
Habibah membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada langit-langit sebuah ruangan yang berwarna putih. Wanita hamil itu ingat bahwa dirinya berada di rumah sakit dan sesaat sebelum pandangannya buram dia mendengarkan hasil pemeriksaan Suaminya.
Pingsan, kah dia? Habibah bertanya dalam hati dengan rasa tak percaya. Seumur hidupnya baru kali ini dia pingsan dan merasa sangat lemah. Apakah karena kehamilan membuat hal ini terjadi?
Bukan!
Habibah membantah hal itu. Bukan karena itu, tapi disebabkan oleh khabar buruk tentang kesehatan Sang Suami.
"Alhamdulillah Kak Bibah sudah sadar," ucap Rizqia yang setia menunggunya. Di sana juga sudah ada Lika yang menatapnya dengan penuh kasih sayang sebagai seorang sahabat.
Habibah berusaha bangun dari tidurnya. Mungkin karena tubuhnya yang sangat lemah membuatnya kesulitan, apalagi salah satu tangannya di pasangi infus.
Rizqia yang melihat itu dengan sigap membantu Kakak Iparnya.
"Terima kasih, dek!" ucap Habibah yang dibalas anggukan oleh Sang adik ipar.
"Kak Bibah istirahat, ya? jangan terlalu banyak pikiran dan juga stres, ini demi janin yang ada dalam kandungan Kak Bibah," ucap Rizqia menasehati Kakak Iparnya tersebut.
Secara spontan dia menaruh tangannya di perut yang terlihat masih datar lalu dengan pasti menganggukkan Kepalanya. Habibah menasehati dirinya sendiri agar tidak larut dalam kesedihan, sebab kesedihan tidak akan membuat keadaan kian membaik. Bahkan sebaliknya akan membuat semuanya kian buruk. Jika tetap terpuruk itu akan membayakan dirinya dan bayi yang ada dalam kandungannya. Tidak hanya sampai di sana saja, bisa saja merembes pada kesehatan Rizqy.
Jika ia terpuruk, di pastikan Rizqy tidak akan memiliki harapan untuk bertahan, maka karena itulah dia harus kuat menghadapi cobaan ini agar Rizqy memiliki harapan untuk bertahan dan sanggup menghadapi kenyataan seperti apapun keadaannya nanti.
"Iya aku harus kuat demi calon bayiku dan juga Mas Rizqy," batin Habibah berusaha menyemangati dirinya. Senyumnya terbit dibalik wajahnya yang pucat. Ada secercah harapan yang terlihat dan ingin memperjuangkannya agar itu yang terjadi, kesembuhan Rizqy.
"Apa yang mbak Bibah rasakan? Apakah ingin sesuatu? Mungkin ingin dibawakan rujak? Buah-buahan, kue atau apa? Kita siap mencarinya?" tanya Lika yang ikut nimbrung dalam pembicaraan Kakak beradik itu. Lika faham Wanita hamil seperti Habibah pasti menginginkan sesuatu dan keinginan itu harus dipenuhi, karena itulah Lika mempertanyakan semua ini.
"Apa boleh? Mbak takut merepotkan," sahut Habibah tidak enah hati.
"Tidak repot, tenang saja." Lika menjawab dengan wajah cerah karena Habibah kini terlihat lebih bersemangat.
"Aku ingin buah Are. Entah kenapa aku pingin sekali buah Are, memetiknya langsung dari pohon lalu memakannya. Pasti seger banget."
Habibah membayangkan dia memetik buah tersebut bersama Rizqy di kawasan hutan tempat pohon itu berada. Pasti sangat menyenangkan berada disana menikmati suasana alam yang tenang sembari memakan buah are. Sementara Rizqy sedang membakar Ikan hasil tangkapan dari Sungai. Lalu mereka akan makan berdua ditemani gemericik air sungai, gesekan dedaunan yang tertiup angin dan kicauan buru-burung. Ah sungguh sangat menyenangkan dan menenangkan.
