
"Jantungnya melemah, Dok," ucap Seorang Suster memberitahu.
Dokter Rasyid bergerak cepat menggunakan Defibrillator untuk mengembalikan irama Jantung ke irama normal.
"Bismillahirrahmanìrrahim."
Dia meletakkan alat seperti setrika ke dada Keynand yang bertujuan memberikan kejutan listrik ke jantung agar detak jantungnya kembali ke ritme normal.
Percobaan pertama gagal, tapi Dokter Rasyid tidak ingin menyerah. Dia berusaha sekuat tenaga mengerahkan kemampuan dan ilmu yang didapatkannya. Tidak lupa Dokter itu berdoa memohon pertolongan Tuhan agar usahanya benar-benar berhasil.
"Kita coba lagi, Bismillah," ucap Dokter Rasyid dalam hati. Ini sudah percobaan kesekian, dan berharap kali ini akan berhasil. Dia kembali meletakkan alat tersebut lalu mengangkatnya seiring tubuh Keynand yang ikut terangkat.
"Beet."
Beberapa detik menunggu setelah alat itu di angkat terdengar suara dari mesin medis yang membuat Dokter Rasyid dan Dokter Aditya bernafas lega.
"Alhamdulillah," ucap Dokter Rasyid. Ada rasa lega sekaligus khawatir dengan keadaan Keynand yang sewaktu-waktu bisa anfal lagi.
"Alhamdulillah, fisik Pak Keynand lumayan kuat, tapi jika kita tidak mendapatkan penawarnya dalam waktu 24 jam ini, saya takut Pak Keynand tidak akan tertolong," ucap Dokter Aditya dengan serius.
"Penawar?"
"Iya, dari hasil Lab ada racun dalam tubuh Pak Keynand," jawab Dokter Aditya sembari menyerahkan hasil Lab yang diberikan oleh Petugas bagian Laboratorium.
Dokter Rasyid menatap Keynand dengan perasaan sedih, lalu dia teringat Enah. Gadis itu mungkin saja memiliki penawar, karena Keynand pernah bercerita dia mendapatkan penawar dari Enah saat Julaekha berusaha meracuninya.
"Apa ini perbuatan Julaekha?" batin Dokter Rasyid bertanya.
Dokter Aditya dan Dokter Rasyid keluar dari ruang icu. Saat keluar, kehadirannya langsung diberondong pertanyaan oleh Reynand dan anggota keluarga yang sudah menunggu.
"Pak Keynand sempat mengalami Jantung henti, tapi Alhamdulillah normal kembali, tapi kita membutuhkan penawar dari racun yang masuk ke tubuh Pak Keynand sedangkan di rumah sakit ini ataupun rumah sakit lainnya belum ada penawar dari racun yang terdeteksi di tubuh Pak Keynand," ucap Dokter Aditya menjelaskan panjang lebar.
"Astaghfirullah."
Reynand yang mendengarkan langsung syok, begitu juga Marisa yang baru datang mendengarkan khabar tidak baik itu seketika langsung pingsan.
__ADS_1
"Mommyyyy."
Reynand panik melihat Ibunya tidak sadarkan diri. Untung saja Qia dan Alisa dengan sigap menangkap tubuh Marisa sehingga tidak terjatuh.
Reynand dengan cepat membopong Marisa lalu membawanya ke ruang pemeriksaan.
"Ibu Marisa hanya syock, semuanya normal tidak ada yang bermasalah baik tekanan darah maupun Jantungnya," ucap Dokter Rasyid setelah memeriksa keadaan Marisa.
"Mommy jangan khawatir, kita pasti akan mendapatkan penawarnya hari ini," ucap Reynand menenangkan Sang Ibu yang terlihat sangat lemah. Dia sudah sadar dari pingsannya dan mempertanyakan kebenaran yang didengarnya tentang keadaan Keynand dari Dokter Aditya.
"Mungkin Enah bisa membantu kita untuk mendapatkan penawar itu. Dia dulu pernah memberikan penawar kepada Pak Keynand saat keracunan zat Botulinun toxin dari Kopi yang diminumnya," ucap Dokter Rasyid tatkala dia mengingat kejadian Kopi beracun yang diberikan oleh Julaekha.
