
"Ganggu woiii."
Lika dan Reynand terdiam saat mendengarkan suara seseorang. Mereka saling pandang dengan saling melempar tanya.
"Mas dengar, kan?"
"Iya," jawab Reynand singkat.
"Aku pikir aku saja yang mendengarnya," ucap Lika. Dia meminum Air gula yang dibuat Suaminya untuk mengurangi ketegangan. Rasanya tidak enak hati gara-gara kegembiraan mereka membuat orang lain terganggu.
"Kamu tidak merinding, kan? berarti itu Manusia?"
Perkataan Reynand membuat Lika kian penasaran. Apa tadi orang iseng atau orang lain yang merasa terganggu sehingga protes. Lika bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke arah Pintu. Dia membuka Pintu lalu menoleh ke kanan dan kiri, namun hanya keheningan yang dia temukan. Sudah larut malam, sudah dipastikan penghuni kamar Hotel sudah terlelap dalam tidur mereka.
Lika masih berdiri di ambang pintu, telinganya menangkap suara-suara aneh yang membuatnya seketika meremang. Gegas dia menutup pintu dengan langkah cepat menuju Dapur. Dia masih menemukan Suaminya terduduk di tempatnya.
Reynand memperhatikan wajah Isterinya yang nampak memerah. Dia tidak memburunya dengan pertanyaan karena Lika langsung mengambil air gula lalu meneguknya hingga tandas.
"Ada apa? kok wajah kamu merona begitu?" tanya Reynand penasaran.
"Tidak ada apa-apa, kita tidur yok!" sahut Lika. Dia menarik tangan Suaminya agar ikut bersamanya.
"Kok buru-buru? apa ada yang kamu lihat di luar tadi?" tanya Reynand kian penasaran dengan rona malu di wajah Isterinya.
"Tidak lihat apa-apa, kok! Mas kita tidur saja yok, udah ngantuk nih!" ucap Lika. Dia menguap untuk mendukung ucapannya. Hal Itu hanya alasannya saja agar tak menjelaskan perubahan pada wajahnya. Lagipula tidak perlu juga menceritakan apa yang di dengarnya, itu merupakan rahasia yang harus di jaga.
"Okay." Reynand tak memaksa. Dia gegas mengimbangi langkah Lika yang terlihat terburu-buru.
Sesampai di Kamar, Wanita hamil itu langsung merebahkan tubuh mungilnya. Sedangkan Reynand ikut merebahkan diri di samping Isterinya.
Lika kemudian memejamkan mata untuk menghilangkan suara-suara aneh yang terlanjur melekat pada pendengarannya.
"Kamu sudah tidur? kok cepat banget," tanya Reynand. Dia melihat Lika menganggukkan Kepala membuatnya tersenyum geli.
"Jangan pura-pura tidur, deh!"
Reynand menggelitik pinggang Lika membuatnya terlonjak kaget.
"Mas ini usil banget, sih! aku beneran mau tidur," sahut Lika berusaha untuk tidak terpengaruh dengan keusilan Suaminya.
"Oh ya? benarkah itu?" tanya Reynand tidak percaya.
"Apa mungkin kamu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu? wajah malu kamu itu tidak pandai berbohong sayang?" lanjut Reynand berusaha mengorek sebab musibab wajah Lika terlihat merona.
"Beneran aku mau tidur, apa enggak lihat aku sudah memejamkan mata. Mas Reynand enggak percayaan sih?"
"Iya, Mas percaya kalau kamu sedang mengigau dalam kesadaran. Bukan Isteriku kalau tidak ngigau sehari saja." Reynand menyahuti perkataan Isterinya. Melihat Lika dengan mata terpejam dihiasi senyum merekahnya membuat Reynand kian gemas.
"Okay kalau begitu, Mas juga mau tidur," lanjutnya. Dia kemudian mengatur posisinya lalu tangan kekarnya mendekap tubuh Isterinya.
"lupa sesuatu," ucap Reynand setelah mengingat kebiasaan yang terlewatkan. Dia bangun dari rebahannya lalu secepat kilat membubuhkan kecupan pada kening Isterinya.
"Selamat tidur Isteri dan calon Adik Renia."
Selesai berucap Reynand kembali merebahkan diri lalu memejamkan mata.
"Terima kasih, Mas. Ups sorry kok aku bicara padahal lagi tidur," ucap Lika dengan mata terpejam. Senyumnya nampak riang pada wajah putihnya.
Reynand kian gemas, dia semakin posesif.
__ADS_1
Lika bahagia. Aman dan nyaman rasanya terselimuti oleh tangan kekar Suaminya.
Keduanya kemudian terlelap saling memegang kemesraan itu.
Cukup lama mereka berdua terlelap dalam mimpi sampai akhirnya Lika terbangun gara-gara mendengar suara dari salah satu Handphone.