"Saya akan mencari buah are untuk mbak Habibah." Suara Bariton tiba-tiba menggema di Telinga Habibah, Lika dan Rizqia.
Ketiga Wanita itu secara serempak mengarah ke sumber suara. Di sana mereka menemukan seorang Laki-laki berwajah tampan dengan senyum menawan yang terlihat tulus.
Ketiganya mengernyitkan dahi bertanya siapa Lelaki itu, sebab baik Habibah, Lika dan Rizqia tidak terlalu mengenalnya. Mereka hanya tahu Lelaki itu adalah salah satu anggota tujuh sahabat. Dan Habibah ingat, Lelaki di hadapannya ini yang ikut mengantarkannya ke Desa saat memutuskan pulang beberapa hari yang lalu
"Siapa dia?" batin Habibah bertanya.
"Yakin kamu Juna? Tumben perhatian sama cewek, apalagi ini baru di kenal? Biasanya kamu hanya menunjukkan perhatian kepada satu Wanita yaitu Ega. Jangan bilang kamu suka? Dia Isteri orang, lo!"
Seorang Laki-laki menimpali keinginan Laki-laki itu yang ternyata bernama Juna.
"Maaf mbak Bibah kita langsung masuk saja dan menyela pembicaraan kalian, rasanya tidak sopan banget." Lily yang ikut menjenguk Rizqy meminta maaf atas pembicaraan Suaminya dan Juna yang secara spontan mereka lakukan.
Di sana ada Lexi dan juga Reynand yang dipastikan keberadaan mereka di rumah sakit dalam rangka menjenguk Rizqy tapi terdampar di ruang rawat Habibah.
"Tidak apa-apa mbak Lily, mari silahkan masuk."
Habibah mempersilahkan tamu-tamunya. Di sana ada Reynand, Lexi, Lily dan Laki-laki yang bernama Juna.
"Ega siapa yang dimaksudkan? Apa mendiang Isteri Keynand? Jadi ternyata kalian mengenalnya? Apa Juna pernah memiliki hubungan dengan mendiang Isteri Keynand?"
__ADS_1
Secara mengejutkan Reynand menanyakan sebuah nama yang disebutkan oleh Lexi.
Lily mendadak pias sementara Juna dan Lexi saling pandang.
"Bukan Bang. Ega itu sahabat Juna, Evan, Rian, Dipta dan mendiang Beni. Anggota tujuh sahabat sekaligus Isteri dari Beni," jawab Lexi menerangkan agar Reynand tidak salah faham.
"Oh gitu? Kirain tadi," sahut Reynand menganggukkan Kepalanya tanda mengerti.
"Kalau begitu saya permisi. Seperti janji saya kepada mbak Habibah, saya akan mencarikan buah are." Juna berpamitan lalu memberikan salam yang dibalas serempak oleh semua yang ada di sana.
"Aneh? Kenapa Juna begitu perhatian kepada Habibah? Kemaren saja saat Habibah pulang dia ikut mengantarkannya," batin Reynand.
Hal serupa juga ada pada benak masing-masing.
Berbeda dengan Lily yang sangat tahu siapa Juna sebenarnya. Dia dan Juna dulu sangat akrab seperti saudara. Apa yang dilakukan sekarang merupakan bentuk perhatian seorang Juna terhadap seseorang yang dianggap sahabatnya. Juna Laki-laki baik dan jika dia mau dan suka maka tidak segan-segan untuk membantu orang tersebut. Hanya sebatas membantu tidak untuk hal lainnya yang terselubung. Bangsawan Pencity itu sangat tahu batasannya hingga tidak akan melanggar apapun, apalagi berniat untuk merusak simpul pernikahan. Jika ingin dari dulu bisa dia lakukan, kenapa harus sekarang? Sementara di hati Juna hanya ada Ega atau Lily. Namun Juna tidak melakukan itu, jadi kenapa harus khawatir dengannya.
