
Sementara itu di Pesantren, Qia memutuskan untuk kembali ke Mentaram. Dia merasa sudah baik-baik saja dan penyakitnya sudah tidak kambuh lagi. Selain itu juga Makhluk yang bersarang di kedua mata Qia sudah semua keluar dengan beberapa kali melakukan rukyah.
Namun tidak menutut kemungkinan makhluk itu akan kembali menempel pada tubuhnya jika tidak rajin melakukan rukyah mandiri untuk memohon perlindungan kepada Tuhan.
Qia senantiasa melakukan rukyah mandiri pagi dan petang agar senantiasa terjaga dari gangguan makhluk Tuhan yang tak terlihat itu.
Dan setelah sembuh Qia benar-benar menjalankan apa yang dia bicarakan dengan Rasya. Gadis itu memperdalam ilmu agamanya. Selain itu juga menambah keterampilannya di bidang masak memasak, jahit menjahit dan olahraga. Tak berpikir lagi, Qia mengikuti latihan bela diri pencak silat yang diikuti pula oleh Rasya.
Kini, merasa bekalnya sudah mencukupi dan tubuhnya sudah fit kembali setelah melakukan suntik vitamin, Qia memutuskan melanjutkan langkah untuk meraih asanya.
Langkah awalnya adalah kembali ke Kampus untuk menyelesaikan studynya dan juga siap menghadapi Julaekha meskipun tidak tahu apa yang akan dia temui nantinya.
"Dek kamu yakin akan kembali ke Mentaram?" tanya Rizqy serius. Dia memperhatikan wajah Qia yang terlihat segar. Ada rasa syukur yang menggelegak di dalam hati melihat wajah adiknya yang berseri-seri kembali.
Rizqy mendapatkan jawaban dari anggukan kepala Qia yang tak ragu-ragu kemudian diiringi kata 'Iya' dengan mantap.
Laki-laki yang akan beranjak menuju Kepala empat itu tersenyum sumringah. Dia akan mendukung apapun keputusan adiknya selagi itu baik untuk masa depan adiknya itu. Selain itu pula tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan keadaan Qia saat ini. Gadis itu sudah sembuh dan hatinya yang semula terluka karena patah hati, kini sudah tertata kembali.
Namun untuk melupakan Keynand, Rizqy masih meragukan bahwa Qia sudah sepenuhnya melupakannya. Mungkin saja hanya sebatas berdamai. Rizqy mengerti hal itu dan tidak bisa dipungkiri rasa cinta itu sudah melekat di hati Qia. Tentu hal itu tidak akan langsung bisa dilepaskan begitu saja. Mungkin hanya bisa di dikikis sedikit demi sedikit oleh cinta tulus dari orang lain.
Apakah Rasya orang itu? Rizqy belum bisa memastikan apakah hubungan mereka akan berlanjut serius.
__ADS_1
Keduanya mengaku hanya berteman. Rasa suka yang mereka miliki belum ketahap ingin memiliki dan lalu hidup bersama. Mereka berdua hanya sebatas bersahabat, di mana hubungan mereka hanya saling mendukung satu sama lain. Perkara jodoh keduanya belum memikirkan hal itu. Hal yang mereka pikirkan saat ini adalah melangkah menuju cita-cita dan impian yang ingin di gapai. Jika nantinya mereka dipertemukan kembali dan ternyata mereka belum memiliki pasangan masing-masing, apa salahnya mereka memilih untuk hidup bersama.
Qia selesai mengepak pakaian yang akan di bawanya. Bersamaan itu pula Habibah ikut bergabung sembari membawa Kue cucur yang baru selesai di Gorengnya. Mereka bertiga kemudian larut dalam obrolan penuh dengan candaan sembari menikmati segelas Kopi dan sepiring Kue cucur.
***
Esoknya Qia berpamitan kepada Umi Ika dan beberapa orang yang dikenalnya di Pesantren serta tidak ketinggalan Pemuda baik bernama Rasya Fauzan itu.
"Kak Qia sudah siap bertempur, nih?" tanya Rasya dengan wajah cerahnya. Tidak terlihat kesedihan pada raut Rasya tatkala berpisah dengan Qia. Pemuda itu tahu persis perpisahan itu pasti akan terjadi juga. Jadi tidak perlu adanya kesedihan yang hanya akan memberatkah langkah itu.
Dia tidak mungkin meminta Qia untuk tetap tinggal di Pesantren dengan alasan agar mereka bisa tetap saling menyapa secara langsung. Selain itu pula setelah selesai masa pengabdiannya di Pesantren dia juga akan kembali ke Madinah untuk melanjutkan study. Rasya tidak tahu apakah nantinya Tuhan akan kembali mempertemukannya dengan Qia atau malah tidak akan pernah bertemu kembali. Apapun itu, dia sangat senang berkenalan dengan Qia dan menjadi sahabatnya.
Dibalik itu semua dia masih memiliki satu harapan semoga tali silaturahmi itu akan tetap terjalin meskipun mereka hidup di tetap yang berbeda.
