
Adly melaporkan apa yang terjadi di rumah sakit saat Reynand menuju Desa tempat tinggal Habibah. Dan mewanti-wanti agar Reynand lebih berhati-hati, sebab Adly yakin setelah mereka gagal melenyapkan Keynand di Rumah Sakit, kemungkinan mereka akan merampas penawar itu agar Keynand tidak berhasil diselamatkan.
Mereka sepertinya tahu kalau Reynand mencari penawar dan kemungkinan mendapatkannya dengan mudah. Sebab itulah mereka ingin menggagalkan ikhtiar dari Reynand agar tujuan mereka terwujud. Sungguh jahat memang!
"Biar saya saja yang membawa penawar itu." Habibah mengambil peran. Tidak menyangka keputusannya ikut serta dalam rombongan itu memberikannya kesempatan untuk membantu. Habibah memutuskan untuk ikut bersama Qia karena ingin memastikan kehamilannya. Di Rumah Sakit Ardiaz, dia bisa langsung melakukan USG agar lebih yakin saat ini dia sedang hamil walaupun Testpack sudah memastikan itu.
Reynand setuju, dia membiarkan Habibah berjalan sendiri dengan santai memisahkan diri dari rombongan. Sebelumnya dia memberikan kotak yang sama berisi penawar palsu untuk mengelabui para Pelaku yang mungkin saja saat ini diincar oleh mereka untuk menggagalkan pengobatan Keynand.
Habibah menaiki sebuah Taxi dan meminta di antar ke Hotel Ardiaz.
"Mau liburan mbak?" tanya Sopir Taxi beramah tamah.
"Iya, pingin lihat Sirkuit Mandalika yang terkenal itu," jawab Habibah dengan santai.
Sang Sopir Taxi mengangguk-anggukkan kepala sembari memberikan senyum ramahnya.
Mobil Taxi melaju dengan lancar menuju Hotel Ardiaz melalui by pass bersama cerita dari Sopir Taxi yang memperkenalkan objek wisata di Daerah ini. Habibah mendengarkan dengan baik, sesekali dia menyela agar komunikasi mereka tidak se arah.
Di tengah perjalanan, Habibah melihat Mobil Reynand terparkir dengan sembarangan. Terlihat beberapa orang mengepung Reynand, Hamiz dan Qia yang mencoba melakukan perlawanan.
"Wadowh, ada orang kelahi, mbak," ucap Sang Sopir memelankan laju Mobil.
"Pak boleh tancap gas aja, kebetulan saya trauma dengan tawuran," ucap Habibah berpura-pura panik. Melihat penumpangnya panik, Sang Sopir tetap melajukan Mobilnya padahal sejatinya dia sangat penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara itu, Reynand, Hamiz dan Qia berusaha melumpuhkan lawan yang berjumlah tidak sebanding dengan mereka bertiga. Reynand berusaha mempertahankan penawar yang dibawanya dengan sebaik mungkin. Namun naas, saat dia berjibaku dengan beberapa orang yang menyerang, Reynand tidak memperhatikan seseorang yang berhasil merampas kotak anyaman yang di dalamnya berisi penawar yang bentuknya sama persis dengan yang di bawa Habibah.
Habibah sudah sampai di Rumah Sakit Ardiaz dengan selamat. Dia bergegas menuju ruang ICU tempat Keynand di rawat. Sesampainya di sana Habibah bertemu dengan beberapa Polisi yang menggunakan pakaian biasa. Di sana terlihat Adly yang stan bay menjaga Keynand.
"Maaf saya ingin bertemu dengan Dokter yang merawat Pak Keynand," ucap Habibah dengan tenang. Seketika orang-orang yang menjaga Keynand datang menghampiri dengan tatapan mengintimidasi dan terlihat menyeramkan.
"Anda siapa?" tanya Adly memperhatikan Habibah. Ia tidak mengetahui seperti apa wajah Habibah, Koki Hotel Ardiaz itu hanya mengetahui namanya saja berdasarkan cerita dari Keynand.
"Saya Habibah Rosy, apa bisa bertemu dengan Dokter atau Mbak Lika? Kita tidak punya banyak waktu lagi, saya harap kalian tidak menahan saya di sini," jawab Habibah dengan jelas.
Mendengarkan nama Habibah Rosy yang di kenalnya sebagai Isteri dari Rizqy, Adly kemudian mempersilahkan Habibah masuk. Dia percaya Habibah membawa penawar itu dan mungkin saja ini siasat yang dilakukan Reynand agar penawar sampai ke rumah sakit dengan selamat.
