Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
89


__ADS_3

"Tunjukkan profesionalisme kamu sebagai Sekretaris Perusahaan Hermawan Group. Bukan wajah yang di tunjukkan tapi Otak cerdas kamu. Apa kamu ngerasa diri sudah okay?"


Ucapan dingin dan tegas dari Andra membuat Sekretarisnya terkaget. Dia tidak menyangka Ceo-nya itu menegurnya dengan teramat menohok seperti ini. Dia merasa persendiannya lemas seketika.


Wanita itu langsung tak bergerak dengan berusaha menahan diri dari kemarahannya. Tangannya terkepal di bawah Meja berusaha menyembunyikan gemuruh di dalam dada. Dia sangat kesal dengan teguran Andra yang telah mengganggu kesenangannya.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini, Pak Keynand," ucap Andra dengan raut kecewa dan tidak enak hati.


Keynand mengangguk kemudian menampilkan senyum ramahnya.


Mereka kembali melanjutkan meeting dengan berbagai macam program yang akan di kerjakan dalam kerja sama dua perusahaan besar tersebut.


Selanjutnya, karena sudah tidak ada lagi pembahasan dan Keynand sepakat dengan kerja sama mereka, meeting mereka tutup dengan wajah cerah.


"Terima kasih, Pak Keynand sudah mau bekerja sama dengan kami," ucap Andra menjabat tangan Keynand yang kini resmi menjadi rekan bisnisnya.


"Sama-sama Pak Andra," sahut Keynand singkat.


"Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar sambil minum Kopi?" Lanjut Andra meminta persetujuan Keynand. Dia menunggu jawaban Keynand sejenak yang terlihat mempertimbangkannya.


"Boleh, kami juga tidak terlalu sibuk," jawab Keynand cepat karena tidak enak hati membiarkan Andra menunggu terlalu lama.


Kemudian mereka menuju ke sebuah Cofee shop terdekat agar bisa mengobrol dengan santai.


"Jadi Pak Adly ini seorang Koki? Bagaimana ceritanya tiba-tiba ahli profesi?" tanya Andra saat mereka sedang menunggu pesanan masing-masing. Saat ini mereka sudah berada di sebuah Coffe Shop.


"Bagi saya ini sebuah kejutan. Tiba-tiba Pak Bos menodong saya. Pak Andra pasti tahu apa yang dilakukan jika di todong, kalau bukan nurut," jawab Adly dengan pasrahnya.


Hahahaha


Andra tertawa melihat riak wajah yang menunjukkan ketidak berdayaan Koki muda itu.


"Kalau di todong kita bisa melawan, kok!" Lanjutnya setelah tawa yang diperdengarkan reda.


"Masalahnya, saya yang menjadi korban eh malah saya yang dipersalahkan, bukan kah seperti itu zaman sekarang? Dunia sudah terbalik. Benar kata lirik lagu yang terkenal itu, Kaki di Kepala dan Kepala di Kaki. Salah di benarkan dan benar di salahkan dan Dunia ini panggung sandiwara. Oknum yang berkepentingan tiba-tiba mendadak menjadi penulis skenario. Sungguh edan, kan?" Sahut Adly panjang lebar kesana kemari yang jika di simak mengandung sindiran.


"Jangan ngeluh gini, dong? Sudah nasipnya seperti ini, iya terima saja," timpal Keynand dengan senyum mengembang karena dia tetap akan menggenggam kemenangan.


"Saya hanya kasihan sama Pak Bos, makanya manut saja. Di mana lagi ketemu orang sebaik saya, susah Pak Boss. Makanya baik-baik sama saya kalau tidak ingin Pak Bos di tinggal di tengah jalan, eh salah maksudnya di pinggir jalan. Kalau di tengah jalan ketabrak entar," sahut Adly tidak mau kalah.


Andra kembali tertawa dengan kelakuan dua Pria di hadapannya. Tidak menyangka mereka seakrab ini dan saling melempar candaan maupun ledekan.


"Iya, tunggu Fitri selesai cuti baru saya kembalikan ke habitatmu," ucap Keynand kesal.


"Habitat? Manusia saya, bukan binatang, di benerin itu," protes Adly tidak mau terima.

__ADS_1


"Oh ya Pak Andra saya dengar anda sudah menikah baru-baru ini? Lagi Pengantin baru, dong?" Keynand mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Adly.


"Iya Alhamdulillah," jawab Andra dengan binar-binar kebahagiaan di wajahnya.


"Wah selamat, Barakallahu laka wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fii khair," ucap Keynand mendoakan Pengantin baru ini. Terdengar Andra mengamini dengan suara lirih penuh penghayatan.