"Siapa sih?" tanya Lika. Dia bangun dari rebahannya kemudian mencari benda elektronik itu. Dia menemukan benda itu di atas Nakas. Setelah membukanya, tidak ada pesan ataupun panggilan masuk. Lika mengembalikan Handphone itu, kemudian kembali merebahkan diri di samping Suaminya.
Saat dia kembali memejamkan mata, benda itu kembali memperdengarkan suaranya membuat Lika kembali membuka mata.
"Siapa, sih? menganggu orang saja."
Lika menggerutu sambil meraih Handphone untuk mengetahui siapa orang yang menghubunginya, siapa tahu saja sangat penting sehingga berulang kali menghubungi.
Namun Handphonenya sama seperti tadi, tidak ada pesan apapun.
"Apa Handphone milik Mas Reynand ya?"
Lika melihat benda itu ada di atas nakas. Dia hendak meraihnya, tangannya sudah terulur tapi dengan segera di tarik kembali. Rasanya tidak sopan membuka Handphone milik Suami tanpa seizinnya.
"Tidur Ka, kok malah bangun."
Lika terlonjak kaget mendengar suara Reynand. Wanita hamil itu melihat ke arah Suaminya yang sudah terduduk. Reynand menguap berusaha untuk mengembalikan kesadarannya.
"Ini ada yang menghubungi Mas Reynand, makanya aku terbangun," jawab Lika. Dia mengambil Handphone itu lalu menyodorkan kepada Suaminya.
"Siapa tahu saja penting," lanjutnya.
Reynand mengambil benda itu dengan malas. Dia mengusap layar, saat membaca pesan itu matanya langsung membeliak. Rasa kantuk yang di rasakan Reynand langsung buyar entah kemana.
"Apa-apaan ini?" ucapnya geram.
"Ada apa Mas?" Lika bertanya melihat perubahan wajah Reynand. Kemarahan itu tergambar jelas pada wajahnya.
(Mas Reynand kenapa tidak pernah datang lagi ke rumahku, aku kangen. Apa Mas tidak kangen denganku, malam ini aku kangen banget ingin kembali menikmati dekapan peluk hangatmu. aku tunggu Mas!)
Deg
Lika membaca pesan romantis dari seseorang. Seketika ada rasa sesak menghantamnya.
"Mas jelaskan, siapa Wanita ini? apa Mas Reynand selingkuh?"
Lika bertanya dengan menahan sesaknya.
Reynand menggelengkan Kepalanya membantah. Amarahnya tergambar jelas disana bukan kepanikan apalagi kegugupan. Tangan kekarnya meraih tubuh Isterinya. Lika ingin menjauhkan diri, namun tak kuasa karena Reynand terlebih dahulu mendekapnya dengan erat.
"Mas tidak selingkuh, kamu percaya sama Mas ya?" Reynand berusaha menenangkan Lika. Wanita hamil itu menarik diri dari pelukan Suaminya lalu menatap manik hitam itu untuk mencari kebohongan yang berusaha di sembunyikan Suaminya. Tidak ada kebohongan di sana hanya binar-binar cinta yang selalu tertuju untuknya. Tatapan hangat tak pernah berubah.
Selama ini tidak ada yang aneh diperlihatkan oleh Suaminya dan juga tidak ada gelagat atau tanda-tanda bahwa dia sedang memikirkan Wanita lain.
"Iya Mas, tadi hanya kaget saja," sahut Lika mulai menenangkan diri. Dia percaya sama Suaminya. Mana mungkin Reynand akan tega menghianatinya. Selain cinta, Suaminya memberikan kesetiaannya.
"Mas tidak kenal dengan nomor ini. Secepatnya Mas akan menemukan orang yang telah berani mengusik ketentraman rumah tangga kita. Berani-beraninya perempuan ini memfitnah Mas, emangnya kapan saya pernah menemuinya dan di mana? selama ini Mas menghabiskan waktu menemui dan menemani keluarga Mas," ucap Reynand geram.
Lika menyadari, Reynand tidak pernah pulang larut malam. Kalaupun dia keluar rumah, palingan ikut nongkrong bersama Bapak-Bapak di Post ronda dan ikut ngeronda disaat jadwalnya.
Benar, ini pasti kerjaan orang iseng yang mencoba mengganggu hubunganku dengan Mas Reynand. Dia pasti ingin menggoda Mas Reynand bukan karena terpikat oleh ketampanan, melainkan terpikat oleh harta yang dimilikinya. Batin Lika.
"Tidak Mas, biar aku yang menghadapinya. Berani-beraninya dia menggoda Suamiku. Percaya diri sekali dia," ucap Lika berapi-api.
__ADS_1
"Kamu percaya sama Mas, kan? tidak ada niatan dalam hati ini menghianati kamu. Lagi pula mana ada yang mau sama Laki-laki buruk rupa seperti Mas. Hanya kamu Ka."