Habibah bertemu dengan Dokter Rasyid dan Dokter Aditya yang sedang memeriksa keadaan Keynand. Di sana ada Marisa dan Lika yang sedang menjaga Keynand.
"Loh! Mbak Habibah ikut juga?" tanya Lika menyapa Habibah lalu cipika cipiki sebagai salam pertemuan mereka.
Adly bernafas lega karena benar Wanita yang datang adalah Habibah Rosy dan di kenal oleh Lika.
__ADS_1
"Ini penawarnya Dokter, sehari satu bungkus," ucap Habibah melepaskan Tas dalam punggungnya lalu mengeluarkan kotak anyaman yang berisi penawar.
Dokter Rasyid mengambilnya lalu mengambil satu bungkus yang dibungkus daun pisang. Lalu dia mengambir air untuk melarutkan penawar itu agar bisa disuntikkan melalui infus, karena saat ini tidak memungkinkan Keynand meminumnya. Dokter Rasyid menyuntikkan penawar itu pada infus dan tidak lupa melafalkan doa seperti apa yang disampaikan Habibah.
Penawar itu kini bercampur dengan infus dan mulai mengalir melalui nadi Keynand.
Beberapa menit menunggu, tiba-tiba tubuh Keynand bereaksi dengan memperdengarkan suara batuk. Dari mulut Keynand keluar cairan berwarna hitam pekat.
"Alhamdulillah. Penawar itu berhasil mendetok racun yang ada pada tubuh Keynand."
Dokter Rasyid mewakilkan para Dokter yang merawat Keynand memberitahu akan khabar bahagia ini.
Mendengar khabar baik itu, ada kelegaan terlihat pada wajah orang tua dan keluarga Keynand. Seketika rasa syukur terguman dengan jelas pada masing-masing bibir yang sangat menyayangi Daddy dari Raski itu.
"Alhamdulillah."
Marisa mendekati Habibah lalu memeluk tubuh tinggi semampai itu.
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Marisa dengan sangat tulus.
"sama-sama Bu Marisa. Sudah kewajiban kita untuk saling membantu. Alhamdulillah Suami saya diberikan pengetahuan tentang pengobatan oleh Tuhan, tentunya beliau harus mengamalkannya," jawab Habibah dengan lembut penuh dengan kerendahan diri.
"Nak Habibah benar. Sampaikan terima kasih Mommy kepada Suaminya."
Tak tok
Tak tok
Tak tok
Saat mereka hanyut dalam kelegaan dan rasa syukur, terdengar suara langkah mendekat yang terdiri dari beberapa orang. Serentak mereka menoleh ke sumber suara, di sana terlihat Reynand melangkah dengan cepat menuju ruang perawatan Keynand. Di belakangnya ada Hamiz dan Qia yang berusaha mengikuti langkah lebar Reynand yang hampir saja tidak terkejar.
"Assalamu'alaikum. Bagaimana, Mom? Apakah pengobatan Keynand berhasil?" tanya Reynand saat mereka sampai di hadapan Marisa. Di sana masih ada Dokter Rasyid, Lika dan juga Habibah yang belum sempat masuk ke ruang perawatan. Sedangkan para Dokter sudah berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Alhamdulillah, pengobatan berhasil. Kata Dokter kita hanya menunggu Keynand sadar saja terus baru bisa melanjutkan pengobatan pemulihan," jawab Marisa yang dianggukkan oleh Dokter Rasyid yang masih setia di sana. Setelah menambah penjelasan mengenai pengobatan Keynand baru Dokter berparas manis itu berpamitan.
"Alhamdulillah," ucap Reynand bernafas lega.
Reynand tidak lupa mengucapkan rasa syukur atas pertolongan Tuhan dan juga kepada Habibah yang telah berhasil membawa penawar itu dengan selamat. Jika saja Habibah tidak ikut dan berinisiatif membawa penawar itu sendiri hingga tidak di ketahui oleh mereka, mungkin saja Keynand tidak akan bisa diselamatkan.
Mengingat mereka yang sangat bernafsu ingin membunuh Keynand, entah dengan alasan apa? Reynand, Hamiz dan Qia sampai kewalahan melawan mereka yang berusaha menggagalkan pengobatan Keynand.
__ADS_1
"Kak Bibah, apa kak Bibah baik-baik saja?" tanya Qia mengalihkan perhatian mereka kepada Habibah dan Qia yang sempat hening sesaat.