"Pak Andra, ajaklah Sang Isteri berbulan madu di Hotel kami," lanjut Keynand memberikan paket honeymoon kepada Andra.


"Terima kasih Pak Keynand, rencananya juga mau mengajak Wafa honeymoon tapi waktu luang kita belum ada. Isteri saya belum bisa meninggalkan Kuliahnya, jadi harus menunggu liburan semesternya. Kalau sehari dua hari kayaknya tanggung," jawab Andra sangat senang dengan hadiah yang di berikan oleh Keynand. Tentu dia tidak akan menolak tawaran ini.


"Isteri Pak Andra masih kuliah?" tanya Keynand tak percaya. Dia mendengar selentingan khabar bahwa Andra seorang Play boy dan sudah banyak barisan mantannya. Siapapun Gadis itu pasti bisa di taklukkannya. Baginya apa susahnya mendapatkan Gadis dari kalangan mana pun seperti Isterinya.


"Iya, Wafa Yasmin masih kuliah, baru semester awal," jawab Andra. Di pelupuk mata terlihat binar-binar cinta tatkala menyebut nama Sang Isteri.


"Berarti masih muda belia, dong? Kalau semester awal kira-kira umurnya masih belasan tahun. Luar biasa ternyata Pak Andra ini." Adly ikut berkomentar.


"Alhamdulillah, jodohnya ternyata muda belia. Tidak menyangka pertemuan kita di Mini Mart kala itu menjadikan kita berjodoh. Isteri saya seorang Yatim Piatu dan dari kalangan biasa. Karena mendapatkan Beasiswa sehingga dia bisa kuliah di Universitas terbaik di Daerah ini dan untuk biaya hidupnya dia bekerja di Mini Mart. Saya beruntung di pertemukan dengan Gadis sebaik dan sesoleha Wafa Yasmin." Andra menjawab tanggapan Adly dengan mengisahkan kisah hidupnya bertemu Wafa Yasmin yang kini menjadi Isterinya.


"Mungkin kalian sudah mendengar rumor-rumor tentang saya yang tak baik. Saya tentu saja mengiyakan karena kenyataannya seperti itu. Semenjak menikah dengan Wafa, saya menemukan jalan hidup yang sebenarnya. Wafa, Gadis belia itu berhasil menarik saya dari lembah kemaksiatan dan menuntun ke cahaya iman yang selama ini amat sangat jauh karena saya yang menjauhinya. Sekarang saya sedang berusaha untuk berhijrah agar lebih baik lagi." Andra melanjutkan kisahnya yang syarat akan hikmah. Di matanya menyimpan keharuan yang tak ingin di ketahui orang lain sekaligus cinta tulus yang di pastikan untuk Gadis bernama Wafa Yasmin itu.


Kisah ini seakan mengembalikan dirinya pada titik terpuruk dalam hidupnya. Keynand juga dulu sama dengan Andra, jauh dari Tuhan dekat dengan kemaksiatan. Dia mantan pecandu obat-obat terlarang dan suka mabuk-mabukkan. Untungnya dia tidak pernah melakukan hubungan haram dengan seorang Wanita.


Setelah bertemu dengan Ega dan Lika, dia menemukan hidayah dan kemudian memutuskan berhijrah.


Dari kejadian ini, bisa di lihat betapa hebatnya seorang Wanita. Mereka terlihat lemah, tapi justru di sanalah kekuatan itu bersemayan.


Di balik Pria hebat ada Wanita hebat di sampingnya. Tentu ungkapan itu sangat benar.


Cukup lama juga mereka mengobrol, pada akhirnya Keynand dan Adly berpamitan. Nantinya mereka akan sering bertemu karena kerja sama yang sedang mereka jalin.


***


"Kok bengong Pak Boss? Apa ingin punya Isteri seperti Pak Andra yang umurnya berada di posisi belasan tahun?" tanya Adly dengan serius.


Plak


Keynand menepuk tangan Adly yang sedang menyetir. Pria itu selalu ada celah untuk meledeknya.


"Sembarangan, sekarang putar balik menuju Kampus Mentaram," ucap Keynand memerintahkan.


Adly yang di perintah langsung tancap Gas memutar haluan di depan sana dengan lincahnya membuat Keynand terombang ambing.


"Adly, yang benar nyetirnya saya belum mau celaka. Saya ingin dong nikah untuk kedua kalinya dan menikmati Apem lagi," ucap Keynand menegur Adly yang mendadak kesurupan.


"Tenang Pak Bos, Insyaa Allah kita nyampe dengan selamat. Jangan meragukan keahlian saya mengemudikan Mobil ini. Pak Boss enggak tahu rupanya kalau saya ini sebenarnya Pembalap," sahut Adly dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Pembalap apa?" tanya Keynand tak percaya dengan pengakuan Pria di sampingnya.


