Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 53


__ADS_3

(Habibah, suara apa itu?)


(Mas, Bibah cek dulu)


Sejenak dia berpikir, bunyi itu seperti bunyi barang yang dia letakkan di depan jendela.


"Jangan-jangan Maling?" Habibah menduga hal itu.


Dia kemudian beranjak dari Divannya. Dengan hati-hati dia membuka pintu lalu menutupnya dengan pelan kemudian menguncinya. Habibah melangkah menuju sumber suara. Dimana sumber suara itu berasal dari Dapur.


Matanya sangat awas melihat sekeliling agar tak diketahui oleh Penyusup itu. Sesampainya di Dapur, di bawah jendela tergeletak Nampan bundar berbahan Besi, orang-orang disini menyebutnya Nare. Nare itu sengaja di taruh di depan Jendela. Jika ada seseorang memaksa masuk dari arah Jendela maka suara Nare yang terjatuh akan menghasilkan bunyi yang nyaring. Suara itu bisa membangunkan penghuni rumah.


Habibah mengernyitkan dahi, perlahan dia melangkah menuju ke arah Pintu belakang. Dia melihat Jendela belakang terbuka. Secara naluriah, Habibah semakin yakin ada tamu tak di undang sedang menyambangi rumahnya. Untung saja dia mengunci kamar. Agar tak disadari keberadaannya, secepat kilat bersembunyi di kolom Meja yang ada di Dapur.


Entah kemana seseorang itu melangkah. Mungkin saja menuju kamar yang berbeda dengan kamar yang ditempatinya.


(Bibah, ada apa?)


Dari sambungan yang belum terputus terdengar suara Rizqy bertanya.


(Sepertinya ada tamu tidak di undang)


Tentu saja jawaban Habibah membuat Rizqy terkejut.


(Bibah, cepat cari bantuan)


(Aku sudah bersembunyi. Mas, sambungan aku tutup, ada suara langkah mendekat)


Habibah mengakhiri panggilan. Dia bersembunyi di bawah Meja besar yang terletak di Dapur. Sebenarnya bisa saja dia melawan dan membekuk Tamu tak di undang itu.


Namun urung, bagaimana kalau tidak satu orang melainkan beberapa orang. Tidak mungkin dia bisa menghalau bahaya itu. Habibah memilih aman dengan cara bersembunyi.


Lagipula dia tidak memiliki barang berharga selain Cincin kawin pemberian Suaminya. Untung saja Habibah sangat apik menyimpan barang berharganya sehingga tidak gampang di temukan.


"Sial, kamar satunya di kunci," ucap seseorang terdengar.


"Dobrak saja," ucap temannya memerintah.


Di saat keduanya mencoba mendobrak pintu kamar Habibah. Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak.


"Maliiiiiing."


"Maliiiiiing."


"Maliiiiiing."


Mendengarkan itu membuat Tamu tak di undang luntang lantung melarikan diri.


Selepas Tamu tak di undang itu melarikan diri, Habibah keluar dari persembunyian dengan perasaan lega.


"Siapa tadi yang berteriak," ucap Habibah bingung. Dia tidak sempat menghubungi seseorang apalagi berteriak.


Disaat Habibah dalam kebingungannya. Terdengar Pintu di ketuk dari arah luar.


Tok tok tok


"Bibah, apa kamu tidak apa-apa?"


Terdengar seseorang memanggil namanya. Suara itu tidak asing di telinganya. Habibah bergegas menghampiri Pintu dan tidak ingin orang yang telah membantunya merasa khawatir.


Begitu sampai, Habibah menarik gagang pintu lalu dibukanya. Di ambang pintu terlihat beberapa orang yang mendatangi tempat tinggalnya.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Wanita paruh baya yang merupakan Tetangganya.


Habibah mengangguk memberikan jawaban.


"Alhamdulillah."


"Malingnya tertangkap satu orang, satunya berhasil kabur," ucap seorang Pemuda yang berhasil menyergap Pelaku saat berusaha kabur.


Para warga yang membantu Habibah, sebagian berjaga-jaga di Pintu belakang rumah Habibah sehingga berhasil menangkap satu orang Maling sedangkan temannya berhasil melarikan diri.


"Bawa saja ke Rumah Pak Hadi. Biar besok kita bawa ke Sektor," ucap seorang Bapak-bapak memberikan petunjuk.


Pemuda itu mengiyakan, dia bersama satu temannya menyeret Pelaku dengan disertai omelan.


"Bukannya mencari pahala eh malah mencari dosa melulu. Mau bawa apa nanti kalau mati? apa dosa saja?"


