Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.56


__ADS_3

Reynand menatap laut bergulung-gulung dari Gedung tertinggi yang dia bangun hasil dari kerja kerasnya. Pandangannya terfokus pada satu titik. Tidak ada senyum dari bibir berwarna merah itu. Wajahnya datar dan dingin. Auranya kian mencekam terpancar dari manik hitam misterius miliknya.


Semenjak hari itu, Reynand seakan tidak memiliki warna dan corak dalam hidupnya. Kian dingin dan hitam, meskipun keindahan mengelilinginya, namun itu semua tak membuatnya tersenyum.


Tok


Tok


Tok


Dalam keterdiamannya, telinganya masih mendengar suara pintu diketuk. Dia mempersilahkan orang dibalik Pintu masuk dengan singkat dan terdengar sangat dingin.


"Ada Ibu Julaekha ingin bertemu dengan Abang Bos."


Terdengar helaan nafas berat dari Reynand. Sebenarnya sudah muak berhadapan dengan Wanita itu, tapi Reynand bertahan hanya demi sebuah tujuan.


"Biarkan saja Wanita itu masuk."


Fitri mengangguk mengerti, meskipun Reynand tidak melihat anggukan itu. Pemilik Hotel Ardiaz itu tetap berdiri kokoh membelakangi Fitri tanpa bergerak sesentipun.


Fitri keluar dari ruang kerja Reynand tanpa melanjutkan pembicaraan. Dia mempersilahkan Julaekha masuk ke ruang kerja Reynand dengan wajah datar dan tak ramah.


"Belajarlah bersikap ramah dan tersenyum manis kepadaku mulai sekarang. Tidak mungkin kan kamu akan bermusuhan denganku sementara aku nantinya merupakan Isteri dari Reynand Putra Ardiaz, Bos kamu."


Usai berkata Julaekha tersenyum jumawa. Bagi Fitri senyum itu terlihat seperti ejekan untuknya. Fitri memutar matanya dengan malas tanpa membalas perkataan Wanita di hadapannya. Sekretaris Hotel Ardiaz itu memilih melanjutkan pekerjaan daripada meladeni Wanita tidak waras yang merupakan tamunya.


Julaekha mendengus kesal karena Fitri tidak menanggapinya. Dia berjalan menuju ruang kerja Reynand dengan senyum mengembang.


Sesampainya di ruang kerja Reynand yang luas dan mewah, sejenak Julaekha terpana mengagumi apa yang terlihat oleh kedua matanya. Tidak cukup pada kemewahan itu saja, punggung kokoh Reynand membuatnya kian terkesima. Dalam khayalnya dia merebahkan kepalanya pada punggung Reynand lalu kedua tangannya memeluk perut sixpack miliknya. Dia akan menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh tinggi tegap itu. Sementara Reynand akan membisikkan kata cinta sembari mengelus tangannya penuh rasa. Oh indahnya. Julaekha tersenyum malu membayangkannya.


Memilih tak mengkhayal, Julaekha mengulurkan tangannya ingin mewujudkan angannya menjadi nyata.


"Jangan berusaha untuk mencoba menyentuhku," ucap Reynand dingin. Julaekha menarik tangannya. Dia mendengus kesal dengan raut wajah yang berusaha menahan kemarahan.


"Rey!"


"Jangan panggil saya Rey, apakah kita akrab? Dimana sopan santun anda Ibu Julaekha Syarifah?"

__ADS_1


Dingin dan tegas. Tidak menyangka kalimat itu yang dia dengar hari ini dari Reynand sendiri. Dia mengira kebersamaannya beberapa hari ini telah berhasil membuat Reynand melihatnya lalu menyukainya. Reynand selalu mendengarkan apapun yang dia katakan tanpa penolakan. Tidak ada riak ketidaksukaan di sana sebaliknya senyumnya sedikit hangat dan penuh perhatian. Bolehkah dia sombong telah mendapatkan perhatian dari Reynand dari sikapnya yang senantiasa mendengarkannya dan mempercayainya


"Okey, okey. Rupanya aku terlalu percaya diri dengan kedekatan kita akhir-akhir ini sehingga aku tidak sungkan memanggilmu dengan panggilan yang hanya boleh disebut oleh orang tuamu dan mereka yang menjadi sahabatmu, bukan begitu?. ..."


