Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.76


__ADS_3

(Iya Pak, saya akan segera ke sana, terima kasih atas informasinya)


Rizqia mengakhiri panggilan dari seseorang. Dia menghela nafas dengan gelisah.


"Ada apa, dek? Itu telepon dari siapa?" tanya Habibah yang melihat kegelisahan adik iparnya itu.


"Ibu Wina Winata berulah. Dia ingin mengambil alih perusahaan yang bukan merupakan haknya. Tadi orang kepercayaan Kak Rizqy yang memberitahu," jawab Rizqia. Ada kegelisahan dan kegeraman yang berusaha di kendalikan oleh Gadis itu. Dia tidak ingin amarah menguasainya sehingga tidak bisa berbuat sesuatu. Rizqia berusaha menenangkan dirinya dengan beristighfar.


"Qia tahu ini pasti akan terjadi, jika Wanita itu mendengarkan khabar Kak Rizqy yang koma. Dasar Pelakor licik! sudah cukup kebahagiaannya, saatnya ditumpaskan," lanjutnya dengan berapi-api.


"Iya, Kak Bibah dukung dengan doa. Kamu tidak boleh kalah. Itu hak kamu, Mas Rizqy dan Kiano. Perjuangkan apa yang harus di perjuangkan, maaf Kak Bibah tidak bisa hadir, tapi Kak Bibah percaya bahwa kamu bisa. Kamu adalah Baiq Rizqia Anggeraini, pewaris sah sebenarnya yang selama ini dicampakkan oleh Ayah kandungnya sendiri," ucap Habibah menyemangati Rizqia.


Tidak di sangka cobaan ini berlanjut. Belum saja Rizqy sadar dari koma, kini orang-orang tak tahu malu dan tamak itu ingin mengklaim sesuatu yang bukanlah haknya.


Wanita bernama Wina Winata itu memanglah ibu tiri dari Rizqy dan Rizqia, tapi dia lupa siapa Pemilik sah dari perkebunan itu. Perkebunan Kopi, Vanila dan Kakao merupakan milik keluarga dari Ibu Kandung Rizqy, Kiano dan juga Rizqia. Kemudian perkebunan itu diwariskan kepada ketiga anaknya. Selain itu juga ketiganya mendapatkan hibah dari Kakek pihak Ayahnya berupa tanah pertanian yang luasnya beberapa hektar. Baik Rizqy dan Rizqia selama ini tidak pernah menikmati warisan tersebut, sebab di kuasai oleh Sang Ayah dan Wina Winata, Sang Isteri muda.


Mereka memilih membuka usaha sendiri. Rizqy membuka usaha Event Organizer, sedangkan Rizqia memiliki usaha perkebunan bunga di kota Kembang.


"Kak Bibah, Qia akan ke Perusahaan," ucap Rizqia sembari menaruh Laptop ke dalam Tas ranselnya. Dia kemudian menyampirkan tas itu pada punggungnya.


"Assalamu'alaikum."


Saat Rizqia akan keluar, terdengar ucapan salam yang sangat familiar.


Kemudian Keynand muncul dari balik pintu setelah balasan salam terucap dari Habibah dan Rizqia.


"Pak Keynand!"


"Abang Keynand."


Kompak mereka berdua memanggil namanya.


"Maaf, pagi-pagi saya sudah mengganggu Kak Bibah dan Qia. Saya ke sini ingin melihat keadaan Kak Rizqy dan mengetahui perkembangannya sekaligus membawa sarapan," ucap Keynand dengan canggung.


"Tidak apa-apa Pak Keynand, silahkan masuk."


Habibah mempersilahkan Keynand masuk. Dia memberikan isyarat kepada Rizqia agar tidak melanjutkan langkahnya.


"Pak Keynand mau dibuatin apa? Teh atau kopi? Biar Qia yang buatkan," lanjut Habibah. Dia kembali melirik Rizqia yang sudah bersiap menarik gagang pintu.


"Kak Bibah aja ya? Qia buru-buru nih! takut telat," sahut Rizqia dengan wajah memelasnya.


Keynand memperhatikan Rizqia yang memang benar sudah bersiap-siap meninggalkannya.


"Apa beneran buru-buru takut telat atau sengaja menghindar?" tanya Keynand dengan pandangan menyelidik.