Masih terdengar omelan-omelan yang membuat semua orang yang mendengarkannya merasa tertampar. Kalimat itu bukan untuk Maling itu saja tapi untuk diri kita yang belum tentu mendapatkan ridho dari segala ibadah yang kita lakukan. Mungkin saja terselip riya dan merasa diri paling baik sehingga menyebabkan segala ibadah kita tertolak.


"Bibah, tidak ada barang-barang yang hilang, kan?" tanya seorang Bapak-bapak.


"Alhamdulillah, mereka belum berhasil masuk ke kamar pribadi saya," jawab Habibah.


"Syukurlah. Tadi Suami kamu yang nelpon kalau rumah kamu di santroni Maling. Jadi saya sama para Pemuda yang masih terjaga lekas datang ke sini." Bapak itu menceritakan kenapa dia dan para Pemuda tiba-tiba datang mendatangi rumah Habibah untuk menolong Wanita itu.


"Mas Rizqy?" tanya Habibah terkejut.


"Iya, Mas Rizqy," jawab Bapak itu singkat.

__ADS_1


Habibah merasa bersyukur, meskipun Rizqy jauh tapi Suaminya tahu cara melindunginya. Itu semua karena petunjuk dari Tuhan sehingga tahu apa yang harus dilakukannya.


"Terima kasih Bapak-bapak dan Ibu-ibu telah menolong saya," ucap Habibah berterima kasih. Dia sangat terharu karena para Tetangganya sangat peduli dengan dirinya.


"Iya Habibah, sama-sama," sahut seorang Wanita paruh baya mewakilkan.


Selanjutnya, setelah memastikan aman barulah mereka berpamitan. Sudah tak terlihat, Habibah masuk ke dalam rumahnya. Mengunci pintu dan merapatkan Jendela yang rusak. Dia berencana akan memperbaiki Jendela yang rusak itu esok harinya.


Memastikan aman, Habibah melangkah ke kamar kemudian merebahkan tubuhnya. Ia menghubungi Rizqy untuk memberitahu bahwa dia baik-baik saja. Sudah dipastikan saat ini Sang Suami sangat mencemaskannya.


(Mas Rizqy?)


(Kamu tidak apa-apa? apa mereka menyakiti kamu?)


Terdengar kekhawatiran dari kata-kata yang terucap dari bibir Suaminya.


(Aku tidak apa-apa Mas. Terima kasih Mas sudah meminta bantuan kepada para Tetangga. Sedangkan aku tidak kepikiran untuk melakukannya. Mungkin karena panik sehingga tidak bisa berpikir)


(Maafkan Mas Bibah. Mas ingin kamu merasa aman tinggal di Desa. Nyatanya malah seperti ini)


Risau itulah yang tertangkap dari kalimat Rizqy. Dia menghirup udara yang terdengar berat di telinga Habibah.


(Tidak apa-apa, Mas. Dimana pun kita berada pasti bahaya akan mengintai kita sekali pun berada di tengah-tengah Penjagaan yang ketat)


(Iya, kamu benar. Sekarang kamu tidur, Insyaa Allah mereka tidak berani untuk mendekati dalam kurun waktu lama. Mereka akan kembali saat kita lupa dan lengah. Mungkin saja sekarang, pihak keamanan Desa akan memperketat penjagaannya.


(Mas, kok bisa kepikiran untuk menghubungi Pak Yusuf?)


(Bibah, apa kamu lupa siapa Suamimu ini?. Mas harus mengerti bagaimana cara menyelamatkan diri dan menolong orang lain dalam posisi tidak memungkinkan sekalipun. Satu hal lagi, itu gunanya kita menjalin hubungan baik dengan tetangga. Tetangga merupakan orang pertama yang akan menolong kita bukan keluarga apalagi Polisi)


(Sekarang istirahatlah)


(Iya Mas, good night)


(Iya sayang, mimpi indah)


Habibah menarik selimut lalu mulai memejamkan mata. Tidak lupa Wanita itu melantunkan doa. Sementara Rizqy masih terjaga dan membiarkan Handphone itu masih on. Dia memandang wajah Isterinya melalui vidio call.


Cukup lama dia menikmati tidur lelap Isteri yang berada di tempat yang berbeda. Hatinya seakan menyelimuti Wanita itu dalam kerinduannya. Doa itu terucap agar Tuhan senantiasa menjaganya.


Pada akhirnya, Rizqy tidak sadarkan diri. Pria itu terlelap dengan kelegaan karena Isterinya baik-baik saja.


***


Saat ini Keynand sedang fokus meneliti laporan keuangan Hotel Ardiaz sebelum di serahkan kepada Reynand selaku Pemilik Perusahaan.


"Julaekha!" ucap Keynand. Dia bertanya-tanya maksud dari Gadis itu menghubunginya. Duda tampan itu memilih untuk tidak menghubunginya kembali. Dia menaruh Handphone itu kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian terdengar pesan masuk pada aplikasi hijau. Namun tidak ada apapun selain ruang kosong.