"Jangan salah. Perang paling besar itu bukan perang badar melain perang melawan diri sendiri. Apalagi tujuan Kak Qia kembali untuk menyelesaikan studynya, kan? Nah pada saat itu banyak sekali cobaannya, misalnya kita harus menghadapi rasa malas yang tiba-tiba datang. Terus belum lagi melihat skripsi yang dicoret-coret, duh rasanya enggak enak banget, nyesek. Rasanya campur aduk seperti jus di campur sayuran, buah-buahan dan bahan lainnya. Kebayang dah gimana rasanya?" Ucap Rasya berapi-api. Dia memang pernah mengalami hal itu di tambah dia harus menghapal beberapa juz ayat suci Al-qur'an yang diwajibkan agar dinyatakan lulus. Tidak mudah menjalani itu semua. Perjuangannya Ibarat sedang bertempur di medan perang. Sedikit saja lengah dan bermalas-malasan, maka harus rela gugur tak meraih kemenangan.
"Iya, kamu benar Sya. Manusiawi namanya ketika adakalanya rasa malas itu menyerang, namun bukan berarti kita harus bermalas-malasan terus larut dalam rasa malas itu sehingga tidak menyelesaikan apapun. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk melawan rasa malas itu dan membuktikan bahwa aku akan berhasil menyelesaikan apapun yang ingin aku selesaikan dengan tuntas," sahut Qia tak kalah berapi-api.
"Alhamdulillah, Rasya jadi tenang berpisah dengan Kak Qia dan kembali ke Madinah."
Qia terdiam mendengar perkataan Rasya. Sebenarnya ada rasa sedih harus meninggalkan Pesantren dan berpisah dengan orang-orang yang sangat baik. Di sini dia menemukan kedamaian yang selama ini di cari dan ingin dirasakannya. Apalagi semenjak bertemu dengan Rasya, semangat hidupnya kembali bergelora. Pemuda itu berhasil memotivasinya kemudian keluar dari larutnya kesedihan.
__ADS_1
Namun apa mau dikata, mereka berdua memiliki jalan hidup yang berbeda meskipun dengan tujuan yang sama yaitu menuntut ilmu.
Qia tidak bisa menghentikan langkah Rasya kemudian berjalan bersama mengikuti langkahnya. Pun begitu dengan Rasya yang tidak mungkin mengajak Gadis itu menempuh jalannya yang tidak ada dalam peta masa depan Qia.
"Jangan sedih, Rasya masih bisa mendengarkan curhatan Kak Qia lewat pesan. Tenang saja Rasya akan membacanya dan sesegera mungkin akan membalasnya. Jika rindu, Kak Qia tinggal tekan nama Rasya saja setelah itu jangan lupa icon gagang telepon. Kalau cuma nama saja sampai lebaran Mony*t bakalan enggak nyambung. Kak Qia tahu enggak kapan lebarannya?" Panjang lebar Rasya berkata. Dia melihat senyum Qia saat mempertanyakan kapan binat&ng berbulu abu-abu itu berlebaran. Ingin rasanya dia mempertanyakan hal ini kepada Binat*ng itu, tapi sayang dia tidak mendapatkan warisan dari Nabi Sulaiman yang memiliki kemampuan berbicara dengan semua binat*ng maupun hew*n.
"Iya, aku pasti akan menghubungi Rasya untuk menceritakan apapun yang aku alami nantinya," ucap Qia berusaha menekan kesedihan yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Ternyata dia belum siap berpisah dengan sahabat baiknya itu.
"Siap. Rasya pasti akan mendengarkan dengan baik penuh penghayatan," sahut Rasya dengan senyum tipis.
Setelah puas berbicara. Rasya pada akhirnya meninggalkan kediaman keluarga Rizqy. Pemuda itu berjalan dengan pasti meninggalkan Qia yang sedang menghela nafas dan berusaha menenangkan hatinya yang sedikit sedih karena perpisahan. Rasya menghentikan langkah kemudian membalikkan tubuhnya. Dia mengulas senyum tulus yang dibalas senyum indah dari Qia bersama anggukan.
***
Qia menatap Gedung Fakultasnya. Di hela nafasnya kemudian menanangkan degub Jantungnya yang sedikit berdebar. Entah apa yang terjadi kenapa Jantung berdebar-debar tak karuan. Apakah itu pertanda dia akan bertemu dengan seseorang? Siapakah?.
Qia tidak ingin menerka-nerka. Dia memilih melangkah dengan pasti menuju ruang Kelasnya. Dia sudah menyelesaikan segala administrasi dan kewajibannya melalui Online. Hari ini dia hanya langsung mengikuti perkuliahan. Syukurnya tidak ada nama Julaekha Syarifah sebagai Dosen Pengampu dalam mata kuliah di ambil. Setidaknya dia tidak berurusan dengan Isteri Keynand itu, meskipun dalam kemungkinan dia akan bertemu sewaktu-waktu di kampus.
Baru saja sedikit lega, ternyata Sosok itu telah menyambutnya dengan senyuman sinis.
Julaekha melihat kehadiran Qia yang berjalan menuju ruang kelas. Dia urung melangkah dan memilih diam menunggu Qia yang akan tepat berhenti di hadapannya.
__ADS_1
"Mengembirakan. Lihatlah siapa yang ada di hadapanku ini? Baiq Rizqia Anggeraini. Tadinya saya pikir kamu tidak akan pernah kembali dan saya berharap kamu hanya tinggal nama," ucap Julaekha sarkas diiringi dengan senyum sinisnya. Namun dibalik itu semua Julaekha tidak berhasil menyamarkan keterkejutan dan rasa gelisah entah tentang apa. Qia berhasil melihat itu dibalik senyum sinis Wanita itu.
Bersambung.