"Ki, tenang saja mulai sekarang saya akan menjaga Isteri kamu dan calon bayi kalian. Kamu cepat sadar lalu sembuh ya? Jangan cemburu sama saya." Juna berucap lirih di depan ruang ICU tempat Rizqy terbaring tak sadarkan diri. Rizqy dinyatakan koma, dan Dokter tidak bisa memprediksikan kapan dia akan siuman.
***
Setelah mendapatkan persetujuan dari Habibah, Rizqy dipindahkan ke rumah Sakit Ardiaz. Reynand juga mendatangkan Dokter terbaik dari Negeri Merlion untuk memeriksa dan merawat Rizqy.
Mereka melakukan secara senyap agar tidak terdeteksi oleh Wanita itu dan juga mereka-mereka yang berniat jahat kepada Rizqy. Selain itu juga dia bekerja sama dengan pihak rumah sakit dan Kepolisian setempat agar Rizqy tetap terdaftar sebagai pasien di Rumah sakit tersebut. Reynand juga menugaskan Bodyguard bayangan agar baik Habibah maupun Rizqia bisa beraktivitas dengan aman dan tidak dihantui oleh rasa was- was. Reynand tidak ingin kecolongan dan berusaha sekuat tenaga membentengi keamanan keluarganya dari serangan membabi buta Wanita licik itu.
Setelah aman, Reynand dan lainnya akan segera bergerak mengatur rencana apa yang akan dilakukan selanjutnya, mengingat bukti-bukti dan chip yang dipegang oleh Rizqy berhasil di ambil oleh orang suruhan Wanita itu. Sementara bukti yang kini ada pada Dipta dan Rian tidak cukup untuk membebaskan Keynand dan menyeret Wanita itu ke Penjara.
***
Saat ini Reynand sedang mendengarkan hasil menyelidikan Hamiz yang ditugaskan untuk menyelidiki dari mana paket itu berasal.
"Apa yang kamu temukan?" tanya Reynand serius menatap adik iparnya tersebut.
"Tegang banget Bang, bisa tidak minum dulu, haus ini," ucap Hamiz dengan senyum menyebalkannya. Dia kemudian meraih Teko yang ada di Meja lalu menuangkan isinya di gelas kaca.
Glek
Glek
Glek
Hamiz meneguk air mineral itu dengan sekali teguk
"Alhamdulillah."
Hamiz mengucapkan rasa syukur. Gelas yang dipegangnya di taruh di atas meja.
Hamiz tersenyum jenaka melihat tatapan tajam Reynand yang terlihat tak sabaran.
"Jadi gini bang, berdasarkan hasil penyelidikan. Paket itu awalnya memang benar paket dari Toko mainan, tapi ketika sampai di rumah Abang Keynand cling abra kedabra dalam sekejap mata langsung berubah menjadi paket berisi obat-obat terlarang itu terus lebih parahnya Kurir itu tidak tahu apa yang telah terjadi."
Hamiz menceritakan hasil temuannya berdasarkan Kurir yang terlihat di CCTV.
Raut wajah Reynand kian mengeras dengan sorot mata semakin tajam seakan merobek mata yang melihatnya.
"Ngeri banget! yang tenang kenapa, Bang!" Imbuh Hamiz sembari bergidik.
__ADS_1
"Kamu tuh yang bener, makanya? Aba kedabra, apaan itu? Sulap? jangan buat lelucon kamu." Reynand mengomeli adik kandung Lika yang tetap saja gesrek dalam situasi apapun, dalam keadaan tegang sekalipun.
"Iya bang, ampun. Jangan tegang Bang, kita harus hadapi dengan kepala dingin. Kita harus menunjukkan kepada lawan bahwa kita kuat sekalipun kita sebenarnya sangat lemah. Santai tapi bergerak dengan cepat, cermat dan akurat," sahut Hamiz dengan santainya. Dosen muda itu kemudian mengeluarkan Laptop miliknya lalu memperlihatkan hasil temuannya.
"Kurir itu di bius di tengah perjalanan saat mengantar pesanan Pelanggan termasuk pasanan Abang Keynand lalu ada seseorang menukar paket milik Abang Keynand."