"Apa maksudnya? apa Gadis ini meminta saya yang menghubunginya. Kosong, apa itu artinya dia meminta hatinya untuk diisi."


Keynand di rundung tanya dengan apa yang dilakukan Gadis itu. Dia menyadari Gadis bernama lengkap Julaekha Syarifah itu menyukainya.


Namun dia bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa rasa untuk Julaekha tidak dia miliki. Jika diperhatikan Julaekha itu Gadis yang baik dan cantik. Dia lebih cantik dari habibah Rosy dan juga Jessi. Apalagi dia seorang Dosen yang patut diperhitungkan. Nyatanya, paras dan kecerdasan yang dimiliki Julaekha tidak berhasil menggentarkan hatinya.


Tidak ingin memberikan Gadis itu harapan, Keynand memilih untuk mengabaikannya. Dia percaya Julaekha cukup pintar untuk mengetahui bahwa tidak ada rasa untuknya.


Keynand kembali mengalihkan perhatiannya kepada Laporan. Dia berharap kali ini tidak ada yang mengusik fokusnya.


Direktur itu pada akhirnya menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Beberapa menit berlalu, hingga pekerjaannya selesai selama itu tidak ada seorang pun mengganggunya. Julaekha pun tidak lagi menghubunginya apalagi mengirim pesan kosong.


Keynand bernafas lega. Dia melihat jam tangannya. Waktu menunjuk siang, Keynand merapikan dokumennya. Setelah rapi baru dia meninggalkan ruang kerjanya menuju Masjid.


Selang beberapa menit dia sampai di Masjid. Di Masjid sudah ramai dengan jamaah yang hendak melaksanakan ibadahnya. Keynand ikut bergabung dengan mereka yang senantiasa menjaga waktu shalatnya.


Selesai Shalat, Keynand kembali ke ruang kerjanya. Baru saja mendudukkan diri terdengar suara Pintu di ketuk.


"Masuk."


Ceklek


Terlihat wajah tak asing dari balik Pintu. Orang itu bergegas menghampiri Keynand.


"Pak, ada Pak Naufal yang ingin bertemu," ucap Sekretaris Keynand.


"Persilahkan masuk," sahut Keynand tak mengalihkan perhatiannya dari Laptop.


Sekretaris Keynand mengiyakan, terdengar langkah menjauhi Meja kerja Sang Direktur.


"Silahkan Pak."


"Terima kasih."


Setelah mendapatkan anggukan, barulah seseorang itu memasuki ruang kerja Keynand. Dia lalu mendudukkan diri pada kursi yang tersedia.


"Silahkan Pak Naufal, jadi informasi apa yang anda dapatkan?" tanya Keynand tanpa berbasa-basi.


"Nona Rizqia mengalami Depresi dan selama ini di rawat pada salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta. Semua biaya selama dia dirawat di tanggung oleh Kakaknya. Saat ini Nona Rizqia sudah pulih namun masih tetap dalam pengawasan Dokternya."

__ADS_1


Keynand terkejut mendengarkan riwayat kesehatan Gadis bar-bar itu. Tidak menyangka dibalik wajah tegar itu tersimpan kerapuhannya.


"Apa penyebab dia depresi?" tanya Keynand penasaran.


"Maaf Pak Keynand saya tidak mendapatkan informasinya. Semua informasi tentang Nona Rizqia sangat terkunci. Termasuk siapa orang tua dan Kakaknya yang merawatnya selama ini." Naufal menjelaskan seadanya yang berhasil dia dapatkan.


Keynand menggangguk mengerti. Dia melanjutkan dengan pembahasan yang lain. Kali ini berhubungan dengan Habibah.


"Perusahaan Event Organizer milik Pak Rizqy sedang mengalami krisis keuangan." Naufal melanjutkan informasinya.


Informasi itu cukup menarik perhatian Keynand. Dia tersenyum mengetahui apa yang harus dilakukannya.


"Terima kasih Pak Naufal atas informasinya."


Naufal berpamitan setelah tidak ada lagi yang harus disampaikannya.


Selepas kepergian Naufal, Keynand meraih handphone lalu menekan nomor seseorang. Sambungan itu langsung diangkat oleh Pemiliknya. Terdengar suara balasan salam darinya.


(Apa tawaran waktu itu masih berlaku Pak Rizqy?)


(Iya, tentu saja tidak boleh mengabaikan Direktur Hotel Ardiaz. Apalagi Pak Keynand menghubungi terlebih dahulu. Itu merupakan suatu kehormatan bagi saya. Terima kasih Pak Keynand)


(Sama-sama, waktunya nanti malam selesai Shalat Sunnah dan tempatnya di Coffe Shop tempat kita bertemu dulu)


Rizqy menyanggupi, bersamaan itu pula obrolan mereka berakhir.


