynand singkat.
"Untuk apa? Sebaiknya kamu berhenti mencari Qia. Biarkan dia menjalani hari-harinya dengan tenang, tanpa harus merasa was-was bertemu dengan kamu maupun Julaekha." Reynand menasehati adiknya. Dia ingin baik Keynand maupun Qia menjalani hari-hari dengan tanpa harus terjebak dengan masa lalu. Reynand tahu seperti apa keadaan Gadis itu. Betapa terpuruknya Qia apalagi di tambah penyakit yang di deritanya menambah Gadis itu kian layu. Mungkin dengan mereka tidak bertemu, Qia bisa bangkit dan berjuang kembali meraih hari-harinya yang penuh dengan senyuman, tanpa harus berusaha keras untuk melupakan Keynand. Bisa saja dengan tidak ada perjumpaan di antara mereka akan lebih mudah untuk saling melupakan.
Keynand menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka Reynand tidak lagi berpihak kepadanya. Apa mungkin restu Abangnya itu sudah berpaling kepada Julaekha. Dari setiap permintaan Reynand, dia mengartikan bahwa abangnya itu sudah terbujuk oleh rayuan dan air mata Julaekha. Wanita yang menganggap dirinya sangat mengenaskan karena tak dianggap olehnya.
"Apakah Abang sudah berpihak pada Julaekha?" Tanya Keynand menyelidik.
"Tidak. Sampai kapanpun Abang tidak menyukai Julaekha," jawab Reynand tegas.
"Abang hanya tidak ingin kamu menyakiti Qia untuk kedua kalinya, kasian dia. Lagipula apa yang ingin kamu lakukan juga jika bertemu dengannya. Pertemuan kalian tidak merubah apapun," lanjut Reynand menjelaskan. Dia bukan bermaksud untuk memisahkan adiknya dengan Qia ataupun menyetujui Julaekha sebagai adik ipar. Reynand melakukan ini demi kebaikan mereka berdua. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi agar bisa hidup bersama, karena itulah lebih baik tidak saling menatap yang hanya akan menambah luka.
"Aku butuh penjelasan dari Qia," ucap Keynand datar terkandung emosional di setiap kata yang terucap.
"Penjelasan apa? Tidak ada yang perlu di jelaskan olehnya. Dia tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun yang tidak pernah dia lakukan. Kamu tidak butuh penjelasannya, yang kamu butuhkan sekarang adalah legowo."
Usai berkata Reynand menepuk bahu adiknya yang hanya terdiam.
Keynand hanya menghela nafasnya tak lega. Sulit baginya untuk melupakan Qia, apalagi dipaksa untuk menjauh darinya. Salahkah dia kini memendam kerinduan kepada Gadis itu? Rindu yang sangat menyengsarakan hatinya. Keynand sadar, kini dia tidak berhak memikirkan Gadis lain sementara dia sudah memiliki Isteri.
"Aaaaaaa."
Keynand ingin berteriak, tapi hanya tertahan dalam keterdiamannya.
__ADS_1
Bersambung