"Rupanya Pak Boss enggak pernah denger. Maklumlah saya tidak sombong, makanya enggak di umbar-umbar prestasinya," jawab Adly dengan di akhiri tawa saat melihat raut penasaran Keynand. Adly terus saja mempercepat spido membuat Keynand mengomel karena tidak ingin kegilaan Sopir dadakan itu nantinya berujung ke rumah sakit. Masih mending ke rumah sakit, kalau ke kuburan bagaimana? Kan enggak bisa cek out.


"Adlyyyyy pelan-pelan, ini bukan sirkuit," teriak Keynand menyadarkannya.


"Tenang, sudah saya bilang saya itu Pembalab dan beberapa kali naik podium. Sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkan saya sebagai Pembalap lari karung," sahut Adly dengan lantang. Setelah itu dia kembali tertawa menyaksikan kekagetan dari Keynand


"Apaaa!" Keynand mempelototi Adly yang masih memperdengarkan tawa membahananya. Laju Mobil tak melambat sedikit pun seakan di kejar oleh Penagih Hutang, hingga dengan cepat mencapai tujuan.


"Udah sampai Pak Boss," ucap Adly saat Mobil itu terpakir dengan baik di parkiran Kampus.


"Alhamdulillah, untung saja tidak nyungsep tadi," ucap Keynand dengan wajah yang tak sedap di lihat.


Sudah kurang tampan, ada kata lain tidak di bawahnya untuk menggambarkan betapa kacaunya paras Keynand sekarang ini. Ah kasian!


"Pak Boss mau ngapain?" tanya Adly heran melihat Keynand keluar dari Mobil lalu melangkah ke arah Gedung kampus.


"Mau kuliah lagi kali ya?" Tanya Adly lagi karena Keynand sama sekali tak menanggapinya.


Keynand melangkah dengan pasti menuju Fakultas Ekonomi, di mana Rizqia sedang menimba ilmu. Dia tak mengerti kenapa langkahnya tiba-tiba saja ingin menemui Gadis itu.


Rindu kah dia kini?


Yang jelas apa yang ada dalam dirinya sangat sulit di kendalikan. Keinginannya itu telah menyeretnya untuk mendatangi tempat di mana sekarang dia berpijak.


Saat melewati sebuah taman kecil tempat para Mahasiswa biasa nongkrong. Mata jernih Keynand melihat dua Gadis yang tengah asyik membahas sesuatu. Mereka berdua duduk di sebuah bangku berpayungkan Pohon Kenari yang sangat rindang.


Salah satu dari mereka sedang menikmati Snack dan sesekali berucap saat selesai menelan. Sedangkan Gadis satunya sibuk dengan Buku yang di pegang. Sesekali dia mencomot Keripik Kentang yang di pegang temannya. Ada gerak tawa menemani mereka saat yang di obrolkan adalah hal-hal lucu. Dan keseriusan terjadi tatkala membicarakan sesuatu yang membutuhkan kesungguhan.


Keynand melihat kedua Gadis itu dari kejauhan. Ada rasa lega melihat keriangan keduanya terutama Gadis yang membuat tak mampu mengendalikan diri. Dia tersenyum sambil berusaha menahan segala keinginan di hatinya. Dia ingin menemui Gadis itu, tapi ada sesuatu yang menghadang. Keynand mengetahui apa alasannya sehingga memilih melihatnya dari kejauhan. Cukup itu saja saat ini.


"Qia." Keynand menyebut nama Gadis itu dalam hati.


Cukup lama dia berdiri di kejauhan hanya demi melihat Sang Gadis. Pada akhirnya Pria tampan itu membalikkan badan lalu melangkah pergi meninggalkan tempat ini.


Tak bisa berbicara dengannya, setidaknya dia bisa melihat senyumnya. Cukup itu saja sebagai pengobat rasa yang entah apa? Rindu kah namanya?


Sementara salah satu dari Gadis di sana, merasa ada yang memanggil namanya. Dia memendarkan penglihatan untuk mencari Sosok yang keberadaannya dia rasakan di sini. Pandangannya jatuh pada seorang Laki-laki yang telah melangkah pergi. Dia seakan mengenal punggung itu yang berbalut Baju resmi berwarna biru black. Meski tak lama mengenal Pria itu, tapi Sosoknya sudah terekam dalam ingatannya. Meskipun hanya melihat punggungnya, Gadis itu mampu mengenalinya.


"Pak Keynand."


Bersambung.


Terima kasih telah berkenan membaca dan jangan lupa meluangkan waktu untuk membaca Alquran.

__ADS_1


__ADS_2