"Alhamdulillah baik-baik saja, dek!" jawab Habibah menampilkan senyumnya menandakan bahwa dia baik-baik saja, padahal sejatinya saat ini dia menyembunyikan rasa tidak nyaman karena kehamilannya.
"Sebaiknya Nak Habibah istirahat," ucap Marisa. Wanita paruh baya itu meminta Lika untuk menemani Habibah beristirahat di Hotel Ardiaz. Sebelum itu Habibah izin untuk memeriksa kehamilannya yang baru saja di ketahuinya.
"Ya Allah, Nak Habibah, apa saat ini sedang hamil?" tanya Marisa terkejut saat mengetahui Wanita yang membawa penawar untuk anaknya ternyata senang hamil muda. Tentu saja Marisa sangat kaget, sebab sepanjang sepengetahuannya, ia ingat sangat beresiko bagi Wanita diawal kehamilannya melakukan perjalanam jauh apalagi menggunakan pesawat.
"Benarkah, itu sangat beresiko Mom? Hal itu bisa saja menyebabkan keguguran?" tanya Habibah shock. Wajahnya langsung pucat dengan bulir bening merembes membanjiri kedua matanya.
Tidak! Habibah menggeleng cepat tidak ingin kehilangan janin yang dinanti-nantikan selama ini olehnya dan Sang Suami. Wanita manis itu berharap janinnya baik-baik saja seperti yang dirasakan saat ini.
"Nak Habibah tenang, ya? Setiap Wanita berbeda-beda daya tahan tubuhnya. Ada yang saat kehamilan mereka sangat kuat dan sehat dan ada pula di saat kehamilan mereka sakit-sakitan karena ngidam atau memiliki kandungan yang sangat lemah. Mommy melihat Nak Habibah baik-baik saja dan Insyaa Allah kandungannya juga pasti baik-baik saja. Maafkan Mommy telah membuat Nak Habibah shock. Rileks ya? Jangan banyak pikiran karena hal itu berpengaruh pada janinnya. Ibu hamil itu harus bahagia dan murah senyum. Nah sekarang kita periksa, ya?"
Marisa merasa bersalah karena telah membuat Habibah shock. Dia reflek menuturkan hal itu karena terkejut dengan keberanian Habibah yang ikut serta membantu ikhtiar dari anaknya. Kini ia berusaha menghibur Habibah agar suasana hatinya kembali baik.
Bersama Lika dan Qia, Habibah memeriksakan kehamilannya untuk memastikan janinnya baik-baik saja.
***
Sementara Keynand, dia sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Saat ini hanya ada Marisa yang menjaga sedangkan Reynand dan Adly berpamitan, sebab ada yang akan mereka bahas dan ini berhubungan dengan orang-orang yang berusaha membunuh Keynand.
Saat Keynand tertidur dan Marisa fokus dengan Handphone, seseorang menerobos masuk dan mengabaikan peringatan para Bodyguard yang menjaga di ruang perawatan Keynand.
"Aku Isterinya, jadi aku berhak untuk menemani Keynand," ucap Julaekha dengan luapan emosi yang tidak bisa di tahan lagi.
"Pinggir kaliaan! Jangan kurang ajar dengan Nyonya Keynand," lanjutnya dengan usahanya cukup keras menyikirkan para Bodyguard yang menghalaunya.
"Bu Marisa, maafkan kami," ucap seorang Bodyguard yang di tugaskan menjaga Keynand. Dia gagal menghalau Julaekha yang bersikeras masuk ke ruang inap Keynand.
"Tidak apa-apa, biarkan saja."
Mendapatkan pembelaan dari Marisa, Julekha tersenyum sinis kepada Bodyguard. Dia melenggang masuk dan langsung menempatkan diri di samping Brangkar Keynand dengan memasang wajah sedih.
Sedangkan Marisa memilih duduk di Sofa dengan mendengus kesal. Wanita paruh baya itu menatap Julaekha dengan malas. Dengan isyarat dia meminta Bodyguard itu agar tetap mengawasi dari sudut ruangan.
"Mom? Apa yang terjadi dengan Mas Keynand? Kenapa tiba-tiba di serang? Apa ini perbuatan Enah?"
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari Julaekha, bahkan dia menyinggung nama Baby Sitter Raski yang di jadikannya tersangka, walaupun diungkapkan dalam bentuk pertanyaan. Terdengar abu-abu, memang. Tapi sangat jelas nama itu akan membuat Marisa yang tidak tahu apa-apa, menjadi bertanya.
"Enah? Siapa dia?"
__ADS_1
Bersambung