"Apa tujuan anda menemui saya?"


Reynand tidak membiarkan Julaekha melanjutkan kata-katanya yang menurutnya hanya sebuah usaha.


Julaekha menarik nafas panjang sebagai cara menenangkan diri dari kekesalan. Awalnya dia ingin berbicara panjang lebar dengan tujuan membangun kedekatan dengan Reynand. Berusaha menampilkan pesona dengan kelembutan agar Reynand terkesan. Rupanya Reynand tidak suka berbasa-basi.


"Aku hanya ingin menghiburmu. Aku tahu kamu belum bisa menerima kenyataan kalau Lika dan Keynand telah tiada. Sampai kapan Pak Reynand akan terus-terusan bersedih?" jawab Wanita itu dengan raut sedih, namun Reynand tidak melihat itu. Tidak ada tanggapan dari Sosok tampan itu membuat Julaekha tidak melanjutkan perkataannya, dia menunggu Reynand menanggapi apa yang dia katakan. Akan tetapi Sosok itu tetap berdiri tegap memunggunginya. Tidak ada suara, apalagi hanya deheman sebagai isyarat dia mendengarkannya. Sunyi dan kelam yang terpancar dari Sosok tampan yang menurutnya sangat menarik.


"Bukan hanya kamu saja yang berduka dan kehilangan. Aku pun juga merasakannya. Tidakkah kamu ingat, aku mantan Isteri Keynand yang sedang menjalani masa iddah. Tentu saja aku sedih dan sangat kehilangan Keynand. Bisakah kita berdua saling menguatkan lalu bersama-sama menerima takdir ini dengan ikhlas dan berlapang dada. Apakah selamanya kita akan bersedih, tanpa berusaha mereguh kebahagiaan? Lika dan Keynand sudah tenang di sana, seharusnya kita juga menyongsong kebahagiaan. Hidup itu tetap berlanjut, kan? Masih ada anak-anak yang ingin melihat senyum ayahnya dan juga ingin bahagia bersama ayahnya. Apakah Pak Reynand tidak ingin mewujudkan itu."


Julaekha dengan penuh kelembutan berusaha menarik Reynand yang larut dalam duka dan kehilangan.


"Lanjutkan hidup kamu Julaekha, jangan pedulikan hidup saya," ucap Reynand tegas tidak terbantah. Dia tidak ingin siapapun menyentuh kehidupannya.


"Aku ingin menjalani hidup ini bersama kamu Pak Reynand. Aku ingin berusaha menikmati kebahagiaan bersama kamu Pak Reynand. Kita berdua, mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Aku yakin, aku akan bisa membuat Pak Reynand bahagia dan melupakan kesedihan itu."


Julaekha mengungkapkan harapan dan keinginannya selama ini. Dia kembali berusaha ingin menyentuh Reynand. Mungkin dengan sentuhan fisik itu membuat Reynand tidak berdaya lalu menginginkan belaian itu. Namun usahanya kian terpental dengan suara bariton Lelaki itu yang terdengar tegas.


Julaekha menarik nafas lelah. Dari ketegasan itu dia tahu Reynand sangat sulit ditaklukkan. Tapi tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Keteguhan hati Reynand pastinya ada celah kelemahannya di sana, sangat yakin dia pasti akan bisa mengambil hati Lelaki itu dari Lika.


"Bolehkah aku jujur? Aku yakin dengan kejujuran ini akan membuat hatimu terbuka untukku," ucap Julaekha mulai berusaha. Tidak ada pergerakan di sana. Reynand masih fokus dengan titik jauh yang menjadi pusat matanya.


huft


Lagi-lagi Wanita cantik itu menarik nafas guna menenangkan debar jantungnya. Berada pada satu ruangan dengan Reynand membuat tubuhnya kian merindu sentuhan dari Pemilik hati Lika itu. Entah kenapa Julaekha sangat tertarik dengannya. Ada sesuatu yang berbeda pada diri Reynand yang tidak dimiliki oleh Keynand. Sikapnya yang dingin, wajahnya yang datar dan sorot mata tajam berwarna hitam itu membuat hasratnya kian bergejolak. Reynand sangat sulit disentuh.


