
Rizqy dan Dion, dua Pria itu kini di Sidang oleh Kepala Sub Bagian Kepegawaian. Habibah juga ada disana, dia salah satu Staf dari bagian Kepegawaian sehingga ikut dilibatkan dalam islah mengenai perselisihan yang dilakukan oleh kedua Lelaki itu.
Habibah menunduk, dia melirik tangan kanan Rizqy yang terluka. Tetesan darah itu menetes menyentuh lantai. Dia merasakan nyeri dan rasa itu hinggap begitu saja. Entah kenapa melihat Rizqy terluka membuat Habibah ikut merasakan rasa perih itu. Dia tidak bisa menampik bahwa cinta itu sudah tertanam di hati dan tak bisa begitu saja melepaskannya. Meskipun saat ini dia sangat membenci Lelaki itu.
"Jelaskan apa yang terjadi?" tanya Ibu Nani, selaku Kepala Sub Bagian Kepegawaian.
"Ini kesalahan saya Bu, saya terlalu emosi sehingga menggebrak Meja." Rizqy dengan cepat menjelaskan. Dia tidak ingin Dion menguasai pembicaraan dan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Rizqy sudah mengancam Dion melalui sorot matanya.
"Saya mohon maaf Bu, ini murni kesalahan saya. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Pak Dion. Saya sedang berada dalam tempramental sehingga mudah tersinggung. Padahal Pak Dion hanya becanda tapi saya menanggapinya dengan serius." Rizqy menambahkan penjelasannya. Dia tidak membiarkan Dion untuk berbicara sedikit pun.
"Apa benar seperti itu?" tanya Ibu Nani memandang Rizqy lalu beralih ke Dion. Sedangkan Habibah hanya terdiam. Dia tidak bisa berkata apapun dan tak mungkin juga berbicara. Dia tahu apa yang terjadi dan mana mungkin dia membuka aib Rizqy karena itu berhubungan dengan dirinya.
"Iya Bu, benar apa yang dikatakan Pak Rizqy. Tadi kita hanya salah faham dan tanpa sengaja Pak Rizqy menggebrak karena kesal. Jadi disini hanya kesalah fahaman yang terjadi. Kita akan menyelesaikan dengan baik." Dion menjawab pertanyaan Ibu Nani. Dia saat ini diberi kesempatan untuk menjelaskannya. Dia tidak menyinggung pembicaraan yang sebenarnya.
"Baiklah, saya menerima penjelasan kalian. Saya berharap kejadian ini tidak terjadi lagi. Kalian berdua ini abdi Negara, apa jadinya jika diketahui oleh publik kalau kalian bertengkar di Kantor. Jaga image kalian, meskipun kalian baru Pegawai Tidak Tetap tidak menutup kemungkinan ke depannya kalian lulus menjadi Pegawai Negeri. Jadi mulai sekarang jaga sikap dan tingkah laku. Tunjukkan seperti apa sikap seorang abdi yang sebenarnya." Ibu Nina menasehati kedua Lelaki yang merupakan Stafnya. Dia menyayangkan dengan apa yang dilakukan Rizqy. Namun dia belum bisa melakukan tindakan apapun selain hanya pembinaan.
"Baik Bu," sahut Rizqy tegas.
"Baik Bu," sahut Dion.
"Silahkan Pak Dion, anda boleh meninggalkan ruangan saya. Untuk Pak Rizqy anda diam disini dulu, biarkan Habibah mengobati luka anda," ucap Ibu Nani.
"Baik Bu, saya permisi." Dion meninggalkan ruang kerja Kepala Sub Bagian Kepegawaian. Sementara itu Habibah dan Rizqy masih berada di ruang kerja itu.
"Habibah, Pak Rizqy, Ibu tinggal dulu. Saat ini ada rapat di BKD. Habibah, kamu bersihkan luka Pak Rizqy, takutnya terjadi infeksi jika tidak langsung diobati," ucap Ibu Nani sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
Saat Ibu Nani sudah pergi, kini hanya ada mereka berdua. Rizqy memandang Habibah seperti biasa, hangat dan penuh cinta.
Habibah, kali ini sangat tersakiti dengan cinta di pelupuk mata itu. Jika sebelumnya dia sangat bahagia mendapatkan tatapan itu. Tidak dengan sekarang, tatapan cinta itu seperti Belati berkarat yang menusuk tepat di ulu hati dan jantungnya.