Reynand berusaha meyakinkan Isterinya agar selalu mempercayainya. Setiap kata-kata yang terucap merupakan kejujurannya sekaligus janji untuk teguh memegang kesetiaan.
Mendengarkan itu terbitkan senyum pada wajah ayu Wanita hamil itu. Lika tidak ingin meragukan cinta dan kesetiaan Suaminya. Reynand bukan Laki-laki Play Boy dan juga bukan pula Laki-laki yang suka menebarkan rayuan.
Baginya cukup satu dan jika sudah mencintai seorang Wanita, maka akan memberikan kesetiaan dan kebahagiaan untuk keluarganya.
"Biar aku balas, boleh?" ucap Lika kemudian.
Reynand tidak keberatan, dia mengangguk.
Lika tersenyum. Dia mulai berpikir untuk melakukan apa. Setelah mengetahui apa yang akan dilakukannya, dia mulai merangkai kata-kata.
(Saya juga kangen Intan, Maaf ya terlalu sibuk hingga tidak sempat mengunjungimu lagi. Sebagai permintaan maaf kamu ingin apa? Tas Branded atau Perhiasan?)
Send
(Kok Intan, sih? aku Gadis. Mas Reynand kok sampai lupa padahal setiap hari bawaannya ingat aku terus dan pingin selalu di samping aku. Okay enggak masalah, mau Intan kek! mau Mbak Lika kek! Mas Reynand sah sah saja mempunyai banyak Wanita. Aku rela kok Mas di jadiin yang kedua maupun yang ke tiga)
Dengan cepat Wanita itu membalas pesan Lika yang dikiranya Reynand. Kalimat balasan itu sangat panjang dan tertata dengan apik memberi kesan betapa tidak berkualitasnya Wanita itu.
Reynand muak membacanya sedangkan Lika tertawa lebar. Dia merasa geli dengan kata-kata dari Gadis
Ting
Ada pesan masuk lagi.
(Aku mau Perhiasan kali ini. Gelang seperti milik Mbak Lika ya Mas! kalau tidak aku tidak akan memaafkan kesalahan Mas Reynand)
Hahahaha
Lika kembali tertawa. Tidak menyangka tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi. Dia berkata-kata seolah-olah sangat dekat dengan Reynand. Wanita itu menggambarkan hubungannya dengan Reynand sudah sangatlah dekat. Dia tidak malu meminta apapun karena kedekatan itu.
Sengaja, untuk mengacaukan hubungan Reynand dan Lika. Tujuannya tidak lain agar Lika tidak lagi mempercayai Suaminya. Terjadilah pertengkaran yang berujung keduanya tidak lagi merasa nyaman.
Setelahnya, baik Reyand dan Lika akan memilih jalannya masing-masing. Tentu saja perpisahan itu tidak bisa dielakkan lagi.
Angan Gadis itu benar-benar luar biasa hebat. Dia tidak mendekati Reynand dengan pisiknya, melainkan mendekati Reynand dengan kalimat-kalimat provokatifnya.
Jika hubungan Reynand dan Lika sudah hancur, maka dia akan menghampiri dengan anggun selayaknya Wanita terhormat. Tentu tidak ada yang tahu, secara terselubung dia lah pelakunya.
Lika terlalu cepat bisa menganalisis tujuan dari pesan Wanita itu.
"Apa kamu kira Mas Reynand akan tergoda gitu! malah kamu akan di empaskan untuk kedua kalinya. Bukankah Mas Reynand sudah menelantarkan kamu di jalanan dan tak mengizinkan kamu masuk ke Mobilnya. Jangankan ke hatinya, ke dalam Mobilnya pun Mas Reynand enggak sudi."
Lika terbawa suasana, dia mengomel tidak jelas. Sedangkan Reynand amarahnya mereda melihat bibir Lika bergerak-gerak terlihat amat sangatlah lucu dan sensual.
Tak tahan, dia meraih tubuh itu lalu menyentuh bibir sensual itu dengan hasrat penuh.
Lika tak menyangka mendapatkan serangang mendadak. Dia menikmatinya dengan rasa bahagia di hatinya.
Mungkin saja Gadis itu mengira terjadi perang dingin antara dirinya dengan Reynand. Kenyataan mereka sedang memadu cinta. Ingin rasanya dia mengirimkan keintiman ini agar Gadis kejang-kejang, namun rasanya kemesraan itu tidak perlulah di umbar-umbar.
Setelah puas Reynand membisikkan kata cinta. Lika membalasnya dengan tidak kalah mesra. Mereka kembali merebahkan tubuh untuk terlelap saling mendekap satu sama lain.
Tidak peduli seperti apa Wanita lain melakukan serangan. Lika akan membalas balik hingga Wanita itu menyesal.
"Tunggu Gadis, akan aku buat kamu menyesal."
__ADS_1
***
Bersambung.