"Sejujurnya aku jatuh cinta sejak lama kepadamu, Pak Reynand. Dulu saat kita sama-sama satu kampus, tapi sayangnya saat itu kamu sedang bersama Almira. Dalam dunia seorang Reynand hanya ada Almira dan Gadis lain tidak terlihat sama sekali. Aku memilih memendam perasaan itu sendiri tanpa diketahui oleh siapapun. Aku malu mengungkapkannya hingga akhirnya memilih menjauh darimu dan membawa cinta itu sendiri dalam rindu hingga detik ini."


Pengakuan Julaekha membuat Reynand terkejut. Tidak menyangka Wanita itu diam-diam mencintainya. Namun Reynand tidak mau terperdaya apalagi takluk oleh kejujuran itu. Meskipun seandainya benar, apakah dia harus membalasnya? Tentu saja tidak. Reynand menegaskan kepada dirinya hanya ada Lika dalam hatinya.


"Hanya ada Lika dalam hati ini dan saya tidak akan mengizinkan Wanita lain untuk menggantikannya."


Reynand menegaskan dan tidak memberikan kesempatan kepada Julaekha untuk menggantikan Sang Isteri di hati dan hidupnya.

__ADS_1


"Anak-anakmu membutuhkan kasih sayang seorang Ibu, Rey!. Aku bersedia menjadi Ibu sambung dan memberikan seluruh perhatian, kasih sayangku kepada Renia, Raski dan Baby Ayana. Aku janji Rey!"


Dengan wajah sedih dan penuh kelembutan Julaekha meminta. Meskipun mengemis pun dia rela asalkan Reynand mau menerimanya.


"anak-anak saya tidak membutuhkan Ibu sambung," ucap Reynand tegas terdengar sangat dingin membuat lutut Julaekha kian lemas. Dia di tolak.


Wanita itu mengumpat dalam hati dan mengeraskan kepalan tangannya menahan kemarahan. Dia ingin sekali memeluk tubuh tinggi tegap itu lalu berteriak sekencangnya agar di dengar oleh dunia bahwa Lelaki itu melecehkannya.


"Rey!"


"Jangan panggil saya Rey! Apakah anda berhak?"


Suara itu menggelegar menandakan Reynand berada dibatas kesabarannya.


"Tidak ada kepentingan anda di sini, bisakah anda meninggalkan ruangan saya," ucap Reynand dengan nada dingin mengusir Wanita itu. Reynand sudah jengah mendengarkan kejujuran Julaekha yang penuh dengan tipu daya. Apa Wanita itu mengira Reynand sebodoh itu sehingga mudah dikendalikannya? Sayangnya, Reynand lebih licik dari dirinya. Bukan dia yang terjebak dalam permainan, tapi justru Julaekha-lah yang terjebak sebenarnya.


Tanpa sepatah kata pun Julaekha meninggalkan ruang kerja Reynand dengan hentakan kaki sebagai cara meluapkan kekesalannya agar Reynand mengerti.


Jelang beberapa menit kepergian Julaekha, Pintu kembali di ketuk lalu terdengar Pintu di buka. Dari ambang Pintu terlihat wajah Adly dan Fitri. Pasangan Suami Isteri itu tersenyum lalu melangkah dengan pasti menghadap Reynand yang sudah duduk pada Kursi kebesarannya.


"Pak Rizqy mengirimkan pasukannya untuk menyelamatkan Qia. Saat ini mereka menyerbu markas dan dia juga mengirimkan Pengacaranya untuk membebaskan Habibah Rosy."


Laporan itu menerbitkan senyum tipis penuh dengan ejekan pada bibir milik Reynand.


"Apa Rizqy ikut?"


"Tidak, dia masih di Jakarta hanya anak buahnya saja," jawab Adly memberitahu.


"Pecundang," ucap Reynand penuh dengan ejekan.


"Kita ke markas," lanjutnya dengan aura yang siap menghancurkan.


Adly dan Fitri mengangguk. Dua orang Laki-laki dan satu orang Wanita keluar dari ruang kerja Reynand. Fitri kembali ke ruang kerjanya. Wanita itu akan tetap berada di Kantor sementara Reynand dan Adly akan menuju ke Markas untuk menyambut kedatangan Para anak buah dari Rizqy.


Saat Reynand dan Adly berjalan, salah satunya melirik ke arah tembok lalu terbitlah senyum tipis sangat tipis tidak terlihat tapi sangat mematikan milik dari Reynand.


"Kena kalian," batinnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2