"Apaaa? Sebelumnya Keynand pernah keracunan?" Tanya Reynand kaget. Dia menatap Dokter Rasyid dengan sorot mata tajam mengulik kebenaran dari khabar yang baru saja di ketahuinya. Dokter Rasyid mendadak diam dan menyalahkan dirinya yang mungkin saja salah berkata. Dia khawatir dirinya telah membuka rahasia yang mungkin saja Keynand maupun Enah menutupi kejadian ini agar keluarganya tidak khawatir. Mungkin saja Keynand sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak Sang Isteri. Karena sudah terlanjur, mau tidak mau Dokter Rasyid harus berkata jujur.
Pada akhirnya Dokter Rasyid menceritakan apa yang diketahuinya dari Keynand dan juga hasil lab dari ampas kopi yang masih tersisa dalam gelas.
"Kurang ngajar Wanita itu, berani-beraninya ingin membunuh Keynand. Kenapa Keynand tidak melaporkannya?" ucap Reynand geram. Dia kini menatap Qia dengan sorot mata bertanya. Qia yang mendapatkan tatapan tajam itu sedikit ketakutan. Dia menundukkan wajahnya sembari memilin kedua tangannya untuk meredamkan tubuhnya yang gemetar. Tidak seharusnya dia ketakutan seperti ini, padahal Reynand tidak mungkin akan marah kepada dirinya. Namun wajah Reynand yang datar dan dingin disertai dengan sorot mata yang tajam membuat dirinya teramat terkejut.
"Astaghfirullah, bikin jantung tidak tenang saja. Padahal Abang Reynand sangat tampan, tapi kok bikin aku ketakutan kayak gini," batin Qia menghela nafas panjang.
Seketika dia menjadi pusat perhatian. Semua pasang mata menatap ke arahnya dengan sorot mata bertanya-tanya, apalagi Dokter Rasyid yang seketika mengernyitkan dahinya. Dokter berparas manis itu menatap Qia sangat lekat, saat mata mereka bersitatap seperkian detik, Dokter Rasyid merasakan irama jantung berdetak tak beraturan. Lebih cepat dari biasanya. Sungguh Dokter Rasyid tidak mengerti apa yang terjadi dengannya saat ini.
"Mata itu?" batin Dokter Rasyid, kemudian dengan cepat menjaga pandangan lagi.
Pun begitu juga dengan Qia yang mengalihkan wajah kemudian menatap Reynand dengan tenang. Dia kini bisa mengendalikan diri dari situasi yang tidak nyaman ini.
"Sebenarnya penawar yang diberikan Enah untuk Abang Keynand itu dari Kak Rizqy. Dulu Kakek buyut kita seorang Tabib dan mempunyai buku pengobatan yang ditulis oleh beliau sendiri. Buku pengobatan itu di wariskan kepada Kak Rizqy, tapi Kak Rizqy tidak mau menjadi Dokter, dia malah memilih menjadi ASN. Terus semenjak Kiano meninggal karena over dosis semenjak itu Kak Rizqy membuka buku itu lalu mempelajarinya."
Qia menceritakan asal muasal penawar yang diberikan kepada Keynand. Itu semua dari Rizqy yang mulai mempelajari pengobatan herbal dari tumbuh-tumbuhan lalu menanam tumbuh-tumbuhan obat tersebut dan kini Rizqy mulai melakukan penelitian tentang jenis-jenis tumbuh-tumbuhan beracun dan racun yang dihasilkan dari bahan kimia, sekaligus meracik penawar dari tumbuh-tumbuhan obat. Qia pun ikut mempelajari tumbuh-tumbuhan obat agar bisa digunakan dalam pertolongan pertama. Itupun hanya sebatas mengobati luka saja, belum mempelajari racun dan penawar racun.
Reynand tidak bertanya lagi. Dia meraih Handphone lalu menghubungi seseorang. Namun nomor itu tidak bisa dihubungi, membuat Reynand semakin gelisah. Dia mengulang beberapa kali hingga terakhir menggelengkan Kepala dengan gerakan lemah.