Keynand tersenyum dengan rencana yang memenuhi Kepalanya. Dia menyudahi pekerjaan dengan mematikan Laptop dan merapikan Dokumen-dokumen. Setelah aman, dia baru meninggalkan ruang kerjanya.


Keynand menghampiri ruang kerja Sekretarisnya. Sesampainya di sana dia memberikan pesan penting kepada Sekretarisnya itu.


Selanjutnya dia melangkah keluar dari Gedung Kantor Ardiaz menuju Mobilnya. Dengan tujuan jelas, Keynand membawa Mobilnya ke arah Mentaram.


***


"Maaf Pak Rizqy, apa sudah lama menunggu?" tanya Keynand menghampiri Rizqy yang sudah terlebih dahulu sampai di Coffe Shop.


"Tidak apa-apa, saya baru saja sampai. Silahkan Pak Keynand," sambut Rizqy dengan ramah.


Keynand duduk di hadapan Rizqy. Setelahnya dia memanggil Waitress untuk memesan Kopi yang diinginkannya.


"Kenapa tidak mengajak Habibah?" tanya Keynand mengawali obrolan.


"Habibah ada di Desa," sahut Rizqy singkat.


"Jadi kalian pisah rumah? maaf bukan bermaksud menanyakan hal itu," ucap Keynand datar. Rasanya dia tidak sopan menanyakan pribadi orang lain.


"Tidak apa-apa, tenang saja Pak Keynand. Saya tidak mempermasalahkannya. oh ya, cita-cita Habibah ada di Desa dan saya sebagai Suami harus mendukung impiannya itu. Ini untuk sementara waktu sampai dia berhasil meraihnya." Rizqy menjelaskan alasannya kenapa saat ini Habibah berada di Desa.


Keynand mengangguk mengerti. Namun di dalam hatinya dia menanggapinya dengan berbeda.


"Bisa jadi itu hanya alasan saja agar dia bebas menemui Wanita lain yang menjadi selingkuhannya. Kasian sekali Habibah yang mempercayai Suami seperti Rizqy." Keynand membatin.


Saat tak terdengar pembicaraan selanjutnya. Seorang Waitress datang membawa pesanan mereka.


"Terima kasih, mbak," ucap Rizqy ramah.


Keynand hanya terdiam dengan senyum tipisnya. Cukup Rizqy yang mewakilkan sehingga tak berkata.


Waitress itu mengangguk kemudian berbalik arah meninggalkan mereka berdua.


Keynand dan Rizqy secara bersamaan menyeruput Kopinya masing-masing. Selanjutnya larut dalam rasa hangat yang menjalari tubuh.


"Apa Pak Rizqy tidak khawatir Isterinya akan di curi orang?" tanya Keynand memecahkan keheningan yang terasa di antara mereka berdua.


"Tidak, saya mempercayai Habibah," ucap Rizqy tegas.


Keynand mangut-mangut.


"Oh ya, apa gerangan Pak Keynand menyediakan waktu untuk mengajak saya nongkrong? pasti ada tujuannya, kan?" tanya Rizqy penasaran dengan Keynand yang tiba-tiba menghubunginya.


"Rupanya anda sangat perasa. Benar, saya ingin menawarkan kerja sama. Saya mendengarkan EO milik anda dalam masalah keuangan. Saya bisa membantu anda," ucap Keynand to the point.


Rizqy tersenyum tipis. Dia tidak heran dengan apa yang diketahui oleh Keynand. Keynand seorang pembisnis, bisa jadi dia ingin merambah ke bisnis lainnya.


Namun instingnya mengatakan hal berbeda, yaitu Habibah. Itulah alasan kenapa Keynand menggali informasi tentang Habibah dan merembes ke dirinya. Rizqy mengetahui itu dan mengetahui siapa orang yang memberikan informasi kepada Keynand.


"Gemericik air di tengah hutan rupanya terdengar juga di telinga Pak Keynand. Apalagi rahasia umum yang dimiliki EO saya. Anda sungguh peduli," sahut Rizqy datar.


"Jadi bagaimana? apa Pak Rizqy tertarik?"


Rizqy berpikir sejenak, menimbang apa yang harus diputuskannya.


"Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan bantuan dana dari Pak Keynand?" tanya Rizqy serius.


Keynand tidak menyangka Pria ini tidak terburu-buru mengambil keputusan. Dia seakan bisa membaca niat terselubung di baliknya.


"Anda hanya melepaskan ikatan pernikahan Habibah Rosy," jawab Keynand serius.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2