Hamiz menerangkan sesuai apa yang terlihat pada Laptop miliknya.
"Terus apa orang ini tertangkap?" tanya Reynand serius.
"Tertangkap, dong! Bahkan kita sudah memasukkannya ke sarang tikus dan semoga saja dia akrab dengan Tikus lalu bisa berbagi makanan. Satu lagi Wanita itu tidak akan tahu, orangnya ilang satu," jawab Hamiz dengan bangganya.
"Good job."
Reynand mengacungkan jempol atas kerja keras Hamiz dan timnya. Hamiz juga mendapatkan rekaman percakapan seorang Wanita yang diyakininya adalah Wanita itu dengan Laki-laki yang menukar paket milik Keynand.
"Iya dong, tim tujuuuuh!" sahut Hamiz dengan riangnya.
"Seperti anime saja."
"Iya dong! jika ada tujuh sahabat, iya harus ada tim tujuh juga dong! Anggap saja saya Naruto, Mae si Sakura dan Adly si Saen," sahut Hamiz yang secara mengejutkan ternyata penggemar Anime dari Negara Sakura tersebut.
"Bukannya tim tujuh itu Naruto, Sasuke dan Sakura ya? Kok jadi Saen?" tanya Reynand ikut random dalam pembicaraan.
"Iya, Sasukenya, kan Abang Reynand, terus Abang Reynand enggak ikut dalam misi, masak saya tetap anggap Sasuke tetap ikut, sih? hanya namanya doang gitu? Yang ikut. Itu sih namanya pinjam nama," jawab Hamiz diakhiri dengan kekehan melihat raut bingung Reynand. Setelah tersadar Reynand melempari Hamiz dengan kotak Tisu yang ada di hadapannya.
"Kabuuuuur."
Pluk
Hamiz berlari cepat sebelum kotak tisu mendarat di keningnya. Bisa di bayangkan apa yang akan terjadi jika tidak gerak cepat menghindar, benjol.
"Sumpreeeet."
Reynand mengumpat, dengan cepat lalu beristigfar begitu menyadari apa yang terucap dari lisannya. "Astaghfirullah. Lupa!"
Hahahahaha
Sementara Hamiz tertawa lebar melihat raut tidak mengenakkan dari wajah Kakak Iparnya tersebut.
"Bunciiiiis Bang, bunciiiiiis."
Reynand menyunggingkan senyum tipisnya. Semenjak Keynand diracuni kemudian tertangkap, ia hampir lupa bagaimana caranya tersenyum.
***
Hari-hari semakin berlalu dan kini telah sampai pada hari penentuan nasip Keynand Putra Ardiaz. Keynand akan menghadapi Sidang perdananya yaitu Sidang Dakwaan oleh Penuntut Umum.
Setelah melewati penyidikan dan bukti-bukti di nyatakan lengkap barulah sidang dakwaan itu berlangsung.
Keynand terlihat tenang di dampingi Pengacara yang di tunjuk oleh Reynand. Tidak hanya Sang Pengacara, hadir pula orang tuanya, kedua Kakaknya Alisa dan Reynand, Ali Hasan, Fatimah dan orang tua dari mendiang Isterinya Ega. Tidak ketinggalan Hamiz, Maemunah, Adly dan Fitri. Semua datang untuk memberikan dukungan dan menyemangati Keynand agar tetap kuat dan percaya, kebenaran itu pasti akan terungkap.
Di sana juga ada Julaekha Syarifah yang terlihat tersenyum. Senyum itu bagaikan hinaan nyata bagi Keynand tatkala melihatnya. Tapi dalam seketika senyum sinis itu memudar saat melihat siapa Laki-laki yang mendampingi Keynand sebagai Pengacaranya. Dia orang yang berbeda bukan pengacara yang ditunjuk oleh Reynand dan orang yang bersedia memihak kepadanya.
"Siaaal, kenapa aku tidak tahu ini?"
__ADS_1
Bersambung.