Kini dia bertanya, apa tatapan cinta itu palsu? apa Rizqy sedang bersandiwara. Habibah tak ingin mengetahui jawabannya karena akan menambah luka jika itu benar.
Habibah dengan hati-hati membersihkan beling yang menempel di tangan Lelaki itu. Dia sangat telaten merawat luka Rizqy hingga bersih dan membubuhkan Obat merah kemudian membalutnya dengan kain kasa.
"Terima kasih sayang," ucap Rizqy tersenyum.
"Sama-sama Mas, lain kali Mas jangan seperti ini. Kejadian ini bisa menyulitkan Mas Rizqy. Dalam kontrak perjanjian kerja kita tertulis bahwasannya jika terjadi perselisihan dan apalagi terjadi pemukulan, bisa-bisa Mas akan dipecat," ucap Habibah mengingatkan agar Rizqy lebih berhati-hati.
__ADS_1
"Iya Bibah, tadi Mas tidak sengaja melakukannya. Mungkin tangan Mas besi makanya Meja itu langsung patah dan kacanya pecah. Mas janji tidak akan melakukannya lagi," sahut Rizqy sembari mengacungkan tangan membentuk V dan sejurus kemudian membentuk cinta ala Oppa.
Jika sebelumnya Habibah akan tertawa lebar melihatnya. Tidak dengan sekarang, sekarang hatinya sangat sakit seperti Paku yang di tancap pada hatinya dan dipukul dengan palu untuk memaksa paku itu tertancap disana. Setelah itu paku itu di tarik kembali sekuat tenaga dan meninggalkan lubang yang menganga. Seperti itulah kondisi hatinya sekarang, luka itu menganga dan kembali tertancap pada luka yang sama. perih!.
"Mas saya permisi dulu mau melanjutkan buat laporan," ucap Habibah berpamitan.
"Iya, Mas juga akan kembali ke ruang kerja untuk membuat bahan-bahan yang akan Mas bawa nanti sore," sahut Rizqy. Dia bangkit dari duduknya. Tidak lupa dia mengacak rambut Habibah seperti biasanya.
Kini Rizqy sibuk dengan bahannya. Habibah juga sama, dia sudah mengambil keputusan tentang hidupnya. Saat ini dia menata data-data yang ada di Komputer. Dia memutuskan untuk meninggalkan Kantor dan memilih untuk menyerah dan kalah. Hatinya sangat sakit ketika mengetahui kenyataan, Lelaki yang dicintainya hanya menjadikan dia objek taruhan. Dia tidak ingin melihat Rizqy lagi, hal itu akan membuatnya sangat terluka.
Siang hari saat jam istirahat. Habibah masih menata Dokumen penting yang ada di Rak. Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan Rizqy. Dia memilih untuk kembali Ke Desa dan memulai hidup baru disana.
Saat dia asyik, Habibah dikejutkan oleh tangan seseorang yang memeluknya dari belakang. Dia tahu orang itu Rizqy dari parfum yang dia gunakan.
"Kekasihku sibuk sekali atau hanya berpura-pura sibuk?" ucap Rizqy sembari merebahkan kepala pada bahu Habibah.
"Iya nih Mas, biar gampang nyarinya nanti," sahut Habibah datar.
"Mas mau berangkat tapi rasanya enggan banget perginya," ucap Rizqy sedih. Dia semakin memperelat pelukannya seolah tak ingin terlepas. Habibah membiarkan Rizqy menyentuh tubuhnya sesuka hati dan sepuasnya. Ini adalah sentuhan terakhir yang akan dia berikan karena dia sudah mantap meninggalkan Lelaki itu.
"Aaaaaagh Habibah ini nikmat sekali," ucap Rizqy disela mereka menghirup oksigen. Habibah tersenyum, dia melanjutkan kembali permainannya.
"Tinggalkan keponakan saya, Rizqy."
Suara itu menggema di telinga Habibah membuatnya kembali meluapkan hatinya yang merana dalam pagutan mereka.
Selesai, Habibah mengakhiri. Dia menatap wajah tampan Kekasihnya penuh dengan rasa. Meskipun terluka namun sejujurnya dia tidak menanpik cinta itu ada hanya untuk Lelaki ini. Masih ada dan selalu ada.
"Pergilah Mas dan hati-hati," ucap Habibah lembut. Dia merelakan hatinya disakiti oleh Rizqy, cinta pertamanya. Membiarkan hidupnya dalam trauma dan tetap memiliki cinta itu hanya untuknya.