***
"Mas, nanti kalau sudah sampai langsung telepon aku ya?" Ucap Habibah sembari memeluk tubuh Rizqy dengan erat.
__ADS_1
"Pasti, dong! Oh ya Mas tidak akan lama, nanti kalau Mas sudah menemukan bukti akan langsung pulang," sahut Rizqy sembari membalas pelukan Sang Isteri dengan sangat erat.
"Ada apa, sih? Beberapa hari ini kamu selalu nempel pada Mas, bahkan senang banget nyium-nyium bau keringet Mas terus Mas tidak diizinin mandi saat selesai kerja padahal berkeringat banget," sahut Rizqy heran dengan kelakuan Habibah akhir-akhir ini, tapi dia tetap menuruti keinginan Habibah yang absurd menurutnya, meskipun tidak nyaman dia rasakan. Tidak mengapa asalkan tidak melihat wajah Habibah yang cemberut. Setidaknya senyum Sang Isteri dia dapatkan saat menuruti maunya itu.
"Bau keringat Mas Rizqy sangat maskulin, makanya aku suka. Memangnya Mas Rizqy keberatan aku peluk sembari menghirup bau keringatnya?" sahut Habibah cemberut. Tangannya mulai bergerak membuka kancing satu persatu lalu mencium dada bidang Sang Suami. Tidak itu saja dia menenggelamkan wajahnya lalu menghirup dalam-dalam bagian yang dia suka, tempat dia menyandarkan semua rasa resahnya.
"Apa kamu ingin lagi?" Tanya Rizqy menggoda Sang Isteri.
"Apa Mas Rizqy tidak akan ketinggalan pesawat?"
"Hem, masih ada waktu sedikit lagi kalau kamu ingin asyik-asyik lagi, bagaimana?" Rizqy kembali menggoda dengan kerlingan mata.
"Ingin, sih? Tapi aku tidak mau Mas ketinggalan pesawat karena Pesawat tidak bisa di kejar seperti Mas mengejar aku sampai dapat," sahut Habibah manja diakhiri dengan tawa renyahnya. Dia kembali memasang kancing baju yang sudah dilepaskannya lalu merapikan pakaian Sang Suami.
"Sudah ganteng lagi," ucap Habibah dengan seulas senyum di bibirnya. Sebenarnya dia sangat berat melepaskan Rizqy. Entah kenapa akhir-akhir ini dia ingin selalu berada di sisi Suaminya. Ingin bermanja ria dan mendapatkan perhatiannya serta mendapatkan kenyamanan dalam dekapannya.
Namun dia tidak ingin egois. Keadilan untuk Kiano harus diperjuangkan agar tidak berlarut-larut yang hanya akan membuat Pelakunya menikmati kebebasan terlalu lama. Saatnya menghentikan kebebasannya itu, lalu menghukumnya dengan sangat pedih.
Rizqy mengecup lembut kening Habibah, tidak lupa mengecup bibir merekah Sang Isteri cukup lama dan dalam.
"Hati-hati, jangan lupa kunci rumah kalau ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi Tetangga untuk meminta bantuan." Rizqy berpesan yang dianggukkan oleh Habibah dengan posisi siap.
"Fii amanillah," ucap Habibah mengiringi langkah Kaki Sang Suami dengan doa.
Saat mobil Rizqy tidak terlihat lagi, baru Habibah masuk ke dalam rumah lalu mengunci Pintu.
"Duh pusing banget," ucap Habibah menekan pelipisnya. Dia meraih baju kaos Rizqy yang belum di cucinya lalu mencium aroma tubuh Lelaki itu yang tertinggal di sana.
"Agak mendingan. Mungkin aku tidur aja kali ya? Biar pusingnya hilang," ucap Habibah kemudian merebahkan diri sembari memeluk Kaos berwarna putih milik Rizqy. Habibah memejamkan mata berharap pusing yang dia rasakan akan reda saat mengistirahatkan tubuhnya.
Beberapa jam berlalu, Habibah terbangun dengan rasa pusing yang semakin mendera Kepalanya.
"Aku kenapa, sih? Kepala ini pusing banget, apa anemia lagi ya?"
Bersambung.
__ADS_1