"Tuan bodak, aku beneran buru-buru bukan menghindar, untuk apa juga? Beneran seriusan, ada sesuatu yang harus di selesaikan. Udah ah, Tuan Bodak tidak usah su'udzon kenapa?" ucap Rizqia dengan nada sewot.


"Aku kan cuma nanya Melong, kenapa musti ngegas. Jangan bilang sebenarnya kamu kecelek, iya kan?"


Keynand tersenyum. Dia sangat bahagia, Rizqia tanpa sadar memanggilnya dengan panggilan kesayangannya.

__ADS_1


"Ah pagi ini terasa indah kayaknya." Keynand membatin dengan ukiran senyum indah di bibirnya.


"Kak Bibah, Qia pergi. Assalamu'alaikum."


Rizqia berpamitan, lalu benar-benar meninggalkan Habibah yang tersenyum lucu dan Keynand yang terbengong.


"Eh kok di tinggal?" ucap Keynand sedikit berteriak tidak terima.


"Qia kenapa gandengannya tidak di bawa sekalian, kasian lo!" ucap Habibah, lalu tertawa geli.


"Pak Keynand buruan temenin Qia. Dia mau berperang melawan Nenek Rompang, takutnya entar Nenek Rompangnya kalah. Sana buruan," ucap Habibah ambigu sembari mendorong tubuh Keynand.


"Perusahaan mau di kudeta sama Ibu Tirinya," lanjutnya.


"Hah?! Ini mah bahaya," ucap Keynand langsung mengerti. Dia berpamitan dengan Habibah kemudian meninggalkan ruang rawat Rizqy.


Beberapa menit kemudian Keynand berhasil mengejar Rizqia yang sedang berada di parkiran.


"Apa Melong butuh Rider, Tuan Bodak siap mengantar." Keynand berucap saat menemukan Rizqia sedang kebingungan. Motornya mati total.


"Motornya saja mengerti, hahahaha," ucap Keynand dalam hati sembari bersorak riang.


"Apa pake Mobil?"


"Tidak, Rider moto Gp, dong! biar sat set sat set," jawab Keynand serius. Rizqia terlihat ragu.


"Udah ah jangan pakai mikir. Kamu mau ke perusahaan, kan? Abang akan membantu. Tenang saja, Abang bisa mengusir berbagai jenis hama, rayap, kecoa dan lain sebagainya," sahut Keynand meyakinkan.


"Semenjak di tahan, apa Abang berteman sama mereka?" tanya Rizqia ragu-ragu.


"Tapi ini bukan binatang asli, lo! tapi jadi-jadian, apa mempan?" tanya Rizqia masih tak percaya.


"Eh! Loh kok?"


Rizqia terkaget begitu menyadari pembicaraan mereka berdua yang tidak jelas kemana arahnya, sedikit belok membentang luas.


"Ayok, jangan pakai mikir lagi. Ini pakai Jaket biar aman, tenang saja Abang tidak minta dipeluk, kok?!" ucap Keynand di akhiri dengan tawa ceria saat mendapatkan mata indah itu kian membesar.


Entah dari mana Keynand mendapatkan Sepeda motor seperti milik Pembalab The doctor? Yang jelas kendaraan roda dua itu berada di depan mata.


"Kok bisa kebetulan ini? Apa Abang Keynand menyabotase Motor aku ya? Terus menodong motor punya orang? Biasanya begitu, kan? Kalau kepepet?" pikiran konyol bergerilya dalam benak Rizqia sembari memicingkan mata ke arah Keynand yang terlihat innocent.


"Aku juga kepepet," lanjutnya membatin.


Awalnya Rizqia ragu, tapi karena tidak ada waktu, pada akhirnya Rizqia memilih ikut dengan Keynand.


Motor sejenis Ducati melesat meninggalkan kawasan Mandalika menuju ke arah Mentaram.


Untungnya Rizqia tidak menggunakan Gamis melainkan Kulot longgar yang dipadukan dengan Tunik sehingga dia merasa nyaman saat menggunakan Sepeda Motor.


"Ya Tuhan, apa ini salah? Abang Keynand bukanlah mahrom, tapi ini darurat," batin Rizqia. Sebisa mungkin dia tidak menyentuh tubuh Keynand. Gadis itu berpegangan pada Jaket tebal yang digunakan Laki-laki itu.