"Aku bodoh tapi apa yang bisa aku lakukan jika rasa itu nyata." Habibah membatin.
"Iya sayang, kamu jaga diri baik-baik," sahut Rizqy. Dia mengelus bibir Habibah sangat lembut. Habibah menikmatinya. Dia memejamkan mata untuk merasakan kelembutan itu.
Rizqy melangkah menuju arah Pintu. Dia berbalik menatap Habibah yang membentuk senyum indah untuknya. Entah mengapa Rizqy merasakan ini adalah kebersamaan terakhirnya. Namun Rizqy buru-buru menepis pikiran itu.
Sepeninggalnya Rizqy, Habibah melorotkan diri di Lantai. Dia memeluk tubuhnya yang rendahan. Raganya tak sekelas dengan Rizqy, dia mengerti itu. Dia menangis memegang hatinya yang terluka.
__ADS_1
"Angan telah menamparku, bahwa sesungguhnya aku tak pantas untukmu, Mas. Namun rasanya cinta itu terlalu sombong menempatkan diri sebagai orang yang pantas untukmu. Nyatanya aku tidak lebih dari Bidak Ratu yang dikuasai untuk memenangkan permainan. Menang dan taruhan itu tertawa lebar mengejek Sang Bidak Ratu yang merana." Habibah berkata.
Jam berlalu, kini sore menjelang. Habibah menghadap Ibu Nani.
Tok tok tok
"Permisi Bu," ucap Habibah sopan.
"Masuk," ucap Ibu Nina lembut namun tersimpan ketegasan disana.
Habibah menghampiri Meja kerja Ibu Nani lalu mendudukkan diri pada Kursi yang ada disana.
"Maaf Ibu sebelumnya karena telah mengganggu waktu Ibu," ucap Habibah mengatur nada suaranya.
"Ada apa Habibah, sepertinya penting sekali. Kamu terlihat serius?" tanya Ibu Nani mengalihkan perhatian ke arah Habibah.
"Iya Bu, sebelumnya saya minta maaf. Tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu, Saya mengajukan resign," ucap Habibah tanpa berbasa basi. Dia menyodorkan surat yang sudah diketiknya dengan sangat rapi.
Ibu Nani tentu saja terkejut dengan keinginan salah satu Stafnya. Dia menatap Habibah penuh dengan tanya.
"Kenapa Habibah resign dari kantor ini? apa ada masalah? apa Habibah tidak nyaman bekerja disini?" tanya Ibu Nani heran. Dia ingin mengetahui alasan dengan jelas. Jika ada masalah, mereka bisa menyelesaikan dengan cara baik-baik.
"Tidak ada masalah Bu. Saya sangat betah dan nyaman bekerja disini. Ibu Nani sangat baik dengan saya dan juga telah banyak memberikan Ilmu dan petunjuk. Saya sangat berterima kasih untuk itu. Akan tetapi di Desa, Inak Kake membutuhkan saya. Beliau sudah tua dan tidak ada yang merawat. Beliau satu-satunya keluarga saya karena itulah saya pulang ke Desa. Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan merawatnya." Habibah memberikan alasan yang tepat. Dia sudah memikirkan hal itu dengan baik dan dia sangat yakin Ibu Nani tidak akan bertanya lebih lanjut.
Hem
Ibu Nani menghela nafas panjang. Dia susah melepaskan Habibah. Habibah merupakan Pegawainya yang sangat profesional, disiplin dan juga cerdas. Dia percaya di masa depan Karier Habibah akan cemerlang. Namun dia tidak bisa menahan keinginannya. Bagaimana pun juga keluarga yang harus di periolitaskan.
"Baiklah Habibah, Ibu akan menyetujuinya. Sesungguhnya Ibu sangat berat menyetujui keputusan kamu yang tiba-tiba. Namun tanggung jawab sebagai anak merupakan hal utama," ucap Ibu Nani pada akhirnya pasrah. Dia tidak bisa menahan Stafnya itu jika alasannya adalah keluarga.
"Terima kasih Bu," ucap Habibah. Dia tersenyum lalu menjabat Ibu Nani, Atasan yang selama ini membimbingnya.
Setelah berpamitan, Habibah membawa berkas dan barang miliknya. Dia melangkah dengan pasti meninggalkan Kantor. Dimana pada Kantor ini dia menuliskan sepenggal cerita. Pada Kantor ini harapan dan mimpinya dimulai dan pada akhirnya harus meninggalkannya.
Flash Back End.
Bersambung.
__ADS_1