__ADS_1


"Duh jantung ini berdisko ria kayaknya? Meskipun enggak dipepetin, jaga jarak gitu? tapi tetap aja deg-degkan. Enggak apa-apa sekarang jaga jarak, nanti juga kalau udah jadi Isteri bakalan namplok terus nempel deh kayak prangko. Pasti alasannya safety, dong! Asyiiiiik! ah ngayal, yang penting jadi." Keynand membatin sembari senyam senyum kegirangan.


Sekitar satu jam kurang, Keynand yang di tumpangi oleh Rizqia sampai di halaman Lobi sebuah Gedung berlantai dua yang lumayan besar.


"Alhamdulillah, nyampe. Kamu tidak apa-apa Melong? Jilbabnya kagak terbang, kan?" tanya Keynand sambil memperhatikan penampilan Gadis itu.


"Bukan hanya jilbab saja yang mau terbang, tapi Otak juga kayaknya tercecer. Duh kliyengan," sahut Rizqia berusaha menenangkan diri.


"Maaf, tadinya pingin cepat jadinya langsung wuuuuus seperti yang di iklan itu, loh? Yang dulunya pernah berjaya," sahut Keynand tanpa dosa.


Rizqia tidak menyahuti. Gadis itu hanya memamerkan wajah masamnya. Keynand menanggapinya dengan senyum jenakanya yang innocent tanpa beban.


Rizqia merapikan kembali penampilannya lalu menumbuhkan kepercayaan dirinya. Dia melihat keadaan wajahnya dari kaca spion untuk memastikan tidak terjadi sesuatu di sana.


Keynand ikut memperhatikan penampilannya. Rambutnya di tata ulang kemudian Jaket yang dikenakannya di rapikan kembali. Penampilannya memang sangat sederhana. Tidak ada seragam kebesarannya. Keynand menggunakan Celana Chino berwarna hitam, Kaos oblong berwarna putih dengan Jaket berwarna hitam dan Sepatu kets berwarna putih. Penampilannya terlihat sangat santai, tidak ada Keynand yang serius dengan seragam formalnya.


"Aku benar-benar ganteng, iya kan?" ucap Keynand menaik turunkan alisnya sembari memainkan rambutnya yang dibuat berantakan.


"Mau tebar pesona sama siapa? Ibu Wina Winata?" tanya Rizqia.


"Ibu Tirinya Melong ya? Cantik enggak? Apa masih muda? Apa boleh di deketin?" tanya Keynand mengikuti langkah Rizqia.


"Cantik dan masih muda seumuran dengan Kak Rizqy. Oh ya boleh kok di deketin, dia pasti seneng apalagi yang deketin wajah seger gini. Bakalan salto dia saking senengnya. Pelakor, kan gitu!" ucap Rizqia dengan lancar.


"Tanpa sadar Melong mengakui akan ketampananku, bukan cuma itu saja kamu cemburu, iya kan? rasanya enggak rela gitu, loh!" ucap Keynand di akhiri tawa bahagianya melihat mata Rizqia yang melotot.


"Aku deketin biar dapet anak tirinya? Modus maksudnya," sambungnya dengan serius dan tulus.


"Oh."


"Kok cuma oh? Enggak ada jawaban atau bilang kita ke KUA, yok!"


"Jadi Abang Keynand ingin ke KUA? Tapi enggak tahu KUA dimana, bilang, dong! Nanti Qia anter kalau di sini sudah beres," sahut Rizqia serius.


"Kamu serius mau daftar?"


"Enggaklah, bukan aku yang musti daftar. Aku cuma anterin Abang Keynand saja biar enggak kesasar," sahut Rizqia serius.


"Ini maksudnya apa, sih? Kok aku jadi bingung?" guman Keynand sembari menggaruk Kepalanya yang tak gatal.


"Nona Qia!"


Panggil seseorang yang membuat keduanya menghentikan langkah.


"Alhamdulillah Nona Qia sudah sampai. Mari Nona ke arah sini."


Orang kepercayaan Rizqy menyambut Rizqia dengan ramah lalu menuntunnya menuju ke sebuah ruangan tempat pertemuan berlangsung.


"Maaf Non Qia, Laki-laki ini siapa?" tanya Orang kepercayaan Rizqy melihat ke arah Keynand.


Rizqia dan Keynand saling pandang. Terlihat sekali keduanya bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Bodyguard," jawab Keynand spontan.


Bersambung.


__ADS_2